
"Gue akan nemenin elo ke Jakarta." Kata Diva sambil merangkul Alin. Alin hanya terdiam dengan sikap sok dekat Diva. Mereka hanyalah orang lain, tidak memiliki hubungan kekerabatan. Mereka dekat karena memiliki satu misi yang sama
"Tidak! Kamu tidak boleh kemana-mana!"
Diva dan Alin menoleh ke arah pintu. Anggun sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah
"Ng, gue keluar dulu. Kayaknya kalian butuh bicara berdua." Alin langsung beringsut pergi. Saat melewati Anggun, wanita itu hanya melirik Alin sekilas sebelum kembali menatap Diva
"Apa yang ada di otakmu, Diva? Kita ini masih jadi buronan polisi!" Kata Anggun dengan suara tertahan saat Alin sudah menutup pintu kamar.
Yang mereka tidak tahu, Alin tidak menutup rapat pintu kamar sehingga gadis itu masih bisa mendengar apa yang ibu anak itu bicarakan
"Ini sudah satu bulan, mama. Polisi mungkin sudah lupa." Kata Diva sambil memutar bola matanya
"Ck, bersabarlah. Om Anton sedang mengurus identitas baru untuk kita. Kita bisa pergi ke luar negeri." Bujuk Anggun
"Iya, tapi sebelumnya aku pengen balas dendam ke Linda. Minimal dia mencabut semua tuduhannya ke papa." Kata Diva emosi
Terbayang di matanya saat mengunjungi Yono terakhir kali di penjara. Tubuh Yono kehilangan bobotnya sehingga membuat pria itu lebih kurus dan terlihat lebih tua dari umur aslinya.
"Itu salah papamu sendiri. Bisa-bisanya dia melecehkan Linda dan menjualnya ke tempat pelacuran." Ucap Anggun datar
Alin membekap mulutnya mendengar ucapan Anggun. Apa yang terjadi dengan keluarga ini sebenarnya. Kenapa papanya mau membawa orang seperti Anggun dan Diva untuk tinggal di rumah mereka
"Kok mama jadi belain Linda sekarang? Jangan-jangan mama udah lupain papa gara-gara si om yang punya rumah ini?!" Tanya Diva geram
"Jangan kurang ajar, Diva. Om Anton sudah sangat baik mau menampung dan mengurus kita. Jangan sia-siakan kesempatan kita untuk bisa kembali bebas!" Suara Anggun terdengar meninggi
"Diva nggak yakin mama nggak punya hubungan dengan om itu. Mana ada yang gratis jaman sekarang!"
PLAAK
Alin tersentak mendengar suara tamparan. Sepertinya Anggun sudah kehabisan kesabaran menghadapi Diva
"Pokoknya kamu nggak boleh kemana-mana. Titik!"
Alin segera bergeser dan bersembunyi saat Anggun keluar dari kamar Diva. Terdengar Diva masih memprotes keputusan sepihak dari Anggun.
Alin menjadi sedikit bertanya-tanya karena mendengar ucapan Diva tentang hubungan papanya dengan Anggun. Awal-awal Alin memang bertanya pada Papanya alasan mengapa Anggun dan Diva tinggal di rumah mereka dan Anton hanya menjawab kalau Anton pernah berhutang budi pada Anggun
Hutang budi yang cukup besar sepertinya karena tindakan Anton akan sangat membahayakan kariernya di kepolisian jika sampai ketahuan dirinya menyembunyikan buronan polisi
Alin masuk ke kamar Diva. Dirinya cukup terkejut melihat Diva membereskan beberapa potong pakaiannya.
__ADS_1
"Elo mau ngapain.."
Diva memandangi Alin
"Ayo kita ke Jakarta!"
Mata Alin terbelalak "Sekarang?"
"Tahun depan! Mana ada orang yang mau minta pertanggungjawaban malah menunda-nunda?! Sekarang lah." Kata Diva kesal sambil menutup keras ranselnya
Mata Alin menyipit "Kita naik pesawat lho, butuh KTP lho! Elo yakin mau nunjukin KTP elo?"
Diva mengacungkan KTP di tangannya "Gue punya temen yang bisa bikin ginian. Elo tenang aja, gue nggak bakal ngerepotin elo kok."
Alin menatap ke arah Diva yang masih merapikan tempat tidurnya. Sejujurnya Alin sedikit takut, orang seperti apa Diva sebenarnya
***
"Za.."
Ray perlahan mengambil handphone dari tangan Zalynda. Ray yakin Alin memiliki banyak foto-foto dirinya saat bersama Alin. Sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh Ray.
