CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 29


__ADS_3

Zalynda dengan cepat menutup dan mengunci pintu kamar saat melihat seringai di wajah Ray. Gadis itu menghela nafas sambil meletakkan keningnya di pintu


Masih ada sedikit perasaan takut saat Ray berbuat sedikit genit padanya. Padahal Ray memiliki hak penuh atas diri Zalynda


"Maaf ya Ray.." desis Zalynda. Terbayang Ray yang selalu baik padanya, saat di Universitas maupun setelah beberapa tahun mereka kembali bertemu. Ray tetap seperti dulu, bahkan jauh lebih baik. Zalynda sedikit merasa bersalah


Zalynda menggelengkan kepala untuk mengusir perasaan bersalahnya. Segera gadis itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri


Saat keluar dari kamar mandi, Zalynda melihat tas-tas yang berisi gaun, baju dan lingerie. Zalynda menatap tas-tas belanja yang tadi diborong oleh Ray untuk dirinya. Bibirnya tersenyum mengingat di butik tadi, Ray yang justru lebih bersemangat berbelanja


Sesaat Zalynda berfikir, Ray berusaha menjadi seorang suami yang baik dengan cara memperhatikan dan melindungi dirinya sedang dirinya sama sekali belum menjadi istri yang baik untuk Ray


Dengan ketakutannya, Zalynda seperti menahan dirinya untuk memberikan hak Ray sebagai suami. Zalynda menghela nafas lagi


Mata Zalynda tertumbuk pada lingerie merah yang tadi membuat wajah Ray juga memerah saat menatap lingerie itu. Lingerie merah itu satu stel dengan c****a d***m dan jubahnya. Bibir Zalynda menyunggingkan senyuman


"Apa aku pakai saja malam ini?" Bisik Zalynda sambil melihat lingerie merah di tangannya


Segera Zalynda membuka handuknya dan mencoba mengenakan lingerie merah tadi. Potongannya pas di tubuh Zalynda. Warna merah yang kontras dengan kulit putihnya, potongan dada rendah yang sedikit memperlihatkan asetnya dan tali kecil di bahu menahan lingerie merah itu si tubuhnya


Wajah Zalynda memerah. Gadis itu menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan diri


"Baiklah..malam ini aku siap jadi istri seutuhnya." Bisik Zalynda pada dirinya sendiri.


Segera gadis itu mengenakan jubah pasangan lingerie merahnya dan pergi keluar. Wajahnya memanas saat membuka pintu. Zalynda tidak berani langsung memandang Ray


"Apa ini cukup membayar belanjaan tadi, Ray?" Tanya Zalynda sembari menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.


***


Sesaat Ray terpana melihat Zalynda. Lingerie itu hanya sepanjang paha Zalynda hingga kaki mulus jenjangnya terpampang jelas


"Woow.." Refleks Ray bersuara


Sedetik kemudian Ray teringat ada Ardhi didekatnya. Ray langsung menoleh melihat ke arah Ardhi untuk mengetahui ekspresi sang ayah


Benar dugaan Ray. Ardhi terlihat melotot ke arah Zalynda dengan wajah merah padam sambil beristighfar keras


"Astaghfirullah!!"


Kening Zalynda berkerut mendengar ucapan istighfar. Zalynda langsung mengangkat kepalanya sembari protes


"Ih, kok astag... Astagfirullah!!" Zalynda juga memekik terkejut sembari istighfar saat melihat siapa yang ikut menatapnya


Pak Ardhi Al Farobi ada di sini! Di ruang tamu dan sedang menatapnya! Zalynda merasa akan lebih baik kalau dirinya memiliki kekuatan menghilang


Refleks Zalynda memeluk dirinya untuk menghalangi pandangan Ardhi ke arah tubuhnya

__ADS_1


Ardhi segera berdiri sambil menyorot tajam ke arah Ray.


"Kenapa ada gadis di apartemenmu, bang?!" Tanya Ardhi keras


"Ayah, tenang dulu.." Ray berusaha menenangkan Ardhi


"Apa yang sudah kalian lakukan berdua?!" Bentak Ardhi lagi


Ray juga ikut berdiri memposisikan dirinya dihadapan Ardhi untuk menghalangi pandangan Ardhi ke arah Zalynda. Sementara Zalynda hanya terpaku di tempatnya sambil memeluk erat dirinya


"Ayah, Za ini.."


PLAAK!


Ray belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tamparan Ardhi melayang di pipinya. Wajah Ray langsung tertoleh ke samping, rasa panas seketika menjalar di pipinya. Zalynda memekik melihat Ardhi menampar Ray


Ray terpana sambil meraba pipinya. Ardhi tidak pernah sekalipun memukul anak-anaknya


"Ayah.."


