CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 101


__ADS_3

Zalynda mengerutkan keningnya saat melihat mobil Daniel sudah memasuki halaman rumah keluarga Wijaya. Pria itu tersenyum pada Zalynda


"Papa? Kok kesini? Nggak ke kantor?" Tanya Zalynda sambil menyambut Daniel


"Papa bisa kerja di mana saja asal ada laptop. Lagian kamu kenapa nggak bilang Papa kalau Ray nggak bisa jemput kamu?" Tanya Daniel sambil memeluk putrinya


Zalynda mengajak Daniel masuk dan duduk di ruang tamu. Bi Ijah dengan cekatan langsung membuatkan minum untuk Daniel


"Ray ada rapat mendadak pagi ini, Pa. Jadi dari bandara langsung ke Menara Timur." Zalynda menawarkan roti yang dibuatnya tadi pagi. Daniel langsung mengambil dan memakannya


"Coffee bun. Pas banget buat sarapan." Kata Daniel sambil memasukkan langsung potongan roti ke mulutnya. Daniel langsung memberikan jempol ke Zalynda membuat gadis itu tertawa senang


"Harusnya kamu bilang ke Papa buat jemput kamu dan tante Farah. Bukan milih naik taksi online." Kata Daniel sambil kembali mencomot roti buatan Zalynda


"Za nggak mau ngerepotin, Pa. Selama Za bisa sendiri, akan Za lakukan."


"Nggak ngerepotin lah, kayak sama siapa aja. Udah sana siap-siap. Papa mau ketemu kakek dulu."


Zalynda mengangguk. Gadis itu segera pergi ke kamarnya untuk bersiap. Di kamar, Farah yang baru keluar dari kamar mandi melihat Zalynda bersiap


"Papa kamu udah dateng?" Tanya Farah


"Udah. Tante yang kasih tahu Papa ya kalau Ray nggak bisa jemput?"


Farah tersenyum kecil. Wanita itu menarik tangan Zalynda untuk duduk


"Kalau bukan tante, apa kamu mau telepon Papa kamu untuk minta jemput?" Tanya Farah menatap Zalynda. Zalynda menggeleng


"Za nggak mau ngerepotin.."


Farah mendesah pelan.


"Za, kamu tahu nggak ada ego lelaki yang harus diberi makan oleh wanita?"


"Ego lelaki?" Zalynda membeo. Farah mengangguk


"Pertama, lelaki itu juga suka pujian sama seperti wanita. Kalau dia melakukan sesuatu yang baik terutama tentang kamu, puji dia." Kata Farah sambil mengacungkan jari telunjuknya


"Kedua, lelaki itu makhluk visual. Nah ini berlaku untuk pasangan. Jadi kalau kamu sedang sama Ray setidaknya kamu bersih, wangi dan enak di pandang oleh Ray. Tetapi mereka juga pencemburu berat jadi walaupun kamu berdandan cantik dan ada lelaki lain yang memperhatikanmu berlebihan, mereka akan berfikir untuk segera menyembunyikanmu." Kata Farah lagi sambil tertawa


Zalynda berfikir sejenak. Pantas saja Ray sering menyuruhnya berdandan dan mengenakan pakaian pendek yang sedikit terbuka saat mereka sedang berduaan.


"Ketiga, para pria senang kalau mereka merasa dibutuhkan, mereka merasa punya andil dalam hidup kita. Walaupun kita mandiri, tidak ada salahnya merepotkan mereka bahkan mereka senang kok kalau kita ngerepotin mereka karena mereka merasa dibutuhkan. Mereka ngerasa jadi gentleman banget karena bisa bantuin wanita."

__ADS_1


"Berlaku juga pada Papa?" Tanya Zalynda


Farah mengangguk sambil tersenyum "Berlaku juga untuk Daniel."


"Lalu apa yang keempat?" Tanya Zalynda lagi


"Pengakuan." Kata Farah.


Kening Zalynda berkerut "Pengakuan, contohnya gimana tante?"


"Kalau yang terakhir, PR buat Za. Ayo siap-siap, Daniel udah nungguin kan." Kata Farah sambil tertawa


"Yah baru aja di kasih kuliah tentang pasangan, udah selesai aja. Mana ada PR lagi." Ucap Zalynda sambil tersenyum lebar. Pembicaraan ringan pagi ini benar-benar membuat Zalynda seperti percakapan ibu dan anak, dalam artian yang sesungguhnya


Zalynda merasa bahagia..


