CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Kamu hantunya


__ADS_3

Setelah turun dari bus, Alzam diam seribu bahasa, dan berjalan berdampingan dengan Olivia. Hatinya masih kacau setelah tadi mendapatkan serangan mendadak dari sang istri.


Jantungnya entah kenapa berdetak sangat cepat sampai Alzam sendiri ketakutan.


Sementara Olivia, gadis itu terus menahan senyum sepanjang jalan, karena melihat sikap sang suami yang benar-benar terkejut dengan apa yang tadi ia lakukan.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Alzam sampai di rumah sang bunda. Dia duduk terlebih dulu di kursi yang ada di depan teras rumah tersebut. Sedangkan Olivia langsung masuk dan menyapa seisi rumah.


Saat mereka sampai di sana, hari sudah menjelang petang, dan semuanya sedang bersiap menunggu adzan maghrib.


“Assalamu’alaikum,” salam Olivia.


“Waalaikumsalam,” sahut suara serempak dari dalam.


Tampak Zahra sedang menonton TV tabung di ruang tengah rumahnya seorang diri, dan langsung berlari saat melihat kedatangan Olivia.


“Kak Oliv,” oekiknya.


Keduanya pun berpelukan. Zahra memanggil semua orang dan membuat Kanina yang sedang di kamar keluar, serta Bu Aminah yang berada di dapur ikut menghampiri.


“Lho, Nak Oliv. Kamu ke sini sama siapa? Alzam mana?” tanya Bu Aminah.


Oliv tak langsung menjawab. Dia terlebih dulu mengulurkan tangan dan meraih tangan ibu mertuanya, lalu mencium punggung tangan wanita tua itu.


“Mas Alzam lagi duduk di teras depan. Mungkin kecapean karena tadi naik bus lumayan sesak,” jawab Olivia.


Kanina berjalan ke arah pintu dan melongokkan kepalanya ke arah teras. Benar saja, Alzam sedang duduk bersandar sambil meluruskan kakinya.


“Nak Oliv juga pasti capek. Sebentar ibu ambilkan minum yah,” ucap Bu Aminah.


“Nggak usah bu. Biar Oliv sendiri aja yang ambil sekalian buat Maa Al,” ucap Olivia.


“Biar Ina aja, Kak! Tunggu bentar ya,” sela Kanina.


Gadis itu pun lalu menuju ke dapur mendahului Olivia dan juga Bu Aminah. Keduanya pun duduk di ruang tamu bersama dengan si kecil Zahra.


“Dari mana saja kalian? Kenapa baru sampai di sini sesore ini?” tanya Bu Aminah.


“Nggak kemana-mana kok, Bu. Tadi pagi, Mas Al cuma ngajakin Oliv ke kedai. Habis itu kita jalan-jalan ke mall, terus naik bis ke sini. Udah,” jawab Olivia.

__ADS_1


“Nak Oliv pasti baru pertama kali naik bus kota ya? Alzam ini keterlaluan banget, naik taksi kan bisa, Zam. Kenapa ngajakin istrinya susah sih kalau ada yang mudah,” gerutu Bu Aminah pada putranya, yang pasti mendengar omelannya dari luar rumah.


“Nggak papa kok, Bu. Naik bus kota ternyata seru juga. Iyakan, Mas Al,” ledek Olivia.


Dia tahu jika sang suami masih memikirkan ciuman Olivia tadi, hingga butuh waktu untuk Alzam menenangkan debaran jantungnya, yang sedari tadi membuat lutut Alzam terasa lemas.


“Ini minumnya, Kak Oliv,” ucap Kanina, yang membawa dua buah minuman kemasan dingin untuk Olvia dan juga Alzam.


“Makasih ya, Ina,” sahut Olivia.


“Sama-sama, Kak,” ucap Kanina.


“Diminum, Nak. Pasti capek kan,” seru Bu Aminah.


Olivia pun menancapkan sebuah sedotan ke dalam minuman kemasan tersebut dan meminumnya. Saat itu, Alzam masuk dan menyalami sang ibu yang sedang duduk bersama istrinya.


“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Alzam.


“Waalaikumsalam. Kamu kenapa sih, Zam? Dateng-dateng duduk di teras, bukannya masuk dan kasih salam,” gerutu Bu Aminah.


