
Monitor jantung yang terhubung ke tubuh Zalynda masih bekerja dengan baik. Suaranya terdengar nyaring diantara keheningan malam.
Puas mengadu dan meminta pada Allah, Rabb Semesta Alam di waktu mustajab sepertiga malam, Ray kemudian melipat sajadahnya dan duduk di dekat Zalynda
Ray terdiam sembari menggenggam jemari Zalynda. Teringat kejadian siang tadi saat Ray melihat Zalynda menitikkan airmata
FLASHBACK
Beberapa dokter datang melihat kondisi Zalynda saat Ray mengatakan kalau Zalynda baru saja menitikkan airmata. Mereka, para dokter itu, segera memeriksa tekanan darah, detak jantung dan reaksi pupil mata Zalynda pada cahaya
"Apa yang terjadi sebelumnya?" Tanya dokter sambil melihat ke arah Ray
"Tidak ada, kami sedang berbincang-bincang lalu tiba-tiba aku melihat Za menitikkan airmata." Kata Ray
Dokter itu mengangguk-angguk "Sepertinya pasien bisa mendengarkan kisah atau obrolan. Hal ini dapat melatih sirkuit otak yang bertanggung jawab terhadap memori jangka panjang. Rangsangan itu perlahan membantu memicu bangkitnya kesadaran pasien saat koma."
"Jadi ini kabar baik?" Tanya Daniel
"Tentu saja pak. Setiap kasus koma seseorang berbeda. Gerakan refleks, respon verbal, hingga reaksi yang membuat orang koma bisa menangis menjadi faktor penting dalam menentukan mereka bisa sembuh total." Jelas seorang dokter wanita
"Teruskan mengajak pasien bercerita atau mendengarkan pak karena dengan cara seperti itu akan melatih otak pasien untuk memutar memori dan bisa pulih dari koma. Selain itu, kami akan terus memantau dan membantu dengan obat-obatan yang dibutuhkan." Kata dokter itu lagi sembari pamit pada orang-orang di ruangan rawat Zalynda
Ray tersenyum sambil mendekati Zalynda. Terlihat Ardhi dan Aya saling berpelukan dengan senyum bahagia
"Aku tahu kau akan segera pulih Za. Ayo berjuang untuk bangun. Aku menantikan mu." Bisik Ray di telinga Zalynda
Daniel mendekati Ray dan menepuk pundaknya lembut
"Ini sepertinya karena dirimu yang selalu menemaninya dan mengajaknya ngobrol. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyampaikan rasa terima kasihku."
Ray membalas senyuman Daniel "Ini sudah tugasku untuk menemani istriku, pak."
Daniel mendecih lalu tersenyum lebar pada Ray
"Ck, setidaknya buatlah perasaan putriku senang dengan memanggilku Papa.."
__ADS_1
FLASHBACK END
Ray tersenyum. Setidaknya terdapat secercah harapan kalau Zalynda akan segera pulih
"Za, ada satu rahasia yang hendak kuberitahu padamu.." bisik Ray pelan sambil membelai kepala Zalynda
"Aku sudah jatuh hati padamu saat pertama melihatmu di gerbang Universitas Gemilang. Saat itu kau baru saja turun dari mobil dan menyibakkan rambutmu. Kau tahu gerakan slow motion? Seperti itu yang terlihat di mataku. Tiap gerakanmu saat itu amat mempesona.. Apa aku berlebihan?" Ray terkekeh kecil
"Aku tidak berani untuk menatapmu langsung karena ternyata kau termasuk gadis populer diantara jajaran gadis baru di Fabulous Sorority. Tetapi kata teman-temanku kau pernah menanyakan diriku. Tahu nggak, hari itu kata Agus aku tersenyum sepanjang hari sampai dia mengkhawatirkan ada yang rusak di kepalaku.." Ray kembali tertawa sambil menanti reaksi Zalynda
Gadis itu hanya terdiam
Ray menghembuskan nafasnya berat. Matanya masih menatap Zalynda seolah menanti reaksi yang akan diberikan gadis itu
"Saat kejadian di pemilihan senat, aku akui hatiku hancur mendengar pengakuanmu yang mendekati diriku hanya untuk membuatku patah hati seperti ayah mematahkan hati anak tuan Wijaya.. Setelah itu kau menghilang dariku. Selama itu aku menutup hatiku untuk perempuan lain."
