CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 84


__ADS_3

"Rayhan.."


Ray membeku sesaat tatkala mendengar suara yang sangat ia rindukan. Walau suara itu terdengar lemah, tapi Ray amat yakin itu suara Zalynda.


Ray membalikkan badannya dan melihat mata cantik itu terbuka sedang menatapnya


"Alhamdulillah..Hai, cantik." Sambut Ray lembut sambil beranjak mendekati Zalynda kemudian menggenggam jemari gadis itu


"Apa yang kau rasakan, sayang? Ada yang terasa sakit? Aku panggil dokter ya." Kata Ray beruntun sambil memencet tombol perawat di dekat bed Zalynda


"Bayi..bayiku.." Bisik Zalynda


"Jangan pikirin apa-apa dulu, sayang. Dahulukan kondisimu agar segera pulih ya.." Kata Ray sambil mengecup kening Zalynda


Beberapa perawat dan dokter datang memeriksa keadaan Zalynda. Ray memberikan ruang untuk mereka seraya tak henti mengucap syukur pada Tuhan


***


Berita sadarnya Zalynda dari koma membuat dua keluarga berbahagia. Aya dan Ardhi langsung meminta Arion untuk membagikan makanan dan pakaian serta uang untuk beberapa panti asuhan sebagai bentuk rasa syukur. Bu Reema dan Daniel pun datang membawa bingkisan untuk semua perawat, staff dan dokter di rumah sakit


Dokter Adrian melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memeriksa kondisi otak dan tubuh Zalynda mulai dari respon rangsangan cahaya dan suara, CT scan, MRI, EEG. Kerja otak Zalynda bekerja normal. Benturan di perut akibat kecelakaan pun tidak menyisakan luka dalam. Hanya bekas operasi Caesar Zalynda yang masih memerlukan perawatan untuk penyembuhan dari dalam. Dari pemeriksaan keseluruhan, Zalynda dinyatakan pulih dari koma


Setelah serangkaian pemeriksaan, Zalynda kembali diantar ke kamarnya untuk beristirahat. Dokter menyarankan agar Zalynda tidak menerima kunjungan di hari pertama ia sadar karena masih harus beristirahat


"Ray..apa kau menemukan kotak hitam di tasku?" Tanya Zalynda saat sudah berada di dalam kamarnya


Ray yang duduk di sebelah Zalynda hanya mengangguk lalu membelai kepala Zalynda lembut.


"Dia belum Allah takdirkan untuk menemani hari-hari kita, cantik." Kata Ray pelan


Zalynda mulai menangis. Ray segera mengusap buliran airmata yang jatuh mengalir di pipi Zalynda


"Jangan memikirkan apapun. Fokuslah untuk sembuh, Za." Bujuk Ray


"Maafkan aku. Aku lalai menjaga anak kita.."


"Sshh.. dengar! Aku memang bersedih karena kehilangan bayi kita. Tetapi aku tidak menyalahkanmu. Kalau ada yang harus disalahkan maka itu adalah aku karena tidak peka terhadap dirimu." Kata Ray


Zalynda menatap Ray sambil menggeleng "Kau tidak salah..Aku lah.."


Ucapan Zalynda terputus saat Ray mengecup bibir Zalynda tiba-tiba


"Jangan menyalahkan dirimu lagi. Fokus untuk sembuh. Setelah sembuh kita akan buat tim kesebelasan." Gurau Ray.


"Ih kamu!" Zalynda terbelalak mendengar ucapan Ray, kemudian tertawa kecil. Ray juga ikut tertawa sambil menyingkirkan guliran airmata di pipi Zalynda


"Terima kasih kau sudah mau membuka matamu. Berarti kau memutuskan untuk tetap hidup bersamaku.."

__ADS_1


"Sampai aku mati kebosanan?" Kata Zalynda cepat. Membuat Ray sedikit terkejut


"Kamu dengar?" Tanya Ray. Berarti memang therapy mengajak bicara termasuk therapy efektif


Zalynda mengangguk sambil tersenyum


"Payah sekali.."


"Hah?" Kata Ray mengerutkan keningnya. Zalynda tersenyum


"Berarti aku akan hidup abadi karena aku tidak pernah bosan bersamamu, Ray.." kata Zalynda sambil menyentuh ujung hidung Ray dengan ujung hidungnya


Ray tersenyum lebar sambil menarik kecil bibir Zalynda kedalam mulutnya, mengecup dan mencecap rasa manis yang sangat Ray rindukan.


Ray terus mel***t bibir Zalynda dengan lembut sambil menjaga Zalynda dalam dekapan, merebahkan tubuh Zalynda agar Ray makin leluasa menciumi bibir Zalynda dengan hati-hati


Denyutan kehidupan Zalynda begitu terasa, seakan seirama dengan degub jantung Ray. Ray menatap netra coklat Zalynda sambil tersenyum


"Aku mencintaimu, Zalynda.."


