
Tak lama Zalynda muncul sambil menggendong seorang bayi lelaki berusia sekitar 8 bulan yang sedang tertidur dengan selimut biru bertuliskan "Nizzam Alvarezi".
Ray tersenyum melihat Zalynda yang sedang memberi instruksi pada baby sitter nya untuk membawakan beberapa kantong belanja dan buket bunga ke dalam. Zalynda terlihat sehat, segar dan cantik
Ray jadi teringat peristiwa 8 bulan lalu
FLASHBACK
Pintu kamar Ray terbuka. Ray melihat ke arah pintu dan terperangah. Zalynda tengah memandang dirinya sambil tersenyum. Seorang perawat tengah mendorong Zalynda dengan kursi roda untuk mendekati Ray
"Za..kamu.." Ray seakan kehilangan kata-kata. Ray takut ini hanyalah mimpi. Buru-buru Ray memegang pipi Zalynda. Pipi itu terasa hangat dan nyata
"Ray, ini aku." Kata Zalynda sambil memegang tangan Ray yang berada di pipinya
Ray sungguh tidak bisa berkata-kata. Pemuda itu hanya memandangi Zalynda sambil berurai air mata
"Mm..bunda keluar dulu ya. Ayo suster." Kata Aya mengajak suster yang mengantarkan Zalynda tadi untuk keluar meninggalkan Ray dan Zalynda berdua saja
"Za, bagaimana kau.."
"Ssstt.." Zalynda menempelkan telunjuknya di bibir Ray
"Kamu pasti heran ya? Aku sudah dengar ceritanya. Kau menyelamatkan anak-anak kita sesuai permintaanku." Zalynda membelai rambut lebat Ray sambil sesekali menyisir dengan jemarinya
"Maafkan aku.."
Zalynda menggeleng sambil tersenyum "Kau melakukan tindakan yang benar, Ray. Aku tidak menyalahkan dirimu. Alhamdulillah Allah masih memanjangkan jodoh kita. Anak-anak juga sehat. Nanti kalau kamu sudah kuat, kita tengok bersama ke ruang bayi ya."
Mata Ray kembali basah. Zalynda tertawa kecil sambil mengusap airmata Ray. Mata gadis itupun sudah basah oleh air mata
"Ternyata Ray Eagle cengeng juga ya." Goda Zalynda
"Cuma kamu yang bisa bikin aku begini." Kata Ray pura-pura cemberut, kemudian memandang Zalynda. Keduanya tertawa dan menangis bersama
"Aku mencintaimu, Zalynda.."
FLASHBACK END
***
Ray terhenyak dari lamunannya saat Zalynda menarik dan mencium tangannya. Saat melihat Zalynda, Ryn langsung memberontak ingin digendong oleh Zalynda
"Hey, mama capek sayang." Tegur Ray saat Ryn mulai terdengar merengek. Zalynda tertawa kecil melihat tingkah laku Ryn
"Kangen mama ya? Sebentar sayang, mama taruh bang Iz dulu ya." Kata Zalynda. Bergegas Zalynda membawa Nizzam ke kamar untuk menidurkan bayi lelakinya. Setelah itu Zalynda kembali dan menggendong Ryn.
"Udah nggak demam ya." Tanya Zalynda saat meraba kening Ryn. Bayi perempuan itu tampak tenang dalam timangan Zalynda. Tak lama matanya terpejam
"Eh tidur. Emang belum tidur tadi?" Tanya Zalynda sambil melihat ke arah Ray
__ADS_1
"Udah kok. Tapi sebentar. Tadi sepagian main aja sampai jam 2 siang. Habis minum obat, kita bobo siang bareng sampai ashar. Eh aku bangun dia juga bangun." Kata Ray sambil menjawil pipi Ryn
"Za, Ray..Kami pulang dulu ya. Nanti kabarin aja kalau mau syukuran di rumah baru." Kata Aya sambil mencium Zalynda dan Ray. Disusul oleh Farah
"Besok titipin Iz sama Ryn di rumah mama pas kamu ke toko ya Za. Mama bosen nggak ada kerjaan." Kata Farah sambil membelai rambut Ryn. Zalynda mengangguk membalas senyum Farah
Ardhi dan Daniel pun pamit menyusul istri-istri mereka. Baby sitter Zalynda juga pamit pulang ke kontrakannya yang berada di dekat apartemen Gading setelah membaringkan Ryn di kamar. Ray memang menyewakan kontrakan untuk baby sitter Zalynda. Hanya sementara sampai Ray dan Zalynda menempati rumah baru mereka
Tinggal lah Zalynda berdua dengan Ray. Zalynda tiba-tiba memeluk Ray dari belakang membuat pemuda itu tersenyum
"Makasih ya Ray, udah mau direpotin jaga Ryn."
