
...Maafkan aku untuk part ini 🙏🙏...
Pukul setengah sepuluh malam Ray tiba di apartemennya. Celana dan rambutnya sedikit basah akibat terkena hujan, namun sedikitpun tidak mengurangi ketampanan seorang Rayhan
Sebelum memasuki lift, Ray mengibaskan rambutnya dan membuka jaketnya. Hal itu menjadi perhatian beberapa wanita yang ikut masuk ke dalam lift
Namun Ray tetaplah Ray yang cuek. Ray tidak menghiraukan pandangan memuja beberapa wanita di lift, terlebih saat Ray menekan lantai unitnya
Pikiran Ray hanya satu, ingin segera bersama Zalynda setelah seharian mereka tidak berkomunikasi
Zalynda baru saja selesai menonton drama di televisi saat Ray masuk ke dalam apartemennya. Keduanya saling menatap
"Rambut Ray basah? Dari mana dia?" Bathin Zalynda dengan dada berdebar. Zalynda tidak terfikir kalau Ray menggunakan motor karena biasanya pemuda itu mengendarai mobil jika ke kantor.
Gadis itu langsung mengalihkan tatapannya pada televisi yang belum dimatikannya, namun pikira Zalynda tidak tertuju ke arah televisi
"Belum tidur Za?" Tanya Ray membuka percakapan
"Jelas-jelas kamu lihat aku disini, pastilah belum tidur.." Bathin Zalynda lagi mendengar pertanyaan basa-basi dari Ray
"Belum.." Ucap Zalynda singkat
Ray hanya mengangguk lalu segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Zalynda menoleh menatap pintu kamar Ray yang tertutup. Gadis itu mendesah pelan
"Ray sudah makan belum ya.." bisik Zalynda dalam hati. Tangannya segera mematikan televisi dan menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan
Namun langkahnya terhenti saat melihat sarapan yang tadi pagi ia siapkan untuk Ray. Zalynda terlupa membereskannya. Makanan itu masih ada di meja. Zalynda tersenyum sedih
"Mungkin aku nggak usah nyiapin makan. Jam segini pasti dia sudah makan, dan lagi belum tentu dia mau makan masakanku.." Zalynda membathin
Zalynda menatap potongan ayam goreng dan nasi uduk yang disiapkan untuk sarapan Ray tadi pagi. Zalynda memutuskan menyimpan ayam gorengnya di kulkas dan membuang nasi uduknya karena sudah tercium bau tidak sedap
Dengan cekatan Zalynda membersihkan dan membereskan meja kemudian gadis itu segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Sesaat Zalynda bimbang, apakah ia harus mengunci pintu kamar atau tidak.
"Aku kunci saja, Ray mungkin sudah terlelap. Nggak mungkin dia ke sini.." Bisik Zalynda sambil mengunci pintu kamarnya. Gadis itu segera ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas sebelum tidur
__ADS_1
***
Ray terlihat segar saat pemuda itu keluar dari kamarnya. Matanya menatap sofa tempat tadi Zalynda duduk. Gadis itu tidak ada di sana
"Za.." panggil Ray. Tidak ada sahutan
Ray berjalan menuju dapur untuk melepas dahaga dengan segelas air putih hangat. Sarapan tadi pagi sudah tidak ada di meja. Zalynda sudah membereskannya. Ray menghela nafas. Rasa bersalah merayap di hatinya. Pemuda itu berjalan menuju kamar Zalynda
Ray mengerutkan keningnya saat mendapati kamar Zalynda terkunci
"Za, buka pintunya. Aku mau tidur di dalam." Kata Ray sambil mengetuk pintu
Tidak ada jawaban dari Zalynda. Kembali Ray mengetuk sedikit keras
"Za, buka pintunya. Za.. Zalynda.." tetap tidak ada jawaban dari Zalynda
Ray menghembuskan nafas kasar sambil memandang kesal ke arah pintu. Pemuda itu pergi dan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu cukup keras
Di dalam kamar, Zalynda baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, menggosok gigi dan berwudhu. Sembari menggunakan skincare malamnya, Zalynda memasang telinga berharap kalau Ray datang mengetuk pintu
Sampai beres menggunakan rangkaian skincare nya, Ray tak kunjung mengetuk pintu. Zalynda menghela nafas sambil berjalan gontai ke arah pintu
Gadis itu kemudian berbaring di ranjang dengan posisi terlentang menatap langit-langit. Matanya belum bisa terpejam karena banyaknya pikiran-pikiran yang hinggap di otaknya. Zalynda memukuli dahinya pelan
"Duuh Zalynda bodoh, baru beberapa hari Ray memberikan perhatian padamu kau sudah serakah seperti ini. Mungkin dia memang sibuk, mungkin handphonenya mati.."
