
Hari ini Zalynda ditemani Farah dan Aya pergi ke toko kue bu Edah. Beberapa karyawan bu Edah yang mengenal Zalynda ikut menyapa gadis itu. Mereka juga mengetahui cerita drama kehidupan Zalynda. Semua tampak senang melihat kehidupan Zalynda yang sudah jauh lebih baik.
Farah dan Aya sebetulnya sedikit canggung pada awalnya dikarenakan peristiwa di masa lalu. Hanya saja Aya berusaha melupakan kejadian itu karena menganggap Farah pun tidak ingat dengan kejadian seperempat abad yang lalu. Farah pun berusaha tidak menampilkan kalau sebenarnya dirinya sudah kembali memiliki ingatan masa lalunya, untuk menjaga Zalynda dan dirinya
"Kamu benar-benar bisa bikin kue kayak lampu gantung gitu, La?" Tanya Farah saat bu Edah menunjukkan foto hasil karyanya yang pernah memenangkan lomba internasional
"Bener Fa, itu yang kayak kristal bergantungan sebetulnya dibuat dari gula lho. Dibuatnya 15 jam." Jelas bu Edah
Gambar kue pengantin yang ditunjukkan bu Edah sangat cantik sehingga Zalynda berfikir akan sangat sayang untuk memakannya. Bu Edah pun bercerita pembuatan kue itu memakan waktu tiga hari lamanya
"Kuenya cantik. Aku akan berfikir beberapa kali untuk memakannya karena khawatir merusak keindahannya." Kata Aya kagum
"Bu Aya bisa saja." Kata bu Edah tersenyum. Wanita itu menatap ke arah Zalynda
"Kamu mau saya buatkan kue seperti itu Za?"
Zalynda dengan cepat menggeleng "Za mau yang biasa aja, bu Edah. Biar nggak ada rasa bersalah saat memotongnya."
Seorang karyawan membawakan sampel kue untuk di cicipi. Sebetulnya tidak perlu karena Zalynda hafal rasanya. Sampel itu untuk Aya dan Farah yang belum pernah mencicipi.
"Kamu kenapa Za? Kok kelihatan agak pendiam?" Tanya Farah saat melihat Zalynda tidak menyentuh kue miliknya
"Ah masa' sih Ma? Za nggak apa-apa kok." Zalynda mencoba tersenyum
"Apa Ray nakal sama kamu?" Tanya Aya menyelidiki
"Nggak bunda. Ray malah sangat baik sama Za.." Pipi Zalynda sedikit memerah mengingat kejadian romantis saat di dapur tadi pagi
Aya dan Farah saling memandang sambil tersenyum melihat rona kemerahan di wajah Zalynda saat membicarakan Ray
"Lalu apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kamu nggak fokus pilih kue karena pikirannya bercabang." Kata Farah sambil menyantap kue red velvet.
"Ini enak banget, Lela. Lumeer di mulut. Kamu harus cobain ini Za." Kata Farah lagi sambil mengacungkan jempolnya. Zalynda tertawa kecil melihat Farah.
"Apa Za memikirkan persiapan resepsi? Bunda sudah atur semua. Za tinggal duduk manis di pelaminan bareng Ray ya." Kata Aya sambil mengelus kepala Zalynda.
"Terima kasih, bunda." Ujar Zalynda sambil tersenyum. Dalam hati, Farah amat bersyukur melihat Aya begitu menyayangi Zalynda. Farah semakin merasa bersalah akan ulahnya di masa lalu
Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam toko kue bu Edah. Pria itu menebar pandangan dan tersenyum ke arah empat wanita yang sedang mencicipi kue. Pria itu mendekati para wanita itu dan memeluk salah satunya dengan mesra
Farah berbalik saat merasakan lengan kekar memeluk dirinya. Senyuman segera mengembang di bibir tipisnya
__ADS_1
"Niel, udah beres rapatnya?" Tanya Farah sambil mempersilahkan Daniel duduk di sebelahnya
"Sudah. Ohya, tadi Ardhi bilang dia langsung ke Menara Timur." Kata Daniel pada Aya. Aya mengangguk
"Sama Ray?" Tanya Zalynda spontan. Daniel menggeleng
"Ray di telepon klien di Semarang. Dia langsung berangkat sama teman-temannya naik jet pribadi. Dia nggak bilang ke kamu?" Tanya Daniel
Zalynda segera memeriksa handphonenya. Handphonenya di mode silent sehingga tidak terdengar dering atau getaran. Terlihat belasan panggilan dari Ray sejak sejam lalu. Ada satu pesan dari Ray yang mengabarkan pemuda itu mendadak harus terbang ke Semarang. Zalynda menghela nafas panjang
"Dia nggak bilang?" Tanya Aya saat melihat raut wajah Zalynda
"Ray bilang, bunda. Za yang nggak dengar telepon Ray." Ujar Zalynda sambil menggigit bibirnya. Bayangan tentang mimpinya semalam kembali berkelebat. Sebuah perasaan tidak enak merayapi hatinya.
