CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 104


__ADS_3

Zalynda sedang memilihkan makanan di piring nasi yang akan dibawanya untuk Ray saat Alin mendekati Zalynda dan berdiri di sebelahnya.


"Selamat atas pernikahan ayahmu ya." Ucap Alin


Zalynda yang tadinya tidak menyadari keberadaan Alin, menoleh. Gadis itu tersenyum lembut sambil mengangguk "Terima kasih."


"Baru mau makan?" Tanya Alin sambil melirik piring yang dibawa Zalynda


"Bukan, buat Ray." Kata Zalynda lembut sambil mengambil semangkuk capcay. Alin pun ikut mengambil makanan di meja prasmanan. Kedua gadis itu sama-sama memilihkan lauk di piring masing-masing


"Kelihatannya mereka sangat berbahagia." Ucap Alin sambil menyela Zalynda mengambil udang bakar mentega. Zalynda sedikit tidak nyaman, namun gadis itu masih membiarkan. Zalynda pun mengambil udang bakar mentega setelah Alin


"Ya, walaupun tante itu sempat gila dan tidak mengingatmu sebagai anaknya, setidaknya kini kau bisa memanggilnya ibu." Kata Alin sambil menyendokkan capcay ke piringnya


Kening Zalynda berkerut mendengar ucapan Alin


"Maksudnya apa?" Tanya Zalynda sambil menatap Alin. Alin tersenyum sambil mendekati Zalynda


"Kamu..cantik juga nggak, bukan lulusan kuliahan, kaya juga nggak, pengangguran lagi. Kira-kira kenapa Ray tertarik sama kamu?"


"Apa?"


"Semua tahu kisah keluargamu dan keluarga Ray. Kamu pernah berfikir kalau Ray menikahimu karena berbelas kasihan padamu?" Tanya Alin pelan sambil memandang Zalynda dengan pandangan merendahkan


Zalynda tertegun hingga menghentikan gerakannya. Alin tertawa kecil sambil mendahului Zalynda mengambil air minum


Terlihat Alin berjalan mendahului Zalynda. Dengan sengaja, bahu Alin menyenggol Zalynda membuat gadis itu sedikit oleng. Untung saja tubuh Zalynda tertahan meja prasmanan sehingga tidak terjatuh. Zalynda menatap punggung Alin yang menjauhinya dengan heran


"Maunya apa sih dia?" Rutuk Zalynda dalam hati


Zalynda segera mengambil minum segera membawanya ke tempat Ray. Namun langkahnya sedikit melambat saat melihat Alin menyerahkan piring di tangannya pada Ray.


Terlihat Ray mengangguk sambil menerima piring di tangan Alin dan mulai memakannya. Alin pun duduk di samping Ray. Keduanya terlihat mengobrol, entah tentang apa.


Zalynda mencoba menetralkan rasa di dadanya saat melihat Ray terus memakan makanan yang diambilkan Alin tadi. Apa Ray menyuruh Alin, atau hanya inisiatif Alin untuk mengambilkan makanan seperti halnya Zalynda. Yang jelas Zalynda sedang menahan emosinya


"Ini hari besar papa dan mama. Jangan buat hari ini berantakan, Za.." bathin Zalynda

__ADS_1


Mata gadis itu sudah terlihat beriak. Tak ingin seorangpun tahu, gadis itu segera meletakkan piring yang dibawanya di atas meja dan bergegas berbalik pergi naik ke kamarnya.


Dari sudut matanya Alin melihat pergerakan Zalynda yang menjauh. Dalam hatinya gadis itu terbahak-bahak


"Diva betul. Dia benar-benar lemah ternyata.." bathin Alin


***


Zalynda menatap wajahnya di cermin meja rias kamarnya. Perlahan tangannya menyentuh pipinya


"Cantik juga nggak, bukan lulusan kuliahan, kaya juga nggak, pengangguran lagi. Kira-kira kenapa Ray tertarik sama kamu?"


"Kamu pernah berfikir kalau Ray menikahimu karena berbelas kasihan padamu?"


Ucapan Alin kembali terngiang di telinga Zalynda. Gadis itu memejamkan matanya sembari beristighfar. Zalynda mencoba kembali mengingat-ingat kebersamaannya dengan Ray.


Walau pernikahannya baru berjalan sekitar enam bulan, namun sepertinya sudah banyak beberapa cobaan yang menghampiri, dan Ray tetap berdiri tegak disamping Zalynda, melindungi dan menyayanginya. Tidak mungkin rasa itu tercipta karena kasihan semata


Zalynda juga bukan gadis buta yang tidak bisa melihat kalau Alin adalah satu dari sekian banyak wanita yang berusaha mencari perhatian Ray. Kemungkinan ucapan Alin tadi memang sebuah bisa untuk menggoyahkan hatinya


"Teruslah ada di sampingku, dan hiduplah bersamaku selamanya.."


