
"Emang siapa sih calon besan yang mama maksud?" Tanya Yono lagi
Anggun mengerling sambil tersenyum manis ke arah Yono "Nyonya Aya, istrinya Ardhi Al Farobi."
Yono menatap Anggun, kemudian tawanya meledak. Anggun menatap heran ke arah suaminya
"Kenapa Pa? Kok ketawanya sampe ngakak begitu?"
"Ahaha, sejak kapan nyonya Aya kenal keluarga kita? Arisannya aja beda kelompok. Mama masih mimpi kayaknya." Kata Yono di sela tawanya
Anggun memutar bola matanya. Yono ternyata mentertawai dirinya
"Ck, mama kenal kok. Nyonya Aya bahkan nawarin Diva ke kantornya."
Tawa Yono mereda sambil masih melihat ke arah Anggun "Kok bisa?"
"Bisa dong. Mama gitu lho." Kata Anggun sambil mematutkan dirinya di kaca besar
FLASHBACK
Anggun dan Diva tengah berada dalam perjalanan pulang dari salon. Mereka berdua nampak bernyanyi-nyanyi mengikuti irama musik yang diputar di mobil. Suasana di mobil cukup berisik karena suara mereka yang sedikit cempreng
"Diva, gimana hasil interview kemarin?" Tanya Anggun sambil melirik sekilas ke arah putrinya
"Duh mama,baru juga kemarin. Belum ada telepon atau email. Sabar aja sih. Kan harus dilihat dulu curriculum vitae nya, akademiknya." Kata Diva sambil memanyunkan bibirnya
Anggun menghela nafas panjang
"Kamu tuh, mama suruh kerja di perusahaan om Wijaya nggak mau. Di sana nggak perlu tes tes juga kamu bisa dapat posisi bagus. Kesempatan juga buat kamu buat cari jodoh di sana. Siapa tahu klien om Wijaya ada yang masih muda, ganteng.."
"Muda? Banyaknya seusia Papa kali ma." Kata Diva memotong ucapan Anggun
"Nggak apa-apa, yang penting masih ganteng dan tajir." Kata Anggun lagi
"Single, jangan lupa ma." Kata Diva sambil memeriksa beberapa pesan di handphone nya
Anggun tertawa "Asal dia kaya raya, jadi istri kedua juga nggak masalah kan. Yang penting pemasukan lancar."
Diva memasang wajah horor melihat Anggun "Ih mama kok gitu? Dih ogah banget jadi istri kedua. Diva nggak mau lah."
Anggun terkekeh. Mereka melewati sebuah supermarket besar. Anggun segera berbelok menuju parkiran supermarket
__ADS_1
"Div, tolong beliin minyak goreng sama sabun cuci." Kata Anggun sambil menyerahkan lembaran biru ke Diva
"Ampuun mama, beli gitu aja di warung deket rumah kakek Wijaya juga ada kali. Ngapain kesini?"
"Ih ini anak. Nggak level lah kita belanja di warung. Walau cuma minyak goreng dan sabun, kantong belanjanya kan kelihatan kita beli di supermarket. Bukan pakai kresek hitam. Daah sana sana. Jangan pake lama." Kata Anggun sambil mengibaskan tangannya.
Walau bersungut-sungut, Diva tetap menuruti perintah Anggun. Sembari menanti Diva, Anggun menyetel musik sambil bernyanyi. Tidak berapa lama Diva terlihat keluar dari supermarket sambil membawakan pesanan Anggun
Tiba-tiba mata Anggun menyipit melihat dua orang yang sedang mendorong troli
"Eh itu kan.." Gumam Anggun
"Ma, buka pintunya dong." Suara Diva membuyarkan konsentrasi Anggun. Dengan cepat wanita itu membuka pintu mobil
"Eh Div, sebentar." Anggun menahan Diva memasuki mobil. Kening Diva berkerut melihat senyuman Anggun
***
"Saya Diva, tante.." Ucap Diva sambil memperkenalkan diri. Aya mengangguk-angguk
"Terima kasih ya." Ucap Aya lagi. Diva menampilkan senyum terbaiknya. Gadis itu melihat ke arah Ian. Pemuda itu masih memperhatikan gerbang keluar parkiran
"Mm.. kalau tidak salah, anda pemilik butik Tsurayya kan nyonya?" Tanya Diva
"Iya, saya sering lihat di halaman majalah Fashion. Disain baju-baju anda bagus sekali. Kadang saya bermimpi ingin ikut bekerja butik anda sebagai salah satu modelnya." Ucap Diva dengan mata menerawang
Aya menatap Diva seksama. Gadis ini cukup cantik kalau diperhatikan, bathin Aya
"Kebetulan, butik saya sedang mencari seorang model karena model saya mendapat tawaran bekerja di Paris. Kalau kamu mau, kamu bisa datang senin pagi untuk audisi." Kata Aya sambil menyerahkan kartu namanya
Mata Diva berbinar-binar saat menerima kartu nama Aya. Gadis itu tersenyum lebar
"Suatu kehormatan untuk saya. Saya akan datang, tante."
