CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 120


__ADS_3

"Knock knock.. do you miss me?"


Zalynda tercekat saat Diva menodongkan sebilah pisau di depan wajahnya sembari menyeringai


"Diva, elo gila?!" Suara Alin juga terdengar tertahan


"Diem lo! Gue cukup waras buat ngelakuin ini semua!" Bentak Diva sambil melotot ke arah Alin dan mengacungkan pisau ke arah gadis itu. Alin memekik tertahan. Diva kembali mengarahkan pisau ke hadapan Zalynda sambil tersenyum


"Apa kabar sepupu? Aku udah nunggu lama banget buat ketemu kamu." Kata Diva pelan sambil menempelkan badan pisau di pipi Zalynda


"Uukh.." Zalynda memejamkan matanya saat merasakan dinginnya pisau bersentuhan dengan kulit wajahnya. Terlihat sekali gadis itu ketakutan


"Well..well.. kamu takut, sepupu?" Bisik Diva tepat di telinga Zalynda


"Div, turunkan pisau kamu. Kita bicara baik-baik." Kata Zalynda pelan sambil melirik ke arah Diva


"Baik-baik?" Tanya Diva pelan


Sedetik kemudian Diva menekan badan pisau di pipi Zalynda sambil mencengkram rambut Zalynda yang tertutup kerudung dan menariknya kuat


"Eegh.." Zalynda kembali memejamkan matanya. Tarikan Diva membuat gadis itu sedikit mendongak


"Baik-baik kamu bilang?! Nggak ada pembicaraan baik-baik antara kita, b******k!!" Suara Diva sedikit keras


"Diva, turunin pisau elo. Dia bisa terluka!" Kata Alin yang merasa ngilu saat pisau Diva menempel kuat di pipi Zalynda


Diva melihat ke Alin dengan heran "Elo khawatir dia terluka? Bukannya bagus ya kalau dia mati sekalian jadi Ray bisa dengan mudah elo ambil?"


Alin menggeleng kuat sambil menutup mulutnya. Alin tidak pernah berfikir sejauh itu.


"Nggak? Cih, lemah lo! Pantes aja elo nggak bisa ngerebut Ray dari anak haram ini!"


Diva kembali memandangi Zalynda "Kamu berubah sekarang ya Linda. Kamu jadi nggak penurut, nggak pasrahan, ck..aku nggak suka kamu yang kayak gini."


Zalynda mencoba mengatur nafasnya untuk berbicara dengan Diva. Zalynda berharap Diva mau mendengarkan walaupun kecil kemungkinannya


"Div, lepasin dulu. Turunin pisau kamu. Kita bicara baik-baik ya. Jangan sampai tindakan kamu malah memperberat diri kamu sendiri..Aaw.."


Diva makin menarik kencang rambut Zalynda yabg tertutup kerudung, membuat Zalynda merasakan sakit di kulit kepalanya


"Diam! Kamu juga sekarang sudah pinter bicara ya?! Kalau kamu pintar, cepat bilang sama suami kamu buat ngelepasin Papa! Cabut semua tuntutannya dan kembalikan posisinya di perusahaan!"


Zalynda terkekeh pelan mendengar ucapan Diva

__ADS_1


"Ray nggak akan pernah mau ngebebasin om Yono. Kalaupun Ray akhirnya khilaf dan mau, tuntutan dari perusahaan karena tindakan penyelewengan dana masih ada dan kakek nggak bakal ngelepasin om Yono karena..uuhgh.. karena menipunya bertahun-tahun."


Zalynda memejamkan matanya saat Diva makin menarik kencang rambutnya


"Lagipula..Om Yono tidak punya hak apapun di perusahaan selain sebagai pegawai. Om Yono mencuri posisi mamah..aaah.."


"Diam!" Diva memotong ucapan Zalynda sambil menekan pisau di pipi Zalynda


"Kamu terlalu pintar bicara..aku mau tahu, kalau aku robek mulutmu apa kamu masih mampu bicara seperti itu?" Tanya Diva dingin


Tubuh Zalynda bergetar ketakutan mendengar ancaman Diva. Sepertinya Diva sudah dibutakan kebencian sehingga tidak bisa merasakan mana yang benar dan mana yang salah. Alin mulai menangis ketakutan


"Elo diem, atau gue juga robek mulut elo!" Ancam Diva sambil mengacungkan pisaunya ke arah Alin


Alin membekap mulutnya erat-erat. Alin tidak bisa membayangkan betapa takutnya Zalynda sedangkan dirinya yang tidak ditodong pisau sudah ketakutan setengah mati


"Za, kamu di dalam?" Terdengar suara Farah sambil membuka pintu.


