
Ina meneguk habis air putihnya lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Ray memandang Ina takjub, sejak kapan Ina berubah jadi mirip preman pasar begini?
Di sebelah Ina, tampak Lean sedang mengelus-elus punggung gadis itu seolah hendak menenangkannya. Ina menatap Lean galak. Lean pun menghentikan tangannya di punggung Ina dan memasang wajah polos
Kembali Ray terpana. Leandre Alexander Knight ternyata bisa berwajah seimut itu sama istrinya. Ray menutup mulutnya agar tidak lepas tertawa melihat interaksi Lean dan Ina
Pandangan Ina beralih ke Zalynda
"Jadi, kakak ini istri bang Ray atau bang Lean?"
Zalynda mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Wajahnya terlihat bingung
"Bang Lean?"
"Andre, Za. Panggilan kesayangan Ina itu bang Lean. Ya Ndre?" Kata Ray yang langsung disambut anggukan Lean
"Saya istrinya Ray." Jawab Zalynda pelan
Ina mendengkus "Trus kenapa tadi bilang nikah sama bang Lean?"
"Na, jangan galak-galak." Ucap Ray sambil membelai punggung Zalynda
"Saya pikir mbak istrinya Ray.." Kata Zalynda sambil meringis memandang Ina.
Ray tertawa "Darimana kamu punya pikiran kayak gitu, Za? Ina ini adek aku."
"Ng..beberapa bulan lalu aku pernah lihat kalian keluar dari Frederick Groups Company bersama-sama. Aku pikir Ray punya hubungan istimewa karena Ray tidak pernah terlihat merangkul wanita.."
Ray teringat ucapan Marvin beberapa bulan lalu yang melihat Zalynda di lobby Frederick Groups Company. Ray tersenyum kecil sambil menyelipkan rambut Zalynda ke belakang telinga
"Berarti bener kakak ini nggak ada hubungan apa-apa sama abang?" Tanya Ina memastikan sambil menatap ke arah Zalynda dan Lean bergantian
"Nggak Na. Wanita di hati abang cuma Ina seorang. Swear!" Kata Lean sambil mengacungkan dua jarinya
Ina menghembuskan nafas lega. Kembali Ina memandang ke arah Zalynda dan menggenggam tangan gadis itu. Zalynda balik menatap ke arah Ina yang tersenyum
"Maaf ya kak, tadi Ina bentak-bentak kakak." Nada suara Ina kembali lembut
Zalynda hanya tersenyum sambil mengangguk
"Gimana ceritanya sampai kalian nikah?" Tanya Ina
"Ray hanya nolongin aku dari orang jahat. Terus saat di kost kami di grebek, bapak dan ibu kost salah faham sama kami. Dikira kami melakukan hal yang nggak-nggak, jadi mereka menikahkan kami secara paksa."
"Dinikahkan warga? Jadi nggak ada cinta sebetulnya?" Tanya Ina lagi
Zalynda hanya terdiam. Zalynda tahu kalau dirinya mencintai Ray, namun apa Ray juga mencintainya Zalynda tidak tahu. Apakah perlakuan Ray benar-benar cinta atau sekedar n***u belaka Zalynda pun tidak tahu
Lean melihat keheningan itu langsung berinisiatif mengajak Ina meninggalkan Ray dan Zalynda, terlebih saat Ina kembali hendak bersuara
"Mm.. kayaknya kita turun aja yuk Na. Sepertinya banyak yang harus dibicarakan Ray dan Za. Baby Knight juga udah capek kayaknya." Kata Lean sambil mengelus lembut perut Ina.
Ina merengut sambil menatap Lean
"Ina masih sebel sama abang. Masa' Ina ditinggal di apartemen sendirian sedang abang tiba-tiba bilang mau ke club. Tau gitu Ina di rumah bunda aja."
"Oh God. Itu Marvin yang ngajak dadakan soalnya kamis besok dia mulai cuti, persiapan nikah. Ray juga diajakin, cuma dia nggak mau. Mau jemput Za di tempat kerja."
__ADS_1
"Marvin mau nikah?" Bathin Zalynda. Banyak yang ia lewatkan sepertinya
"Kakak kerja?" Tanya Ina menatap Zalynda.
"Magang, baru selesai hari ini. Belum dapat kerjaan lagi."
"Zalynda ini ikut kursus baking, Na. Rencana kita mau buka toko kue kecil-kecilan." Kata Ray
"Di dekat gengs cafe ada tempat yang di jual. Mungkin elo mau lihat lokasi dulu Ray ntar gue anter." Kata Lean
Ray mengangguk "Gampanglah itu Ndre."
"Ya udah, yuk pulang Na. Udah malem banget ini. Kamu harus banyak istirahat." Ajak Lean sambil menarik Ina dengan lembut
Ina masih cemberut pada Lean. Terlihat Lean tersenyum jail dan membisikkan sesuatu di telinga Ina. Seketika wajah Ina memerah. Gadis itu segera berdiri dari sofa mengikuti Lean
"Kak Za, bang Ray, Ina ke bawah dulu ya. Besok Ina datang lagi kesini." Kata Ina sambil berpamitan pada Zalynda dan Ray
Ray mengantar Ina dan Lean sampai ke pintu.