Wajah Ardhi merah padam. Dari sorot mata Ardhi, Ray tahu ayahnya tengah terluka dan kecewa terhadap dirinya


"Ayah tidak pernah menyangka abang berbuat sejauh ini di luar rumah! Zina itu dosa, abang tahu itu.." kata Ardhi sambil menekan suaranya


Ray terbelalak mendengar ucapan Ardhi.


"Lalu apa ini?! Kau pikir ayah tidak bisa melihatnya?! Apa kau menyumpahi ku buta?!"


Ray tertegun. Ardhi sudah dalam tahap marah sampai berteriak dan menyebut dirinya dengan kata 'kau' dan bukan 'abang'. Ada sedikit perih di hati Ray mengetahui dirinya membuat Ardhi emosi


Ardhi mendengkus. Pria itu segera menuju pintu keluar dengan langkah lebar


"Ayah, tunggu dulu.." Ray berusaha mencegah Ardhi untuk pergi.


Ardhi tidak mempedulikan Ray. Pria itu segera keluar dan menutup pintu dengan keras


Zalynda menutup mulutnya. Matanya menatap Ray yang terdiam memperhatikan pintu. Ray terlihat meremas rambutnya dengan wajah sedih


"Ray.. kejar pak Ardhi. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut.." kata Zalynda pelan


Ray melihat ke arah Zalynda sambil mengangguk. Pemuda itu segera pergi keluar menyusul Ardhi


Sepeninggalan Ray, Zalynda jatuh terduduk sambil bersandar di pintu kamarnya


"Ini semua gara-gara aku..Apa ini pertanda kalau aku tidak diterima di keluarga besar Ray?" Zalynda bermonolog. Matanya mengembun dan terasa buliran mengalir di pipinya


Zalynda tertawa kecil sambil menyusut airmatanya yang menderas tak tertahankan

__ADS_1


"Sudah kubilang, Za.. jangan bermimpi terlalu tinggi." bisik Zalynda pelan


Gadis itu terisak dalam keheningan


***


"Ayah." Panggil Ray saat melihat Ardhi tengah menunggu lift. Ardhi tidak menggubrisnya.


Saat pintu lift terbuka, Ardhi segera masuk. Ray mengikutinya


"Ayah, ini nggak seperti yang ayah pikirkan." Ray masih berusaha menjelaskan ke Ardhi


Ardhi masih terdiam sambil mengatur nafasnya, mencoba meredakan emosinya. Suasana hening diantara keduanya saat ada orang yang ikut menaiki lift. Ardhi menghela nafas panjang


"Kita bicara di kafetaria bawah, bang." Kata Ardhi memecah keheningan. Ray mengangguk, menyanggupinya


Keduanya sampai di lantai dasar apartemen Gading. Ray dan Ardhi segera menuju ke kafetaria. Ray memesan dua teh panas sementara Ardhi duduk di dekat jendela


Udara diluar cukup dingin karena hujan deras baru saja mengguyur bumi. Ray datang membawa dua teh panas di tangannya


"Silahkan, yah."


Ardhi menatap tajam ke arah Ray. Sedikit terenyuh melihat bekas merah di pipi Ray. Namun Ardhi segera menekan perasaan kasihannya. Ardhi harus tegas pada anak-anaknya yang sudah berbuat kesalahan


"Sebelumnya ayah tekankan, jangan pernah berbohong pada ayah. Abang harus cerita jujur ke ayah. Faham?"


Ray mengangguk "Ya,ayah."


"Jadi, apa penjelasan abang?" Tanya Ardhi


Ray menarik nafas sebelum mengatakan kebenarannya


"Abang dan Zalynda sudah menikah.."


Ardhi melihat tajam ke arah Ray "Apa ini salah satu kebohongan abang?"


"Tidak. Abang bicara jujur, ayah. Abang dan Za sudah menikah. Sah secara hukum dan agama."


Ardhi menatap manik coklat Ray mencari kebohongan di sana, tapi Ardhi tidak menemukannya. Ardhi segera memejamkan matanya sambil mengurut keningnya. Kepalanya terasa pening


"Bagaimana bisa abang menikah tanpa memberitahu ayah dan bunda?" Ucap Ardhi pelan


Di satu sisi Ardhi lega karena Ray tidak berzina. Di sisi lain Ardhi kecewa karena Ray menikah tanpa sepengetahuannya.


Ray menghela nafas panjang


"Abang akan cerita semua ke ayah.."

__ADS_1


__ADS_2