Diva terkejut melihat kedatangan Farah. Tanpa sengaja pisaunya menggores pipi Zalynda


"Aah.." Zalynda meringis menahan perih di pipinya


Farah terkejut melihat Diva berada di dalam sambil menodongkan pisau ke arah Zalynda. Terlihat darah mengalir di pipi Zalynda merembes di kerudung yang dipakainya.


"Jangan macam-macam, tante!" Bentak Diva


Seketika Farah menjerit


"AAAH!! DANIEEL.."


***


Daniel membeku sesaat mendengar teriakkan Farah. Sedetik kemudian pria itu segera berlari menghampiri Farah, begitu juga dengan yang lainnya


Endra dan Ian yang baru saja tiba pun ikut terkejut dan ikut menghampiri Farah


"Fa, ada ap.." Suara Daniel tercekat melihat Diva menyandera Zalynda. Udara di sekitar Daniel seakan menipis saat melihat cairan merah di pipi Zalynda


"Papa, ada apa?! Tanya Ray panik. Dirinya berusaha masuk ke dalam kamar tamu namun tubuh Daniel dan Farah menghalanginya


"Minggir! Jangan halangi jalanku!!"


Ray mendengar suara Diva di dalam kamar. Seketika Ray panik, cemas akan kondisi Zalynda

__ADS_1


Daniel perlahan menarik Farah untuk mundur memberi jalan pada Diva, sementara Farah seperti kehilangan tenaganya sehingga wanita itu menyeret kakinya sambil bersandar di dada Daniel.


"Jangan sakiti putriku..kumohon.." desis Farah pelan sambil memohon pada Diva


Diva menyeringai. Dengan kode di tangannya, Diva menyuruh Alin untuk keluar lebih dulu


Alin berjalan keluar. Tatapan matanya bertemu dengan Ray. Terlihat tatapan marah dan kecewa dari sorot mata Ray


"Ray, sungguh aku nggak tahu apa-apa. Aku nggak terlibat.." kata Alin berusaha membela diri


"Berisik! Cepetan pada kasih aku jalan!!" Bentak Diva


Alin segera menyingkir dari pintu. Saat semua orang menyingkir, Diva segera berjalan keluar sambil membawa Zalynda sebagai tamengnya


Aya terpekik melihat Zalynda berada di dalam genggaman Diva. Terlebih melihat darah akibat goresan pisau Diva


"Diva.." Mata Ray membola melihat Diva yang menodongkan pisau ke semua orang sambil menekan lengannya di leher Zalynda


Diva menyeringai melihat Ray "Hello, Ray. Kamu makin tampan saja. Sepertinya cocok jadi duda keren."


"Diva, letakkan pisaunya!" Kata Ray panik. Diva hanya tertawa sinis sambil mendekatkan pisaunya ke arah leher Zalynda


"Kenapa Ray? Aku tidak akan membunuh sepupu kesayanganku..Belum." Jawab Diva dingin. Zalynda berusah bersikap tenang sambil memandang Ray. Zalynda tidak boleh terlihat ketakutan karena akan membuat Ray semakin panik hingga tidak dapat berfikir logis


"Nona, kau sedang dalam pencarian polisi. Dengan tingkahmu seperti ini akan memperberat tuntutanmu." Kata Ardhi mencoba mempengaruhi pikiran Diva


"Lepaskan putriku, dia tidak bersalah apa-apa padamu!" Kata Daniel


"Tidak bersalah?" Diva tiba-tiba tertawa sinis


"Justru dialah penyebab sialnya keluargaku!!" Diva berteriak penuh kebencian sambil menodongkan pisau ke kepala Zalynda


Farah dan Aya memekik tertahan sementara Zalynda memejamkan matanya. Walau tidak berteriak atau bersuara, Ray tahu istrinya ketakutan


"Diva..ayo bicara baik-baik. Aku tidak akan panggil polisi." Kata Ray sambil perlahan mendekati Diva


"Jangan mendekat kubilang! Atau kau mau melihat pisauku tertancap di kepala istrimu?!"


Jantung Ray seakan berhenti saat Diva menekan pisau ke pipi Zalynda. Zalynda menggigit bibirnya untuk menahan rintihannya saat pisau Diva kembali menggores tangannya yang menahan lengan Diva agar tidak terlalu kuat menekan lehernya


"Kenapa sepupu? Sakit?" Tanya Diva sarkas saat melihat darah mengalir dari punggung tangan Zalynda


"Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku! Kau memang anak haram pembawa sial!"

__ADS_1


Diva mengayunkan pisaunya cepat...


__ADS_2