CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 61


__ADS_3

Sagara tertawa-tawa menanggapi riuh tawa para kru yang mengomentari tindakan beraninya sedang Zalynda menatap Sagara dengan kesal


Zalynda refleks mengelap bibirnya dan pergi keluar set foto. Langkah Zalynda terhenti saat menyadari sosok tegap di belakang Aryo yang tajam memandang ke arahnya


"Ray…" desis Zalynda


Ray dengan cepat berjalan ke arah Sagara lalu meninju pemuda itu


BUUGH


Sagara jatuh ke belakang, tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Ray. Terlihat darah di ujung bibir Sagara. Semua orang di studio foto langsung senyap.


"Beraninya kau menyentuh Zalynda!" Ucap Ray dengan nada menekan. Matanya menatap tajam ke arah Sagara. Segera ditariknya kerah Sagara hingga membuat pemuda itu berdiri


Kembali Ray mengayunkan tinjunya, namun Zalynda dengan cepat memeluknya dari belakang sehingga tinju Ray berhenti di udara


"Stop Ray..sudah, aku nggak apa-apa." Bisik Zalynda yang terdengar oleh Ray. Terasa kepala gadis itu menekan punggungnya


Ray menurunkan tinjunya dan melepaskan cengkeramannya pada kerah Sagara dengan kasar sambil menatap marah ke arah Sagara yang terlihat kesakitan memegang rahangnya.


Tangan Ray mengambil tangan Zalynda yang memeluk tubuhnya lalu memeluk dan membawa Zalynda pergi dari studio foto


Sagara menggeram. Pria itu segera berdiri tegak dan menunjuk-nunjuk ke arah Ray


"Kau pikir kau siapa bisa seenaknya memukul orang dan pergi begitu saja?! Aku akan laporkan tindakanmu pada polisi!" Teriak Sagara marah


Langkah Ray terhenti, pemuda itu berbalik dan menatap ke arah Sagara. "Silahkan laporkan. Aku pun akan menuntutmu dengan aduan pelecehan serta tindakan tidak menyenangkan pada istriku!"


Mata Sagara membulat tidak percaya. Begitu juga dengan semua orang di studio foto


"Istri? Linda adalah istri Ray?" Bathin Diva sambil menatap kearah Zalynda yang berada dalam pelukan Ray


Ray kembali melangkah membawa Zalynda pergi dari studio foto. Zalynda hanya melangkah mengikuti kemana Ray membawanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Ray membuka pintu ruangan Aya dan menyuruh Zalynda masuk. Pemuda itu kemudian menutup pintu ruangan.


"Ray, aku.." belum sempat Zalynda menyelesaikan ucapannya,Ray sudah mendorong Zalynda ke dinding. Tangan Ray menahan agar kepala Zalynda tidak terbentur dinding


"Aah.." jerit Zalynda tertahan sambil memejamkan matanya. Terasa deru nafas Ray menerpa wajah Zalynda, menandakan wajah Ray persis berada di depan wajah Zalynda


Perlahan Zalynda membuka mata dan melihat mata elang Ray menatap dirinya


"Kenapa diam saja tadi?!" Tanya Ray. Ada kemarahan dalam nada bicaranya


"Aku tidak diam saja, aku langsung mengelap bibirku." Kata Zalynda membela diri


Ray menggeram dan memukul dinding sebelah kepala Zalynda sehingga gadis itu memekik kaget


"Harusnya kau segera memukulnya dan bukan terpaku, Za!"


"Aku sudah memukulnya tadi!" Suara Zalynda terdengar bergetar.


Ray mengerjapkan mata lalu membelalak "Tadi? Berarti sebelumnya dia pernah menciummu?!"


"Tadi..waktu studio foto masih sepi." Cicit Zalynda

__ADS_1


Ray menggeram marah "Cari mati ternyata si Sagara!"


Ray segera beranjak hendak keluar mencari Sagara namun tubuhnya segera dipeluk dari belakang oleh Zalynda


"Sudah, jangan berkelahi lagi. Please, Ray. Aku juga nggak apa-apa."


Ray memejamkan matanya sembari menggigit-gigit bibirnya. Tangannya terkepal, nafasnya menderu menahan amarah. Lama kelamaan nafas Ray sedikit teratur. Ray berusaha agar amarahnya tidak meledak pada Zalynda


"Kau istriku, Za. Kau kehormatanku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melecehkan dirimu! Harusnya kau pun membela dirimu sendiri!"


Terasa kepala Zalynda mengangguk di punggung Ray "Aku tahu, tetapi aku juga tidak mau kau berurusan dengan polisi karena aku. Aku tidak mau namamu dan keluargamu jelek karena aku. Lagipula, aku sudah terbiasa dilecehkan.."


Hati Ray bagai di tikam sembilu mendengar pernyataan Zalynda. Secara tidak langsung, Ray membuka luka lama Zalynda yang berusah disembuhkannya dengan susah payah. Ray merasa punggungnya basah. Zalynda menangis.


Ray segera membalikkan badannya dan menangkup wajah Zalynda. Terlihat airmata gadis itu menderas. Ray segera menghapus air mata Zalynda dengan jempolnya lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya. Zalynda menumpahkan emosinya di dada Ray. Ray membiarkan Zalynda menangis di dadanya


"Maafkan aku, Za." Kata Ray sambil merenggangkan pelukannya, menatap gadis kesayangannya.


