
Zalynda menatap jam di samping tempat tidurnya. Rasanya 10 menit sangat lama
Menyadari pembalutnya belum terpakai sejak dua bulan lalu membuat Zalynda memiliki tenaga untuk turun ke apotek seberang apartemen Gading membeli testpack.
Zalynda tahu, mungkin hasilnya tidak terlalu akurat karena dilakukan siang hari, bukan seperti anjuran beberapa praktisi kesehatan yang menyarankan menggunakan testpack setelah bangun tidur saat pagi
Jantung Zalynda sedikit berdebar. Jujur dirinya sedikit takut kalau tes itu menyatakan dirinya tengah berbadan dua. Zalynda sepertinya belum siap untuk hamil. Namun sebagian dirinya sangat bersemangat untuk cepat-cepat hamil
Teringat akan masa kecilnya dulu yang tumbuh tanpa hadirnya seorang ayah dan sudah menjadi yatim piatu di usia 8 tahun. Tak sadar Zalynda mengusap perutnya. Kalau dirinya memang hamil, bayi ini akan lebih beruntung dari dirinya karena memiliki keluarga lengkap yang akan menyayanginya. Seulas senyum terbit di bibir Zalynda
Zalynda kembali melirik jam di atas nakas. Sudah 10 menit. Zalynda segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil testpack. Benda itu tergolek di atas wastafel. Zalynda menarik nafas. Gadis itu segera mengambil testpack itu dan menatapnya dalam
Mata Zalynda berkejap melihat hasil yang tertera
***
"Waah kak, baunya harum bangeet." Kata Ian sambil mengendus kue yang baru dikeluarkan Zalynda dari oven. Zalynda tersenyum melihat tingkah Ian
"Hey, jangan ganggu kak Za. Kamu sana bantuin tata gelas sama piring di depan." Tegur Aya saat Ian hendak mengambil satu chocolate eclairs
Ian merengut, tak urung pemuda itu melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk menata piring dan gelas
Aya menghampiri Zalynda yang sedang menata chocolate eclairs di nampan saji. Aya tersenyum, dirinya teringat Ina yang sering membantunya memasak
"Ray berarti langsung dari kantor, Za?" Tanya Aya
"Iya bunda. Tadi kirim pesan katanya mau bareng ayah kesini."
Aya menahan bahu Zalynda untuk melihat wajah menantunya lebih jelas
"Kamu sakit? Kok pucat banget?" Tanya Aya. Zalynda segera meraba pipinya
"Za baik-baik aja, bunda."
"Ya udah, kamu siap-siap aja dulu. Biar dapur diberesin sama Sumi. Hari ini bunda mau ngenalin kamu ke semua orang sebagai menantu bunda sekalian mau mengumumkan resepsi kalian." Kata Aya sambil mengusap kepala Zalynda yang terbalut kerudung pink
Wajah Zalynda bersemu senada dengan warna kerudungnya. Hatinya membuncah bahagia. Gadis itu mengangguk dan segera pergi ke kamar Ray untuk bersiap-siap
Beberapa tamu tampak sudah hadir dan mengobrol di ruang tamu. Aya hanya mengundang pegawai butik dan geng arisannya saja.
"Bang, jangan ngelamun dong. Tolongin gue angkat meja ini." Kata Endra saat melihat Ian tampak memperhatikan mobil-mobil yang terparkir
"Eh, sorry." Ian segera membantu Endra untuk mengangkat meja dan memindahkannya ke sisi
Pukul delapan malam tepat, Vera selaku MC membuka acara Aya dengan menyampaikan sedikit sambutan-sambutan untuk para tamu yang hadir
__ADS_1
Setelahnya disambung oleh Aya selaku owner dari Tsurayya butik. Sebuah slide film dipertontonkan untuk memperlihatkan perjuangan Tsurayya butik mulai dari bawah hingga bisa berkibar mengikuti pameran fashion di Nusantara dan Luar negeri
Dari tempat duduknya, Zalynda melihat Ray dan Ardhi baru saja tiba. Ardhi langsung menghampiri Aya dan mengecup keningnya mesra sementara Ray terlihat langsung menghampiri Zalynda
"Maaf telat, macet." Bisik Ray sambil duduk didekat Zalynda.
"Baru mulai sih. Kamu mau minum?"
Ray mengangguk
Zalynda dengan cekatan pergi mengambilkan minum dan camilan untuk Ray di meja prasmanan. Tampak di meja prasmanan beberapa kue tersaji
"Hay, Za."
Zalynda mengangkat kepalanya dan melihat Sagara sudah berada di sampingnya. Sagara tersenyum sambil meneliti penampilan Zalynda
"Kamu tambah cantik pakai kerudung."
