CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 31


__ADS_3

Kriiiing…


Jam alarm Zalynda berbunyi tepat pukul 4 pagi. Zalynda mendengarnya, hanya saja tubuhnya terlalu letih dan pegal bahkan untuk menjangkau alarm di samping tempat tidur dan mematikannya. Sepertinya pagi ini pun matanya enggan berkompromi untuk segera terbuka


Zalynda merasakan pergerakan di belakang tubuhnya. Hawa panas yang mengurungnya hilang seiring terlepasnya sebuah lengan kekar yang entah sedari kapan melingkar di perutnya yang terbuka


Plek


Alarm itu berhenti. Hawa panas tubuh seseorang beraroma citrus kembali menyelubunginya bersamaan dengan tangan kekar yang kembali melingkar di pinggangnya


Zalynda memaksakan membuka matanya perlahan. Gadis itu mengenyitkan keningnya saat merasakan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa ngilu dan lemas seolah semua persendiannya terlepas dari tempatnya


Perlahan Zalynda kembali mengingat malam panjang yang dilewatinya bersama Ray. Semalam Zalynda seperti menemukan kembali dirinya. Bersama Ray, ia membuang semua perasaan minder, tidak percaya diri, tidak diinginkan dan berbagai perasaan negatif lainnya.


Semua itu lenyap saat keduanya melebur menjadi satu dalam satu rangkaian percintaan yang intens.


Ray pun memperlakukan Zalynda dengan sangat lembut dan tidak terburu-buru sehingga Zalynda merasa di hormati, di sayangi dan di inginkan. Zalynda tersenyum, wajahnya terasa memanas


Zalynda mencoba bangkit perlahan agar tidak mengusik Ray. Gadis itu meringis merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya saat kakinya mencoba bergerak


Merasa ada pergerakan, Ray membuka matanya menatap Zalynda yang sedang mencoba bergerak bangun


"Mau kemana, sayang?" Tanya Ray dengan suara serak khas orang bangun tidur. Tangannya menyentuh bahu Zalynda yang terbuka dan mengusapnya perlahan


"R-Ray? Sudah bangun?"


Zalynda refleks mengangkat selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Hal itu memancing Ray untuk sedikit menjahili gadis itu. Ray segera bangkit mendekati Zalynda


"Nggak usah di tutup. Aku sudah lihat semua." Bisik Ray di telinga Zalynda membuat gadis itu malu


Zalynda refleks bangkit untuk menghindari Ray, namun rasa nyeri mendera dan membuatnya kembali terduduk di tempat tidur


"Uugh.." rintih Zalynda pelan.


Ray langsung terduduk saat melihat Zalynda meringis


"Sakit banget ya?" Tanya Ray polos


"Ish, masih nanya..." Bisik Zalynda dalam hati


Ray segera turun dari ranjang dan mengenakan celana panjangnya. Dengan sigap Ray membopong Zalynda ke kamar mandi dan mendudukkannya di bath tub.


"Mau di bantuin mandi?" Tanya Ray serius. Zalynda melotot. Tidak ingin kejadian berlanjut di kamar mandi, Zalynda segera menggeleng

__ADS_1


"Aku bisa sendiri. Kamu juga harus mandi, Ray. Ini sebentar lagi shubuh." Kata Zalynda mengingatkan


Ray tersenyum sambil mengangguk. Pemuda itu mengecup bibir Zalynda sekilas dan pergi beranjak dari kamar mandi Zalynda


"Huff..aman." Bisik Zalynda saat melihat pintu kamar mandinya tertutup


***


Ray menatap punggung Zalynda yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Senyum mengembang di bibir Ray saat melihat cara jalan Zalynda yang sedikit aneh


"Hari ini jadi ke rumah bunda ya, Za." Kata Ray saat Zalynda menghidangkan sarapan di depannya. Nasi goreng dengan telur mata sapi begitu wangi menggoda selera


Zalynda tertegun sejenak lalu duduk di hadapan Ray dengan tatapan ragu-ragu


"Ng, gimana kemarin tanggapan pak Ardhi Ray?" Tanya Zalynda


"Ayah udah aku ceritain kok. Beliau bilang ingin tahu lebih detail soal kamu. Uh, enak banget Za." Kata Ray sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya


Zalynda tersenyum melihat Ray memuji dan memakan masakannya dengan lahap. Dulu di rumah tuan Wijaya, tidak ada yang memujinya seperti itu karena hasil masakannya selalu di klaim sebagai hasil masakan Diva


"Hey, bengong lagi." Ray menjentikkan telunjuknya ke pipi Zalynda dengan pelan. Zalynda mengerjapkan matanya


"Eh iya, jam berapa ke sana?"


