
Alzam cukup lama berbincang dengan para asisten rumah tangga. Bahkan, pemuda tersebut tak segan membantu kedua wanita paruh baya itu untuk menyiapkan makan malam.
“Ini taruh di mana, Bi?” tanya Alzam, setelah selesai memotong kentang menjadi bentuk dadu-dadu kecil.
“Itu, Mas Al. Taruh di wadah yang hijau itu,” sahut Bi Marni, sambil menunjuk ke arah tempat piring.
Alzam pun mengambilnya dan memasukkan potongan kentang ke dalam wadah, yang ditunjukkan oleh Bi Marni tadi. Dia kemudian mencucinya di bawah air mengalir, dan kemudian meniriskannya.
“Ada lagi yang bisa dibantu, Bi?” tanya Alzam.
“Udah, Mas Al. Ini tinggal dimasak aja. Mas Al tunggu aja diruang tengah sambil nonton TV. Kalau udah siap, nanti kita panggilin,” seru Bi Ijah.
“Ya udah. Kalo gitu, saya ke kamar dulu ambil HP,” sahut Alzam.
Pemuda itu lalu berbalik dan berjalan menuju ke arah tangga, hendak kembali ke kamar barunya.
Sudah cukup lama ia pergi, sekitar satu jam lebih dan Alzam mengira bahwa Olivia mungkin saja sudah selesai mandi, atau bahkan tertidur.
Tepat saat pemuda itu masuk , Olivia baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai bathrobe.
Dia terkejut, hingga mengucap istighfar dengan cukup keras, membuat Olivia pun ikut terkejut.
Astaghfirullah hal adzim!
Alzam kemudian berjalan cepat menuruni anak tangga, dan menuju ke ruang tengah. Dia duduk di depan TV, dan meraih remote yang ada di atas meja di depannya.
Dengan acak, Alzam memencet tombol remote, hingga televisi layar datar itu menyala, dan menayangkan sebuah acara.
Alzam duduk diam seolah membeku. Jantungnya berdegup kencang, hingga membuat sekujur tubuhnya memanas.
Dia mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah, dan terasa sedikit berkeringat.
Kenapa jadi panas begini? batin Alzam.
Dia sama sekali tak fokus pada apa yang saat ini ada di depan matanya. Dia justru mengingat kejadian tadi, saat dia baru saja masuk ke kamar, setelah membantu Bi Ijah dan Bi Marni di dapur.
Saat dia baru saja membuka pintu dan hendak masuk ke kamarnya, bertepatan dengan saat itu, pintu kamar mandi terbuka, dan Olivia keluar dari sana masih menggunakan sebuah bathrobe.
Gadis itu nampak sedang mengeringkan rambut basahnya dengan sebuah handuk kecil, hingga dia tak sadar bahwa sang suami berada di sana dan terus memandanginya tanpa berkedip.
__ADS_1
Alzam, pemuda polos yang belum pernah menjalin hubungan kasih dengan seorang gadis manapun, tiba-tiba saja melihat pemandangan yang begitu menggoda sisi kelelakiannya dan membuatnya menjadi salah tingkah.
Jakunnya tampak naik-turun, karena kesulitan menelan salivanya, saat melihat keindahan tubuh sang istri yang masih terbalut jubah mandi.
Alzam beristighfar cukup keras, hingga Olivia pun menyadari keberadaannya di sana.
Saat Olivia mengangkat wajahnya, mata keduanya saling bertemu, dan seketika membuat Alzam tersadar dari pikiran mesumnya.
Olivia nampak ingin menyapanya, akan tetapi pemuda itu justru langsung berbalik dan keluar lagi dari kamar. Dia bahkan baru sampai ambang pintu, dan belum sepenuhnya masuk ke kamar.
Gadis itu sampai melongo melihat sikap Alzam. Dia mengira, bahwa sang suami masih tak mau bersama dengannya di dalam satu ruangan.
Dia mendengus kesal, dan dengan wajah yang manyun dia pun kembali mengeringkan rambut.
