
Udara malam begitu menggigit seiring turunnya hujan. Wangi tanah basah dan rerumputan menyeruak masuk ke dalam indera penciuman. Sangat pas memang jika disandingkan dengan beberapa kue kering dan segelas teh panas.
Namun kali ini, Ardhi jelas tidak bisa terlalu menikmati suasana itu. Pikirannya penuh dengan cerita dari Ray. Ardhi berusaha mencerna satu persatu tiap ucapan yang disebutkan Ray di hadapan
"Apa yang menyebabkan paman tirinya tega menjual gadis itu ke club XX?" Desis Ardhi
"Entahlah ayah, beberapa kali abang memang memergoki paman tirinya melakukan tindakan kasar pada Za. Abang belum menemukan penyebabnya. Hal itu juga membuat Za mengalami trauma."
Ardhi mendesah pelan
"Jadi benar dia saudara om Wijaya?" Tanya Ardhi
Ray menatap manik coklat Ardhi sambil mengangguk
"Bisa dibilang begitu. Ibunya adalah keponakan jauh dari tuan Wijaya. Menurut penyelidikan om Beno, mereka masih memiliki hubungan keluarga."
Ardhi kembali memijit keningnya saat pening terass mendera
"Apa kau tahu kejadian dulu, Ray? Putri om Wijaya berusaha memisahkan ayah dan bunda, bahkan tega menyuruh orang untuk melenyapkan bunda."
Ray menghembuskan nafas kasar
"Za tidak ada hubungannya dengan hal itu, ayah. Dia bahkan belum lahir saat itu."
"Tetapi dia sempat berencana ingin menghancurkan keluarga kita, untuk membalaskan kegilaan bibinya kan?"
"Dia pun tidak pernah melakukannya, ayah."
"Kenapa abang terus membelanya sih?" Kata Ardhi kesal
Ray menatap suasana diluar lewat jendela kafetaria. Suasana diluar masih terlihat ramai lalu lintas, walau hujan tengah menderas
"Ray mencintai Za, ayah.."
Ardhi memicingkan matanya melihat ke arah Ray yang masih memandang ke luar jendela
"Abang yakin itu cinta? Bukan karena hal lain?"
Ray mengangkat bahunya sambil terkekeh pelan
"Sejujurnya abang juga nggak tahu cinta itu bagaimana, Yah. Yang abang rasakan saat dia pergi, abang merasa kehilangan. Abang selalu membandingkan perempuan yang mendekati abang dengan Za. Abang begitu excited saat kembali bertemu Za. Abang juga sedih saat dia menangis, bahagia saat dia tertawa, marah saat dia direndahkan.."
__ADS_1
Ray mengalihkan pandangannya kembali beradu pandang dengan Ardhi
"Jadi, apa menurut ayah?"
Ardhi mendesah pelan sambil memukul-mukul pelan keningnya
"Entah bagaimana tanggapan bunda nanti.."
"Abang akan kasih tahu bunda pelan-pelan. Semoga bunda lebih lapang hatinya untuk menerima Za."
Ardhi mendengkus "Menurutmu hati ayah berarti tidak lapang ya?"
Ray tertawa kecil "Apa ini berarti ayah sudah menerima Za?"
Ardhi tersenyum sambil menggeleng "Kau ini, pintar membalikkan kata-kata."
"Abang belajar dari ahlinya."
Keduanya saling menatap sambil tertawa. Ardhi memudarkan tawanya dan berganti menjadi senyuman
"Beri ayah waktu untuk mengenal Zalynda, bang."
***
Hari ini Ardhi hanya melihat Zalynda sebagai seorang gadis yang tidak tahu diri ada di apartemen seorang pemuda. Apa jadinya jika Ardhi juga mengetahui dirinya memiliki hubungan keluarga dengan tuan Wijaya, orang yang anaknya dulu hendak membunuh istrinya. Zalynda tidak mau membayangkan hal itu
Sebelum semuanya terlalu jauh, sebelum perasaannya terhadap Ray terlalu dalam, Zalynda bertekad meninggalkan Ray dan segala kenangan indahnya
"Hujan.." bisik Zalynda pelan sambil melihat keluar jendela kamar apartemen. Seakan alampun menangis saat Ray bersedih. Zalynda menarik nafas dalam-dalam. Sudah hampir satu jam hujan masih mengguyur bumi. Zalynda sedikit ragu, apakah dia tetap pergi di tengah hujan deras seperti ini? Hatinya tiba-tiba terasa sedih.