"Marvin mau nikah Ray?" Tanya Zalynda saat Ray kembali duduk di sofa
"Iya."
"Sama siapa?"
"Ghea.."
Mata Zalynda menerawang. Teringat sosok gadis hippie pecinta lingkungan yang cuek dan baik hati. Tak sadar bibirnya melengkung mengingat persahabatannya dengan Ghea
"Kamu mau ketemu Ghea?"
"Takut apa?"
"Takut Ghea nggak mau ketemu sama aku. Takut Ghea masih marah sama aku karena dulu aku memanfaatkan pertemanan kami."
Ray merengkuh Zalynda ke dalam pelukannya. Zalynda memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan Ray yang seakan menembus ke relung hatinya
"Sampai kapan kamu sembunyi begini? Mereka juga teman-teman kamu Za. Kalau kamu datang meminta maaf dan menjelaskan semuanya, mereka pasti akan bisa terima kamu lagi." Ray berucap lembut
Zalynda mendorong pelan tubuh Ray dan menatap manik coklat milik pemuda itu
"Beneran?"
Ray menarik ujung bibirnya sambil mengangguk. Kembali Ray merengkuh Zalynda ke dalam pelukannya
Zalynda terdiam memikirkan ucapan Ray. Zalynda tidak punya kata-kata untuk penjelasan ke Ghea selain kalimat meminta maaf
Cukup lama Ray memeluk Zalynda hingga terdengar dengkuran halus dari gadis itu. Ray menghela nafas panjang
"Ditinggal tidur lagi..."
***
Suasana di rumah Ghea terlihat semarak. Walau pemberkatan nikah baru dilakukan esok pagi dilanjutkan pesta ke gedung, namun beberapa tetangga dekat di rumah Ghea sudah mulai datang bertamu
Zalynda meremas tangan Ray yang tidak henti menggenggam tangan Zalynda untuk menguatkan gadis itu
__ADS_1
"Ray.." panggil Zalynda pelan. Mereka sudah berada di halaman rumah Ghea
"Nggak apa-apa, Za."
"Gimana kalau Ghea malah ngusir aku? Gimana kalau.."
"Za.."
Ray mengangkat dagu Zalynda agar gadis itu menatapnya
"Ketakutan-ketakutan itu hanya ada di pikiran kamu. Aku yakin Ghea nggak begitu."
"Kalau ternyata begitu?"
Ray tersenyum "Minimal kamu nggak penasaran lagi. Yang penting kamu datang di momen sakral teman kamu."
Zalynda menarik nafas panjang. Berusaha menguatkan hatinya. Mereka berdua melangkah masuk
"Zalynda..?"
Zalynda menoleh ke arah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun. Mama Ghea
"Tante.."
Mama Ghea tersenyum mendekati Zalynda dan memeluk gadis itu.
"Kemana aja Za? Lama nggak kesini." Kata Mama Ghea lembut, seperti biasanya. Membuat Zalynda terharu
"Ghea ada tante?"
"Ada di kamarnya. Ayo tante anter. Ray, ditinggal dulu ya."
Ray mengangguk dan membiarkan mama Ghea membawa Zalynda ke kamar Ghea. Di depan pintu kamar, terdengar riuh suara gadis-gadis. Zalynda sedikit ciut
Mama Ghea yang melihat hal itu memeluk bahu Zalynda dan membuka pintu
"Ge, mama punya kado istimewa.."
Kedua sahabat itu saling bertatapan setelah sekian lama tidak berjumpa. Zalynda melihat beberapa anggota hippie yang dikenalnya di kampus dulu sedang bersama Ghea juga melihat ke arahnya
Ghea, gadis hippie yang dulu terlihat cuek dengan penampilan kini tampil cantik memukau
Rambutnya yang tebal di jalin rapi dan terlihat lebih halus. Kacamatanya berganti dengan contac lens berwarna
Sangat bertolak belakang dengan penampilan Zalynda yang kini terlihat biasa. Tidak lagi berambut warna burgundy, tidak lagi ber soft lens hazel. Namun kecantikan alami Zalynda lebih terpancar dari dandanan polosnya
"Za.." Ghea pun tertegun saat melihat Zalynda di pintu
Zalynda terdiam menatap Ghea, tidak tahu harus berbuat apa. Mama Ghea mengkode para gadis untuk meninggalkan mereka berdua. Para gadis dengan patuh meninggalkan keduanya setelah sebelumnya memeluk Zalynda untuk menyambut gadis itu
Sedikit banyak Zalynda mendapatkan kekuatan dari pelukan para mantan geng Hippie
Suasana terlihat canggung saat Zalynda dan Ghea berhadapan. Dengan ragu Zalynda mendekati Ghea yang terlihat tertegun dengan mata berkaca-kaca
"Apa kabar Ge?" Tanya Zalynda pelan
Tanpa disangka, Ghea menarik Zalynda dan memeluk Zalynda. Zalynda pun balas memeluk Ghea erat. Keduanya bertangisan
__ADS_1
"Kamu kemana aja Za? Aku telepon-telepon tapi nomornya nggak aktif-aktif.." Kata Ghea masih memeluk Zalynda
"Maaf Ge..Maafin aku.." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Zalynda sembari mengeratkan pelukannya pada Ghea