CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 134


__ADS_3

"Headline news siang ini. Perkelahian pecah tadi malam di penjara kota yang mengakibatkan 10 narapidana luka-luka dan 3 orang tewas. Diantaranya adalah 2 petugas penjara.."


Klik


Bi Ijah mematikan televisi sambil menggelengkan kepalanya


"Berantem terus beritanya. Nggak di luar penjara, nggak di dalam penjara. Hadeeh pusing." Ujar bi Ijah sambil menepuk-nepuk keningnya


"Bibi ngapain?" Tanya Zalynda yang melihat bi Ijah menepuk-nepuk keningnya


"Eh non Za. Tadi bibi lagi lihat berita." Kata bi Ijah yang langsung berdiri saat melihat Zalynda.


"Tuan sudah datang, non?" Tanya bi Ijah sambil melongok ke luar jendela


"Sebentar lagi paling bi." Kata Zalynda. Baru saja Zalynda selesai berucap, terlihat mobil Ray memasuki halaman rumah keluarga Wijaya


Zalynda tersenyum lebar menyambut tuan Wijaya dan bu Reema yang baru saja keluar dari mobil. Bu Reema langsung memeluk erat Zalynda sementara Ray membantu Daniel dan Farah menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. Pak Udin dan bi Ijah dengan cekatan membawa barang-barang ke dalam rumah


"Duuh Oma nggak bisa peluk erat-erat kamu soalnya ada cicit-cicit oma di sini." Kata bu Reema sambil membelai lembut perut Zalynda. Zalynda tersenyum melihat bu Reema nampak berbinar-binar saat mengusap perut Zalynda


"Mereka sehat Za?" Tanya bu Reema lagi


"Alhamdulillah, oma." Kata Zalynda. Gadis itu kemudian menyalimi tuan Wijaya yang sudah berdiri di sampingnya.


Berkat pengobatan dan terapi rutin, tuan Wijaya kini tidak memerlukan kursi roda untuk berjalan. Tetapi tetap saja Farah membelikan sebuah tongkat untuk tuan Wijaya


"Lihat penampilan kakek ni, Za. Sudah kayak Meneer Belanda?" Kata tuan Wijaya sambil menunjukkan tongkatnya


"Ah kakek jauh lebih ganteng dari Meneer Belanda." Kata Zalynda tertawa sambil mengacungkan dua jempolnya


Daniel dan Farah pun bergantian memeluk Zalynda


"Putri mama makin cantik aja." Kata Farah sambil membelai kepala Zalynda


"Nggak lihat bapaknya ya?" Tanya Daniel sambil merangkul Zalynda. Farah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil


"Sehat Za? Gimana cucu Papa?" Tanya Daniel


"Alhamdulillah sehat, Pa. Minggu depan jadwal kontrol ke dokter." Kata Zalynda sambil membelai perutnya. Terasa perutnya bergerak-gerak. Sepertinya bayi-bayinya ikut senang menyambut kedatangan tuan Wijaya, Bu Reema, Daniel dan Farah


"Ayo masuk, Za sudah masak untuk makan siang." Kata Zalynda


Daniel menggandeng Farah masuk ke dalam rumah sementara tuan Wijaya dan bu Reema sudah masuk terlebih dahulu


Ray merentangkan tangannya menyambut Zalynda yang langsung memeluk dirinya


"Kenapa?" Tanya Ray lembut saat melihat Zalynda memeluknya erat

__ADS_1


"Nggak, aku bahagia banget. Aku nggak pernah mimpi punya keluarga lengkap begini." Kata Zalynda


Ray tersenyum sambil menciumi kepala Zalynda


"Hadiah kesabaran kamu, Za."


Zalynda mendongak menatap Ray sambil tersenyum. Ray segera mengecup kening Zalynda, lembut


"Yuk masuk. Aku juga lapar nih." Kata Ray


Zalynda mengangguk sambil memeluk Ray. Tiba-tiba Zalynda menoleh ke arah pagar


"Za, ada apa?" Tanya Ray. Zalynda masih menatap jalanan di luar pagar


"Entahlah Ray. Aku merasa ada yang mengamati kita dari tadi.." kata Zalynda pelan


Ray bergegas berjalan keluar pagar sebelum Zalynda sempat mencegahnya. Pemuda itu melihat ke kanan dan kiri. Jalanan komplek cukup lengang dengan satu dua pengendara motor yang melintas


"Nggak ada siapa-siapa, cantik. Mungkin perasaan kamu aja." Kata Ray sambil berjalan mendekati Zalynda


Zalynda menggigit bibirnya sambil terus melihat keluar pagar. Gadis itu mengangguk pelan saat melihat pak Udin menutup pintu pagar


"Iya, mungkin perasaanku aja ya.."