“Alzam cuma istirahat bentar aja, Bu. Capek tadi jalan jauh. Udah lama nggak jalan jadi kerasa banget,” jawab Alzam.


“Capek apanya? Dia malah seneng banget tuh diajakin naik bis tadi,” sindir Alzam.


Olivia hanya tersenyum sambil menahan tawanya, mengingat apa yang sudah dia perbuatan, hingga membuat Alzam terbengong-bengong.


“Alzam numpang mandi di sini ya, Bu. Baju ku nggak dibuang kan?” tanya Alzam.


“Ya nggak lah. Kamu ini. Pertanyaan macam apa itu?” keluh Bu Aminah.


Alzam hanya tersenyum tipis dan kembali berjalan ke dalam, masuk ke kamar lamanya. Dia mengambil baju ganti dan handuk dari lemari, kemudian keluar dan menuju ke kamar mandi belakang.


Di rumah tersebut, hanya ada satu kamar mandi yang dipakai bersama-sama. Tidak seperti rumah Olivia, yang memiliki kamar mandi pribadi di masing-masing kamarnya.


“Nak Oliv juga kalau mau mandi, mandi aja. Seharian di luar pasti badan rasanya nggak nyaman banget,” tawar Bu Aminah


“Tali, Oliv nggak bawa baju ganti, Bu,” jawab Olivia.


“Ibu ada baju ganti, tapi gamis biasa. Kayaknya sih cukup. Kalau mau, nanti ibu ambilkan,” ucap Bu Aminah.

__ADS_1


“Ya deh, Bu. Dari pada badan rasanya lengket semua,” sahut Olivia.


Setelah Alzam selesai mandi, Olivia pun lalu bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena tak ada bak mandi seperti di rumahnya, Olivia pun tak bisa berlama-lama berada di dalam sana.


Jika biasa gadis tersebut mampu berada di kamar mandi selama lebih dari satu jam, akan tetapi di sini, dia hanya butuh waktu lima belas menit untuk menyelesaikan mandinya.


Dia pun lalu keluar dan hendak menuju ke kamar Kanina atau Zahra, untuk meminjam sisir, akan tetapi di tengah jalan berpapasan dengan Alzam yang baru keluar dari kamar.


Keduanya saling pandang, dan tertegun sejenak. Olivia terpesona melihat penampilan Alzam yang begitu rapi dan bersih, dengan baju koko putih serta kain sarung bercorak kotak-kotak hijau dan hitam, yang telah melilit di pinggangnya. Bahkan peci hitam pun sudah bertengger di atas kepala Alzam.


Sementara pria itu, dia kembali dibuat merona, saat melihat Olivia yang baru saja selesai mandi, dengan hanya mengenakan gamis terusan yang lebih mirip daster, dan rambut basahnya yang entah kenapa membuat jiwa kelelakiannya meronta.


Saat tersadar, Alzam sampai harus beristighfar berkali-kali untuk mendinginkan kepalanya dan menghilangkan pikiran mesum tersebut dari otaknya. Olivia sampai dibuat bingung dengan sikap sang suami yang tiba-tiba seperti itu.


“Mas, kamu kenapa? Kek lihat hantu aja,” tanya Olivia.


“Kamu tuh hantunya. Ngapain bengong di situ sih?” tanya Alzam balik.


“Mau minjem sisir sama Ina atau Zahra, eh...malah papasan sama kamu. Nggak minggir juga dari jalan lagi,” keluh Olivia.


“Di kamar juga ada sisir, ngapain minjem ke mereka?” ucap Alzam.


“Ya mana ku tahu. Kamunya juga nggak bilang dari tadi, malah ikutan bengong. Pake acara nyebut-nyebut segala lagi,” kilah Olivia.


“Udah cepet sana beresin tuh rambut kamu. Nggak nyaman banget tahu lihatnya,” seru Alzam.


“Iya, iya. Bawel,” sahut olivia.


Gadis itu pun lalu masuk ke dalam kamar. Baru pertama kali ini dia melihat isi ruangan pribadi suaminya. Sebelum menikah, dia sama sekali tidak berani menjamah wilayah tersebut.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2