CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 137


__ADS_3

"Ray.."


Ray menatap tajam ke arah Sagara dan Zalynda. Sagara pun memandang tajam ke arah Ray. Hawa persaingan dan permusuhan langsung tersebar. Zalynda melirik kedua pria yang saling berhadapan itu


"Kamu disini Ray?" Tanya Zalynda mencoba mencairkan suasana.


Zalynda berdiri dari duduknya dan memegang lengan Ray. Ray menarik ujung bibirnya mendengar pertanyaan Zalynda. Pertanyaan basa-basi


"Kamu lihat aku kan Za?" Ray membalikkan pertanyaan Zalynda sembari menatap gadis itu sekilas lalu kembali menatap Sagara


"Maksudku ini masih jam kerja, bukannya kamu harusnya masih di kantor?" Tanya Zalynda lagi


"Memangnya aku nggak boleh ke sini kalau bukan diluar jam kerja?" Balas Ray sambil mengerutkan keningnya


Zalynda menghela nafas sambil membathin. "Mulai deh keluar sifat jeleknya."


"Cepat ambil tasmu. Kita ada jadwal kontrol dokter kan." Kata Ray


"Jadwal kontrol?" Zalynda menatap Ray. Sedetik kemudian gadis itu mengerti


"Ah iya, maafkan aku. Aku lupa Ray.."


"Makanya aku jemput kamu karena kamu pelupa, sayangku." Kata Ray sambil merengkuh Zalynda dan mengecup kepala gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya pada Sagara


Terlihat Sagara menaikkan satu alisnya


"Yang benar saja, bermesraan di ruang publik. Tidak tahu malu." Bathin Sagara


"Ayo sana bu boss, ambil tasmu di kantor. Kita pergi." Perintah Ray lembut


Zalynda melirik Sagara yang melihat dirinya dengan wajah sedikit terkejut


"Jadi kamu yang punya toko kue ini?" Tanya Sagara


Zalynda hanya berdehem, kemudian segera pergi ke ruangan kantornya. Ray pun menyusul Zalynda ke dalam ruangan kantornya. Tak lama keduanya keluar. Ray tampak membawa satu bingkai foto


"Coba pasang ini di tengah-tengah supaya bisa lebih menarik pelanggan yang datang." Kata Ray pada seorang pegawai.


Pegawai itu mengangguk dan mengerjakan apa yang diperintahkan Ray. Sagara melihat pegawai itu memasang foto Zalynda dengan di sebelahnya adalah sertifikat sebagai pembuat kue terbaik. Sagara tersenyum


"Pantas saja aku cocok dengan kue-kue disini. Kue disini dibuat dengan sepenuh cinta oleh seorang wanita cantik nan baik hatinya." Kata Sagara sambil menatap Zalynda yang sudah berdiri di belakang Ray


"Salah, koki ku yang membuatnya." Sanggah Zalynda cepat saat melihat wajah Ray sudah memerah

__ADS_1


"Ayo pergi Za. Nanti terlambat." Kata Ray sambil memeluk pinggang Zalynda dan membawa istrinya pergi.


Senyum jahil terbit di bibir Sagara. Segera pemuda itu menyusul Ray dan Zalynda keluar dari toko


"Besok kita ketemu lagi di sini ya, bu boss." Teriak Sagara.


Terlihat Ray mengacungkan tinjunya pada Sagara sambil membukakan pintu mobil untuk Zalynda.


Sagara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mobil Ray pergi meninggalkan toko. Matanya sedikit memicing mengingat kejadian saat bertemu dengan Zalynda


"Apa yang membuat gadis itu lari-lari ketakutan seperti tadi.."


Sagara pun beranjak pergi sambil bersenandung kecil. Pemuda itu melihat dua es coklat pesanannya tadi, bibirnya tersenyum. Sagara kembali melangkah dengan menenteng dua es coklat tadi


***


Zalynda melirik Ray yang sedang menyetir. Zalynda sebetulnya tidak menyukai suasana hening seperti ini karena seakan-akan menanti bom yang bisa meledak kapan saja


Zalynda meringis saat merasakan otot betis agak menegang. Kemungkinan akibat berlari tadi. Zalynda mencoba mengurut betisnya namun cukup sulit karena terhalang oleh perutnya. Gadis itu menghela nafas pelan. Ray melirik saat mendengar helaan nafas dari Zalynda


"Kenapa menghela nafas?" Tanya Ray


"Eh?" Zalynda menoleh ke arah Ray


"Kamu terganggu tadi ya waktu aku tiba-tiba muncul?" Tanya Ray lagi


"Aku sengaja menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat agar bisa menjemput mu lebih awal, eh kamu malah nggak ada di kantor. Ternyata kamu lagi asyik pergi sama Sagara." Kata Ray dingin


"Ray, aku nggak pergi sama Sagara. Kami ketemu di jalan." Kata Zalynda membela diri


"Janjian ketemu di jalan maksudnya?" Ujar Ray lagi.


