
Kelopak mata Ray bergerak-gerak dan perlahan pemuda itu membuka matanya. Bau obat dan ruangan putih. Ray langsung menebak dirinya berada di rumah sakit. Ray segera memindai ruangan tempatnya sekarang. Kosong, tidak ada siapapun. Hanya cahaya yang mengintip dari balik gordyn jendela menandakan sudah ada matahari di luar sana
Ray meringis saat merasakan punggungnya bagai tersengat sesuatu yang tajam. Ray merasa tubuhnya sedikit kaku dan tangannya terasa pegal karena infus yang menempel. Ray berusaha memindahkan badannya perlahan, mencari posisi yang nyaman sambil menahan rasa nyeri di punggungnya
Sembari memejamkan mata, perlahan ingatnya mulai terkumpul. Ray ingat saat melihat Diva memberontak keras sewaktu Anton, ayah Alin menyergap gadis itu. Sepertinya tenaga Diva cukup kuat, terbukti Anton tidak bisa menahan Diva. Bagai gerakan slow motion, Ray melihat Diva berlari sambil menghunuskan pisaunya ke arah Zalynda. Tanpa pikir panjang, Ray langsung memutar posisi tubuhnya untuk melindungi Zalynda
Zalynda..
Kemana gadis itu? Apa Zalynda baik-baik saja? Pikiran itu berkecamuk di benak Ray. Ray tidak sempat memastikan kondisi Zalynda karena pemuda itu lebih dahulu jatuh pingsan. Terakhir Ray mengingat Zalynda memeluk dirinya sambil menjerit histeris
Tangan Ray bergerak menggapai tombol untuk memanggil perawat. Ray meringis saat merasakan nyeri di punggungnya. Pemuda itu berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya. Saat itu seseorang masuk ke dalam kamar rawatnya
Bibir Ray menyunggingkan senyum melihat sosok Zalynda masuk dengan menenteng plastik berisikan camilan dan air minum. Awalnya Zalynda tidak menyadari Ray telah terbangun karena sibuk berbalas pesan
Tanpa sengaja, Zalynda pun melihat ke arah bed Ray. Mata Zalynda membulat melihat Ray menatap dirinya sambil tersenyum
"Ya Allah.." pekik Zalynda
Zalynda langsung meletakkan plastik belanjaannya dan menyerbu ke arah Ray
"Kamu udah sadar Ray? Apa yang kamu rasakan?" Tanya Zalynda. Tangannya sigap meraih tombol untuk memanggil perawat
Ray tersenyum sambil menggenggam tangan Zalynda. Baju yang di pakai Zalynda masih bajunya kemarin. Berarti kemungkinan besar Zalynda menungguinya di rumah sakit semalaman
Hati Ray menghangat. Ray merasa sudah baik-baik saja
***
Selama seminggu Ray di rumah sakit menjalani perawatan intensif karena luka tusukan pisau Diva di punggung Ray. Untung saja tidak cukup dalam sehingga tidak mengenai organ vitalnya. Hari ini Ray sudah diperbolehkan kembali ke rumah
Ray bersikeras pulang ke apartemen walau Aya dan Ardhi menawari Ray tinggal di rumah mereka. Namun Ray tetap menginginkan pulang ke apartemen
Ray berbaring perlahan di ranjang king size miliknya. Luka di punggungnya masih terasa nyeri walaupun sudah jauh lebih baik. Rasa nyaman menyelimuti Ray. Tentu saja karena ranjangnya lebih empuk dari bed rumah sakit
Zalynda masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ranjang Ray sambil membawakan sup krim jamur yang baru saja dibuatnya
"Makan dulu ya. Setelah ini minum obatnya." Kata Zalynda.
Gadis itu membantu Ray untuk duduk walau Ray sendiri sudah bisa melakukannya. Dengan telaten Zalynda menyuapkan sup krim jamur buatannya
"Za.." panggil Ray
__ADS_1
"Ya?"
"Kamu nggak ngerasa repot ngurusin aku sendirian di apartemen?" Tanya Ray
Zalynda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
"Aku sama sekali nggak repot ngurusin kamu. Kamu suamiku." Kata Zalynda sambil mengelap ujung bibir Ray yang terkena sup krim dengan telunjuknya.
Zalynda mengangsurkan air minum dan obat pada Ray. Pemuda itu segera meminum obatnya. Ray agak mengenyitkan kening karena merasa obatnya terlalu pahit
"Lain kali kalau minum obat aku boleh dibuatin teh manis? Ini pahit banget." Kata Ray
Zalynda tertawa melihat mimik wajah Ray. "Ternyata Ray Eagle nggak suka minum obat."