Zalynda membuka matanya dan menghembuskan nafasnya sambil melihat ke arah cermin


"Pengakuan.." bisik Zalynda teringat apa yang pernah diucapkan Farah kemarin saat membahas ego lelaki. Gadis itu memicingkan matanya sambil mengangguk. Segera Zalynda beranjak pergi dari kamarnya untuk kembali bergabung di pesta pernikahan Daniel dan Farah yang di selenggarakan di taman


***


Zalynda memperhatikan Ray dan Alin masih bercakap-cakap. Zalynda segera berjalan menghampiri Ray


"Cantik, kamu kemana aja? Aku tungguin buat makan bareng. Makanan kamu mana?" Tanya Ray melihat Zalynda tidak membawa apa-apa


"Cantik..bahkan Ray pun menyebutku cantik." Bisik hati Zalynda sambil tersenyum menatap Alin yang juga menatapnya dengan pandangan tidak bersahabat


"Tadi aku ke kamar dulu, piringnya aku taruh di meja eh ada yang ngeberesin padahal belum di makan." Kata Zalynda sengaja dengan nada sedikit manja


Ray menggeleng "Kamu ya, ngambilin aku makan pake nitip ke Alin eh kamunya sendiri malah nggak makan."

__ADS_1


"Ooh alasan itu yang bikin Ray mau menerima dan makan makanan dari gadis ini rupanya." Bathin Zalynda yang masih tersenyum menatap Ray


"Ambil lagi aja, susah banget." Celetuk Alin. Zalynda melirik sekilas ke arah Alin lalu melihat ke arah piring Ray yang masih terlihat banyak.


Zalynda akhirnya tahu Alin tadi mengikutinya mengambilkan makanan untuk Ray untuk mengetahui makanan kegemaran Ray


"Nggak deh, udah lapar sebetulnya cuma pengen duduk. Pegel.." Kata Zalynda sambil menepuk-nepuk pahanya pelan


"Ya udah sini makan bareng, ini kamu juga ambilin banyak buat aku. Kayak porsi kuli." Kata Ray tertawa sambil menggeser duduknya memberikan tempat duduk untuk Zalynda sehingga gadis itu berada di tengah-tengah Ray dan Alin


Zalynda dengan cepat duduk di samping Ray sambil sedikit membelakangi Alin. Tindakan Zalynda membuat Alin sedikit kesal. Gadis itu mencoba menarik perhatian Ray dengan obrolannya


"Ray, jadinya untuk proyek.."


"Bahas kerjaannya ntar aja, mbak. Ini pernikahan Papa dan Mama, bahas yang ringan-ringan saja. Ya Ray?" Zalynda memotong ucapan Alin


Ray mengangguk "Iya, kerjaan kita bahas di kantor aja Lin sama Agus sekalian ntar."


Wajah Alin merengut mendengar perkataan Ray. Terlebih melihat Zalynda dengan manja minta Ray menyuapinya


"Sialan, dia tidak selemah perkataan Diva." Bathin Alin sambil mencoba menulikan telinganya saat mendengar derai tawa Zalynda dan Ray yang membuatnya tambah sakit kepala


"Aku mau minum Ray.." kata Zalynda sambil memperhatikan gelas air mineral yang kosong


Ray menatap Zalynda dan sedikit heran dengan perubahan sikap Zalynda yang sedikit manja padanya. Terus terang, Ray menyukainya.


"Aku ambilkan dulu ya. Ini tolong di pegang." Kata Ray sambil menyerahkan piringnya pada Zalynda.


Alin menatap punggung Ray yang terlihat menjauh lalu berbalik menatap Zalynda yang tampak menikmati makanan di piring Ray


"Kamu pikir dengan menunjukkan kemesraan kalian akan mengubah fakta kalau Ray menikahimu karena kasihan padamu?" Ucap Alin


Zalynda mencoba bersikap biasa. Gadis itu masih menikmati makanannya sambil berucap


"Masalah itu hanya Ray yang tahu. Tetapi sepanjang kebersamaan kami, aku tidak pernah merasa Ray mengasihani ku. Justru Ray lebih terlihat mencintai dan terkesan over protective padaku. Wajar, kan aku istrinya."


Zalynda menghadapkan badannya ke arah Alin sambil tersenyum manis walau sorot mata Zalynda sedikit tajam

__ADS_1


"Lagipula, apa urusanmu dengan perasaan Ray? Kau hanya seorang klien Ray, tidak lebih!"


__ADS_2