Sementara itu, Alzam turun dan duduk di ruang tengah untuk menyalakan TV tapi tidak memperhatikan apa yang sedang tayang di layar datar itu.
Tak lama kemudian, Tuan Abimana turun dari atas, dan mendapati sang menantu yang tampak duduk tegak, dengan tangan yang terus memegangi dadanya.
“Alzam,” panggilnya dengan suara berat nan berkarisma.
“Eh, Tu... Papah,” sahut Alzam gagap.
“Oliv baru selesai mandi, Pah,” jawab Alzam.
Wajahnya kembali merona, ketika mengingat kembali Olivia, dengan tubuh basah dan hanya terbalut bathrobe saja.
Hal itu tertangkap oleh Papah Abi, hingga pria tua itu pun tersenyum tipis sembari menahan tawa, melihat menantu polosnya tersipu.
“Biasakan dirimu melihat sikap Olivia yang suka seenaknya,” ucap Papah Abi.
Pengusaha sukses itu pun duduk di kursi single yang berada tepat di samping Alzam, dengan kedua lengan yang terangkat bertopang di pinggiran sofa.
“Sejak kecil, kami mungkin sudah terlalu memanjakannya, hingga dia selalu bersikap seenaknya. Papah berharap, kamu bisa merubah Oliv sedikit demi sedikit, supaya dia bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi,” lanjut Papah Abi.
Alzam mendengarkan dengan baik harapan dari sang mertua. Dia tahu sedikit, seperti apa sikap Olivia yang membuatnya sampai sekarang masih belum mau membuka hati pada gadis yang telah menjadi istrinya.
“InsyaAllah, Pah,” sahut Alzam.
Setelah mengatakan hal itu, Papah Abi kemudian bertanya mengenai usaha yang sedang dijalankan oleh Alzam.
__ADS_1
Dia pernah mendengar dari cerita Olivia, bahwa suaminya itu adalah seorang pebisnis di bidang kuliner.
“Oliv terlalu melebihkan. Itu cuma kedai kecil kok, Pah," sahut Alzam.
"Oh ya? Di mana itu?" tanya Papah Abi.
"Di sekitar kampus Harapan Bangsa,” ucap Alzam.
“Menurut Papah itu hal yang bagus. Anak muda yang berani maju, membuka usaha sendiri dengan modal sendiri. Itu lebih baik dari yang sekedar meneruskan usaha orang tuanya,” sahut Papah Abi.
“Terimakasih, Pah. Tapi, Alzam masih jauh dari kata bagus. Masih banyak yang harus dibenahi lagi,” ucap Alzam merendah.
“Lanjutkan, Nak. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Papah yakin, suatu saat nanti usahamu itu pasti bisa berkembang,” seru Papah Abi.
“Iya, Pah. Terimakasih,” sahut Alzam.
“Oh iya, apa ada rencana untuk memperbesar usahamu? Atau mungkin ada rencana buka cabang baru?” tanya Papah Abi lagi.
“Mungkin nanti, Pah. Untuk saat ini, Alzam masih mau fokus di kedai yang sekarang dulu,” jawab Alzam.
“Ehm, begitu? Baiklah. Kau yang lebih tahu tentang bisnismu,” ucap Papah Abi.
Alzam hanya mengangguk. Namun, Papah Abi bisa melihat ada raut kekecewaan yang muncul di wajah sang menantu, saat mereka membahas tentang kelanjutan usaha kedai Alzam.
Dia merasa bahwa ada hal yang saat ini sedang ditutup-tutupi oleh pemuda itu darinya. Akan tetapi, Abimana tidak ingin terlalu mendesak Alzam untuk bercerita, karena bagaimanapun mereka baru saja menjadi satu keluarga. Butuh waktu bagi Alzam, untuk bisa membaur dan beradaptasi dengan orang-orang di rumah tersebut.
Abimana kemudian mengajak Alzam berbincang hal lain yang lebih ringan. Saat itu, tiba-tiba saja Olivia muncul dari arah tangga, dan sudah mengenakan baju tidur berbahan satin dengan warna hitam.
Rambutnya terlihat sudah kering, dan ia biarkan tergerai begitu saja.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