
Hidup akan memberikan beberapa pilihan untuk membuat kita tetap berjalan dan melanjutkan perjuangan di dunia fana ini, se sepele apapun itu. Pilihan-pilihan yang penting ataupun sepele itu akan mengubah hidupmu perlahan.
Pilihan terdahulu akan menempatkan dirimu pada posisimu saat ini, hingga nanti kau akan menyadari seandainya engkau memilih pilihan yang berbeda, akankah posisi tetap berada di tempatmu sekarang ataukah berbeda
Tidak mungkin seseorang kembali ke masa lalu untuk mengubah pilihan hidupnya. Yang ada setelah pilihan itu adalah bersyukur dan bersabar. Karena itu tentukan dengan bijak pilihanmu
Saat inipun Zalynda dilema. Gadis itu tidak ingin meninggalkan Ray namun Zalynda terlalu takut akan ancaman Diva yang akan kembali membuat nama dua keluarga tercoreng
Pergerakan Ray membuat Zalynda tersadar dari lamunannya. Pemuda itu membawa piring kotornya menuju wastafel
"Ray, tinggalkan saja. Biar aku yang cucikan." Kata Zalynda bergerak cepat menuju wastafel
Ray menurut. Pemuda itu menatap Zalynda yang sedang mencuci piring. Diluar sedang hujan deras, air di wastafel terasa lebih dingin sehingga membuat Zalynda sedikit begidik.
"Kau benar-benar tidak mau cerita alasan kau ingin meninggalkanku?" Tanya Ray yang langsung menghentikan aktivitas Zalynda
Zalynda perlahan menatap mata Ray yang menyorot tajam. Baru saja Zalynda hendak membuka suara, telepon Zalynda berdering nyaring dari kamar. Zalynda segera mengeringkan tangannya dan langsung menuju kamarnya
Bergegas gadis itu menggerakkan tangannya hendak mengambil handphonenya namun gerakan Ray jauh lebih cepat. Ray melihat siapa penelepon itu.
"Diva?" Tanya Ray
"Ray, kemarikan." Zalynda mencoba mengambil handphonenya dari tangan Ray namun Ray mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat Zalynda kesulitan menggapai handphonenya hingga berjinjit
"Ssst.. kamu bicara saja." Ray mengkode Zalynda untuk tidak berisik.
Ray menekan tombol hijau untuk menerima telepon Diva dan memencet mode loud speaker juga recording. Zalynda menatap Ray seolah khawatir Ray akan mengetahui apa yang tengah terjadi
"Assalamu'alaykum.." Kata Zalynda pelan
"Heh Linda! Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Diva di seberang sana membuat Zalynda sedikit terkejut.
"Melakukan apa Div?" Kening Zalynda berkerut tidak mengerti perkataan Diva
"Aku ke penjara Polda tadi jenguk Papa. Katanya laporan Papa malah ditambah dengan beberapa rekaman dari CCTV jalanan pas kamu di seret-seret Papa! Kamu emang nggak niat bebasin om sendiri ya Linda?! Kamu pikir aku nggak berani nyebar aib video kamu?!"
Nada suara Diva terdengar marah
Zalynda menutup mulutnya sambil memandang ke arah Ray yang justru terlihat datar. Ray mendekatkan handphone Zalynda agar dirinya pun ikut berbicara
"Nona, telepon ini juga termasuk perbuatan tidak menyenangkan dengan mengancam orang lain. Anda bisa kena pidana." Jawab Ray cuek
Mata Zalynda melebar melihat Ray dengan santainya menanggapi Diva, membuat Diva semakin meradang
"Ray? Oo bagus ya Linda, kamu malah ngadu!"
"Nggak, Div. Aku nggak ngadu. Tapi Ray.."
"Berisik! Lihat ya Linda, aku akan sebar video ini hanya dengan satu kali klik. Tunggu beritanya beberapa jam.lagi! Dan kau Ray, kau akan menyesal karena membela gadis seperti Linda!"
Ray terkekeh mendengar ucapan Diva yang melengking memekakkan telinga
"Nona, kalau kamu mau nyebarin video ancaman kamu, silahkan. Kami nggak takut. Sedikit saran, kalau saya jadi anda, saya tidak akan menyebarkan video itu."
"Ray! Div, please jangan Div.." Zalynda tampak panik mendengar ucapan Ray.
__ADS_1
"Haah! Bagus sekali. Ok, kau pikir aku becanda Ray?!"
"Kalau kau menyebarkan video itu, kau akan menanggung akibatnya. Masih ingin menyebarkannya?" Tanya Ray lagi
"Kamu ngancem?!"
"Saya tidak mengancam. Saya hanya menberi saran, jangan menyebar video itu kalau tidak kau akan menerima akibatnya."
Terdengar tawa Diva di ujung sana
"Aku tidak akan terpengaruh, lihat saja! Aku akan menyebarkannya!"
Klik! Diva menutup teleponnya.
Ray menghela nafas memandangi Zalynda yang juga menatap dirinya dengan pandangan khawatir
"Ray, kenapa kamu bikin marah Diva. Dia itu nekat. Dia.."
