CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 20


__ADS_3

Selepas akad dan sungkeman, acara bergulir ke resepsi pernikahan. Banyak sekali tamu yang datang.


Anika dan Abimanyu terus menerima banyak ucapan selamat dan do'a.


"Titip Anika ya, Bi. Janji sama gue, Lo harus bahagiakan dia", ucap Rendra saat bersalaman dengan Abimanyu.


"Pasti. Thank's, ya, Dra", Abimanyu memeluk Rendra sebagai teman.


Rendra menganggukkan kepalanya. Giliran dirinya yang mengucapkan selamat dan do'a pada Anika.


"Jodoh emang gak kemana ya, Nik. Aku senang kamu akhirnya ada di titik ini", ucap Rendra tulus.


"Makasih banyak ya, Dra. Makasih buat semuanya", jawab Anika.


Sinta yang membersamai Rendra juga ikut mendo'akan pernikahan Anika. Ia bahkan memeluk Anika dengan erat.


Jaka dan Laras pun tidak mau kalah. Mereka secara langsung mengucapkan selamat dan melantunkan do'a.


"Bi, sumpah gue senang banget lihat Lo hari ini. Cepat nyusul punya momongan kek gue, ya", ujar Jaka saat bersalaman.


"Makasih banyak, ya, Jak. Gue gak tahu harus bilang makasih kek gimana lagi. Lo sama Laras udah bantu segalanya", ucap Abimanyu.


"Best friend forever, no problemo", jawab Jaka.


"Oia, nanti gue kasih tahu tips jitu malam pertama", bisik Jaka langsung ke telinga Abimanyu.


"Gila Lo", protes Abimanyu sambil menyikut Jaka.


Jaka terkekeh. Ia memang senang menggoda sahabatnya itu.


Laras pun tidak mau kalah dengan suaminya. Ia ikut menggoda Abimanyu bahkan Anika untuk urusan malam pertama. Memang sejoli itu terkadang tidak tahu tempat saat bertindak absurb.


Selepas bersalaman, Jaka dan Laras tak lupa mengabadikan momen berfoto bersama kedua mempelai.


Suasana bahagia terus berlangsung hingga menjelang pukul delapan malam seluruh rangkaian acara pernikahan Abimanyu dan Anika selesai.


.


.


"Nak, ibu pamit pulang ya", Bu Ratmi menghampiri Abimanyu dan Anika yang baru sepuluh menit lalu mereka mendudukkan dirinya di kursi VVIP.


Sebelumnya menemui anak dan menantunya, Bu Ratmi sudah berpamitan lebih dulu kepada besannya.


"Iya, Bu. Abi pulang paling cepat lusa, ya. Nanti Abi pasti kabari ibu lagi. Oh ya, ibu pulang sama siapa?", tanya Abimanyu khawatir.


"Ada Jaka dan Laras yang nanti mengantarkan ibu. Kamu jangan buru-buru. Cuti dari kantor kan lumayan lama. Nikmati saja dulu kebersamaanmu dengan istrimu, ya", Bu Ratmi melirik Anika yang sedari tadi tersenyum ke arahnya.


"Iya, Bu. Ibu hati-hati ya. Nanti kabari Abi kalau sudah sampai di rumah", Abimanyu mencium tangan sang ibu dan memeluknya erat.


"Ibu terimakasih banyak. Ibu hati-hati di jalan dan jangan lupa untuk beristirahat dengan baik. Hari ini pasti sangat melelahkan", kini giliran Anika yang memeluk ibu mertuanya itu.


Bu Ratmi tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya itu.


"Tentu. Secepatnya kalian kasih ibu cucu ya. Ibu pamit", pesan Bu Ratmi sebelum berlalu.


Abimanyu dan Anika saling melirik sejenak, lalu mengantarkan sang ibu ke mobil yang sudah disiapkan Jaka juga Laras dan mengiringi kepergiannya dengan lambaian tangan.


Tak lama setelah Bu Ratmi pergi. Orang tua Anika pun berpamitan. Mereka juga memberikan pesan yang sama agar Anika dan Abimanyu bisa segera memberi mereka cucu.


Setelah semua tamu pulang, Abimanyu mengajak Anika untuk beristirahat di kamar mereka.


Ya, Abimanyu sudah menyiapkan kamar di hotel yang menjadi lokasi pernikahan mereka hari ini.


"Ayo, giliran kita beristirahat", Abimanyu menggenggam tangan Anika.


"Iya, Mas Abi", jawab Anika pendek.


Abimanyu mengernyitkan keningnya, "Mas Abi?".


Anika menganggukkan kepalanya, "Iya, Mas Abi. Kenapa? gak suka?".


Abimanyu tersenyum, "Bukan begitu, hanya agak asing dipanggil 'Mas Abi' karena biasanya juga dipanggil Abi".

