CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 95


__ADS_3

Perlahan Zalynda bangkit dari duduknya dan melangkah pelan mendekati Ray dan wanita cantik, entah siapa dia. Tangan Zalynda terasa dingin dan bergetar menahan emosi


"Za?"


Zalynda menoleh melihat Agus sudah berada di dekatnya.


"Kamu di sini juga? Yuk gabung di sana." Kata Agus sambil menunjuk meja Ray dan wanita tadi. Agus langsung berjalan ke arah meja Ray, Zalynda mau tak mau mengikuti Agus


"Ray, ada bini elo ni." Kata Agus sambil duduk di depan Ray, di samping wanita cantik itu


Ray langsung menoleh. Tidak tampak wajah terkejut atau wajah seperti tertangkap basah. Wajah Ray malah terlihat sumringah. Pemuda itu menepuk sebelah tempat duduknya untuk menyuruh Zalynda duduk. Hati Zalynda sedikit tenang


"Kamu di sini cantik? Katanya ke rumah bu Edah." Kata Ray sambil tersenyum menatap Zalynda


"Aku dari sana. Tapi Papa sama tante Farah nggak ada, jadi aku pulang lagi. Ini tadinya mau ke supermarket di bawah tapi.." Zalynda memegangi perutnya sambil melihat makanan Ray


Ray tersenyum melihat arah mata Zalynda. Pemuda itu membelai kepala Zalynda


"Laper ya? Sebentar aku pesenin dulu."


Ray beranjak memesankan makanan untuk Zalynda. Sebetulnya Zalynda sudah tidak terlalu lapar karena sudah terganjal setengah porsi siomay tadi. Tatapan Zalynda beralih ke arah Agus dan wanita cantik di sebelah Agus yang juga menatap Zalynda. Agus langsung faham arti tatapan Zalynda


"Eh kenalin, ini Marlina. Klien dari Semarang. Lin, ini Zalynda. Istrinya Ray."


"Panggil saja Alin." Kata wanita itu


Zalynda tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Alin juga tersenyum menyambut uluran tangan Zalynda. Terlihat Ray kembali duduk di samping Zalynda.


"Jadi menurutmu gimana Ray? Gus?" Tanya Alin sambil menunjukkan dua disain interior yang sama dengan dua warna berbeda di iPad nya


"Makan dulu aja Lin. Nah, ini makanan kamu cantik." Kata Ray pada Zalynda saat seorang pramusaji mengantarkan pesanan makanan.


"Tapi ini penting, harus segera penentuan warna. Time is money. Gimana, Gus?" Tanya Alin


"Gue setuju aja sama dekorasi rancangan elo, Lin. Yang penting perumahannya laris manis." Kata Agus


Alin tertawa sambil memperlihatkan deretan gigi veneer nya. Alin mengibaskan rambutnya lalu menatap ke arah Ray yang terlihat sedang menikmati makanannya


"Sekarang kamu, boss. Bisa nggak pilih satu sekarang?"


Zalynda melirik ke arah Alin. Entah telinganya salah mendengar, tetapi nada Alin terdengar berbeda saat berbicara dengan Ray dibandingkan berbicara dengan Agus tadi. Mata Alin juga terlihat seperti menggoda Ray

__ADS_1


"Aiish..enyahlah pikiran bodoh!" Bathin Zalynda sambio menggelengkan kepalanya


"Kamu kenapa? Pusing?" Ray langsung memperhatikan Zalynda yang sedang menggelengkan kepalanya


"Nggak, agak capek aja." Jawab Zalynda asal. Ray langsung mengulum senyumnya mendengar ucapan Zalynda


"Raay.. dengerin aku nggak sih?" Tanya Alin sedikit kesal karena melihat interaksi dua orang di depannya


Zalynda sedikit mengerutkan keningnya mendengar Alin memanggil Ray begitu manja. Seperti bukan hubungan antar klien saja


"Denger." Jawab Ray sambil mengambil iPad Alin. Sejenak diamatinya kedua disain interior rancangan Alin lalu mengembalikan ke Alin


"Itu lebih kearah modern kontemporer, Lin. Permintaan di sana kebanyakan menghadirkan suasana desa karena banyak orang kota yang membeli hunian itu untuk tempat istirahat." Kata Ray


"Tapi ini lebih modern, Ray. Warna-warna hitam abu-abu gini sedang nge-trend." Alin masih bersikukuh.


"Menurut kamu gimana Za?" Tanya Agus, mengingat Zalynda dahulu yang mendisain beberapa ruangan di Sorority Hall


"Hhh..jangan serahkan sesuatu kepada yang bukan ahlinya, Gus. Ini proyek miliaran lho." Kata Alin mengingatkan. Sepertinya kalimat Alin memang biasa saja, tetapi Zalynda sedikit tersinggung.


