
Gemericik air masih terdengar dari dalam kamar mandi. Zalynda sengaja tidak tidur duluan demi menunggu Ray untuk berbicara dengannya
Aya dan Ardhi sudah pulang setelah membawakan oleh-oleh dari Prancis. Kedua mertuanya sangat baik pada Zalynda membuat Zalynda nyaman berdekatan dengan mereka, terutama Aya.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ray keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya. Zalynda menggigit bibirnya menyaksikan pemandangan indah di depannya. Ray dengan cuek berganti pakaian dengan pakaian yang sudah di siapkan Zalynda
"Aku boleh bicara Ray?" Tanya Zalynda
Ray melirik Zalynda sekilas, melihat gadis itu menatap dirinya. Walau Ray masih marah pada Zalynda tetapi Ray tidak bisa mengabaikan Zalynda. Ray merebahkan tubuhnya di samping Zalynda
"Bicaralah." Jawab Ray singkat
Zalynda menghela nafas pelan. Gadis itu bangun dan duduk. Jemarinya memainkan pita di baju baby doll miliknya
"Maafkan aku.." kata Zalynda
Ray menoleh "Untuk apa?"
"Untuk perkataanku tadi sore. Aku sudah bersalah dan bodoh. Aku tidak berfikir saat mengucapkan kata-kata tadi sore. Niatku adalah ingin kau bahagia, Ray. Tetapi nyatanya aku sudah menyakiti hatimu." Ucap Zalynda pelan
Ray menghembuskan nafasnya. Pemuda itu ikut duduk. Dengan lembut Ray membalikkan tubuh Zalynda agar menghadap ke arahnya
"Apa kau bahagia ketika aku membagi cintaku dengan perempuan lain?" Tanya Ray
Zalynda menggeleng cepat.
"Lalu mengapa kau mengharapkan aku bahagia sedangkan kau tahu, bahagiaku adalah saat kau juga bahagia, Za?" Ray membelai pipi Zalynda lembut. Zalynda mulai terisak
"Maafkan aku Ray. Aku janji nggak akan ngomong gitu lagi. Aku nggak pernah rela membagi dirimu dengan wanita lain. Kamu cuma milikku seorang." Kata Zalynda bergetar
"Tapi, suatu saat kau harus merelakan menbagiku dengan perempuan lain Za dan kau akan sangat rela saat itu." Kata Ray
Zalynda mengangkat kepalanya menatap Ray tak percaya. Ray tersenyum jahil
"Dengan putri kita.." bisik Ray
Ucapan Ray membuat Zalynda tersenyum. Gadis itu menghapus air matanya sambil tertawa
"Aku akan sangat rela untuk hal itu."
Ray mengecup kening Zalynda, lalu hidung Zalynda kemudian kedua pipi Zalynda. Ray menatap Zalynda dekat
"Kau wanitaku dan satu-satunya istriku." Bisik Ray sambil memagut bibir Zalynda lembut
Kecupan-kecupan Ray berubah menjadi ciuman panjang yang mulai menuntut lebih. Udara malam yang dingin berganti menjadi panas bergelora.
__ADS_1
Zalynda mereguk kenikmatan miliknya sembari mendesahkan nama Ray berulangkali dengan nada yang terdengar seksi di telinga Ray. Ray pun selalu menginginkan tubuh Zalynda lagi dan lagi. Bersama-sama dengan Ray, Zalynda meraih puncak nya.
Dalam hati mereka berdoa agar Allah segera menitipkan malaikat kecil di rahim Zalynda yang akan membuat suasana rumah tangga mereka lebih ceria dan berwarna
***
Hari berganti, bulan terlewati. Ray dan Zalynda tidak pernah lagi membahas tentang anak. Setidaknya tidak secara sengaja karena untuk menjaga hati pasangannya
Zalynda terpesona melihat perut Ghea sudah terlihat membuncit. Ghea terlihat sangat cantik dengan baju hamil berwarna biru muda. Wajah Ghea pun terlihat sedikit bulat
"Udah berapa bulan Ghe?" Tanya Zalynda sambil mengusap pelan perut sahabatnya
"Jalan lima bulan Za. Udah mulai enak makan ni setelah kemarin kena morning sickness." Kata Ghea
Saat ini mereka tengah berada di mall, tepatnya di sebuah restoran.
"Sudah bisa makan apa saja?" Tanya Zalynda sambil memanggil seorang pelayan
"Apa aja masuk siy. Cuma kata dokter hindari makanan yang terlalu pedas." Kata Ghea
"Gimana rasanya hamil, Ghe?" Tanya Zalynda
Ghea tersenyum "Luar biasa. Apalagi saat mabok kemarin. Ternyata perjuangan seorang ibu itu lumayan berat."