__ADS_1


"Ih, sekarang kan beda. Kita sudah menikah. Panggilan itu sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan aku buat kamu", Anika mengerucutkan mulutnya.


Abimanyu gemas sekali melihat ekspresi Anika yang setengah merajuk seperti itu.


"Iya, sayang. Mas senang banget dipanggil 'Mas Abi' sama kamu", Abimanyu mencubit lembut hidung istrinya.


Anika tersenyum. Keduanya pun menuju kamar istirahat mereka.


Kamar itu memang bukan kamar biasa, president suit. Ya kamar terbaik yang ada di hotel itu dan sudah dihiasi berbagi ornamen untuk pengantin baru dan tentu saja, Abimanyu sudah mempersiapkan segala kebutuhan dirinya dan Anika di kamar itu.


Aroma bunga mawar menyeruak saat pintu kamar dibuka.


Mata Anika berkaca-kaca melihat seisi kamar yang dihiasi banyak bunga bahkan taburan kelopak mawar merah memenuhi seisi ruangan yang tampak sangat romantis itu.


"Kamu suka?", tanya Abimanyu setelah ia dan Anika memasuki kamar.


"Iya, Mas. Aku suka sekali, sangat suka. Terimakasih banyak", spontan Anika memeluk Abimanyu.


Terdengar suara isakan tangis dari Anika. Sebuah tangisan haru dan bahagia.


"Maaf, Mas", Anika melepas pelukannya.


"Kok dilepas? kan sudah sah. Kalau kamu suka, jangan lama-lama dong nangisnya, nanti cantiknya hilang lho", goda Abimanyu dan berhasil membuat senyum manis Anika terbit kembali.


"Sekarang kamu mau makan dulu atau ..."


"Aku mau bersih-bersih dulu, Mas. Aku masih kenyang dengan makanan tadi di pesta", jawab Anika cepat.


"Ok. Kamu boleh membersihkan diri lebih dulu. Oh ya, pakaian kita sudah ada di lemari, nanti kamu bisa pilih yang kamu suka", Abimanyu mempersilahkan istrinya.


Anika mengangguk dan ia segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Abimanyu memilih untuk merebahkan dirinya di atas kasur yang dipenuhi bunga.


Drrrttt...dddrrtt


Gawai Abimanyu bergetar. Ada telepon dari Jaka.


"Hallo, Bro, gue mau lapor. Ibunda tercinta sudah sampai di rumah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun", ucap Jaka to the point.


"Ok, makasih banyak, Jak", jawab Abimanyu.


"Heh gak sopn nanya kek gitu. Udah ah gue mau istirahat, capek", jawab Abimanyu yang enggan menanggapi godaan Jaka.


"Eits, sebentar. Ck, pengantin baru galak amat sih. Kalau iya udah pemanasan juga ya calm dikit kali", protes Jaka.


"Ya udah, ada apa? gue udah di kamar dan gak ada tuh pemanasan-pemanasan apa sih", jawab Abimanyu ketus.


Terdengar suara tawa Jaka di ujung telepon. Dia memang paling senang menggoda Abimanyu.


"Sorry deh sorry. Gue cuma mau kasih satu info penting yang wajib Lo tahu, Bi".


"Apa lagi?", tanya Abimanyu malas.


"Soal Anika".


"Iya apa?".


Jaka terdiam sejenak, "Kata istri gue, pesan ini wajib gue sampaikan sama Lo karena sekarang Lo kan udah sah ya jadi suaminya Anika".


"Udah cepetan, jangan berbelit-belit deh, gue capek nih", Abimanyu mulai senewen dengan sikap Jaka di telepon.


"Idih, sumpah ya, Bi kali ini asli Lo galak banget. Tapi ah, udahlah, gue paham kok. Jadi gini, Bi. Lo tahu kan istri gue sahabat baik Anika dan ada banyak hal pribadi yang saling mereka ceritakan. Singkatnya, kata istri gue, Anika itu belum pernah disentuh sama Rendra".


Abimanyu mengernyitkan dahinya, ia mencoba mencerna ucapan Jaka.


"Maksudnya, gimana sih, Jak?".


"Ah Lo tuh ya, Bi percuma lulus cum laude tapi loading sama ucapan gue. Dengerin baik-baik, ini gak bisa gue ulang ya. Intinya Anika masih perawan, titik. Udah ah, gue sama Laras mau balik ke rumah, capek", Jaka langsung memutus teleponnya.


Abimanyu yang mendengar ucapan Jaka duduk termangu.


Sebetulnya ia tidak pernah mempermasalahkan kondisi Anika. Bagaimanapun keadaan istrinya itu, baginya Anika adalah segalanya. Ia tak ingin peduli dengan masa lalu sang istri.


Tapi mendengar ucapan Jaka tadi, Abimanyu jadi terpikir sesuatu. Ada apa dengan pernikahan Anika dan Rendra sebelumnya?.