***
Ray dan Agus keluar dari ruang meeting dengan wajah sumringah. Proyek Modern village mereka mendapatkan respon positif. Sudah ada beberapa penawaran yang masuk untuk rumah jalan utama dan dua cluster. Empat cluster lainnya sedang dalam tahap pembangunan
Para calon konsumen sangat terpukau dengan hasil rancangan Zalynda di rumah jalan utama dan disain contoh untuk cluster. Benar kata Zalynda, perabotan multi fungsi dan ruang penyimpanan tersembunyi adalah harta karun yang biasa di cari para konsumen perumahan saat ini terutama untuk type kecil sehingga tidak membutuhkan banyak barang yang akan mempersempit ruangan. Selain itu warna yang dipilih dengan plafon tinggi membuat rumah seakan lebih luas dengan sirkulasi udara yang baik
"Nggak nyangka,bini elo jago ya nge disain." Kata Agus sumringah.
"Heey, selamat untuk kita." Teriak Alin sambil merangkul Agus dan Ray dari belakang
Ray dengan cepat melepaskan rangkulan Alin membuat gadis itu mengerutkan keningnya. Alin lupa, Ray bukan pria yang sembarangan menyentuh wanita
"Sorry.." kata Alin dengan wajah kecewa. Berharap Ray akan bersimpati, namun wajah Ray terlihat datar menambah kecewa di hati Alin
Agus melihat raut kecewa di wajah Alin berusaha sedikit menghibur gadis itu.
"Ayo kita rayain makan-makan Lin, Ray. Ada restoran seafood yang view nya juga bagus banget. Kita nikmatin sunset di sana yuk sebelum pulang."
Mata Alin berbinar mendengar ajakan Agus. Kebetulan Alin tahu tempat itu dan masakan restoran itu luar biasa karena bahan-bahannya terjamin kesegarannya. Selain itu tempatnya tidak jauh dari hotel Ray dan Agus menginap
"Aku setuju. Ayo Ray, sebelum kamu pulang ke Jakarta. Mau kan?" Tanya Alin berharap
Ray melihat jamnya. Hampir pukul setengah enam sore. Sepertinya ajakan Agus tidak buruk juga, sekalian makan malam karena sebentar lagi masuk jam makan malam
"Ok, nggak perlu reservasi kan?"
"Nggak, langsung datang aja." Kata Ali n cepat. Ray mengangguk lalu berjalan bersama Agus menuju parkiran. Sengaja Alin berjalan lambat di belakang sambil mengetikkan pesan pada seseorang
__ADS_1
***
Bau laut tercium kuat dari restoran ini. Alin pandai memilih tempat makan, selain mereka duduk santai di lesehan mereka juga sempat menikmati indahnya sunset sambil menikmati hidangan pembuka, otak-otak bakar
Ray tak lupa memotret untuk mengabarkan Zalynda tentang keberadaannya. Sengaja Ray berfoto bertiga agar Zalynda tahu kalau Ray tidak hanya berdua dengan Alin
Setelah sholat Maghrib, hidangan pesanan sudah tersedia. Agus tiba terlebih dahulu sementara Ray masih menunaikan kewajiban Maghribnya
"Nggak sholat Lin?" Tanya Agus
Alin menggeleng "Lagi halangan hari kedua ni."
Agus manggut-manggut sambil bersiap memakan hidangan yang sudah tertata. Tak lama Ray pun datang menyusul. Mereka pun makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol ringan
"My God!" Desis Agus pelan
"Napa lo?" Tanya Ray keheranan melihat Agus meringis
"Mules gue, kebanyakan sambel kayaknya." Kata Agus. Sedetik kemudian pemuda itu berlari menuju kamar mandi
"Agus nggak biasa makan pedes ya?" Tanya Alin sambil melihat ke arah Ray
"Seinget gue sih nggak. Lagi nggak sehat mungkin." Kata Ray datar. Ray juga merasa letih, rasa kantuknya mulai menyerang. Mungkin kesibukan hari ini sedikit menyita stamina nya
Tak berapa lama Agus datang sambil cengar-cengir. Pemuda itu kembali duduk dan menyeruput jus buah naga nya
"Sorry ya rada jo.." Agus kembali meringis
"Sakit lagi? Busyet, gua tinggal juga lo." Rutuk Ray sambil bersandar di dinding bale-bale. Rasanya mata Ray makin berat
"Duuh gila, mulees." Kata Agus sambil meringis. Alin menahan tawanya melihat ekspresi Agus, antara menahan malu dan mulas. Sungguh tidak elegan untuk seorang playboy macam Agus
Agus pun segera lari ke belakang menuju kamar kecil. Ray mendengkus pelan melihat tingkah sahabatnya. Di sandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Mungkin dengan begini rasa kantuknya sedikit reda
***
Rasanya baru saja Ray memejamkan mata. Sepertinya memejamkan mata sebentar cukup efektif. Ray merentangkan tangannya
"Tunggu..ini tempat tidur?" Pikiran Ray dengan cepat kembali ke alam nyata. Mata pemuda itu mengerjap menyadari dirinya ada di sebuah kamar
"Apa yang.. Astaghfirullah!!"
__ADS_1