Zalynda ikut tersenyum. Dalam hatinya sedikit iri pada Ghea. Kapan dirinya akan merasakan hal yang sama seperti yang Ghea rasakan. Tanpa sadar Zalynda membelai perutnya
"Za, kamu nggak salah pesan kan?" Tanya Ghea sambil melihat pesanan Zalynda
Zalynda menatap piringnya yang berisikan nasi goreng seafood. Zalynda menggeleng karena merasa tidak ada yang aneh
"Nggak kok. Emang nasi goreng seafood ini kenapa?" Tanya Zalynda
"Bukan itu, tapi makanan sekitarnya tuh." Kata Ghea sambil menunjuk
Zalynda kembali menatap piring di sebelah nasi gorengnya. Sepiring kentang dengan chicken wings dan salad sayur. Itu semua memang pesanan Zalynda
"Kenapa?" Tanya Zalynda
"Kamu makan banyak banget. Kamu nggak sakit perut?" Tanya Ghea sambil menyuapkan pasta ke mulutnya. Zalynda tertawa kecil
"Entah kenapa aku pengen nyobain. Mungkin efek lama nggak ke mall kali ya." Kata Zalynda sambil menyuapkan nasi gorengnya
Tak lama pesanan Zalynda pun licin tak bersisa. Ghea terpana, selama dirinya mengenal Zalynda di kampus, gadis ini makan dengan wajar, tidak seperti sekarang seolah Zalynda tidak makan selama sebulan
"Mas, order Latte gelato nya dong." Kata Zalynda saat seorang pelayan lewat di sebelah mereka
__ADS_1
"My God, Zalynda. Kamu emang nggak dikasih makan ya sama Ray di rumah?" Kata Ghea.
Zalynda hanya terkekeh mendengar ucapan Ghea sambil menikmati latte gelato nya dengan nikmat
***
"Assalamu'alaykum.." Terdengar suara Ray menberi salam saat memasuki apartemen
"Wa'alaykumussalam.." Zalynda segera meninggalkan pekerjaan melipat bajunya dan pergi menyambut Ray.
Ray terlihat lesu. Pemuda itu langsung duduk di sofa dan memejamkan matanya. Kemungkinan pekerjaannya banyak hingga Ray sedikit kelelahan. Zalynda menyeduhkan teh mint untuk Ray. Ray meneguknya pelan. Wajah Ray terlihat pucat
"Aku sudah siapin air mandinya. Mau mandi sekarang?" Tanya Zalynda sambil memijat ringan lengan Ray
Ray menggeleng. Tiba-tiba pemuda itu memeluk Zalynda dan masuk ke dalam cerukan leher Zalynda. Sedetik Zalynda terkejut, namun segera gadis itu balas memeluk Ray
"Capek ya di kantor?" Tanya Zalynda sambil mengusap rambut lebat Ray. Ray tidak menjawab. Pemuda itu menghirup wangi Zalynda
"Kamu wangi banget, cantik." Kata Ray sambil terus mendusel di cerukan leher Zalynda membuat Zalynda menggelinjing geli karena kulitnya bersentuhan dengan rambut halus di rahang Ray
"Mandi dulu. Nanti habis ini makan ya." Kata Zalynda. Ray menjauhkan kepalanya dari Zalynda. Dengan sedikit malas Ray menuruti perkataan Zalynda untuk mandi
Sambil menunggu Ray selesai mandi, Zalynda menata meja untuk mempersiapkan makan malam. Kegiatan Zalynda terhenti saat mendengar suara Ray muntah-muntah. Zalynda segera berlari ke kamar menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi terkunci
"Ray..kamu baik-baik aja?" Tanya Zalynda sambil menggedor pintu kamar mandi dengan perasaan cemas. Di dalam Ray masih terdengar muntah-muntah
"Apa Ray sakit? Apa dia salah makan?" Bathin Zalynda cemas
Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Ray terlihat pucat dan lemas. Ray langsung memeluk tubuh Zalynda sehingga gadis itu sedikit terhuyung ke belakang
"Ray, kamu kenapa? Kita ke dokter yuk." Ajak Zalynda sambil memeluk Ray
Ray menggeleng "Nggak usah. Kayaknya aku masuk angin ini. Seharian ini badanku nggak enak."
"Kamu sakit dari pagi?" Tanya Zalynda. Sedikit rasa bersalah hinggap di hati Zalynda karena tidak terlalu memperhatikan suaminya
"Nggak. Pagi-pagi cuma agak pusing. Pas di kantor baru terasa mual banget. Aku seharian nggak bisa makan bener. Sampai tadi Marvin ngundurin jadwal meeting." Kata Ray
"Terus kamu mau makan apa? Biar aku buatin." Kata Zalynda lagi
"Mau peluk kamu aja boleh nggak. Rasanya mualnya hilang kalau dipeluk sama kamu, Za." Kata Ray
Zalynda menuruti Ray. Gadis itu membimbing Ray ke tempat tidur. Zalynda dengan telaten menggosokkan minyak kayu putih ke tubuh Ray dan menyelimutinya. Zalynda pun masuk ke dalam selimut dan membiarkan Ray memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Zalynda. Terlihat Ray tersenyum lega
Tak lama, Ray pun terlelap. Zalynda memperhatikan wajah Ray yang terlelap dengan damai. Zalynda tersenyum sambil membelai rambut Ray
__ADS_1
"Dasar bayi besar.."