Zalynda memutar bola matanya "Terserahlah.."


Zalynda malas berdebat dengan Ray. Gadis itu hanya menghembuskan nafas kasar sambil menurunkan sandaran kursinya. Zalynda memejamkan matanya, berharap perdebatannya dengan Ray tidak berbuntut panjang


"Zalynda, jawab aku."


Ray menoleh sekilas melihat Zalynda sudah duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Ray merasa di abaikan


Ray mencengkram setir nya kuat-kuat berusaha menahan omongannya. Dadanya masih terasa panas melihat interaksi antara Zalynda dan Sagara beberapa menit lalu. Tanpa sadar Ray semakin dalam menginjak pedal gas


Saat merasakan laju kendaraannya bertambah cepat, Zalynda yang sedari tadi memejamkan mata segera membuka matanya dan menoleh ke arah Ray dengan pandangan khawatir sambil berpegangan pada pegangan di atas pintu

__ADS_1


"Ray.." panggil Zalynda


Ray acuh. Pandangannya lurus ke depan. Sesekali mobilnya berkelok menyalip mobil yang ada di depannya


"Astaghfirullah, Ray.." Zalynda menatap ngeri saat mobil Ray mulai menyalip-nyalip mobil di depannya. Ray seolah tidak mendengarkan Zalynda


"Ray, please. Jangan ngebut!" Kata Zalynda sedikit keras membuat Ray sedikit tersentak.


"Astaghfirullah.." desis Ray sambil perlahan menurunkan kecepatan lari mobilnya dan berhenti di bahu jalan


Ray menoleh ke arah Zalynda. Wajah Zalynda agak pucat. Terlihat gadis itu mencengkram kuat pegangan pintu sambil mengusap-usap perutnya . Ray memejamkan matanya sambil menghela nafas


"Sorry.." Kata Ray pelan.


Zalynda terdiam sejenak sambil mengatur nafasnya. Pegangan tangannya mengendur. Zalynda menatap Ray tajam dengan mata berkaca-kaca


"Kalau kamu gitu lagi, aku pulang naik taksi online!" Ancam Zalynda


"Ok, maafkan aku." Ray menyandarkan tubuhnya di kursi sambil membuang pandangannya ke depan


Keduanya saling diam beberapa saat. Ray dan Zalynda berusaha mencoba mengatur emosi masing-masing


"Aku tadi pergi belanja ke supermarket dekat toko.." Kata Zalynda


Ray masih terdiam tapi sebenarnya pemuda itu menyimak apa yang Zalynda katakan


"Tadi aku merasa ada yang mengikutiku sejak di supermarket. Makanya aku cepat-cepat pergi untuk kembali ke toko karena aku takut. Kakiku sedikit sakit karena aku berlari tadi. Untung ketemu Sagara.."


Ray menoleh melihat kearah Zalynda. Gadis itu tertunduk sambil mengusap-usap perutnya


"Sagara yang menemaniku sampai ke toko. Itu saja, nggak ada yang lain." Suara Zalynda terdengar bergetar


Ray masih diam. Dalam hatinya terbesit sedikit rasa bersalah karena sempat ngebut dan membuat Zalynda ketakutan


"Aku mendesah tadi karena betisku sedikit kram. Sepertinya efek berlari tadi. Tapi saat aku mau mengurut betisku, aku nggak bisa karena tertahan perut.."


Zalynda mengucapkannya sambil menangis, namun di mata Ray Zalynda terlihat lucu dan menggemaskan. Ray berusaha untuk tidak tertawa di depan Zalynda, khawatir istrinya bertambah marah


Dengan sigap Ray membuka dashboard dan mengambil cream no-pain untuk meredakan otot yang tegang. Ray segera keluar dari mobil dan membuka pintu Zalynda


Awalnya Zalynda sedikit heran dengan tingkah Ray. Pemuda itu berjongkok dan menyingkap sedikit rok panjang Zalynda lalu dengan cepat mengoleskan cream no-pain ke betis Zalynda sembari mengurut ringan


"Masih sakit?" Tanya Ray. Zalynda menggeleng pelan. Ray masih mengurut betis Zalynda perlahan membuat Zalynda sedikit terenyuh dengan perbuatan Ray dan melupakan amarahnya tadi

__ADS_1


Keduanya saling menatap dan melemparkan senyuman


"Ah Ray, kalau pas begini kamu manis banget.." bisik Zalynda dalam hati


__ADS_2