"Dia akan nyebarin video editan murahannya itu?" Ray memotong ucapan Zalynda.
Mata Zalynda mengerjap "Kamu tahu?"
Ray mengeluarkan handphone nya dan memperdengarkan sebuah rekaman pada Zalynda
FLASHBACK
Ray sedang berada di ruang kantornya saat terlihat nomor Sumi meneleponnya. Kening Ray berkerut, buat apa Sumi meneleponnya? Ray segera menggeser tombol hijau untuk menerima telepon dari Sumi
"Assalamu'alaykum.."
Ray mendengar suara ribut-ribut dan jeritan Zalynda. Jantung Ray berdegup kencang
"Sumi, jangan matikan teleponnya. Kamu jagain non Zalynda ya. Saya segera pulang." Jawab Ray
Pemuda itu segera menekan tombol recording dan segera beranjak pergi.
"Vin, gue ada urusan sebentar ya. Ntar gue balik lagi." Kata Ray saat melihat Marvin di luar ruangannya.
"Ok boss, ati-ati." Jawab Marvin. Ray hanya mengacungkan jempolnya dan berlari ke arah lift. Terdengar dari suara telepon isakan Zalynda. Rahang Ray mengeras, ingin rasanya segera terbang ke rumah, sementara lift bergerak turun sangat pelan
"Linda, coba kamu lihat ini.."
"Apa maksudnya Diva?"
"Semua orang sudah tahu kalau kamu adalah anak pak Daniel dari TecnoTek dan bu Farah dari Wijaya Group. Pewaris tunggal Wijaya Group.."
"Apa bilangnya ma? Cinderella? Ckckck.."
"Sayang Cinderella itu hanya tokoh khayalan. Kamu nyata, dan aku pastikan kisahmu tidak akan seperti Cinderella."
"Apa jadinya jika rekaman tadi ku edit sedikit. Lalu kukirimkan pada media dengan tema ayah kandung sempat meniduri anak kandungnya sendiri?"
"Diva, itu fitnah yang sangat mengerikan!! Kau tahu itu tidak benar!"
"Aku punya teman yang jago editing. Hal itu akan sangat terlihat nyata sekali."
__ADS_1
"Dengan sekali tekan, berita ini akan sampai di tangan teman-teman wartawan. Pasti akan lebih panas. Apalagi membayang wajah pak Ardhi dan bu Aya."
Pintu lift terbuka. Ray segera berlari menuju parkiran tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya. Ray masih mendengar dari telepon perdebatan antara Zalynda dan Diva
"Entah dosa apa yang dilakukan Ray hingga bertemu denganmu. Karena kau, keluarga Al Farobi dan keluarga Pratama akan kembali jadi santapan para awak media. Kau memang pembawa sial, Linda.."
Ray menghentikan pergerakan tangannya saat hendak membuka pintu mobilnya. Hatinya ikut sakit mendengar ucapan Diva pada Zalynda
"Apa yang kau mau?"
"Tarik semua tuntutanmu pada Papa. Bebaskan Papa."
"Baik, aku akan bilang pada Ray untuk menarik tuntutannya."
Mata Ray memicing. Pemuda itu tidak habis pikir dengan Zalynda, gadis itu terlalu menuruti orang yang menjahatinya. Ray segera masuk kedalam mobilnya dan duduk mendengarkan percakapan di telepon
"Setelah itu tinggalkan Ray dan keluarga Al Farobi."
"Tidak, aku tidak bisa.." kata Zalynda sambil menggeleng
"Disini aku yang menentukan, bukan kau. Aku beri waktu tiga hari. Selama tiga hari itu, kau sudah harus membebaskan Papa dan pergi dari kehidupan Ray."
"Satu lagi.. kalau kudengar kau menceritakan kejadian hari ini pada seseorang, maka aku tidak perlu menunggu tiga hari untuk menyebarkan video ini."
Keheningan tercipta, sepertinya Diva dan Anggun sudah meninggalkan rumah. Terdengar suara Sumi
"Non.."
"Tolong jangan beritahu siapapun ya, Sumi."
"Tapi non.."
Terdengar helaan dan isakan di ujung sana yang kian menjauh. Tidak berapa lama kembali terdengar suara Sumi
"Hallo.."
Ray menghela nafasnya panjang
"Aku dengar semua, Sumi. Tolong temani Zalynda ya, jangan biarkan dia pergi sendiri. Tolong awasi dia."
"Baik, bang Ray."
"Terima kasih. Assalamu'alaykum."
Ray mematikan sambungan teleponnya. Mata pemuda itu menyipit, tangannya erat menggenggam setir
"Beraninya mereka mengganggu Zalynda.." desis Ray marah.
Segera Ray menjalankan mobilnya menuju satu tempat yang diyakini Ray bisa membantunya
FLASHBACK END
Ray mematikan hasil rekamannya dan menatap ke arah Zalynda dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Zalynda ingat, tatapan ini adalah tatapan yang sama yang diberikan Ray saat di markas Iron Eagle dulu. Hati Zalynda merasakan sesuatu yang tidak beres
"Aku kecewa, kau menyembunyikan ini dariku Za.."
__ADS_1