CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Pengacara


__ADS_3

“Oliv, Sayang. Kamu udah sadar?” tanya Alzam.


Perempuan itu nampak menggerakkan kepalanya dengan pelupuk mata yang mengerjap pelan. Sebelah tangannya terulur dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Namun, sejurus kemudian saat kesadarannya mulai penuh, tiba-tiba Olivia membuka mata dan terlihat panik. Dia bahkan serta merta bangun dan meringkuk di ujung tempat tidur sambil memeluk lututnya sendiri.


Wajahnya tampak ketakutan dan hal itu semakin membuat Alzam sakit hati.


Dengan perlahan dan menahan rasa sesak di dadanya, Alzam mencoba mendekat dan mengulurkan tangan meraih tangan sang istri.


“Sayang, ini aku, Alzam. Suamimu. Apa kamu nggak inget sama aku?” tanya Alzam pelan.


Olivia yang sedari tadi menunduk dan terus menghindari pandangannya, mencoba melirik ke arah orang di depannya. Saat melihat sosok sang suami, Olivia kembali menangis.


Alzam meraih tubuh ringkih itu dan memeluknya dengan erat. Trauma yang disebabkan oleh kejadian itu begitu membekas di psikis Olivia, hingga membuat perempuan tersebut terus panik setiap kali melihat ada orang lain di sisinya.


Pemuda itu begitu sedih melihat kondisi sang istri yang seperti ini. Ingin rasanya dia menghajar Nathan sampai mati, namun apalah daya. Dia tak mungkin melanggar hukum dan memperburuk semuanya. Terlebih membunuh manusia termasuk dosa besar.


Apalagi melihat kondisi Olivia yang butuh kehadirannya. Tak mungkin Alzam meninggalkan sang istri dalam keadaan sepeti ini.


Dia terus memeluk Olivia dengan erat, memberikan perasaan aman, dan meyakinkan bahwa dia sudah baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian, setelah Olivia puas menangis di pelukan suaminya, dia yang kelelahan pun kembali tertidur. Hari pun sudah gelap di luar sana.


Alzam masih belum memberitahukan hal ini kepada orang tuanya maupun mertuanya. Dia tak ingin mereka panik dan khawatir.


Saat itu, tiba-tiba dokter datang dan masuk ke dalam ruang rawat Olivia bersama seorang perawat.


“Apa nyonya Olivia belum sadar sejak tadi?” tanya sang dokter.


“Tadi sempat sadar, tapi dia histeris lagi. Untungnya bisa cepat ditenangkan tapi dia menangis cukup lama, sampai kelelahan dan akhirnya ketiduran,” jawab Alzam.


“Kejadian itu pasti membuat psikisnya terguncang. Anda harus selalu mendampinginya dan memberikan dia rasa aman, karena pasien kelihatannya cukup percaya pada Anda,” ucap sang dokter.


“Baik, Dok,” sahut Alzam.


Dokter terlihat melakukan pengecekan dibantu oleh sang perawat. Setelah memastikan kondisinya baik-baik saja, dokter pun menyerahkan selebihnya pada perawat yang datang bersamanya, sementara dia berjalan menghampiri Alzam.

__ADS_1


“Hasil visumnya sudah keluar,” ucap sang dokter sambil membuka lembar laporan yang dia bawa.


Alzam nampak tegang. Dia berusaha menyiapkan hatinya untuk menerima kemungkinan terburuk yang mungkin akan dia dengar.


“Dari hasil observasi dan pengecekan sample di laboratorium, kami menyimpulkan bahwa istri Anda belum sempat diperkosa,” ungkap sang dokter.


Mendengar hal itu, kaki Alzam seketika melemas seiring dengan munculnya perasaan lega dari dalam hatinya.


Alhamdulillah, Engkau masih melindungi istri hamba, ya Allah, batin Alzam.


Sang dokter masih terus menjelaskan kondisi Olivia berdasarkan laporan visum yang dia dapatkan, serta kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat kejadian berdasarkan hasil analisanya.


“Sata pemeriksaan, kami menemukan bahwa ****** ******** masih utuh, hanya bagian atas legging saja yang terkoyak. Mungkin pelaku merasa kesulitan membukanya karena tempat yang sempit, perlawanan dari istri Anda, ditambah pakaian korban yang berlapis-lapis."