***


Daniel dan Farah baru saja tiba di taman kota setelah mengantarkan Zalynda kembali ke apartemennya. Farah sengaja mengajak Daniel pergi ke taman kota karena ada yang ingin dibicarakan Farah pada Daniel


Daniel membawakan dua minuman untuk menemani obrolan mereka. Farah dan Daniel memilih salah satu gazebo fasilitas dari taman kota untuk tempat mereka berbincang-bincang


"Nah, apa kira-kira yang ingin kau bicarakan Fa?" Tanya Daniel membuka percakapan


Farah menyeruput minumannya sambil memandangi beberapa pejalan kaki di taman yang berlalu lalang di hadapannya


Daniel menoleh sambil tersenyum "Iya. Asal kamu tahu, dulu kita sering lho main di sini sepulang sekolah."


Farah menghembuskan nafasnya sambil mengangguk "Dulu belum ada gazebo seperti ini. Kita lebih senang duduk di bawah pohon besar di sana."


Farah menunjuk satu pohon besar yang kini di bawahnya di bangun kios-kios jajanan untuk memanjakan perut para pengunjung taman


Mata Daniel memicing mendengar ucapan Farah. Wanita itu masih menatap lurus, mengacuhkan tatapan Daniel padanya


"Kita sering jajan otak-otak mang Idang. Tapi sekarang mang Idang sepertinya sudah nggak jualan lagi ya.."


"Fa.."


Farah meneruskan ceritanya tanpa menghiraukan pandangan Daniel yang terlihat terkejut


"Di ulang tahunku yang ke 17 itu pertama kali kamu cium aku dan bilang sayang ke aku, di taman ini, saat hujan besar.."


"Fa, kamu ingat?!" Kata Daniel sambil membalikkan tubuh Farah untuk menatapnya

__ADS_1


Mata Farah mengerjap sambil tersenyum kecil. Wanita itu mengangguk pelan


"Aku ingat semuanya, Niel.. Semuanya."


Daniel tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Refleks Daniel memeluk Farah erat. Farah pun melingkarkan tangannya memeluk tubuh Daniel


Daniel menguraikan pelukannya dan menatap Farah intens "Apa saja yang kau ingat? Emm..maksudku.."


"Semua.. Mulai dari cerita kita, kejahatan yang kulakukan, sampai.. Sampai aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik di rumah sakit Polri." Mata Farah nampak beriak penuh airmata


"Kamu tahu bayi mungil itu?" Tanya Daniel. Farah mengangguk


"Aku kenal tanda lahir di lengan kirinya. Aku melihatnya saat semalam bersama Zalynda. Hal itulah yang memicu kembalinya ingatanku, Niel.." Air mata Farah menganak sungai


"Hey, kok nangis? Harusnya ini berita bahagia. Kita harus beritahukan hal ini pada om Wijaya dan Zalynda."


Farah menggeleng kuat-kuat


"Jangan ceritakan pada siapapun kalau aku sudah mengingat semuanya." Kata Farah


"Kenapa?" Tanya Daniel heran


"Niel.. Apa yang dulu ku perbuat pada Ardhi dan Aya itu jahat sekali. Aku sendiri tidak yakin mereka akan memaafkanku.."


"Mereka memaafkan mu, buktinya mereka memaafkanmu dan menerima Zalynda." Kata Daniel mencoba menguatkan


Farah tersenyum sedih


"Kau pun hanya korban dalam kejadian itu, sedang akulah otak kejahatannya. Mereka jelas menaafkanmu. Untuk Zalynda, mereka menerima nya karena kemungkinan aku lupa ingatan." Farah menghapus airmatanya dan menerawang ke langit


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sikap mereka pada Zalynda saat mereka tahu kalau ingatanku sudah kembali. Aku pernah membuat Zalynda menderita, aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kali." Kata Farah lagi


Farah mengatur nafasnya untuk meredakan emosinya


"Aku hanya berbicara hal ini denganmu Niel, karena itu jangan pernah coba-coba mengatakan ke orang lain karena aku akan sangat marah.."


Daniel mendesah pelan


"Jadi apa maumu, Fa?" Tanya Daniel. Farah menggeleng


"Biarkan saja seperti ini. Biarkan aku tetap menjadi Farah teman Lela. Biarkan Zalynda tetap memanggilku tante. Biarkan aku tetap memanggil Papa dengan sebutan om.." Nada kesedihan tergambar di kalimat Farah


"Ini adalah hukuman untukku, Niel. Hukuman atas dosa-dosaku. Aku memiliki keluarga namun aku tidak bisa menyebut atau mengakui mereka sebagai keluargaku. Aku punya seorang putri yang amat jauh untuk kurengkuh dan tetap dipanggil tante oleh anakku sendiri.. Ini adalah hukuman untukku, Niel."

__ADS_1


Daniel menatap Farah yang berusaha menahan emosi kesedihannya. Satu solusi yang terpikirkan oleh Daniel untuk mengurangi beban kesedihan di hati Farah


"Mari kita menikah.."


__ADS_2