CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 40


__ADS_3

Daniel membaca proposal kerja sama dari Wijaya Group. Sejujurnya, Daniel tidak begitu tertarik karena perhitungan cepatnya menghasilkan sebuah angka yang bisa dibilang tidak menguntungkan untuk TecnoTek. Entah siapa yang membuat proposal ini


Namun Daniel memiliki maksud yang lain. Mungkin nanti pihak TecnoTek akan merevisi sedikit angka-angka di proposal Wijaya Group, yang penting Daniel bisa mendapat informasi berharga tentang Farah walaupun sedikit


"Bagaimana, pak Pratama?" Tanya Yono. Daniel yang sedang melihat proposal kerjasama Wijaya Group mengangkat kepalanya


"Daniel. Panggil saja Daniel. Kurasa kita seumuran bukan?" Kata Daniel sambil tersenyum


Yono ikut tersenyum lebar. Sepertinya manajer senior TecnoTek ini cukup ramah dan bisa di gaet sebagai rekan bisnis yang menguntungkan


"Katakan padaku, pak Mariono.."


"Panggil saja Yono." Balas Yono. Daniel tersenyum kecil


"Pak Yono, bukankah pimpinan Wijaya Group adalah Tuan Wijaya Kusuma? Mengapa tanda tangannya bukan tanda tangan tuan Wijaya?" Tanya Daniel sambil menyerahkan proposal Yono


Yono terdiam sesaat melihat proposal miliknya, kemudian pria itu mendesah pelan.


"Om Wijaya sedang sakit. Beliau terkena stroke satu minggu lalu. Karena itu aku yang bertugas menggantikan posisi beliau sementara."


"Om Wijaya sakit? Apa itu ada kaitannya dengan hilangnya Farah dari rumah sakit? Tetapi itu sudah satu tahun yang lalu." Pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala Daniel


"Om? Kau keponakannya? Mengapa bukan anaknya?" Ucap Daniel menanggapi kata-kata Yono


"Iya, aku keponakannya. Om Wijaya hanya punya satu anak perempuan. Dia juga sedang sakit."


Daniel menatap Yono, berusaha menggali informasi tentang Farah


"Mereka di rawat bersama? Maksudku tuan Wijaya dan putrinya." Tanya Daniel


Yono menggeleng "Om Wijaya kami rawat di rumah. Sementara putrinya berada di rumah sakit Healing Soul. Putrinya menderita kelainan jiwa."


Yono berusaha memasang wajah sedih di hadapan Daniel. Beberapa kali usahanya berhasil dengan trik seperti ini


"Karena itu kami sangat membutuhkan bantuan TecnoTek untuk mendukung dan mensupport proyek kami agar perusahaan kami kembali berkibar. Kami memiliki dua orang yang kami cintai, yang membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan yang besar.."


Daniel terlihat mengangguk-angguk. Yono makin semangat mengumbar kesedihannya


"Kasihan om Wijaya. Di usia senjanya, beliau malah diberikan cobaan seperti ini. Aku satu-satunya keluarga yang ia punya, aku tidak akan membiarkan dia sendirian menghadapi cobaan ini."


"Mungkin kapan-kapan aku akan mengunjungi mereka.." Kata Daniel


"Jangan!" Sentak Yono memotong ucapan Daniel. Sedetik kemudian suara Yono merendah melihat tatapan heran dari Daniel


"Maksudku, kau bisa menjenguk om Wijaya di rumah. Tetapi untuk putrinya, sebaiknya tidak usah di jenguk. Putrinya butuh proses pemulihan intensif di rumah sakit, kata dokter tidak boleh di jenguk sementara ini. Yah walaupun butuh biaya besar, tapi aku tidak keberatan berjuang demi om Wijaya dan sepupuku." Kata Yono sambil tersenyum

__ADS_1


Daniel terdiam sembari menatap datar ke arah Yono "Anda baik sekali. Tuan Wijaya beruntung memiliki keponakan sebaik anda."


"Ah anda terlalu memuji. Sudah kewajiban saya sebagai keluarga." Kata Yono sambil tertawa kecil. Daniel menarik ujung bibirnya


Tangan Daniel terangkat memanggil seorang pelayan


"Bisa minta bill nya?" Ucap Daniel saat seorang pelayan datang mendekat


"Biar saya yang membayar, pak." Sergah Yono sembari mengambil bill dari tangan pelayan. Yono mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan ke pelayan. Daniel mengangkat bahunya


"Baiklah kalau anda memaksa." Kata Daniel sambil meneguk air minumnya lalu berdiri


"Maaf, saya masih ada urusan lain. Lusa kita akan menandatangani proposal kerjasama ini di TecnoTek. Anda bisa membuat janji dengan sekretaris saya."


Mata Yono terlihat berbinar. Segera pria itu berdiri dan menyalami Daniel erat-erat


"Terima kasih banyak pak. Anda tidak tahu ini sangat berarti untuk saya. Saya akan datang tepat waktu lusa nanti." Kata Yono dengan nada gembira


Daniel mengangguk sambil tersenyum kecil. Segera Daniel beranjak dari mejanya menuju parkiran mobil. Daniel segera masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya masih tertuju pada percakapannya dengan Yono barusan. Mata Daniel memicing


"Dia berbohong.." desis Daniel.


