CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 87


__ADS_3

Zalynda sedang berada di balkon kamar Ray saat pemuda itu keluar dari kamar mandi. Kening Ray berkerut, sebelum masuk kamar mandi Zalynda sudah berdiri di balkon dan sekarangpun gadis itu masih di sana memandangi langit malam yang cerah


Ray segera berpakaian dan menghampiri Zalynda. Sebuah kain rajutan Ray sampirkan di bahu Zalynda. Gadis itu terhenyak dan menoleh. Bibirnya melengkung saat mengetahui siapa yang berada di belakangnya


"Nggak dingin, sayang?" Kata Ray sambil memeluk Zalynda dari belakang.


Rasa hangat langsung menjalar di tubuh dan hati Zalynda saat lengan kekar Ray mengurung tubuhnya. Gadis itu menggeleng sambil menyenderkan kepalanya di dada Ray. Keduanya terdiam sambil memandangi langit malam


"Ray.."


"Hmm?"


"Apa aku terlalu serakah dan tidak bersyukur?" Tanya Zalynda


"Kenapa bilang begitu? Kau adalah gadis paling penyabar dan paling bersyukur yang kukenal." Kata Ray sambil menciumi kepala Zalynda


Terdengar d*****n kecil dari bibir Zalynda


"Allah sudah memberiku suami seperti dirimu, keluarga yang lengkap ditambah kakek dan nenek. Tetapi aku masih menginginkan tante Farah mengingatku sebagai anaknya. Apa itu serakah?"


"Tidak." Kata Ray cepat


Zalynda terpekur melihat langit yang dihiasi bintang-bintang bertaburan. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin siang


FLASHBACK


"Mama.."


Kening Farah berkerut mendengar ucapan Zalynda. Tangannya membelai kepala Zalynda. Farah menoleh menatap Daniel yang segera mengalihkan pandangannya ke taman. Kembali Farah memandangi Zalynda


"Kamu..rindu mamamu ya?" Tanya Farah lembut


Zalynda berusaha mengukir senyuman sambil mengangguk. Farah ikut tersenyum. Entah mengapa sebuah perasaan asing menyusup di relung hatinya saat melihat Zalynda menangis


"Memangnya mama kamu kemana?" Tanya Farah lagi


Zalynda menatap lekat netra Farah seolah hendak menyelaminya


"Anda mama saya, tante.."

__ADS_1


Ucapan itu hanya terlontar dalam hati Zalynda. Gadis itu kembali menunduk


"Mamah Rina..mamah Rina meninggal sejak Za berusia 8 tahun." Kata Zalynda pelan


"Oh maafkan tante, Za." Farah langsung merasa tidak enak sambil menatap ke arah Daniel.


Pria itupun tampak menyeka ujung matanya. Farah faham, pasti Daniel juga merasa sedih. Farah kembali menatap Zalynda lekat. Gadis itu terisak. Sepertinya gadis itu sangat merindukan mamanya


Lengan Farah bergerak memeluk tubuh Zalynda, membuat Zalynda sedikit terperanjat dengan sikap Farah. Sedikit harapan muncul di hati Zalynda.


"Kehilangan seseorang yang amat disayangi memang berat. Kamu sabar ya." Kata Farah sambil mengelus punggung Zalynda


Zalynda hanya memejamkan matanya dan balas memeluk Farah.


FLASHBACK END


Zalynda kembali menghela nafasnya. "Setidaknya kemarin beliau memelukku Ray.."


Ray kembali mengecup kepala Zalynda lalu mempererat pelukannya "Aku akan memelukmu sesering mungkin kalau begitu supaya kamu tidak terlalu sedih."


Zalynda terkekeh pelan. Tangannya memegang lengan kekar Ray yang mengurung tubuhnya.


"Menurutku biarkan saja semua seperti ini dulu. Kau masih bisa bertemu, menyayangi, mencintai dan berbakti pada bu Farah selayaknya anak kepada ibunya. Kamu juga masih bisa merasakan kasih sayangnya seperti yang di tunjukkan bu Farah padamu. Untuk sekarang kamu harus sedikit bersabar untuk memberitahukan kalau kamu adalah putrinya."


"Yakinlah Za, jika Allah berkehendak maka bu Farah akan mengingatmu cepat atau lambat. Kau adalah putrinya, darah dagingnya, yang pernah hidup di rahimnya. Ikatan itu tidak akan pernah terputus sampai kapanpun. Sampai saat itu tiba, bersabarlah Za.."


"Kalau..kalau hal itu tidak pernah terjadi Ray?" Tanya Zalynda bergetar


Ray menangkup pipi Zalynda dengan kedua tangannya. Jempol Ray mengusap buliran yang jatuh dari kelopak indah milik Zalynda


"Setidaknya kalian bersama. Tidak ada yang berubah kecuali bu Farah tidak tahu siapa kau."


