
Mata Zalynda terbelalak melihat wanita didepannya
"Tante Anggun.." desis Zalynda
"Kamu? Kamu kerja di sini?" Tanya Anggun dengan tatapan terkejut sekaligus meremehkan Zalynda. Pandangan Anggun menatap Zalynda dari ujung kaki hingga ujung kepala
Zalynda mengangguk pelan. Gadis itu sedikit heran, bukankah Yono mengetahui Zalynda bekerja di toko kue bu Edah? Mengapa Anggun terlihat terkejut?
"Hmm kalau bukan karena pesanan seseorang, saya males banget ke tempat yang ada kamu nya." Kata Anggun sambil memutar bola matanya. Matanya kembali menekuni kue-kue di etalase
Zalynda menarik nafas "Ada yang bisa saya bantu, nyonya?"
Anggun memandang jengkel ke arah Zalynda "Bisa nggak sih bukan kamu yang ngelayanin saya?! Nanti saya ketularan sialnya kamu, anak haram!"
Suara Anggun yang sedikit keras membuat beberapa pelanggan dan pelayan menoleh ke arah Zalynda dan Anggun. Zalynda merasa malu, gadis itu langsung menunduk dan berbalik pergi
Bu Edah yang melihat hal itu segera mengkode pegawainya yang lain untuk melayani Anggun sementara dirinya menyusul Zalynda ke dapur
Terlihat Zalynda terduduk sambil memeluk dirinya. Sepertinya gadis itu sedang menangis
"Za.." panggil bu Edah
Zalynda segera menghapus air matanya dan berdiri menyambut bu Edah
"Eh, ibu.."
Bu Edah membelai kepala Zalynda
"Tolong jangan dimasukkan ke hati ucapan pelanggan tadi ya. Jangan membuatmu menjadi berkecil hati. Tidak ada anak haram, semua anak suci. Kamu istimewa."
Zalynda mengangguk. Sebetulnya sudah biasa Anggun membentaknya seperti itu saat di rumah dulu. Namun semenjak Zalynda pergi dari rumah keluarga Wijaya, panggilan itu jarang terdengar, sehingga hatinya kembali terluka
"Iya bu. Maafkan Za kalau kehadiran Za bikin toko ibu rusuh."
Bu Edah tertawa "Kok kamu yang minta maaf? Harusnya ibu-ibu yang di depan itu yang minta maaf."
Zalynda tersenyum "Za bantu-bantu di dapur aja ya bu hari ini."
Bu Edah mengangguk. Wanita bertubuh subur itu meninggalkan Zalynda di dapur setelah sebelumnya menepuk pelan bahu Zalynda
Sepeninggalan bu Edah, Zalynda mencoba menyibukkan dirinya di dapur untuk melupakan kata-kata menyakitkan dari Anggun
Teringat kata-kata Ali bin Abi Thalib "Jika ada kata-kata yang menyakitimu, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. Jangan dimasukkan hati agar tak lelah hatimu."
Zalynda menghela nafas. Pada aplikasinya, sangat susah sekali menerapkannya
***
__ADS_1
Ray menatap Zalynda yang sedang membersihkan meja makan dan mencuci piring. Mulai dari Ray menjemput Zalynda di toko bu Edah hingga sampai di apartemen, gadis itu lebih banyak membisu. Zalynda hanya menjawab pertanyaan Ray sekedarnya
Selesai membereskan dapur, gadis itu berjalan hendak masuk kedalam kamarnya
"Za.."
Zalynda menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Ray
"Apa aku berbuat salah hari ini?"
Kening Zalynda berkerut sambil menggeleng "Nggak Ray."
Ray menepuk sofa di sebelahnya "Duduklah di sini, Za."
Zalynda menurut. Gadis itu duduk di sebelah Ray dengan jarak sekitar tiga jengkal. Ray tersenyum sambil menggeser dirinya mendekati Zalynda
Seakan menjadi satu kebiasaan, Ray membelai kepala Zalynda dan menyelipkan rambut ke belakang telinga gadis itu
"Dari tadi perasaan diem aja. Apa aku bikin kamu kesal hari ini?" Tanya Ray lembut sambil memainkan jemarinya menyisiri rambut Zalynda
Zalynda menggeleng. Teringat ucapan Anggun tadi sewaktu di toko. Walau Zalynda berusaha tidak memikirkannya, namun ucapan Anggun sungguh sangat mempengaruhi mood nya
Jemari Ray mulai menelusuri telinga dan leher Zalynda sehingga gadis itu menggelinjing geli sambil tertawa kecil
"Ih geli, Ray."