"Tentu saja. Minum obat berarti sakit, sayang. Nggak ada satupun orang yang mau sakit." Kata Ray membela diri
Ting tong..
"Ada orang, sebentar aku buka dulu." Kata Zalynda sambil beranjak pergi
Ray tersenyum melihat Zalynda dengan cepat memakai gamis panjang dan kerudungnya. Salah satu alasan Ray ngotot ingin pulang ke apartemen adalah agar dirinya bebas melihat Zalynda mengenakan baju-baju seksinya dan berkeliaran di dalam unit apartemennya, hal yang tidak mungkin Zalynda lakukan ketika di rumah keluarga Al Farobi
Pikiran liar Ray mengembara karena sudah seminggu dirinya tidak menyentuh Zalynda. Tiba-tiba Ray merasakan sesuatu dan langsung menatap ke bawah tubuhnya
"Siapa yang kau ajak bicara Ray?" Tanya Zalynda yang sudah berdiri di depan pintu. Ray sedikit gelagapan karena merasa di tangkap basah oleh Zalynda
"Ng-nggak kok. Hanya berbicara dengan diriku sendiri." Kata Ray
Zalynda mendekati Ray. Gadis itu terlihat sedikit ragu
"Ada apa sih?" Tanya Ray
"Diluar ada Alin.."
Kening Ray berkenyit. "Ngapain dia kesini lagi?"
"Entah, dia bilang mau bicara sama kita berdua." Kata Zalynda
Ray mendengkus. Namun tak urung pemuda itu bergerak turun dari ranjangnya. Zalynda dengan sigap memeluk pinggang Ray dan memapah Ray. Sebetulnya Ray bisa jalan sendiri karena yang sakit adalah punggungnya, bukan kakinya. Namun diperlakukan seperti ini oleh Zalynda membuat Ray merasa di manjakan oleh Zalynda.
Ray menyukainya
__ADS_1
***
Alin tersenyum kikuk sementara Ray yang duduk di depannya tidak berbicara apa-apa
"Silahkan diminum Lin." Kata Zalynda sambil menyajikan sirup dingin berwarna oranye. Alin mengangguk
Zalynda duduk di sebelah Ray. Ray langsung merengkuh bahu Zalynda agar merapat ke tubuhnya. Semuanya tak luput dari pandangan Alin. Gadis itu tersenyum kecil
"Aku senang kamu sudah baik-baik saja Ray." Kata Alin membuka percakapan
"Hmm.." Ray tidak terlalu menanggapi Alin. Zalynda melirik ke arah Ray. Sepertinya Ray tidak berminat berbicara dengan Alin
"Kamu mau ngomong apa Lin?" Tanya Zalynda
Alin menghela nafasnya perlahan
"Sebelumnya aku mau minta maaf pada kalian berdua karena sudah berniat bahkan menjalankan rencana untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Aku benar-benar menyesal."
Alin menarik nafas panjang "Ayahku sudah diperiksa oleh atasannya seminggu ini. Aku sibuk mengurusi ayah, karenanya aku baru bisa datang hari ini untuk meminta maaf padamu Ray dan juga Zalynda."
Zalynda tersenyum mendengar permintaan maaf Alin. Setidaknya Alin sudah cukup berani mengakui kesalahannya
"Beruntung ayahku tidak di pensiunkan dini, tetapi ayahku di mutasi ke luar pulau Jawa."
"Kau akan ikut ayahmu?" Tanya Zalynda
"Iya, tidak ada yang merawat ayah di sana nanti kalau bukan aku." Kata Alin
Zalynda mengangguk "Aku sudah memaafkan dirimu, Lin."
Alin menatap Zalynda. Terlihat pancaran tulus dari mata gadis itu. Pantas saja Ray jatuh cinta pada Zalynda.
"Terima kasih." Ucap Alin sambil melirik ke arah Ray yang masih menatap Alin tajam
"Ray.." panggil Zalynda lembut. Ray menghela nafasnya
"Iya, kalau Za sudah memaafkan dirimu, maka akupun tidak punya alasan untuk tidak memaafkanmu." Kata Ray
Memaafkan, kadang-kadang bukan karena kita terlalu baik tetapi karena hati tak mampu lagi diisi dengan kebencian.
Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan buruk sangka sesama kita.
__ADS_1
Betul begitu?