Daniel tahu persis, Farah tidak bisa ditemui karena sudah dibawa oleh seseorang bernama Lela dan Yono mengarang cerita seolah Farah masih berada di Healing Soul.


"Apa dia sengaja menutupi keberadaan Farah dan menciptakan cerita agar orang-orang mengasihaninya? Licik.." Gumam Daniel


***


Zalynda membuka mata perlahan. Dirinya sedang berada di ruangan dokter Adina untuk sesi therapy. Ray menepati janjinya, membawa Zalynda ke therapist guna memulihkan luka inner child dan mengembalikan kepercayaan dirinya


"Sudah lebih lega?" Tanya dokter Adina


Zalynda mengusap matanya yang basah. Gadis itu mengangguk pelan, lalu menatap ke arah Ray yang duduk di sofa. Mata pemuda itu juga terlihat berkaca-kaca


"Apa aku berkata yang tidak-tidak, dokter?" Tanya Zalynda. Dokter Adina menggeleng seraya menggeram tangan Zalynda


"Tidak, kau gadis yang tangguh. Kau hebat bisa bertahan sejauh ini."


Ray menghampiri Zalynda dan memeluk gadis itu erat. Zalynda sedikit malu karena Ray memeluknya di depan dokter Adina


"Kau selalu bisa mengandalkan aku, Za." Bisik Ray sambil mengecup sekilas pipi Zalynda


"Temani dia terus ya, bang. Jangan biarkan dia memendam masalah." Pandangan dokter Adina beralih ke Zalynda


"Dan kamu Za, kalau ada masalah yang tidak bisa diungkapkan coba di tulis di selembar kertas secara spontan. Jangan dipikirkan kata-kata yang keluar. Biarkan mengalir begitu saja, ya."

__ADS_1


"Baik, dokter." Kata Zalynda


"Saya tidak meresepkan obat ya. Sepertinya masih bisa tidur nyenyak kan?" Tanya dokter Adina


Zalynda mengangguk. Dahulu ia memang pernah menderita insomnia sewaktu masih dibawah bayang-bayang Yono. Zalynda pun sangat sensitif dengan suara. Sedikit suara saja bisa membangunkannya. Namun sekarang, Zalynda bisa tertidur nyenyak.


"Baik, sesi hari ini kita cukupkan dulu. Tetaplah menjadi gadis yang kuat, Za." Kata dokter Adina sambil menyalami Zalynda


"Terima kasih dokter." Zalynda balas menggenggam erat tangan dokter Adina.


"Kami pamit ya dokter." Ray menangkup kedua tangannya di depan dada. Dokter Adina tahu, Ray tidak sembarangan menyentuh wanita dan dokter Adina menghargai hal itu


"Hati-hati di jalan." Pesan dokter Adina


Ray dan Zalynda segera keluar dari ruang praktek dokter Adina. Ray dengan mesra meletakkan tangan Zalynda agar menggamit lengannya


"Dokter Adina itu siapa Ray?" Tanya Zalynda


"Anaknya dokter Adnan, adiknya dokter Husna yang pernah ngerawat kamu tempo lalu Za.."


Zalynda melihat rumah sakit megah milik Frederick Groups Company. Patutlah Ray mengenal semua dokter disini, rumah sakit ini adalah milik keluarganya - Bathin Zalynda


"Kok diem Za?" Tanya Ray melihat Zalynda terdiam


"Nggak, aku mikir aja.. Ternyata wanita-wanita di sekelilingmu cantik-cantik dan hebat-hebat ya." Kata Zalynda pelan sambil tersenyum kecil


Ray menghentikan langkahnya dan memposisikan dirinya berhadap-hadapan dengan Zalynda. Ray mengangkat dagu Zalynda yang sedari tadi menunduk


"Tatap aku, Za." Perintah Ray


Zalynda menurut. Gadis itu menatap manik coklat milik Ray. Mata Ray lembut menyorot, memberikan rasa hangat tersendiri di hati Zalynda. Ray tersenyum


"Kamu juga termasuk wanita yang ada di sekelilingku. Berarti kamu wanita cantik dan hebat, kan?" Ray membelai rambut Zalynda dan menyelipkannya di belakang telinga


Wajah Zalynda memerah mendengar kata-kata Ray. Gadis itu refleks menggigit bibir bawahnya menahan senyumannya. Kalau tidak ingat mereka sedang berada di area publik, Ray tidak segan langsung me****t bibir Zalynda yang menggoda.


"Jangan pasang wajah seimut itu di depan publik. Bikin aku pengen nerkam kamu, Za." Bisik Ray


"Hah?!"


Ray terkekeh melihat reaksi Zalynda. Segera pemuda itu menarik tangan Zalynda untuk segera pulang ke rumah


Walaupun terasa malu, Zalynda tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mereka berdua berjalan menuju parkiran.


Sesaat mata Zalynda menangkap seorang wanita yang tengah mendorong seseorang di kursi roda. Keduanya terlihat akrab satu sama lain. Mata Zalynda memicing

__ADS_1


"Bu Edah?" Gumam Zalynda pelan


__ADS_2