***


Zalynda membutuhkan waktu untuk berlatih menggunakan otot-ototnya. Koma selama hampir satu bulan membuatnya terlihat kaku bagai robot


Ray tersenyum saat memasuki ruang rawat Zalynda melihat gadis itu tertatih perlahan menyambutnya. Ray segera membentangkan tangannya untuk merengkuh tubuh Zalynda dan membawanya kembali duduk di kursi roda


Zalynda mendesah pelan "Aku sudah merasa sehat. Kamu tahu nggak, tadi aku sudah latihan jalan bolak-balik ke kamar mandi.."


"Dengan diawasi perawat." Sambar Zalynda cepat saat melihat mata Ray melotot


"Aku akan memasang keset anti slip di kamar mandi supaya tidak licin." Kata Ray


"Ray, kau berlebihan."


"Biar saja, daripada nanti kau kenapa-kenapa."


Zalynda menggeleng. Tidak ada gunanya berdebat dengan Ray selama pemuda itu merasa sesuatu itu benar. Zalynda juga setuju dengan Ray walau usulan Ray terdengar berlebihan


"Kamu nggak kekantor? Kok jam segini udah pulang?" Tanya Zalynda sambil melihat ke arah jam dinding.


"Za, kamu baru sadar dua hari lalu. Masa' aku kekantor sih?" Ucap Ray


"Bukan gitu, kan kamu juga punya tanggung jawab di sana Ray. Jangan karena jagain aku, kamu melalaikan tanggung jawabmu di kantor." Zalynda membelai lembut rahang Ray


Sentuhan Zalynda membangkitkan naluri kelelakian Ray. Perlahan Ray memajukan wajahnya, menyasar bibir pink Zalynda


Ckrek.. pintu ruangan terbuka

__ADS_1


"Assalamu'alaykum Za.."


Zalynda refleks mendorong tubuh Ray menjauhinya dengan wajah memerah sementara Ray terjatuh ke belakang


"Aduuh, sakit Za. Kamu habis koma tenaganya masih kuat aja." Kata Ray sambil melihat siapa yang datang


Aya senyum-senyum melihat keduanya tampak salah tingkah. Wanita itu pura-pura tidak melihat kejadian di depannya, dengan santai berjalan mendekati Zalynda


Zalynda meremas tangannya untuk mengusir rasa gugup. Terakhir kali Aya tampak marah sekali padanya.


Aya melihat reaksi Zalynda, menyadari kalau gadis itu sepertinya masih takut dengannya. Aya menghela nafas.


Ray mengambilkan kursi agar Aya bisa duduk didekat Zalynda. Aya mengangguk sambil tersenyum ke arah Ray. Wanita itupun duduk di depan Zalynda dan menggenggam tangan Zalynda, membuat Zalynda sedikit terkejut


"Nyonya.." kata Zalynda pelan sambil menunduk


Hati Aya sedikit tercubit mendengar panggilan Zalynda. Segera Aya menata hatinya dan berhusnudzon, kemungkinan gadis itu takut padanya karena terakhir pembicaraan mereka Aya tidak memperbolehkan Zalynda memanggil dirinya bunda


"Apa Za masih marah sama bunda karena ucapan bunda terakhir kali?" Tanya Aya lembut. Zalynda mengangkat wajahnya dan menemui netra Aya menatap lembut padanya. Sorot mata Aya begitu hangat. Zalynda menggeleng


"Za tidak marah.."


"Kalau begitu, panggil saya bunda." Serobot Aya


Zalynda menatap Aya bingung "T-tapi.."


Aya menghela nafas


"Za, bunda minta maaf karena kemarin bunda terbawa emosi sesaat. Om mu itu berhasil mempengaruhi emosi dan ego bunda sehingga bunda tidak bisa berfikir jernih."


Aya mendesah perlahan sembari menarik nafasnya


"Bunda marah karena merasa di bohongi, bunda marah karena hal itu dibicarakan di depan teman-teman dan pegawai butik, bunda merasa ditelanjangi masa lalu yang menyakitkan, yang selalu bunda tutup rapat."


Aya menatap Zalynda "Tetapi bunda sudah dengar semuanya. Kamu nggak salah apa-apa. Bunda merasa sangat berdosa karena berlaku kasar padamu Za. Apalagi saat tahu Za tengah mengandung.."


Zalynda segera menggenggam tangan Aya saat melihat wanita itu menitikkan airmata. Aya melihat tangan Zalynda menggenggam tangannya, Aya tersenyum


"Za mau maafin bunda?"


Zalynda mengangguk cepat "Nggak ada yang perlu dimaafkan, bunda nggak salah apa-apa. Za faham.."


Aya tertegun, gadis di depannya ini adalah anak Farah, namun perilakunya berbeda jauh dengan Farah yang dikenalnya dulu. Aya segera memeluk Zalynda erat. Zalynda pun balas memeluk Aya


Ray tersenyum melihat wanita-wanita kesayangannya sudah berbaikan satu sama lain. Ray ikut menghampiri Zalynda dan Aya dan berjongkok di dekat mereka


"Za mau ketemu sama bu Farah?"

__ADS_1


__ADS_2