
"Ingat, kamu jangan sampai lupa makan, ya. Jaga kesehatanmu di sana. Ibu belum bisa mengirimkan uang bekal karena padi-padi kita baru bisa dipanen lusa dan mungkin baru minggu depan ibu bisa mengirimkan bekal uang untukmu, Nak".
"Iya, Bu, tak apa. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan Abi dan jangan terlalu memikirkan urusan bekal. Abi masih ada tabungan di sini. Oh ya, kalau ibu memerlukan uang, ibu bilang ya sama Abi".
Wanita paruh baya di ujung telepon itu tersenyum getir. Kedua matanya berembun setiap kali ia berbicara dengan putra semata wayangnya itu. Ya, kepergian suaminya sejak Abi kecil duduk di bangku SMP membuat kehidupan mereka berubah.
"Iya, Nak. Simpan dan gunakan dengan baik uang tabunganmu, ya. Jangan lupa sholat dan juga belajar dengan benar agar kelak cita-citamu untuk menjadi pengusaha besar bisa kamu wujudkan".
"Aamiin, iya, Bu".
"Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya karena ibu harus ke ladang".
"Iya, Bu. Hati-hati, ibu jangan terlalu lelah. Kabari Abi kalau ada apa-apa".
Tak lama, perbincangan ibu dan anak itupun berakhir.
Bayangan raut wajah teduh sang ibu kembali hadir menyeruak dalam ingatan Abimanyu. Ya, jika ditanya alasan terbesar dirinya selalu belajar dengan keras hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi, itu semua karena didorong keinginannya untuk membahagiakan sang ibu yang sudah bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarga.
Abimanyu Adyatama, seorang lelaki desa yang lahir dari keluarga yang cukup berada. Semasa sang ayah masih hidup keadaan ekonomi keluarga berjalan dengan baik, namun setelah kepergian ayahnya, keadaan berubah. Masalah hak waris merongrong perekonomian keluarga hingga Abimanyu dan ibunya memilih mengalah, menjalani hidup sesuai kemampuan keduanya.
Pagi ini Abimanyu sudah nampak rapi meski dia baru kembali ke kosan menjelang dini hari. Tidak ada alasan baginya untuk malas belajar dan bekerja. Ya, saat ini dia adalah seorang mahasiswa yang juga merangkap bekerja sebagai teknisi alat-alat elektronik disebuah bengkel kerja yang ada tak jauh dari kampus.
Rasa kantuk yang menyergap segera ia tepis dengan secangkir kopi hitam dan semangkuk bubur ayam yang menemaninya sarapan pagi ini. Diliriknya jam di tangan, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum jadwal kuliah pertama dimulai.
"Bi, tungguin gue, ya. Jangan dulu ke kampus sebelum gue balik", seru Jaka, teman satu kos sekaligus teman sekelas Abimanyu.
"Ok", jawab Abimanyu pendek tanpa menghiraukan Jaka yang sudah melesat entah kemana.
Tak lama, Jaka datang dengan membawa sebuah bungkusan. Rupanya dia baru saja membeli sarapan pagi, sebungkus nasi uduk lengkap dengan gorengan.
Jaka mengambil piring dan duduk bersama Abimanyu.
"Wah mantap sarapan kita pagi ini. Gue gak bisa konsen ikut ujian kalau gak sarapan enak", celoteh Jaka sambil mengunyah makanannya.
Abimanyu tersenyum tipis, "Ya, gue tahu makanan adalah sumber kekuatan mutlak Lo".
Jaka tertawa kecil. Ia memang tidak gemuk, tapi Abimanyu sangat mengenal sahabatnya itu, si jago makan.
__ADS_1
"Oh ya, Bi, kemarin gue ketemu sama Laras, dia cerita kalau laptop temannya, Anika, rusak, katanya sih dia lagi nyari tukang service. Nah, gue tawarin tuh biar laptopnya diservice sama Lo", cerita Jaka.
Abimanyu menyeruput kopi miliknya dengan santai.
"Anika anak kelas B itu, ya?", tanya Abimanyu memastikan. Jaka menjawabnya dengan anggukkan.
"Oh, ya bagus deh kalau Lo bantu memarketingkan jasa service gue", lanjut Abimanyu.
"Iya dong, kita ini sama-sama anak desa, sama-sama merantau dan berjuang di kota jadi sudah seharusnya saling support. Eh, tapi Lo tahu kan Anika yang mana?", tanya Jaka.
Sejenak Abimanyu terdiam, meskipun dia dan Anika kuliah di jurusan yang sama tapi karena sedari awal kuliah berbeda kelas tentu saja keduanya jarang bertemu. Hanya sesekali saja pernah melihat saat kegiatan organisasi di kampus.
"Mmm...lupa gue, Jak", Abimanyu menjawab pertanyaan Jaka sambil tertawa kecil.
"Ck, kebiasaan Lo. Diawal lagaknya kek kenal, eh tahunya lupa sama teman seangkatan sendiri. Nanti deh kalau papasan di kampus gue kasih tunjuk", jawab Jaka di akhir suapan nasi uduknya.