Suasana hening. Masing-masing terdiam dengan pemikirannya sendiri
"Mau ngomong sesuatu, Ray?" Zalynda memecahkan keheningan
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Za.." Ujar Ray
"Memangnya apa yang kupikirkan?" Zalynda balik bertanya. Ray merasa dirinya sedang berdebat di ruang senat bersama Zalynda, ketua Fabulous Sorority
Ray menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai. Ray hanya memasrahkan semuanya pada Allah, yang jelas Ray tidak berbohong dan tidak menutupi apapun
"Kemarin malam saat aku, Agus dan Alin makan di restoran seafood, aku merasa sangat mengantuk. Aku pikir karena letih dengan pekerjaan jadi aku memutuskan untuk bersandar di dinding sekedar memejamkan mata. Entah bagaimana aku..aku terbangun di kamar hotel dengan Alin dengan keadaan kami tidak berpakaian.." Ray menatap manik Zalynda yang mulai berkaca-kaca
Ray segera menggenggam tangan Zalynda erat
"Percaya lah Za, walau aku tidak ingat apapun tetapi aku yakin kalau aku tidak berbuat zina dengan Alin. Aku saat ini sedang mencari buktinya dan sudah menemukan titik terang."
Air mata Zalynda mulai mengalir. Gadis itu mulai terisak-isak. Ray panik melihat Zalynda mulai menangis. Pemuda itu segera mendekap tubuh Zalynda erat
"Maafkan aku Za. Aku sudah membuatmu menangis. Maafkan aku.."
Ray mengurai pelukannya dan mengusap air mata di pipi Zalynda
__ADS_1
"Aku akan menemukan bukti-bukti dan akan kubawa kehadapanmu Za. Bukti kalau aku tidak mengkhianatimu. Tetapi sekarang aku minta kau percaya padaku. Hanya itu yang kubutuhkan untuk menguatkan aku. Please Za.. percaya padaku." Kata Ray dengan suara bergetar
Ray menjauhkan diri dari Zalynda sambil menyugar rambut hitamnya yang lebat
"Kau pasti jijik denganku kan? Aku tidak akan menyalahkanmu. Akupun merasa seperti itu saat bangun tadi pagi. Aku tidak akan heran kalau kau marah dan benci padaku. Aku terima sebagai konsekuensi kebodohan dan keteledoranku.."
Ray sangat yakin Zalynda membencinya setelah melihat foto-foto dirinya dan Alin walau Ray sendiri tidak tahu kapan foto itu diambil. Ray sudah pasrah kalau Zalynda akan pergi meninggalkan dirinya
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Zalynda menghambur memeluk Ray erat membuat Ray terkejut sesaat tidak menyangka akan tindakan Zalynda.
"Aku menangis karena kesal perempuan itu menyentuhmu.."
Degup jantung Zalynda menenangkan perasaan Ray. Perlahan pemuda itu membalas memeluk Zalynda dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan bahu dan leher Zalynda
"Aku percaya padamu Ray.."
Kalimat pendek yang dilontarkan Zalynda membuat perasaan Ray menjadi ringan, seolah-olah ada beban berat yang terangkat dari hatinya. Ray makin mempererat pelukannya di tubuh polos istrinya
Zalynda merasa bahunya basah. Segera di longgarkan pelukannya untuk menatap Ray. Pemuda itu segera menyeka air matanya
"Ray Eagle bisa nangis juga?" Tanya Zalynda berusaha mencairkan suasana
Ray tergelak kecil
"Hanya kau yang bisa membuatku menangis Za."
Zalynda tertawa. Zalynda sangat terharu hingga ikut menitikkan air mata. Gadis itu membelai rambut Ray sambil menyeka airmata Ray. Membuat pemuda itu tersenyum
"Aku sudah menemukan titik terang. Tinggal merangkum semua bukti-bukti yang menyatakan aku tidak berbuat zina." Kata Ray
Zalynda mengangguk "Aku akan terus menemanimu, Ray."
Zalynda terlihat begitu cantik dan mengagumkan saat ini di mata Ray. Apalagi bibir Zalynda yang baru saja mengatakan akan terus menemaninya membuat percikan gairah Ray meningkat
Ray segera menarik tengkuk Zalynda dan mel***t bilah kemerahan favoritnya. Tangan bebasnya kembali bergerilya menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Zalynda. Membuat gadis itu mengerang dan mendesah
"WOI KERJA! JANGAN WIKWIK TERUS!"
Suara teriakan dari luar kamar membuat Zalynda terkejut dan langsung mendorong tubuh Ray sekuat tenaga hingga terdorong ke belakang. Zalynda tersadar menatap pintu, pintu kamarnya tidak tertutup rapat saat tadi Ray masuk
Ray menggeram kesal bangkit menuju pintu "AGUS!! GUE HAJAR LO!!"
Terdengar gelak tawa Agus yang kian menjauh dan suara pintu depan yang terbuka lalu tertutup kembali. Sepertinya Agus segera kabur setelah menggagalkan gairah Ray
__ADS_1
Ray mendekati Zalynda yang terlihat syok. Gadis itu menutupi tubuhnya dengan selimut. Ray tersenyum
"Terima kasih sudah mau percaya padaku, Za.." bisik Ray sambil memeluk Zalynda erat