
Zalynda membeku melihat sosok didepannya. Lidahnya terasa kelu, badannya bergetar ketakutan. Tangannya merogoh kedalam tas mencari handphonenya
"Halo cantik.."
Yono menyeringai sambil mendekati Zalynda. Dengan segenap kekuatannya, Zalynda berbalik hendak berlari. Namun Yono lebih cepat menangkap Zalynda. Pria itu membelitkan lengannya di leher Zalynda dan membekap mulut Zalynda dengan saputangannya
"Hmmph.. hmmmph.." Zalynda mencoba memberontak. Handphone di tangannya terjatuh ke tanah
"Bersikap manislah, kalau tidak om juga tidak segan bersikap kasar padamu!" Bisik Yono tepat di telinga Zalynda
Zalynda masih memberontak. Gadis itu tidak akan percaya kalau Yono tidak akan bersikap kasar padanya. Yono sangat membencinya
Yono berdecak, dirinya tidak punya pilihan selain memukul tengkuk Zalynda
"Aah.."
Dengan sigap Yono menahan tubuh Zalynda dan menggendongnya pergi menjauh, meninggalkan Sagara yang juga pingsan
Yono membawa Zalynda keluar gang menuju jalan kecil yang tidak terlalu ramai. Yono memberhentikan sebuah taksi.
"Pak, tolong. Anak saya pingsan." Kata Yono dengan wajah panik
Supir taksi itu dengan cekatan membantu Yono membaringkan Zalynda di kursi belakang. Sementara Yono ikut duduk di kursi depan
"Rumah sakit mana pak? Apa yang terdekat saja?" Tanya supir taksi itu
"Ke rumah sakit langganan saya saja. Lurus saja pak, nanti ambil jalan kiri. Cepat pak!" Kata Yono
Supir taksi itu segera mengikuti perintah Yono. Hatinya juga cemas melihat kondisi Zalynda yang terbaring di kursi belakang, terlebih melihat wanita sedang mengandung
Yono mengarahkan taksinya melewati jalanan kampung yang sepi. Supir taksi itu tidak curiga sama sekali. Dia pikir ini adalah jalan tercepat karena di jam sibuk seperti ini jalanan besar pun macet
"Pak, berhenti sebentar." Kata Yono
Supir taksi itu menghentikan taksinya. Mereka berada di jalanan kecil dekat lapangan
"Mau ngapain pak?" Tanya supir taksi itu kebingungan
"Mau bilang makasih sama bapak karena sudah boleh bawa taksi bapak." Kata Yono
Belum sempat supir taksi itu berkomentar, Yono memukul supir taksi itu hingga kepalanya membentur kaca sehingga supir taksi itu merintih merasakan pusing di kepalanya. Yono kembali membenturkan kepala supir taksi itu ke stir mobil sehingga supir itu kehilangan kesadaran
Yono dengan segera membuka pintu dan menyeret supir taksi itu keluar. Lalu Yono mengambil dompet dan handphone supir tersebut lalu membawa taksi itu pergi menjauh
Nafas Yono ngos-ngosan. Bibirnya menyeringai perlahan membentuk senyuman dan kemudian terbahak-bahak
"Hahaha benar-benar hari keberuntunganku. Mudah sekali."
Yono memandangi wajah Zalynda yang masih pingsan dari kaca spion
"Kita akan bersenang-senang, cantik." Desis Yono
***
Mata Ray membulat mendengar berita yang diterimanya
"Sistemnya sedikit error, Pa?" Tanya Ray
__ADS_1
"Betul. Kemungkinan karena badai di laut beberapa hari lalu sehingga merusak jaringan. Sudah dari kemarin sebetulnya dan tim sudah turun untuk memperbaikinya." Kata Daniel di seberang sana
"Oh pantas saja hari ini tim IT di sini mengeluhkan tidak bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal." Kata Ray
Ray terdiam, tiba-tiba perasaannya sedikit tidak tenang saat mengingat alat pelacak yang terhubung di kalung Zalynda juga sangat bergantung dengan sinyal yang dikirimkan oleh TecnoTek.
"Berapa lama Pa untuk bisa normal?" Tanya Ray
"Sekitar beberapa jam lagi paling lama. Ada apa Ray?"
"Ah tidak. Aku hanya teringat alat pelacak di kalung Zalynda pun tergantung oleh sistem jaringan di TecnoTek."
Keduanya terdiam. Daniel juga sudah mengetahui kabar Yono melarikan diri dari penjara. Daniel sedikit lega saat dirinya jauh, Ray dengan sigap mengirimkan beberapa bodyguard untuk menjaga Zalynda dan tuan Wijaya
"Aku mau menyusul Zalynda ke toko sekarang." Kata Ray memecahkan keheningan
"Nanti Papa kabari secepatnya."
Ray mengangguk sambil terus berjalan menuju mobilnya "Terima kasih, Pa. Assalamu'alaykum."