Ray tertawa kecil sambil berbalik dan memeluk erat Zalynda. "Sudah tugasku. Lagian kamu pakai ngotot bawa Nizzam di acara peresmian kerjasama. Padahal aku bisa lho jagain keduanya."
Zalynda tersenyum mendengar ucapan Ray. Sebetulnya Ray memang menawarkan mengasuh kedua anaknya saat Zalynda harus menghadiri acara peresmian kerjasama antara toko kue miliknya dengan butik Tsurayya dalam satu wadah wedding organizer. Zalynda tidak bisa membawa Ryn karena Ryn tengah demam
Namun Zalynda tidak akan tega meninggalkan Ray dengan dua bayi yang kini sedang aktif-aktifnya belajar merangkak dan berdiri. Akhirnya Zalynda memutuskan untuk membawa Nizzam. Ray juga menyuruh baby sitter Zalynda untuk masuk dengan memberikan upah lembur agar bisa membantu Zalynda di sana
"Iyaa, kamu emang hebat. Jangankan anak dua, kesebelasan pun bisa diurus ya." Kata Zalynda sambil mengajak Ray duduk di sofa.
Ray menggeleng sambil memeluk Zalynda. Pemuda itu menyusupkan kepalanya di leher Zalynda
"Nggak, cukup dua aja. Aku nggak sanggup kalau kejadian kemarin terulang lagi. Aku nggak sanggup kalau disuruh milih lagi."
Zalynda tersenyum mendengar ucapan Ray. Gadis itu membelai rambut Ray. Wangi rambut Ray selalu segar dan memanjakan indera penciumannya
"Kamu nggak mau punya anak banyak?" Tanya Zalynda. Terasa Ray menggeleng. Zalynda menghela nafasnya
Ray tetap menggeleng "Udah dua aja."
Cukup satu kali Ray dihadapan dengan peristiwa yang paling mengerikan selama hidupnya. Ray tidak akan kuat kalau lagi-lagi diharuskan memilih seperti kemarin
Zalynda tertawa. Sifat keras kepala Ray memang tidak bisa hilang. Entah siapa dari kedua anaknya yang akan mewarisi versi Ray kecil nanti
"Tadi aku lihat banyak kantong belanja. Mampir ke mall tadi bareng mama dan bunda?" Tanya Ray sambil melihat beberapa kantong belanja di kursi
"Nggak, itu hadiah. Selain gaun dan baju pengantin, di butik bunda nanti mau bikin lingerie juga. Limited edition, Ina yang ngerancang." Kata Zalynda sambil menatap Ray. Perlahan gadis itu mendekati telinga Ray dan membisikkan sesuatu
"Aku juga dapet lingerie lho.."
Mata Ray membulat saat mendengar bisikan Zalynda. Seringai lebar terbit di wajah tampannya
"Mana? Pakai dong, aku mau lihat." Kata Ray antusias. Zalynda terkekeh mendengar ucapan Ray
"Sabar, masih sore. Aku mau mandi terus nyiapin makan malam." Kata Zalynda sambil membelai dan mengecup rahang Ray kemudian meninggalkan pemuda itu dengan segudang fantasinya
***
Seminggu kemudian Ray memboyong Zalynda dan anak-anaknya untuk tinggal di rumah baru mereka. Rencananya, apartemen itu akan disewakan
__ADS_1
Ray dan Zalynda menggelar acara syukuran untuk rumah baru mereka yang dihadiri oleh sahabat dan keluarga. Terlihat juga Ina dan Lean bersama anak mereka. Lalu tuan Erik, Sam, Alifah dan Dzakiya yang sengaja datang dari London. Acara syukuran mereka berjalan dengan lancar.
