CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 76


__ADS_3

Dokter Adnan dengan teliti memeriksa Aya yang terbaring lemah. Ardhi terlihat cemas duduk di sisi Aya memperhatikan dokter Adnan


"Tekanan darah anda naik mendadak nyonya. Saya berikan obat untuk membantu menurunkan tekanan darah anda." Kata dokter Adnan sambil menyuntikkan sesuatu ke lengan Aya


Aya sedikit meringis sambil menggenggam tangan Ardhi. Ardhi mengusap kepala Aya yang terbalut kerudung abu-abu untuk menenangkannya


Dokter Adnan segera membereskan peralatannya "Biarkan nyonya beristirahat, pak."


Ardhi mengangguk. Pria itu mengantar dokter Adnan keluar. Di luar kamar, tampak Ray, Ian dan Endra yang langsung berdiri saat dokter Adnan keluar bersama Ardhi. Dokter Adnan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke Ardhi


"Tekanan darahnya naik tiba-tiba. Kemungkinan karena stress atau emosional. Tolong jaga emosi nya sampai keadaannya membaik ya pak." Kata dokter Adnan


"In syaa Allah. Terima kasih banyak, dokter." Ardhi tersenyum sambil menyalami dokter Adnan


"Yah, bunda gimana?" Tanya Endra sepeninggalan dokter Adnan. Pemuda itu ingin masuk melihat Aya, namun di tahan oleh Ardhi


"Bunda sedang istirahat. Jangan di ganggu. Kalian dengar kan kata-kata dokter Adnan." Ardhi memandangi wajah putra-putranya satu persatu dan berhenti pada Ray


"Bang, coba lihat keadaan Zalynda. Dia pasti sedih sekali. Biar bagaimanapun dia masih istri abang."


"Ayah.." Ray hendak berbicara namun Ardhi mengangkat tangannya


"Besok kita bicara lagi. Malam ini semua harus beristirahat menjernihkan pikiran." Ucap Ardhi tanpa bisa di bantah. Ardhi masuk kedalam kamarnya meninggalkan tiga putranya di depan pintu


"Endra tadi sudah ngabarin kak Ina. Mungkin besok baru sampai." Kata Endra melihat kedua abangnya


"Abang ke kamar dulu." Pamit Ray


"Bang.." panggil Ian. Ray menoleh


"Kak Za sepertinya dari sore belum makan apa-apa. Tadi sibuk bantu-bantu bunda di dapur."


Ray mengangguk. Pemuda itu pergi mengambil nasi dan lauk yang masih rapi tertata di meja prasmanan. Sumi dan beberapa pelayan tampak sibuk membereskan makanan dan ruangan. Ray segera naik ke kamarnya


"Za.." panggil Ray saat membuka pintu. Kosong, tidak ada tanda-tanda Zalynda. Ray masuk kedalam kamarnya sambil meletakkan piring di atas meja


"Zalynda.." Ray membuka kamar mandi. Kosong.

__ADS_1


Ray melihat tas Zalynda masih ada di atas kursi. Kemungkinan Zalynda masih ada di rumah ini


Ray segera turun ke bawah menuju taman. Di taman depan, samping, belakang tidak tampak Zalynda. Sumi dan beberapa pelayan pun menggeleng tidak melihat Zalynda saat ditanya oleh Ray


Ray mulai cemas "Apa Zalynda pergi?"


Ray segera naik ke kamarnya mengambil handphone. Segera di teleponnya nomor Zalynda


Ringtone Zalynda berbunyi. Ray menoleh, handphone Zalynda berada di dalam tas. Ray merogoh tas Zalynda untuk mengambil handphone Zalynda. Tiba-tiba sebuah kotak terjatuh


Mata Ray memicing. Kotak hitam panjang dengan pita berwarna merah.