Ray memutus sambungan teleponnya dan bergegas masuk ke mobilnya. Baru saja Ray hendak menjalankan mobilnya, handphonenya kembali bergetar menandakan panggilan telepon masuk. Segera Ray memasang earpodnya
"Hallo.." Ray belum sempat memberi salam terdengar suara panik di seberang sana
"Tuan, gawat. Nyonya menghilang!"
***
Ray mengemudikan mobilnya dengan cepat membelah jalan raya. Sesampainya di depan toko Zalynda, kedatangan Ray langsung disambut oleh tiga orang berpakaian hitam
"Maaf, tuan. Tadi nyonya pergi keluar dengan temannya. Saat itu banyak orang yang lalu lalang sehingga kami kehilangan nyonya." Kata seorang yang berpakaian hitam
"Temannya? Siapa?!"
"Seorang pria."
Pikiran Ray tertuju pada Sagara. Ray menggeram marah. Segera di keluarkan handphone nya dan melakukan pencarian melalui find my device. Ray segera memasukkan akun Zalynda dan mulai mencari
"Zalynda di sekitar sini?" Desis Ray
Segera pemuda itu berjalan mengikuti arahan dari aplikasi yang dibukanya. Ketiga orang berpakaian hitam itu mengikuti Ray.
Ray sampai di gang kecil yang dilewati Zalynda dan Sagara. Ray terkejut melihat Sagara pingsan dengan posisi tertelungkup
"Gara!" Ray mendekat dan memeriksa kondisi Sagara. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah handphone yang tergeletak begitu saja di tanah
Tubuh Ray seketika menegang. Ray kenal betul dengan handphone itu.
"Za.."
***
Perlahan Sagara membuka matanya saat hidungnya terasa sedikit panas dan mencium bau-bau minyak gosok
"Nggh.." Sagara mengerjapkan matanya. Tengkuknya sedikit sakit. Seorang gadis tersenyum di depan Sagara.
"Syukurlah anda sudah sadar." Ucap gadis itu
__ADS_1
"Siapa.." Sagara memperjelas pengelihatannya.
Seorang gadis berada di depannya sambil memegang sebotol minyak angin. Sagara mengenalinya, dia salah satu pegawai di toko Zalynda. Sagara memperhatikan sekeliling. Sofa kecil, meja kerja..Mungkin dirinya berada di kantor Zalynda
Mata Sagara langsung membulat saat mengingat kejadian sebelum dirinya pingsan. Refleks Sagara bangun dari posisinya. Pemuda itu sedikit meringis karena sakit di tengkuknya akibat gerakan tiba-tiba
"Anda istirahat dulu. Saya mau panggilkan bapak." Kata pegawai Zalynda
"Bapak? Bapak siapa?" Bisik Sagara bertanya. Sagara perlahan bangkit
Belum sempat dirinya menjawab, Ray masuk dengan wajah memerah. Ray langsung mencengkram kerah Sagara dan meninjunya. Sagara terhuyung ke belakang membentur sofa. Kembali Ray menarik kerah Sagara dan kembali meninju pria itu
"Apa yang kau lakukan, b******k?!!" Teriak Ray marah
Sagara mencoba melindungi dirinya dan mendorong Ray. Namun sepertinya percuma
"Abang, berhenti!"
Tangan Ray tertahan di udara. Lebih tepatnya seseorang menahan tangan Ray. Ray menoleh dengan pandangan marah kepada seseorang yang sudah menghentikannya. Namun amarahnya berangsur turun saat tahu siapa orang itu
"Ayah.."
"Sudah.. jangan membuat masalah baru." Bujuk Ardhi sambil menarik Ray untuk berdiri dan melepaskan Sagara.
Ray mendengkus dan mendorong kasar Sagara. Pemuda itu kemudian berdiri dengan nafas ngos-ngosan
Sagara perlahan ikut memperbaiki posisinya sambil meringis memegang rahangnya.
"Mungkin Zalynda sedang berjalan kesini.." kata Sagara
Ray memicingkan mata "Apa maksudmu? Zalynda tidak ada dan itu salahmu!"
"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu yang membuat Zalynda tidak nyaman dengan sikap over protective mu itu." Kata Sagara sambil mendecih
"Apa kau bilang?!" Kata Ray
"Kamu kurang kerjaan banget menyuruh beberapa bodyguard untuk jagain Zalynda, seolah-olah Zalynda makhluk lemah tidak berdaya. Dia hanya hamil Ray, bukan sakit parah!" Kata Sagara
Ray menggeram. Pemuda itu melepaskan pegangan Ardhi dan mencengkram kerah Sagara
"Bang!" Teriak Ardhi memperingatkan Ray
Ray dan Sagara saling menatap tajam
"Aku punya alasan melakukan hal itu." Kata Ray
Sagara tertawa mengejek "Alasan macam apa selain menegaskan kau tidak mempercayai kemampuan istrimu untuk menjaga dirinya sendiri?"
Ray mengeratkan cengkramannya pada kerah Sagara
"Karena nyawa Zalynda sedang dalam bahaya!"
Mata Sagara mengerjap cepat. Otaknya mencerna ucapan Ray
"Apa?"
"Kau dengar aku. Nyawa Zalynda sedang dalam bahaya!"
__ADS_1