Ian menoleh menatap interaksi Diva dan Aya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yuk, bun. Udah malam ni, kayaknya mau hujan juga." Kata Ian sambil mendorong troli belanjaan Aya
"Iya, kamu masukin belanjaan dulu ya Yan." Ujar Aya pada Ian. Wanita itu kembali menatap Diva
"Ya sudah, saya tunggu kedatangannya hari senin ya. Sekali lagi terima kasih." Kata Aya sambil tersenyum. Diva mengangguk hormat. Aya segera menyusul Ian menuju mobil
__ADS_1
Mata Diva tak lepas memandang mobil Aya hingga keluar dari parkiran. Tak lama sebuah mobil hitam menghampiri Diva. Diva segera masuk ke dalam mobil tersebut
"Gimana?" Tanya Anggun
"Berhasil. Kok mama tahu kalau tante Aya lagi nyari model?" Tanya Diva sambil memandang Anggun. Anggun tertawa kecil
"Kan di grup arisan lagi heboh itu, modelnya nyonya Aya ada yang mau resign. Jadi pada nyodorin anak atau keponakannya untuk jadi model di sana. Kamu di tawarin nggak?"
Diva melihat kartu nama yang diberikan Aya "Tadi sih disuruh ke butiknya hari senin besok. Di suruh audisi dulu katanya."
"Nggak apa-apa. Memang harus seperti itu. Yang penting kamu punya nilai plus di matanya, Div." Kata Anggun
"Nilai plus?" Diva balik bertanya ke Anggun
"Ck, lemot banget kamu. Ya kan kamu udah menyelamatkan dia dari serempetan mobil." Kata Anggun sambil menoyor kepala Diva
"Ooh iya iya..eh tapi mobilnya agak kebaret tu ma." Kata Diva sambil melongok ke luar. Terlihat baretan di sisi mobil akibat berbenturan dengan troli Aya tadi
"Ntar Papa pasti ngomel ini lihat baretan di mobil." Kata Diva lagi
"Nggak apa-apa. Nanti bisa dipoles kalau kita sudah kaya." Kata Anggun sambil mengedipkan sebelah matanya. Diva pun tersenyum lebar melihat Anggun
Kedua ibu dan anak itu tertawa-tawa. Mereka kembali bernyanyi riang sambil melanjutkan perjalanan pulang.
FLASHBACK END
***
"Ih mama, ditanya malah senyum-senyum sendiri."
Suara Yono membuyarkan lamunan Anggun. Segera wanita itu berbalik menatap suaminya
"Papa nggak usah ikut campur dulu deh. Urus dulu tuh perusahaan om Wijaya. Papa udah mandi belom?" Tanya Anggun sambil menutup hidungnya
Yono mencium daerah ketiaknya dalam-dalam.
"Belum sih, tapi masih wangi kok. Buktinya Mama suka kan deket-deket Papa?" Kata Yono sambil menyodorkan ketiakny ke arah Anggun. Refleks Anggun menghindari aksi Yono
"Ih nggak mau. Sana mandi. Papa harus menanamkan citra baik dong di perusahaan. Jangan suka telat. Sana mandi!" Usir Anggun
Yono memutar bola matanya sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Pria itu segera menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi
__ADS_1
Anggun menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. Wanita itu kembali mematutkan dirinya di cermin besar
"Nyonya Mariono Sutedjo, calon besan dari nyonya Aya Al Farobi." Kata Anggun bermonolog sambil terkikik