__ADS_1


Setelah hampir dua puluh menit berlalu, akhirnya Anika keluar dari kamar mandi.


Ia mengenakan bathroob dengan rambut basah yang tergerai.


Abimanyu yang sedari tadi duduk di kasur mengalihkan pandangannya pada Anika. Ia menatap istrinya tanpa berkedip dari atas sampai bawah.


Sungguh, desiran di hatinya tidak bisa diartikan lagi. Ini menjadi momen pertama dirinya melihat Anika melepas jilbab dan berpenampilan seterbuka itu.


"Mas Abi kenapa? apa ada yang salah sama aku?", tanya Anika bingung melihat tatapan suaminya.


"Oh, eh, enggak sayang. Gak ada yang salah, hanya saja baru kali ini Mas lihat kamu seperti itu", jawab Abimanyu tergagap.


Anika tersenyum, "Tidak masalah bukan aku berpenampilan seperti ini di depan suami?", tanya Anika sambil menghampiri meja rias dan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.


Abimanyu tersenyum, "Sama sekali tidak masalah. Mas justru suka. Kalau gitu, Mas bersih-bersih dulu ya".


Anika menganggukkan kepalanya. Membiarkan suaminya membersihkan diri sedangka dirinya sibuk mengeringkan rambut lalu berganti piyama tidur.


Setelah Abimanyu selesai dengan aktivitas pribadinya. Kini pasangan pengantin baru itu tengah merebahkan dirinya di kasur.


Anika bergelayut manja, menyandarkan kepalanya ke dada Abimanyu dan suaminya itu berkali-kali menciumi pucuk kepala istrinya sambil mengelus lembut rambut Anika yang terurai.


"Sayang, boleh Mas tanya sesuatu?".


"Apa, Mas?".


Abimanyu terdiam sejenak. Ia berpikir keras apakah baik dia menanyakan tentang kondisi rumah tangga Anika dan Rendra sebelumnya?.


"Mas, mau tanya apa?", Anika menarik kepalanya dari dada Abimanyu. Kini ia memilih untuk duduk menatap suaminya itu.


Abimanyu tersenyum tipis, "Tidak ada", jawabnya pendek.


Anika mengernyitkan dahinya, heran.


"Yakin gak ada?".


"Iya, gak ada".


Anika menghela nafas, "Ya udah", katanya sambil menyandarkan lagi kepalanya di dada Abimanyu.


"Sayang".


"Hmm...".


"Mmm...kamu capek gak?".


Anika menegakkan kepalanya, kedua mata indahnya kembali menatap wajah Abimanyu.


"Kenapa, Mas?".


Abimanyu mulai salah tingkah, ia bingung harus mengatakan apa.


"Mas?".


Abimanyu masih terdiam.


"Tuhkan, dari tadi Mas aneh ih", protes Anika cemberut.


Menyadari sikapnya yang memang tidak jelas, Abimanyu segera meminta maaf.


"Maaf sayang, Mas gak maksud gitu. Mas cuma...mmm...ini kan malam pertama kita. Kalau kamu tidak lelah, bolehkah Mas memiliki kamu seutuhnya", akhirnya kalimat absurb itu meluncur dari mulut Abimanyu.


Anika yang paham maksud suaminya tersenyum sambil tertunduk malu. Ia yakin wajahnya kini sudah merona.


"Tuhkan jadi kamu yang diam. Mas salah bicara ya?", Abimanyu merasa kikuk.


Anika menatap suaminya intens, "Kenapa Mas harus bertanya seperti tadi sih? aku ini istri sah Mas Abi dan hal 'seperti itu' adalah ibadah suami istri. Jadi, apalagi yang Mas Abi tunggu", Anika memberikan kode setuju.


Senyum Abimanyu merekah. Meskipun hatinya kini benar-benar tidak karuan karena rasa bahagia yang membuncah, tapi ia lebih bahagia lagi mendengar jawaban Anika yang tidak ia kira.


Malam pun menjadi saksi penyatuan kedua insan yang sudah halal ini. Suara ******* sayup-sayup terdengar semakin memanaskan suasana di dalam kamar.


Abimanyu bermain dengan lembut namun memabukkan bagi Anika. Mereka benar-benar menikmati penyatuannya sambil berharap akan segera tumbuh benih cinta dalam rahim Anika.

__ADS_1


Abimanyu memilih untuk tidak mengungkit cerita rumah tangga Anika yang sudah lalu. Meskipun hatinya sempat bertanya-tanya, tapi ia memilih untuk melupakan hal itu.


Baginya setiap orang tentu memiliki masa lalu dan itu bukanlah hal yang teramat penting untuk dibahas saat ini, terlebih ketika dirinya dan Anika sudah mulai membuka lembaran masa depan yang baru. Cukuplah masa lalu itu dijadikan pelajaran.


__ADS_2