Zalynda hanya tersenyum tipis dan segera pergi dari situ
"Tunggu, aku cuma pengen bilang sorry secara benar." Sagara menarik lengan Zalynda mencegah gadis itu untuk pergi
Langkah Zalynda terhenti. Matanya menatap tangan Sagara yang menarik lengannya. Sagara tersadar dan langsung melepaskan tangannya
Zalynda menghela nafas sambil menghadap kearah Sagara
"Bicaralah Gara, tapi kumohon cepat karena suamiku menunggu."
Sagara mengangguk "Aku hanya ingin meminta maaf dengan sikapku sebulan lalu."
"Ku maafkan." Kata Zalynda cepat dan hendak meninggalkan Sagara. Sejujurnya Zalynda kurang nyaman berbincang dengan Sagara
"Tunggu.." Sagara refleks menarik tangan Zalynda
"Apa kita tidak bisa berteman?" Tanya Sagara lagi
"Tidak ada pertemanan murni antara pria dan wanita. Kalaupun ada, itu hanya satu berbanding seribu. Tolong lepaskan aku, Gara." Kata Zalynda sambil mencoba melepaskan genggaman Sagara
Tiba-tiba seseorang memegang tangan Sagara.
"Hey, dude. Kamu bikin takut kakak iparku."
Zalynda melihat Ian menatap tajam ke arah Sagara. Mau tak mau Sagara melepaskan genggaman tangannya dan pergi dari situ. Ian menghela nafas sambil menatap Zalynda
"Kakak nggak apa-apa? Wajahnya pucat." Tanya Ian
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Terima kasih ya Yan." Kata Zalynda tersenyum. Zalynda segera kembali ke tempat duduknya dan menyerahkan camilan serta minuman untuk Ray
Zalynda menghembuskan nafas lega. Ray masih fokus dengan slide film yang diputar sehingga tidak memperhatikan apa yang terjadi. Zalynda khawatir akan terjadi keributan di acara syukuran Aya kalau Ray melihat yang terjadi
Lampu-lampu kembali menyala saat pemutaran slide selesai. Tepukan memenuhi ruangan. Aya dan Ardhi maju ke depan para tamu
"Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan dukungan para pegawai juga pecinta karya butik saya. Tanpa kalian, mungkin saya tidak akan berada di sini malam ini." Kata Aya. Matanya menatap mesra ke arah Ardhi. Ardhi mengangguk sambil tersenyum
"Sekarang saya akan memperkenalkan seseorang pada kalian. Zalynda, kemari sayang." Panggil Aya
Zalynda terkejut karena namanya mendadak di panggil. Walau Aya sudah mengatakan akan memperkenalkan dirinya, namun rasa gugup kembali menerpa
Ray yang menyadari Zalynda mematung langsung merangkul hangat bahu Zalynda, membuat gadis itu tersadar dan menoleh ke arah Ray
"Aku temenin ke depan." Bisik Ray sambil mengeratkan rangkulannya
Tubuh Zalynda menghangat. Keberaniannya muncul. Gadis itu mengangguk, lalu berjalan menuju Aya dan Ardhi
Aya tersenyum dan menyambut Zalynda hangat
"Perkenalkan, ini menantu saya Zalynda Navulia." Kata Aya sumringah
Ruangan menjadi sedikit ramai. Setahu para tamu, menantu keluarga Al Farobi adalah pria yang beberapa bulan lalu menyelenggarakan pernikahan.
Aya kembali bersuara
"Zalynda ini adalah istri Rayhan. Mereka sudah menikah dua bulan yang lalu. Karena satu dan lain hal, kami belum sempat menyelenggarakan pesta pernikahan untuk keduanya. In syaa Allah pesta pernikahan akan digelar dua bulan lagi jika tidak ada aral melintang."
"Apa anda sudah mengetahui latar belakang menantu anda, nyonya Al Farobi?" Terdengar sebuah suara dari deretan para tamu
Semua mata segera berpaling ke arah sumber suara.
Zalynda membeku melihat Yono dan Anggun berdiri. Zalynda merasakan sesuatu yang buruk akan segera datang
Yono dan Anggun berjalan ke depan diikuti mata para tamu. Yono menyeringai melihat tatapan Ray yang seakan ingin menguliti dirinya.
"Saatnya membalas dirimu, Ray Farobi." Bisik Yono dalam hati
Yono mendekati Zalynda sambil mengusap kepala gadis itu. Refleks Zalynda menjauhkan kepalanya dan Ray menangkap tangan Yono. Yono terkekeh
"Memakai kerudung tidak berarti menyucikan dirimu, manis."
Yono menatap ke arah Ray tajam
"Katakan, tuan muda Al Farobi. Berapa ratus juta yang kau keluarkan untuk menebus gadis ini dari Club XX?"
__ADS_1