Zalynda berbalik memeluk gulingnya erat saat teringat film yang baru saja ia tonton
"Mungkin memang keberadaan ku hanya untuk ajang taruhan, mungkin dia sedang bersama wanita lain.." pikiran-pikiran negatif mulai merasuki otak Zalynda
***
Di kamar sebelah, keadaan Ray pun sama. Pemuda itu berbaring menatap langit-langit kamarnya. Ray berusaha memejamkan matanya tetapi tetap saja ia tidak bisa tertidur
Ray mencabut handphone yang baru saja di charge nya. Ray memeriksa beberapa pesan yang masuk, namun hanya satu pesan dari Zalynda yang mengabarkan gadis itu pulang sore karena hujan
Saat Ray memeriksa missed called yang masuk pun hanya Agus dan beberapa klien. Tidak ada missed called dari Zalynda
__ADS_1
Tiba-tiba Ray merasa jengkel. Memang dia bersalah karena terlalu sibuk hari ini sehingga mengabaikan Zalynda. Tetapi seharusnya gadis itu menghubunginya atau mengirimkan pesan bertubi-tubi padanya, seperti yang dilakukan Ina pada Lean, Ghea pada Marvin.
Ray mematikan handphonenya dan kembali men chargenya. Dengan gusar Ray keluar kamar menuju kamar Zalynda.
"Kalau masih dikunci,ku dobrak sekalian!" Bathin Ray
Cklek. Ternyata kamar Zalynda tidak terkunci. Zalynda terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya mendengar pintunya dibuka cukup keras
"Ray.."
Ray segera masuk menghampiri Zalynda yang masih terdiam di ranjangnya. Walau keadaan remang-remang karena lampu penerangan hanya berasal dari lampu kamar mandi, Zalynda dapat merasakan betapa tajam mata Ray menatapnya
"Kenapa kamu nggak telepon aku, Za?" Tanya Ray sambil mengurung tubuh Zalynda.
"Hah?" Zalynda terdengar bingung
"Kenapa kamu nggak ngirim pesan bertubi-tubi ke aku? Kenapa kamu nggak missed called aku bertubi-tubi? Kamu nggak peduli sama aku?" Tanya Ray lagi sambil memegang dagu Zalynda
"Apa-apaan ini? Harusnya itu kan kalimatku!" Protes Zalynda dalam hati, namun kalimat itu tidak bisa Zalynda utarakan. Hanya menggema di dalam hatinya
"Kenapa nggak jawab aku, Za?" Tanya Ray lagi saat melihat Zalynda terlihat bengong menatapnya. Dengan cepat Ray menangkup pipi Zalynda dan memerangkap manik coklat yang juga memandanginya. Manik coklat Zalynda mengerjap
"Ng, kamu kelihatannya sibuk.. aku nggak mau gang.." Belum selesai Zalynda berbicara, Ray sudah mel***t kasar bibirnya. Mata Zalynda refleks terpejam sambil bibirnya mengikuti gerakan bibir Ray
"Harusnya kamu ganggu aku dengan segala pesan dan telepon darimu!" Bisik Ray sambil tak henti mel***t bibir manis Zalynda
Tangan Ray dengan cepat melucuti pakaian Zalynda dan juga pakaiannya. Gadis itu mengerang pelan saat Ray mulai menyentuh titik-titik sensitif yang ada di tubuhnya
"Aku ng-nggak m-mau ngerepotin kamuhh.." kata Zalynda tersendat-sendat sambil berusaha menghentikan laju tangan Ray yang menjelajah
Ray menatap Zalynda jengkel. Mulut Ray terlihat komat-kamit membaca sebait doa. Tiba-tiba pemuda itu memasuki tubuh Zalynda dengan sekali hentakan membuat Zalynda memekik kaget
Perlahan Ray mulai bergerak sambil menatap wajah Zalynda yang memerah
"Aku sudah bilang, kamu bisa ngandelin aku. Buat aku repot. Buat aku merasa dibutuhkan olehmu, Za." bisik Ray di sela-sela gerakannya
"Nggh..Ray.."
__ADS_1
"Aku nggak terima penolakan." Kata Ray sambil membungkam mulut Zalynda dan mulai bergerak cepat dan intens, membuat Zalynda terlupa akan rasa sedih yang menyergapnya tadi