Abimanyu tersenyum. Jaka memang sahabat baik Abimanyu yang terkenal supel. Dia memiliki banyak teman di berbagai jurusan, selain itu Jaka juga terkenal ramah jadi mudah akrab dengan siapa saja. Abimanyu sendiri sebetulnya orang yang setipe dengan Jaka, tapi karena dia kuliah sambil bekerja, waktunya lebih banyak ia gunakan untuk kedua hal itu, hanya sesekali saja Abimanyu terlihat nongkrong atau berbaur dengan teman-temannya.
Tapi meskipun begitu, sosok Abimanyu dikenal sebagai salah satu sosok mahasiswa yang cerdas di jurusan. Teman-teman sekelasnya mengakui kecerdasan Abimanyu, begitu pun dengan Jaka. Dia juga cukup memiliki daya saing akademik meski dari luar sering kali Jaka terlihat konyol.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit saja motor yang dikendarai Jaka mengantarkan dirinya dan Abimanyu ke kampus.
"Semoga ujian kita kali ini sukses dan lancar", ucap Abimanyu sesaat setelah dirinya turun dari motor.
"Aamiin. Gue nervous, Bi kalau ujian Statistika gini", ungkap Jaka yang memang agak alergi dengan hitungan.
"Tenang, Jak. Gue yakin kita pasti bisa dapat A diujian kali ini. Kita kan udah belajar dengan keras", respon Abimanyu optimis.
"Iya, Bi. Gue harap sih gitu. Buat orang-orang seperti kita, nilai A itu penting demi mempertahankan kucuran beasiswa", celoteh Jaka. Abimanyu tersenyum dan mengangguk.
Kedua lelaki itu melangkahkan kaki bersama-sama memasuki gedung fakultas.
"Jaka", terdengar suara seorang perempuan memanggil.
Jaka berhenti, begitupun dengan Abimanyu. Mereka menoleh ke arah datangnya suara. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, nampak seorang perempuan berjalan dengan tergesa-gesa, dia menuntun seseorang.
"Hai, Jak, sorry gue teriak", ujar perempuan itu.
__ADS_1
"Tak apa, Ras. Ada yang bisa gue bantu?", tanya Jaka pada Laras yang nampak sedikit terengah-engah karena sepertinya gadis itu tadi berusaha mengejar langkah kaki Jaka.
"Iya, sebentar. Kenalin ini Anika, sahabat gue yang laptopnya rusak. Nik, ini Jaka, dia punya rekomendasi tukang service laptop yang cepat tapi hasilnya ok", Laras bergantian menatap Jaka dan Anika.
Anika tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya.
"Hai, Nik, gue Jaka dan ini Abimanyu, sahabat gue yang juga teknisi ahli untuk segala urusan alat elektronik, khususnya laptop", Jaka menarik Abimanyu agar mendekat dan mengenalkannya pada Laras juga Anika.
Abimanyu tersenyum ke arah Laras dan Anika.
"Nanti kalian selesai kuliah jam berapa? terkait laptopku yang rusak biar setelah kuliah aku kasih, ya", ujar Anika.
"Ok, kita selesai kuliah jam sepuluh. Nanti kita bisa ketemu di taman depan", jawab Abimanyu.
"Sip. Oh ya, apa aku bisa mintaa nomor ponsel kamu biar nanti aku kontak untuk janjian ketemu?", tanya Anika yang sudah siap mengeluarkan ponselnya untuk mencatat nomor Abimanyu.
Abimanyu menyebutkan nomor miliknya dan setelah itu mereka berempat berpisah menuju arah yang berbeda.
"Cantik ya, Bi", bisik Jaka setelah Laras dan Anika hilang dari pandangannya.
"Dasar, mata jelalatan", protes Abimanyu.
"Eh, gue bukan jelalatan, emang aslinya cantik sih", lanjut Jaka membela diri.
"Siapa?".
"Ya mereka, Laras sama Anika. Setahu gue, mereka berdua memang bukan kembang jurusan kita, tapi gue dengar-dengar Anika itu banyak disukai sama teman-teman pria meskipun gak ada yang berani nembak sih karena Anika terkenal cuek sama lawan jenis tapi justru itulah daya tariknya, bikin banyak lelaki penasaran. Malah nih gue juga dengar kabar kalau Narendra suka sama Anika", Jaka bicara sudah seperti pembawa acara gosip.
Abimanyu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap Jaka yang cerewet itu.
"Terus apa untungnya Lo cerita hal gak penting macam itu sama gue?", tanya Abimanyu. Mereka sudah sampai di kelas dan segera memilih tempat duduk.
Sejenak, Jaka celingukan memperhatikan ruang kelas yang sudah ramai dengan teman-temannya.
"Ya siapa tahu aja, Bi Tuhan menakdirkan Lo berjodoh sama Anika. Gue sebagai sahabat Lo agar worry karena selama ini Lo betah menyendiri. Coba Lo geber tuh Anika", seloroh Jaka.
Abimanyu memilih diam, fokus dengan buku Statistika di tangannya. Dia enggan menanggapi celotehan Jaka yang menurutnya semakin ngawur. Ada waktu sepuluh menit lagi sebelum ujian dimulai, Abimanyu lebih memilih memanfaatkannya untuk belajar.
__ADS_1