"Mulai sekarang tidak ada yang boleh berbuat kurang ajar padamu. Kau harus bilang padaku, ya?!"


Zalynda mengangguk pelan


"Aku tidak dengar." Ujar Ray


"I-Iya, Ray."


"Good."


Ray tersenyum lalu mengelap bibir Zalynda dengan jempolnya "Aku akan membersihkan bekas pria itu dari dirimu."


Ray menghisap bibir Zalynda lembut hingga gadis itu mengerang dan tanpa sadar membuka mulutnya. Hal itu tidak di sia-siakan Ray untuk melesakkan lidahnya dan memperdalam ciumannya


"Mmh..Ray.."


N***u Ray langsung meledak naik mendengar d*****n manja Zalynda. Dengan lembut Ray menuntun Zalynda untuk berbaring di sofa tanpa melepaskan pagutannya.


Zalynda terlambat menyadari gaunnya sudah merosot kebawah dan bra nya raib entah kemana, tergantikan oleh tangan dan bibir Ray yang aktif bermain dan bergerak di sana. Kancing kemeja Ray pun sudah terbuka menampilkan otot-otot perut yang terpahat sempurna


Mereka berdua benar-benar mabuk kepayang hingga lupa daratan, hingga...


Cklek.. pintu ruangan Aya terbuka


***


Aya menahan senyumnya melihat keadaan Zalynda yang acak-acakan akibat ulah putranya. Ray terlihat lebih santai walau sempat misuh-misuh karena terjatuh dari sofa. Ray di dorong oleh Zalynda saat mereka berdua kepergok Aya


Tadinya Aya akan mengomeli Ray karena berbuat keributan dengan menonjok Sagara. Namun saat melihat Ray terpelanting jatuh karena di dorong kuat-kuat oleh Zalynda serta ekspresi keduanya yang menahan malu membuat Aya tidak bisa menahan geli


"Ehem.. Di apartemen kurang ya bang sampai harus di kantor bunda?" Goda Aya.


Aya terkekeh melihat wajah Zalynda yang memerah. Keduanya sudah kembali memperbaiki penampilan mereka yang sempat terbuka di sana-sini


"Ng, Za bikinin minum ya bunda." Kata Zalynda


Aya tahu, Zalynda masih malu karena kepergok dirinya. Kemungkinan gadis itu hendak menenangkan dirinya. Aya mengangguk

__ADS_1


"Bunda minta teh, gulanya sesendok aja."


Zalynda mengangguk lalu segera pergi ke pantry. Di pantry Zalynda berhenti sejenak untuk memenangkan dirinya. Setelah beberapa tarikan nafas, Zalynda segera mengambil cangkir dan teh dari lemari


"Linda.."


***


Diva mondar-mandir di toilet. Rasa kesal memenuhi dadanya. Tadi Zalynda merebut sesi pertama pemotretannya, lalu berita mengenai pernikahan Zalynda dan Ray yang membuat Diva makin iri.


Belum selesai kemalangannya, pemotretannya dibatalkan karena Sagara terluka di tonjok oleh Ray. Lebamnya tidak bisa tertutup dengan makeup, jadi pemotretan di undur beberapa hari hingga Sagara pulih


"Hiih, mengapa dia lebih beruntung dari aku. Aku makin nggak suka sama dia." Desis Diva bermonolog di depan cermin


Drrt..drrt…


Handphone nya bergetar. Diva segera melihat pesan yang masuk. Bibirnya menyunggingkan senyum licik. Ia lalu mengetikkan balasan pesan dengan cepat


Setelah selesai, Diva langsung keluar dari toilet. Semua sudah bubar, karena pemotretan dibatalkan. Butik Tsurayya terlihat lebih sepi


Tanpa sengaja, Diva melihat Zalynda pergi ke arah pantry. Gadis itu tersenyum


"Kebetulan yang indah.." bisiknya


Segera Diva menyusul Zalynda ke pantry


"Linda.." panggil Diva


Zalynda menoleh ke arah Diva yang memasang senyum manis palsu ke arah Zalynda


"Mau buat minuman?" Tanya Diva basa-basi


"Iya, bund..eh, bu Aya minta teh." Kata Zalynda sambil mulai menyeduh teh


Diva menggigit bibirnya menahan cemburu yang menyelimuti


"Selamat ya atas pernikahanmu dan Ray. Kenapa nggak ngundang-ngundang kami?" Tanya Diva lagi


Zalynda tersenyum sambil menoleh sekilas ke arah Diva lalu kembali sibuk dengan teh nya


"Ceritanya panjang. Nanti akan kuceritakan." Kata Zalynda


Diva menghela nafas, diam-diam gadis itu pergi ke belakang Zalynda.


"Ceritamu persis dengan cerita Cinderella, Linda." Kata Diva sambil perlahan menyemprotkan obat bius ke saputangannya


"Ah bisa aja kamu." Zalynda belum menyadari bahaya yang mendekatinya


"Iya. Kamu jadi glowing, bertemu pangeran dan saling jatuh cinta." Kata Diva lagi


Pipi Zalynda memanas mendengar kata-kata Diva "Yeah, kau benar."


"Tapi kamu inget kan, kebahagiaan Cinderella itu cuma sampai jam 12 malam?" Tanya Diva lagi


Kening Zalynda berkerut. Gadis itu hendak berbalik, namun sesuatu membekap hidung dan mulutnya. Perlahan tubuh Zalynda melemas dan semuanya berubah menjadi gelap

__ADS_1


__ADS_2