Zalynda mengangguk. Setidaknya ia punya cukup waktu membuat chocolate eclairs untuk dibawa ke rumah Ray. Segera Zalynda berdiri untuk mengecek bahan-bahan yang sudah dibelinya kemarin.


"Kamu mau kemana, sayang. Temenin aku makan." Kata Ray merajuk sambil menarik tangan Zalynda sehingga gadis itu terduduk di pangkuan Ray. Ray segera membelit pinggang ramping Zalynda dengan lengannya


"Ih kok jadi manja siy. Perasaan dulu Ray Eagle nggak pernah manja-manja gini." Kata Zalynda terkekeh


"Kan dulu belum halal, bisa dosa. Kalau sekarang sudah halal, dapet pahala manja sama istri."


Zalynda tersenyum sambil menoleh ke arah Ray yang berada di belakangnya


"Manja-manjanya nanti ya. Aku mau ngecek bahan chocolate eclairs. Mau bikin buat bawa ke rumah kamu." Kata Zalynda lembut sambil membelai rahang Ray yang terlihat kokoh


Ray balas tersenyum sambil mengangguk. Pemuda itu segera melepaskan Zalynda dari pelukannya


Zalynda pun menuju ke pantry kecil di sudut dapur. Tampaknya semua bahan-bahan yang diperlukan lengkap. Zalynda segera beraksi


Ray melihat Zalynda begitu bersemangat saat membuat kue. Wajahnya terlihat bercahaya akan semangat. Ray menyunggingkan senyuman nya


***

__ADS_1


Rumah Sakit Healing Soul


Udara pagi setelah hujan memang terasa segar dan sejuk. Terlebih sinar matahari memancar dengan malu-malu


Terlihat sosok tampan, Daniel Pratama berjalan tegap menuju ruang perawat yang ada di depan lobby rumah sakit Healing Soul. Hari ini Daniel terlihat bersemangat karena dapat mengunjungi Farah lagi setelah sekian lama


Buket bunga Lily yang tadi dibelinya pun masih terlihat segar dan cantik. Daniel melongokkan kepalanya melihat ke dalam


Seorang perawat muda menyadari kehadiran Daniel lalu menghampirinya


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanya perawat muda itu sopan


"Saya ingin mengunjungi pasien bernama Farah. Farah Afriyani Wijaya." Kata Daniel


"Oh, sebentar.." perawat muda itu melihat ke layar monitor nya. Daniel mengintip ke dalam. Beberapa orang berpakaian putih-putih tampak lalu lalang di taman dalam


"Mm.. disini tidak ada pasien bernama Farah Afriyani Wijaya, pak."


Deg..Daniel terkejut. Keningnya berkerut. Lalu seketika wajahnya berubah cerah


"Apa Farah sudah sembuh?" Tanya Daniel antusias


"Sekitar setahun tahun lalu, bu Farah di bawa oleh keluarganya pak karena menunggak biaya di rumah sakit ini." Kata seorang perawat, sepertinya perawat itu adalah perawat senior di sini


"Apa? Jadi Farah sudah di bawa pulang om Wijaya?" Tanya Daniel lagi


Perawat itu seperti mencari sesuatu di monitor komputernya


"Ah ini, ibu Farah Afriyani Wijaya. Sudah enam bulan menunggak. Lalu saat akan dipindahkan ke kelas bangsal, salah satu keluarganya melunasi tunggakan dan membawanya pulang."


"Om Wijaya? Kenapa bisa menunggak? Apa yang terjadi?" Pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Daniel


"Sudah setahun ini bu Farah tidak lagi berada di sini, pak."


"Nama keluarga yang membawanya siapa suster?" Tanya Daniel memastikan. Walau sedetik kemudian Daniel merasa bodoh karena keluarga Farah satu-satunya hanya tuan Wijaya


Perawat itu kembali melihat ke arah monitor


"Lela."


Daniel menoleh, memastikan telinganya tidak salah mendengar


"Siapa sus?"

__ADS_1


"Bu Farah di bawa pulang oleh keluarga, dengan penanggung jawab, atas nama Lela."


__ADS_2