"Hanya ditemukan luka memar dan jejak merah kehitaman di beberapa bagian tubuhnya terutama wajah, leher dan dada. Juga luka di bibir, yang adalah bekas gigitan dari pelaku yang mencoba mencium korban."


"Tidak ada luka luar yang serius, namun trauma yang ditinggalkan pasti akan sulit dihilangkan. Pihak keluarga harus selalu menjaga mood pasien, mengingat dia sekarang juga sedang mengandung. Akan tidak baik jika kondisi psikisnya mempengaruhi tumbuh kembang janin di dalam sana,” tutur dokter.


Mendengar penjelasan dari sang dokter, seketika muncul bayangan betapa brutalnya Nathan menyerang sang istri, hingga pakaian luarnya koyak, bahkan ada bagian yang terlepas dan jatuh ke lantai mobil.


Matanya kembali berkaca-kaca setelah mendengar semua yang dijelaskan oleh dokter.


Dokter itu pun lalu menepuk pundak Alzam dan memberinya dukungan moril. Alzam diam seolah tak mampu bicara apapun juga saat ini.


“Ini bisa Anda jadikan bukti untuk menuntut pelaku atas apa yang dia perbuat. Selebihnya, tolong bersabar dan jagalah kondisi istri Anda dengan baik,” ucap sang dokter.


“Terimakasih, Dok,” ucap Alzam.


Dokter dan perawat itu pun lalu keluar meninggalkan Alzam dan Olivia. Pria itu kembali duduk di samping sang istri dan menatap sendu wajah pucat itu.


Dengan lembut, dia mengusap pipi Olivia dan menggenggam tangan sang istri, sambil sesekali mengecup punggung tangannya.


“Kamu kuat yah. InsyaAllah kita pasti bisa lewatin ini sama-sama,” ucapnya lirih.


...☕☕☕☕☕...


Di tempat lain, Leon yang mengambil alih untuk mengurus Nathan, saat ini sedang berada di kantor polisi untuk melaporkan pria itu kepada pihak berwajib.

__ADS_1


Pria yang sudah babak belur tersebut, dibawanya dengan paksa, bersama beberapa anak buah Leon yang sejak awal bertugas menjaga pria itu agar tak kabur, serta mensterilkan TKP.


Namun, Nathan tetap bungkam dan tak mau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh polisi saat diinterogasi, dengan alasan menunggu pengacaranya datang. Terlebih dia tahu bahwa Leon tidak akan mungkin mengungkap identitas Olivia begitu saja dalam kasus ini, sehingga masalah ini pun tidak akan muncul ke publik, dan secara tak langsung hal ini pun melindungi reputasinya dari skandal di masyarakat.


Leon geram karena tak bisa langsung menjebloskan Nathan ke penjara, karena dia pun masih menahan beberapa informasi demi melindungi privasi Olivia, setidaknya sampai sang sahabat siap dan berani menjadi saksi dalam kasus ini.


Akhirnya, karena kurangnya bukti dan tidak cukupnya keterangan dari saksi, maka Nathan pun hanya akan dikurung selama dua puluh empat jam atau sampai saat pengacara datang dan menjaminnya.


Leon pun kesal dan memerintahkan orang-orangnya untuk tetap berjaga di kantor polisi, sementara dirinya pergi ke suatu tempat.


Saat di perjalanan, Leon mencoba menghubungi pengacara andalan perusahaannya dan meminta bantuan untuk menghadapi kasus ini.


Dia tak mau jika sahabatnya lagi-lagi mendapatkan akhir yang tidak adil, dan hanya berujung pada kembalinya Nathan yang akan mengganggu hidup Olivia lagi sama seperti sebelumnya.


Dia ingin membuat pria itu kali ini mendapatkan balasannya, agar dia tak lagi bisa menginjakkan kaki di sekitar mereka.


“Oom, masih di kantor apa udah pulang ke runah?” tanya Leon langsung.


“Oom kebetulan masih di kantor. Ada apa, Yon? Kayaknya ada hal penting sampe telepon Oom malem-malem,” tanya pengacara itu.


“Aku butuh bantuan Oom buat ngurus kasus pemerkosaan. Aku harap Oom bisa bantu aku,” ucap Leon.


“Apa?! Dasar anak kurang ajar! Leon, Kamu merkosa siapa, hah?” pekik suara di seberang yang begitu familiar di telinga Leon.


Aduh, Mampus gue! batin Leon.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2