Ray segera merangkul Zalynda dan merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya


Sementara itu..


Di seberang jalan, di belakang pohon besar. Tampak seorang pria dengan topi binatu yang hampir menutupi sebagian wajahnya, melihat tajam ke arah rumah keluarga Wijaya


"Kita lihat, berapa lama kamu bisa bahagia seperti itu Linda.." bisiknya kejam


***


"Papa balik lagi ke Singapore?" Tanya Zalynda sambil menyuguhkan puding buah yang sudah dibuatnya sedari pagi


"Iya. Ada beberapa kerjaan yang nggak bisa Papa tinggalkan di sana. Kalau sudah beres, Papa bisa kerja di laptop lagi sambil nungguin kamu lahiran." Kata Daniel


Daniel merasa cukup bersalah karena saat Zalynda dulu lahir, dirinya tidak ada di samping Farah. Bahkan Daniel tidak tahu kalau Zalynda ada. Karena itu Daniel berusaha menebus semuanya dengan ikut mendampingi Zalynda hingga melahirkan nanti


"Kamu ih, udah mama bilang kami pulang sendiri aja eh ngotot pengen nganter segala." Kata bu Reema sambil menikmati puding buah buatan Zalynda


"Yah, masa Niel tega lihat Mama sama Papa pulang sendirian? Ntar Niel bisa dikutuk jadi batu." Kata Daniel


"Maaf ya Niel. Papa mendadak harus pulang karena akan ada rapat direksi di perusahaan. Sepertinya Papa memang membulatkan niat untuk merger dengan Frederick Groups Company." Kata tuan Wijaya


Raut wajah tuan Wijaya sedikit berubah karena harus menggabungkan perusahaan miliknya dengan Frederick Groups Company dimana nama Wijaya Group akan hilang selamanya. Perusahaan yang sudah di rintisnya sedari dulu.

__ADS_1


"Papa.." panggil Farah


Tuan Wijaya menoleh sambil tersenyum


"Papa tidak apa-apa. Setidaknya Papa melakukan tindakan yang benar. Mungkin ini adalah tebusan untuk dosa Papa di masa lalu yang mementingkan perusahaan dibanding.."


"Kakek, jangan diungkit lagi.." kata Zalynda sambil menggenggam erat tangan tuan Wijaya


Tuan Wijaya mengangguk-angguk sambil berusaha menahan air matanya


Farah dan Zalynda refleks memeluk tuan Wijaya. Membuat ketiganya bertangisan haru


Ray dan Daniel saling berpandangan sambil tersenyum kecil melihat interaksi dua generasi itu


Drrt..drrt..


Handphone Ray bergetar. Ray melihat nama Beno tertera di layar


Ray pamit pada Daniel untuk mengangkat telepon dari Beno. Daniel mengamati tampak Ray berbicara cukup serius dengan Beno.


"Pa, maaf. Bisa ikut aku sebentar?" Ucap Ray pelan agar tidak terdengar oleh Zalynda


Daniel mengangguk. Daniel langsung beranjak mengikuti Ray menuju taman belakang


"Ada apa Ray?" Tanya Daniel


Ray menyodorkan handphonenya. Terlihat sebuah berita yang mengulas tentang peristiwa perkelahian yang terjadi semalam di penjara kota


"Mengerikan. Tapi apa maksudnya?" Tanya Daniel setelah menonton video yang diputar Ray di handphone nya


"Penjara kota, Pa. Tempat Yono di tahan." Kata Ray


"Apa dia ikut perkelahian itu? Tadi di sebutkan 10 narapidana luka-luka dan 3 orang tewas, dua diantaranya adalah petugas penjara." Kata Daniel


"Om Beno sedang menyelidiki. Kata om Beno ada yang janggal karena tiga orang yang meninggal itu, dua adalah sipir penjara dan satu orang adalah pekerja binatu." Kata Ray


"Apa anehnya?" Tanya Daniel


Ray terdiam sejenak berusaha merangkai kata-kata nya


"Perkelahian itu terjadi di ruang makan, Pa. Sementara petugas binatu mengambil pakaian dan kain-kain di luar area tahanan. Om Beno dapat informasi dari orang dalam, kemungkinan ada tahanan yang lari dan menyamar sebagai petugas binatu di penjara untuk bisa keluar dari penjara." Kata Ray


"Yono?!" Wajah Daniel terlihat pias


Ray menggeleng "Belum tahu, polisi sedang mendata kata om Beno. Beritanya di keep dari teman-teman media agar tidak heboh. Aku berharap bukan Yono yang lari.."


Ray melihat ke arah pagar depan rumah keluarga Wijaya

__ADS_1


"Aku berharap dia masih ada di penjara.."


__ADS_2