Ray segera meraih dan membuka kotak tersebut. Nampak alat tes kehamilan dan secarik kertas di dalamnya. Ray menatap testpack yang memuat garis dua


"Ini.." gumamnya pelan. Ray lalu membaca secarik kertas yang berada di bawah testpack itu


"Alhamdulillah, selamat ya Ray. Kau akan segera menjadi seorang ayah.. Love, Zalynda." Tulisan Zalynda diiringi emoticon smile di situ


Tangan Ray bergetar. Teringat wajah pucat Zalynda tadi saat selesai therapy. Ray merutuki dirinya yang tidak peka dengan keadaan Zalynda


Ray segera menyambar kunci mobil dan bergegas pergi menjemput Zalynda


***


Ray berhenti agak jauh dari lokasi yang menunjukkan tempat Zalynda berada. Jalanan sedikit macet sehingga Ray memutuskan memarkir mobilnya di salah satu minimarket dan berjalan kaki menuju titik lokasi Zalynda


Kening Ray berkerut melihat beberapa polisi di sana. Ada yang mengatur lalu lintas di satu sisi jalan, sementara sisi yang lain dibiarkan kosong. Ada juga yang sedang berada di sisi jalan kosong itu


"Itu kan.." mata Ray memicing melihat seorang polisi nampak membawa sesuatu yang Ray kenal di dalam plastik bening. Segera Ray menghampiri polisi itu


"Maaf pak, apa yang terjadi?" Tanya Ray


"Ada kecelakaan tadi pak. Tabrakan." Jawab polisi itu


Mata Ray membola melihat sesuatu yang berada dalam plastik transparan itu. Benda itu seperti kalung dengan permata berwarna biru. Persis seperti milik Zalynda


"Pak, ini.." Ray menunjuk kalung yang berada dalam plastik bening itu

__ADS_1


"Oh, ini sepertinya milik korban. Sewaktu korban diangkat ke ambulans kalung ini putus dan terjatuh."


Dada Ray berdebar kencang. Alat pelacak di handphone nya menunjukkan posisi Zalynda adalah tepat di depan Ray, dimana polisi itu memegang kalung permata biru


"Pak..apa anda tahu nama korbannya?" Tanya Ray hati-hati


Polisi itu memperhatikan Ray seksama


"Anda siapa? Kenapa anda ingin tahu?"


Ray menunjukkan handphone nya. "Ini aplikasi alat pelacak yang saya simpan di dalam kalung istri saya. Alat ini menunjukkan posisi kalung itu, dan posisinya tepat di depan saya. Dalam artian…"


Ray tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Polisi itu sepertinya cukup pengertian


"Korban dibawa ke Rumah Sakit Bhakti Luhur. Coba bapak ke sana untuk memastikan. Atau mau saya antar?" Tawar polisi itu


Ray menggeleng "Saya bawa mobil. Saya akan kesana."


Secepat kilat Ray berlari menuju mobilnya untuk pergi ke Rumah Sakit Bhakti Luhur. Walau kecil kemungkinannya, Ray tetap berharap korban tabrakan itu bukanlah Zalynda


***


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Jika takdir sudah berbicara, angan hanyalah sebatas wacana


Ray menatap Zalynda yang terbaring dengan luka-luka di kepala, tangan dan kakinya. Benturan di kepala saat kecelakaan menyebabkan Zalynda kehilangan kesadarannya.


Tidak ada tulang yang patah, hanya saja akibat dari kecelakaan itu Zalynda tidak dapat mempertahankan bayinya. Dokter terpaksa mengeluarkan janin yang baru berusia sekitar enam minggu itu dengan jalan operasi


Zalynda dibius total saat di operasi. Gadis itu masih terlihat seperti orang tertidur. Yang membedakan adalah beberapa peralatan medis yang terpasang di tubuhnya seperti ventilator, alat detak jantung, kateter.


Zalynda berada di ruangan ICU karena kondisinya sangat rentan. Dokter melakukan CT scan untuk melihat akibat dari benturan di daerah kepala. Sejauh ini hasilnya baik-baik saja, namun kondisi Zalynda masih harus dipantau secara intensif


Ray menyentuh kaca yang membatasi dirinya dengan Zalynda. Jujur Ray sangat takut kehilangan gadis ini. Selama dua bulan bersama membuat Ray terbiasa dengan adanya Zalynda di sisinya. Hari ini saat melihat Zalynda terbaring tidak berdaya, Ray merasakan separuh jiwanya hilang


"Maafkan aku Za.." Bisik Ray perlahan sambil menatap Zalynda. Wajah Zalynda begitu tenang seperti orang yang tertidur.


Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Ray. Akankah Zalynda terbangun atau tertidur selamanya...

__ADS_1


__ADS_2