"Ah, jangan manja. Sudah 24 tahun kamu hidup susah. Apalah artinya satu kesedihan lagi untukmu Za.." kata Zalynda pelan sambil menepuk pipinya
Zalynda segera membawa kopernya keluar. Tidak banyak baju yang dibawanya. Bahkan baju-baju yang baru dibelikan Ray pun ditinggalkan
Sekali lagi Zalynda menatap sekeliling apartemen Ray. Baru satu minggu lebih Zalynda di sini, namun Zalynda merasa betah dan aman karena memiliki tempat bernaung. Entah apa yang terjadi jika Zalynda keluar, mungkin Yono akan kembali mengincarnya
Nyali Zalynda sedikit ciut mengingat Yono yang selalu mengganggu dirinya. Entah apa yang ada dipikiran paman tirinya itu
Namun bayangan raut wajah kesedihan Ray kembali berkelebat. Zalynda tidak mau Ray bertengkar dengan orangtuanya karena dirinya. Kembali Zalynda menguatkan niatnya untuk pergi
Zalynda segera meraih handle pintu. Tepat saay pintu terbuka. Zalynda terkejut melihat Ray berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Za…?" Mata Ray memicing melihat Zalynda membawa kopernya. Ray menggeram. Pemuda itu segera masuk dan menarik koper Zalynda
"Ray, biarkan aku pergi." Kata Zalynda sambil mempertahankan kopernya
Ray berbalik menatap Zalynda dengan pandangan tajam
"Kalau ada yang harus pergi, itu adalah aku. Apartemen ini milikmu, Za. Ini maharmu. Kau ingin pergi karena tidak ingin bersamaku kan? Baiklah, aku yang akan pergi, kau tetap tinggal di sini" Ray kembali menarik koper Zalynda masuk ke kamar
Zalynda menggeleng cepat. Gadis itu dengan cepat menarik tangan Ray
"Tolong jangan salah faham. Bukan aku tidak mau bersamamu, Ray. Tetapi hubunganmu dengan orangtuamu lebih penting."
Ray berhenti saat mendengar kalimat Zalynda. Ray berbalik menghadap Zalynda dan sejenak menatap netra coklat gadis itu
"Lalu ikatan pernikahan kita tidak penting, hm?"
Ucapan dan pandangan Ray seakan mampu mengunci semua pergerakan tubuh Zalynda. Wajah Ray perlahan mendekati wajah Zalynda membuat gadis itu sedikit memundurkan kepalanya. Ray menarik ujung bibirnya
Tangan kiri Ray segera membelit pinggang Zalynda, mencegah gadis itu untuk mundur sedang tangan kanan Ray mengeratkan pegangannya pada tengkuk Zalynda agar gadis itu tidak bergerak saat Ray mendaratkan kecupan di bibir Zalynda
"Ray.." Zalynda tidak bisa berkata-kata saat Ray dengan cepat m*****t bibir Zalynda. Gadis itu berusaha melepaskan dirinya, namun sepertinya Zalynda tidak benar-benar berusaha, dan itu membuat Ray semakin gemas
Tubuh Zalynda sedikit bergetar saat lidah Ray terasa menyapu dan mengabsen geliginya. Gerakan bibir Ray yang memabukkan membuat seluruh persendian Zalynda terasa lemas dan menghipnotis bibir Zalynda untuk bergerak seirama
Ray melepaskan ciumannya dan menyatukan keningnya dengan kening Zalynda. Nafas keduanya terengah-engah
"Kenapa kau selalu ingin pergi dariku Za? Apa aku harus mengikatmu agar kau tidak bisa pergi dariku, hm?" Bisik Ray serak
Bibir Ray tersenyum licik sambil mendesis "Memang sepertinya aku harus mengikatmu ya.."
"Eh, apa yang aaah.." Zalynda menjerit kecil saat merasakan tubuhnya melayang. Ray dengan cepat menggendong Zalynda dan meletakkan gadis itu di kasur
Sesaat pandangan mereka bertemu saat Ray mengungkung gadis itu di bawahnya. Ray tidak ingin membuat Zalynda kembali masuk ke rumah sakit karena ketakutan, namun hanya ini satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Ray untuk mengikat gadis itu di sisinya
Ray menatap wajah Zalynda dari jarak dekat
"Aku mencintaimu, Za.." bisik Ray sambil mendekati bibir Zalynda, tanpa menyentuhnya
Zalynda hanya bisa menatap Ray tanpa suara. Bibirnya bergetar seakan hendak berucap. Darah Zalynda kembali berdesir saat Ray kembali mencecapi bibirnya sebelum menutupnya dengan satu ciuman panjang
Zalynda menutup matanya, memasrahkan permainan dalam pimpinan Ray bahkan mengharapkan sesuatu yang lebih terjadi
__ADS_1
Hujan semakin menderas kala mereka berdua saling menukarkan getaran dan panas kerinduan yang membuncah. Keduanya makin larut dalam alunan malam yang membuai
Jerit nyaring serta rintihan manja Zalynda makin menegaskan kalau malam ini Ray berhasil mengikat gadis itu agar terus berada di sisinya