Ray mengambil iPad dari tangan Alin dan menyerahkan ke Zalynda


"Coba kamu ubah warna-warna dan penempatan furniture nya, Za. Buat dengan konsep modern village ya." Kata Ray


"Aku lihat dulu.."


Zalynda menatap disain Alin dan mengubah beberapa warna dan furniture. Beberapa warna Zalynda ganti dengan warna kayu dan turunannya. Lantainya pun Zalynda buat satu warna untuk mengesankan kesan luas sementara warna dinding dibedakan dengan pencahayaan agar menjadikan perbedaan antara ruang yang satu dengan ruang lainnya karena ruangan-ruangannya tidak dibatasi oleh dinding, melainkan perabotan fungsional


"Modern village begini yang terbayang di otakku. Maaf kalau tidak sesuai.." kata Zalynda sambil menyerahkan hasil disainnya


Ray tersenyum melihat hasil dekorasi interior Zalynda lalu memberikannya ke Alin. Agus pun ikut melihat hasil pekerjaan Zalynda


"Gue lebih setuju yang ini. Terasa suasana pedesaan tetapi tidak meninggalkan kesan modern." Kata Ray


Agus mengangguk "Budget yang dibutuhkan juga lebih rendah karena lantai dan dindingnya satu warna. Lampu-lampu murah di beli. Ternyata kamu masih pinter nge disain juga ya Za."


"Ah ini disainer interiornya yang pinter, Gus. Dia tahu dimana cahaya alami. Aku cuma nambahin ngasih warna aja." Kata Zalynda sedikit merendah


Alin mengakui dekorasi interior Zalynda lebih bagus dari miliknya, tetapi gadis itu hanya tersenyum miring tidak memuji Zalynda


"Ok, kita pakai yang ini. Aku kirim email dulu." Kata Alin mengalah. Gadis itu dengan cepat membuka email dan mengirimkan hasil rancangan yang sudah disetujui

__ADS_1


"Berarti beres ya kerjaan. Habis ini mau kemana?" Tanya Ray


"Ke kantor elo lah, mobil gue kan di sana." Kata Agus


"Memangnya pada naik apa?" Tanya Zalynda


"Naik mobilnya pak boss." Jawab Agus sambil menyeruput coke nya


"Ray, habis nganter Agus nanti aku langsung ke apartemenku. Bisa kamu anterin?" Tanya Alin


Mata Zalynda mendelik ke arah Alin. Alin tanpa canggung meminta Ray untuk mengantarnya, sepertinya hal itu sudah terbiasa bagi mereka. Zalynda meneguk air mineralnya untuk menghilangkan rasa panas yang tiba-tiba mendera


"Kamu kesini naik apa Za?" Tanya Ray tiba-tiba, membuat Zalynda langsung menoleh ke Ray


"Eh, aku naik motor. Kamu kalau mau langsung ke kantor nggak apa-apa. Aku mau belanja dulu soalnya." Kata Zalynda


"Apa gue nganter Alin pinjem motor kamu Za?" Tawar Agus. Alin langsung melotot


"Nggak ah, nanti rambutku kusut. Lagipula aku gampang masuk angin ih. Aku dianter mobil kamu yaa Ray.."


Bibir Zalynda sedikit mengerucut mendengar nada manja yang dilontarkan Alin.


Ray berfikir sejenak lalu mengangguk


"Ya udah.."


Alin sedikit bersorak sementara Zalynda menunduk. Dalam pikiran Zalynda, Ray lebih mengutamakan kliennya ketimbang dirinya. Tetapi Zalynda menekankan ke dirinya, Ray melakukan hal itu untuk menjaga hubungan baik antar perusahaan


Ray merogoh kantong celananya dan mengambil kunci mobilnya "Nih Gus. Elo aja bawa mobil gue ya nganterin Alin. Terus balik ke kantor."


"Mobil lo?" Tanya Agus


"Ntar gue minta Asep atau om Beno nganterin ke apartemen."


"Lho kalau kamu ngasih kunci kamu ke Agus, trus kamu pulang sama siapa?" Tanya Alin bingung


Ray tersenyum sambil menggenggam tangan Zalynda "Udah lama gue nggak boncengan sama Zalynda. Gue pulang naik motor Za aja."


"Eh, tapi aku kan belanja dulu Ray.." kata Zalynda


"Nggak apa-apa. Aku temenin." Kata Ray sambil mengecup punggung tangan Zalynda. Pipi Zalynda sontak merona diperlukan manis oleh Ray

__ADS_1


Alin melihat interaksi keduanya dengan tatapan iri.


__ADS_2