"Zalynda.."
Zalynda menoleh. Ray segera memeluk pinggang Zalynda saat tahu siapa yang memanggil istrinya. Sagara hanya tertawa kecil melihat sikap Ray
"Tenang, dude. Aku hanya mau pamitan kok." Kata Sagara sambil mengangkat tangannya
"Kamu mau kemana, Gara?" Tanya Zalynda. Ray berdehem mendengar pertanyaan Zalynda. Buat apa istrinya menanyakan kemana Sagara pergi?
"Aku dapat kontrak di Paris. Sekitar dua tahun. Kalau mujur dan menyukai kinerjaku, mereka mungkin akan menambah kontrak kerjanya."
"Ya ya.. semoga lama di Paris nggak usah balik lagi, aduuh.." Ray meringis saat Zalynda mencubit perutnya.
Sagara tersenyum melihat interaksi Zalynda dan Ray
"Yeah, mungkin aku beruntung bisa dapet wanita Prancis." Sagara tertawa kecil
"Mm..aku belum minta maaf secara benar atas kejadian delapan bulan yang lalu. Maafkan aku ya. Jujur aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai terjadi sesuatu padamu, Za." Kata Sagara lagi.
"Aku sudah memaafkanmu, Gara." Ucap Zalynda lembut
Ray mengeratkan pelukannya pada pinggang Zalynda sambil menatap ke arah Sagara. Sagara terkekeh melihat keposesifan Ray
"Ok, aku mau menyapa yang lain dulu. Kalau Ray jahat padamu, kau tahu dimana bisa menghubungiku Za."
Sebelum Ray memukulnya, Sagara segera meninggalkan Ray dan Zalynda saat melihat rahang Ray mengeras.
"Ck, saking nggak lakunya ya sampai godain istri orang." Kata Ray
Zalynda menggeleng sambil tertawa kecil. Gadis itu segera memeluk Ray untuk meredakan amarah pemuda itu. Cara yang cukup efektif
"Hiyaak..di sana mesra-mesraan, di sini pelukan. Aku jomblo bisa apa." Kata Ian yang tiba-tiba sudah berada di samping Ray. Pandangan Ian tertuju pada satu wanita di ruangan itu
Ray yang menyadarinya segera menjentikkan jarinya di depan hidung Ian membuat pemuda itu gelagapan
"Lupakan dia Yan. Dia nggak pernah bisa jadi milik elo! Pertama, dia sepupu elo.."
"Sepupu juga bukan muhrim kali bang." Sergah Ian cepat. Ray hanya menghela nafas
"Kedua, dia lebih tua dari elo. Ketiga dia udah punya suami dan sebentar lagi akan melahirkan anak ketiga. Keempat, dia cuma nganggap elo adek." Kata Ray lugas yang langsung memupuskan harapan Ian
Ian kembali memandang Dzakiya yang tengah bercengkrama dengan Aya dan Alifah. Pemuda itu kemudian melihat Ina yang sedang bergelayut manja di lengan Lean, lalu melihat ke arah Ray yang tengah memeluk Zalynda. Ian menghela nafas
Kemudian Ian memandang tajam ke arah author (eh lha kok jadi mandangin aku ya? Jadi grogi dipandangi bujang ganteng #eh)
"Akak Thor, coba dong tuliskan kisah cintaku. Jangan biarkan aku jomblo terus!"
________THE END_______
__ADS_1
Cerita Cahaya Bintang Surga selesai sampai di sini. Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Zalynda dan Ray selama ini
In syaa Allah kita jumpa lagi di lain kesempatan ❤️❤️❤️