CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 54


__ADS_3

BRAAK


Diva menendang kursi saat memasuki rumah keluarga Wijaya. Tuan Wijaya yang sedang berada di kamar terkejut. Dari kamarnya yang terbuka, ia bisa melihat bagaimana ekspresi marah Diva. Entah mengapa dengan gadis itu. Tuan Wijaya melihat seksama dari kursi rodanya


"Sebeel! B*******k Zalynda. Bisa-bisanya dia dapat perhatian dari Ray." Umpat Diva


Mata tuan Wijaya membesar. "Zalynda? Diva bertemu Zalynda?"


"Hei anak papa, kenapa sih pulang-pulang malah ngamuk begini?" Tanya Yono yang melihat Diva uring-uringan


"Diva kesel pah. Harusnya hari ini Diva senang karena kerja jadi model di butik Tsurayya. Eh tapi ada pengacau!"


"Butik Tsurayya? Anak tuan Erik?" Bathin tuan Wijaya. Pria itu makin menajamkan telinganya


Yono menggeleng-gelengkan kepala. Yono hafal betul kalau Diva selalu ingin menjadi pusat perhatian dan selalu marah jika ada yang merebut tempatnya


"Dasar anak nggak tahu diri." Desis Diva sambil merebahkan badannya di sofa


"Siapa sih Div?" Tanya Yono penasaran.


Diva menegakkan punggungnya dan menatap Yono sambil mengerucutkan bibirnya


"Zalynda."


Mata Yono berbinar-binar saat nama Zalynda disebut. Sudah hampir satu minggu ini ia mencari Zalynda. Ada ikan besar yang harus di pancing dan Zalynda akan menjadi umpan yang tepat


"Za? Ketemu dimana kamu?"


"Di butik Tsurayya. Ternyata dia juga jadi model disana. Trus dia jadi glow up banget pa. Jadi cantik, bajunya bagus.. Ih nggak suka banget lihatnya."


Dari kamar, tuan Wijaya menghela nafas lega. Zalynda ternyata baik-baik saja. Ia merasa bersalah tidak maksimal mencari Zalynda selama empat tahun ini.


"Yang bikin kesel juga, dia kayaknya deket sama Ray. Anaknya tante Aya." Sungut Diva


Dada tuan Wijaya bergemuruh. Apa betul Zalynda dekat dengan Ray anak Ardhi? Sebatas apa mereka dekat? - pikir tuan Wijaya


"Kamu tahu dia tinggal dimana?" Tanya Yono. Diva menata aneh Papa nya yang terlihat antusias pada Zalynda


"Nggak, Diva nggak tahu. Kenapa juga Diva harus tahu? Papa kok antusias banget?!"


"Ck, Div. Papa punya proyek untuk memanfaatkan Zalynda." Kata Yono sambil membakar rokoknya. Kening Diva berkerut mendengar ucapan Yono


"Kok Papa ngajakin proyek ke Za? Harusnya Papa ngajak aku." Kata Diva meninggi


Yono mengangkat tangannya menyuruh Diva sedikit tenang


"Take a chill, girl. Ini proyek untuk menyenangkan Manajer senior baru TecnoTek dan Zalynda orang yang tepat untuk diumpankan."


"Maksudnya?"


Yono menyeringai "Kamu nggak tahu apa pura-pura nggak tahu Div?"


Mata Diva membelalak, begitu juga dengan tuan Wijaya


"Papa mau ngejual Zalynda?" Tanya Diva keras

__ADS_1


"Kenapa? Dia kan harus membalas budi kita yang sudah mengasuh dan membesarkannya." Kata Yono santai


"Lagipula.." Yono mencondongkan badannya dan bersuara rendah


"Kalau Zalynda nggak ada,kamu nggak punya saingan ngedeketin putra sulung keluarga Al Farobi kan?"


Diva terdiam. Usul Yono tidak buruk, bahkan sangat bagus. Perusahaan keluarga bisa kembali berjalan, saingannya pun hilang


Diva tersenyum lebar. Yono seperti mendapatkan dukungan dari putrinya


"Kapan kalian ketemuan lagi?" Tanya Yono


"Sabtu ada jadwal pemotretan lagi." Kata Diva. Yono tersenyum lebar


"Perfect. Kamu harus bantuin Papa buat menjebak Zalynda."


Kedua anak dan ayah itu sibuk membuat rencana, sementara di kamar hati tuan Wijaya sudah bergemuruh tidak karuan


Tuan Wijaya memejamkan matanya, berharap Allah memberikan keajaiban menyembuhkannya dalam sekejap agar ia bisa menggagalkan rencana jahat Yono


***


Zalynda meringis saat Ray membersihkan luka di lengannya. Luka akibat kuku Diva tidak terlalu panjang dan dalam. Zalynda tidak usah melakukan apapun. Namun Ray khawatir luka itu infeksi sehingga bersikeras merawatnya


"Perih ya?" Ray meniupi luka Zalynda. Zalynda memberikan kode agar Ray menghentikan aksinya. Gadis itu bersandar di sofa sambil membelai keningnya yang terluka


"Tadi kenapa berantem?" Tanya Ray


Zalynda melirik ke arah Ray lalu kembali memejamkan mata sambil membelai keningnya


"Memang dia bilang apa?"


Zalynda menghela nafas panjang. Gadis itu menatap langit-langit apartemen


"Dia bilang mamah perempuan tidak baik, p*****r.." mata Zalynda mulai berkaca-kaca


"Kau tahu Ray, sepanjang ingatanku mamah tidak pernah berbuat macam-macam. Walaupun dia hidup tanpa ada lelaki di sampingnya, tapi dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Mamah orang baik,aku tidak rela beliau di bilang yang bukan-bukan."