Zalynda tersenyum mendengar ucapan Ray. Gadis itu mendongak. Ray dengan cepat menundukkan kepalanya dan mengulum bibir Zalynda cukup lama. Ray melepaskan tautannya dan mengusap jejak saliva yang ditinggalkannya di bibir Zalynda


"Aku tidak pernah menyesal dengan jalan hidupku. Karena jalan ini yang membawaku pada titik ini, saat ini, di hadapanmu, menjadi istrimu." Zalynda mengambil tangan Ray yang berada di pipinya lalu dikecupnya lembut penuh cinta


"Aku juga tidak pernah menyesali menerima ajakan Mike ke Club XX. Karena disitu aku kembali menemukanmu setelah bertahun-tahun menghilang."


Ray menarik dagu Zalynda ke atas dan mulai mel***t bibir Zalynda lembut. Zalynda pun membalasnya. Cukup lama mereka saling berbagi saliva hingga Ray memutus tautan mereka. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum

__ADS_1


"Ayo masuk, dingin disini. Kamu harus banyak istirahat." Ujar Ray sambil kembali mengelap bibir Zalynda yang basah akibat ulahnya


Zalynda menurut. Ray merengkuh tubuh Zalynda dan membawanya masuk ke dalam kamar


***


"Mana Zalynda?! Saya ingin ketemu sama Zalynda!" Terdengar teriakan seseorang dari arah ruang tamu. Zalynda yang sedang duduk di taman samping menegakkan kupingnya untuk memperjelas suara itu


"Anda tidak boleh sembarangan masuk! Tidak ada orang di rumah."


Suara Sumi terdengar. Zalynda makin penasaran. Dengan perlahan dilangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Zalynda sedikit terkejut melihat dua orang yang sangat ia kenali


"Tante Anggun..Diva.."


Anggun melihat ke arah Zalynda. Serta merta wanita itu berjalan cepat ke arah Zalynda dan menarik kerudung gadis itu hingga terlepas. Belum hilang keterkejutan Zalynda, Anggun sudah menamparnya bolak-balik dan menarik rambutnya hingga Zalynda memekik kesakitan


"Aah sakiit tante.." jerit Zalynda sambil memegangi kepalanya


"Dasar anak haram! Bisanya nyusahin orang! Kenapa kamu tambah-tambahin laporan ke polisi tentang om kamu?! Gara-gara laporan kamu, tante sama Diva jadi diusir dari rumah!" Teriak Anggun di telinga Zalynda


"Linda nggak tahu apa-apa tante, aakh.." Zalynda merasa sedikit pusing karena Anggun makin keras menarik rambutnya


"Lepasin non Za, lepasiin!" Teriak Sumi sambil menarik tangan Anggun untuk melepas rambut Zalynda


Anggun mendecih, wanita iru melepaskan jambakannya pada rambut Zalynda dengan kasar. Sumi langsung memeluk Zalynda seolah berusaha melindunginya. Terlihat Diva berjalan mendekati Zalynda


"Linda, coba kamu lihat ini.." kata Diva sambil memutar sebuah rekaman di hpnya.


Zalynda melihat rekaman Diva. Matanya membulat saat melihat rekaman dirinya terikat sewaktu peristiwa penculikan terakhir. Tampak sesosok pria mendekatinya dan melepaskan ikatannya. Daniel. Wajah Zalynda dan Daniel terlihat jelas di rekaman itu. Saat Daniel mengangkat tubuh Zalynda, rekaman itu terhenti


"Apa maksudnya Diva?" Tanya Zalynda sambil meringis menahan sakit akibat jambakan Anggun


"Semua orang sudah tahu kalau kamu adalah anak pak Daniel dari TecnoTek dan bu Farah dari Wijaya Group. Pewaris tunggal Wijaya Group.." Diva berjalan mengitari Zalynda. Sumi ikut berputar sambil memeluk Zalynda, berjaga agar nona majikannya tidak kembali di sakiti


"Apa bilangnya ma? Cinderella? Ckckck.."


Diva berjongkok di samping Zalynda


"Sayang Cinderella itu hanya tokoh khayalan. Kamu nyata, dan aku pastikan kisahmu tidak akan seperti Cinderella." Kata Diva tajam

__ADS_1


Gadis itu menimang-nimang handphone nya lalu melirik licik ke arah Zalynda


"Apa jadinya jika rekaman tadi ku edit sedikit. Lalu kukirimkan pada media dengan tema ayah kandung sempat meniduri anak kandungnya sendiri?"


__ADS_2