"Jangan, geli ih. Aku bales nih." Zalynda pun membalas menggelitik pinggang Ray sehingga pemuda itu kegelian
Tanpa sadar tubuh Zalynda menindih tubuh Ray. Sebelah tangan Ray menggenggam tangan Zalynda untuk menghentikan aksi gadis itu, dan sebelahnya lagi memeluk pinggang Zalynda yang berada di atas tubuhnya
Zalynda tersadar. Matanya langsung menatap mata Ray dengan jarak yang cukup dekat. Jantung Zalynda tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya
"Kamu lebih cantik kalau tertawa begini, Za." Kata Ray sambil tersenyum
Pipi Zalynda terasa memanas. Gadis itu mencoba bangkit, namun Ray membalikkan tubuhnya sehingga posisi mereka kini berbalik. Zalynda memekik kecil, namun terdengar seksi di telinga Ray
"R-Ray.." Tangan Zalynda menahan dada Ray agar tidak menghimpit tubuhnya
Ray hanya memandangi Zalynda yang merona, mencoba melihat reaksi gadis itu. Sudah cukup satu kali Ray membuat Zalynda masuk rumah sakit karena ketakutan. Ray membelai pipi Zalynda
"Kamu takut padaku, Za?" Tanya Ray sambil mendekati bibirnya ke bibir Zalynda perlahan dan berhenti tepat di depannya. Terasa tangan gadis itu meremas kemeja Ray, namun tidak terlihat ekspresi ketakutan seperti awal dulu
Ray mencoba mengecup lembut bibir Zalynda dan melihat reaksi gadis itu. Wajah Zalynda terlihat semakin memerah. Ray mengulangi kegiatannya beberapa kali dan kembali melihat reaksi Zalynda.
Zalynda hanya terdiam,namun pandangannya berubah sayu menatap Ray. Ray tersenyum lebar sebelum menutup bibir Zalynda dengan ciuman panjang
Zalynda memejamkan matanya. Nafas Ray terasa segar memanjakan indera penciumannya. Bibir Ray pun hangat dan lembut bermain di bibir Zalynda
__ADS_1
Sangat berbeda dengan Yono yang membuat Zalynda jijik dan mual. Dengan Ray, Zalynda seakan tersihir.
Jika dengan Yono Zalynda menutup rapat mulutnya, dengan Ray Zalynda justru membiarkan pria itu mengeksplorasi hingga ke sudut-sudutnya.
Jika dengan Yono, Zalynda mengerahkan semua kekuatannya untuk mendorong pria itu. Dengan Ray justru Zalynda seakan tidak bertenaga
"Nggh.." Ray merasakan tubuh bawahnya mulai mengeras. Ray melepaskan ciumannya dan menatap Zalynda yang juga terengah-engah. Bibir Zalynda sedikit membengkak akibat ulahnya
"Pindah ke kamar yuk.." bisik Ray
Zalynda membelalakkan matanya dengan wajah memerah. Zalynda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dari perkataan Ray
Seperti terhipnotis, Zalynda mengangguk
Ray menarik ujung bibirnya melihat anggukan Zalynda. Pemuda itu dengan cepat berdiri dan menggendong Zalynda. Zalynda melingkarkan lengannya di leher Ray. Gadis ini sudah pasrah, toh Ray juga berhak atas dirinya, dan dirinya pun menginginkannya
Ting tong
Ting tong
Ray dan Zalynda kompak menoleh ke arah pintu. Terlihat wajah gusar Ray, membuat Zalynda ingin tertawa
"Ray, ada tamu. Aku buka pintu dulu." Kata Zalynda pelan sambil berusaha menahan tawanya
Ray berdecak sebal,namun tak urung diturunkannya tubuh Zalynda.
"Begini rasanya jadi Andre kemarin." Bathin Ray dengan wajah bertekuk enam
Zalynda segera berjalan cepat membuka pintu. Senyum Zalynda memudar saat melihat seseorang yang memencet bel tadi
Seorang gadis cantik berkerudung hijau berdiri termangu saat Zalynda membukakan pintu. Gadis itu melihat nomor kamar dan papan nama di sebelah pintu untuk memastikan
Sedangkan Zalynda berdiri membeku melihat gadis yang berada di depannya. Tangannya seketika dingin
"Kamu..siapa?" Tanya gadis itu menyelidik
Lidah Zalynda tiba-tiba kelu, tidak bisa berkata-kata. Perhatian Zalynda sedikit teralihkan melihat perut gadis itu. Sedikit terlihat membesar. Gadis itu hamil?
"Siapa?" Suara Ray terdengar di belakang Zalynda
"Ina?"
Zalynda melihat gadis yang dipanggil Ina itu berjalan melewatinya dan langsung memeluk Ray
"Bang Raay.."
"Eh, Ina kenapa?" Tanya Ray panik. Segera Ray mengajak Ina untuk duduk di sofa ruang tamu, meninggalkan Zalynda yang berdiri termangu
__ADS_1
"Istri Ray..itu istri Ray.." bathin Zalynda. Tiba-tiba perasaan sesak menggerogoti dadanya