Ray menjeda ucapannya sembari menerawang
"Aku sakit hati, aku sempat mencoba membencimu dan menghilangkan bayangan dirimu.. Namun entah kenapa aku selalu membandingkan mereka yang mendekatiku dengan dirimu..Lalu, harapan itu muncul saat Marvin mengatakan kalau dia melihatmu." Ray tersenyum mengingat kejadian dua bulan lalu
"Sejak membawamu dari Club XX setiap sore aku selalu mengikutimu diam-diam dari toko kue bu Edah sampai kost-kostan. Aku baru pulang saat melihat lampu kamarmu sudah padam. Terdengar aneh bukan? Tapi itulah yang terjadi.." Ray kembali tertawa kecil
Kembali Ray melihat ke arah Zalynda dan menggenggam erat tangan gadis itu, berhati-hati agar tidak mengenai intravena yang terpasang di tangan kurus Zalynda
"Maafkan aku yang malam itu tidak menyadari keberadaanmu. Jika saja aku lebih memperhatikanmu, maka mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi.. Maafkan aku juga yang terlambat menyadari tentang kehamilanmu Za. Aku sungguh merasa tidak berguna.." Bisik Ray pelan sambil menengadah, mencegah buliran airmata turun dari pelupuk matanya
Ray menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Kembali Ray melanjutkan ucapannya
"Aku masih ingin menuliskan kisah romantis kita, Za. Aku masih belum puas bersamamu setelah bertahun-tahun kehilanganmu. Mungkin aku akan terus menempel padamu sampai kau mati kebosanan.."
Ray refleks memejamkan mata dan mengatup mulutnya menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Sedetik Ray merutuki dirinya mengapa harus terucap kata mati dalam kalimat romantisnya
Tiiiitt.. Tiiitt.. Tiiiitt
Ray tersentak mendengar perubahan suara dari monitor denyut jantung di samping Zalynda. Mata Ray segera terbuka melihat ke arah monitor jantung dan Zalynda bergantian
__ADS_1
"Ada apa ini?!" Pikir Ray panik sambil menekan tombol untuk memanggil perawat
Dua orang perawat segera datang ke dalam kamar perawatan Zalynda dan melihat kondisi Zalynda
"Cepat panggil dokter." Kata perawat itu pada temannya
"Hei, apa yang terjadi padanya?" Tanya Ray panik
"Silahkan bapak menunggu di luar sebentar agar tidak mengganggu jalannya pemeriksaan ya." Kata perawat itu sambil sedikit mendorong tubuh Ray untuk keluar, bertepatan dengan beberapa dokter yang bergegas masuk
BLAM
Pintu ruangan tertutup. Ray seketika tersadar dirinya sudah berada di luar ruangan perawatan Zalynda. Otak Ray seakan kosong tidak dapat berfikir
"Apa yang terjadi.."
***
Ray berjalan mondar-mandir didepan kamar rawat Zalynda. Pemuda itu sesekali melongok mencari celah untuk mengintip keadaan di dalam. Ingin rasanya Ray menerobos masuk melihat apa yang terjadi. Namun akal sehatnya melarang, karena jika hal itu dilakukan maka Ray kemungkinan tidak akan boleh menunggui Zalynda lagi
Sepanjang hidup baru kali ini seorang Ray Eagle terlihat cemas dan ketakutan
Ray hanya duduk sambil menenangkan hatinya dengan dzikir-dzikir dan rapalan doa untuk kesembuhan Zalynda.
Handphone Ray tergeletak di samping tempat duduknya. Tadinya Ray ingin menghubungi Ardhi dan Daniel, tetapi mengingat masih dini hari dan sepertinya akan mengganggu waktu istirahat mereka.
Namun mereka pasti akan marah kalau mereka tahu Ray tidak mengabari mereka di saat seperti ini. Ray menghela nafas dan segera mengirim pesan saja kepada Ardhi dan Daniel
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Zalynda. Mohon doanya.." hanya kalimat itu yang terpikir oleh Ray sebelum memencet send
Ray kembali menunggu dan menyibukkan diri dengan dzikir dan doa. Waktu terasa begitu lambat dan melelahkan
Tiba-tiba pintu kamar Zalynda terbuka. Ray segera berdiri menyambut seorang dokter saraf yang diketahui bernama dokter Adrian, teman sejawat dokter Adnan
"Dokter, bagaimana keadaan Zalynda?" Tanya Ray tidak sabar
__ADS_1
Dokter Adrian menatap Ray
"Pak, istri anda.."