Suara Zalynda terdengar bergetar. Gadis itu menyeka ujung matanya. Ray membelai rambut Zalynda yang tergerai


"Jahat sekali dia. Kenapa dia berkata begitu seolah dia mengenalmu?" Tanya Ray


Zalynda menarik nafas panjang "Diva adalah putri om Yono."


Degg.. jantung Ray seakan berpacu lebih cepat. Perasaan khawatir kalau Yono akan kembali menemukan Zalynda berkecamuk di benaknya


"Tenang Ray..kau harus lebih mengetatkan penjagaan." Bisik hati Ray


Zalynda kembali meneruskan ceritanya "Selama di sana aku selalu di ejek, dikatai macam-macam aku tidak pernah melawan. Tetapi aku merasa marah saat Diva menjelekkan mamah. Karena itu aku menamparnya."


Zalynda menoleh menatap Ray


"Apa aku salah Ray?"


Ray tersenyum kecil lalu memeluk Zalynda erat. Ray membelai rambut panjang Zalynda yang terurai

__ADS_1


"Nggak, kalau aku di posisimu pun aku akan melakukan hal yang sama."


Ray mengeratkan pelukannya. Otaknya terus bekerja agar dia harus secepatnya mengungkapkan jati diri Zalynda dan menendang Yono beserta keluarganya dari rumah keluarga Wijaya. Setelah itu perlahan Ray akan memberitahu ayah dan bundanya tentang asal usul Zalynda yang sebenarnya


Zalynda tersenyum. Gadis itu merebahkan kepalanya di dada Ray.Terdengar degub jantung Ray. Zalynda meletakkan tangan di dadanya, merasakan degub jantungnya sendiri


"Ray.."


"Hmm?"


"Orang bilang, kalau degub jantung kita berdetak seirama dengan pasangan kita itu tandanya kita saling mencintai. Benarkah?" Tanya Zalynda sambil menyusupkan kepalanya di cerukan leher Ray


Ray mengerutkan kening sambil tertawa. "Teori dari mana itu?"


"Entah, yang kudengar begitu." Zalynda ikut tertawa kecil sambil memandangi jakun Ray. Timbul niat iseng gadis itu


Tangan Zalynda perlahan membelai leher Ray mulai dari kuping bawah terus turun ke daerah tulang selangka. Terlihat jakun Ray naik turun menelan salivanya. Zalynda tertawa tertahan


Tangan Zalynda terus turun menyusuri dada Ray yang masih terbalut kemeja. Zalynda terlupa sedang bersandar di bahu Ray. Deru nafas gadis itu menerpa leher Ray menimbulkan sebuah sensasi yang membuat Ray ingin menerkam gadis itu


"Jantungmu berdegub kencang sekali Ray." Kata Zalynda pelan saat tangannya mulai menyusuri perut Ray. Jemari Zalynda merasakan tonjolan otot perut Ray dibalik kemeja yang pemuda itu kenakan. Zalynda tersenyum, tak sadar tangannya terus menyusuri ke bawah , hingga..


Tap! Ray menangkap jemari Zalynda sebelum turun ke area pribadinya. Zalynda mendongak menatap Ray yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata bergairah


"That's enough, cantik." Bisik Ray serak. Ray menipiskan jarak diantara mereka menuju bibir Zalynda yang merekah. Bibir yang sangat menggoda dimatanya


Kecupan-kecupan kecil dari Ray berubah semakin menuntut. Suara decakan seksi dari dua bibir yang saling berpagut memenuhi ruang tamu yang lengang.


Ray menyudahi ciumannya setelah sebelumnya memberikan kecupan-kecupan kecil beberapa kali di bibir Zalynda. Diusapnya bibir dan pipi Zalynda yang terlihat memerah


"Dengan izin Allah, aku akan selalu menjaga dan membahagiakanmu Zalynda Navulia. Berikan hati dan kepercayaanmu padaku." Bisik Ray sambil menyentuh pipi Zalynda


"Dengan izin Allah, aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, menjadi hakmu setelah bertahun-tahun lamanya." Kata Ray lagi


Mata Zalynda mengerjap, apa maksud perkataan Ray? Bathinnya. Namun Zalynda hanya terdiam tanpa suara


"Teruslah ada di sampingku, dan hiduplah bersamaku selamanya. I love you.." suara Ray terdengar lebih berat dan serak. Mata coklat pemuda itu berselimut gairah menatap Zalynda


Mata Zalynda memanas mendengar tiap kalimat yang diucapkan Ray. Buliran air matanya luruh tak tertahankan. Bibir Zalynda bergetar sambil tersenyum, gadis itu berbisik


"I love you too, Rayhan Putra Farobi.."


Ray menggeram. Segera di bopongnya tubuh Zalynda menuju kamarnya menuntaskan rasa yang tengah memuncak


***


Di lain tempat, seorang wanita tengah mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita. Keduanya menaiki mobil setelah mengunjungi sebuah rumah sakit


Wanita itu tersenyum pada temannya. Tatapan mata temannya tidak sekosong hari-hari sebelumnya. Therapynya kemungkinan membuahkan kemajuan yang pesat


"Kamu hebat. Sebentar lagi kamu akan sembuh dan mengingat semuanya." Kata wanita itu sambil menepuk pelan tangan temannya


Temannya tersenyum sambil mengangguk pelan. Wanita itu ikut tersenyum sambil menstater mobilnya


"Kita pulang sekarang ya, Farah…"

__ADS_1


__ADS_2