CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Memberi tahu Papah Mamah


__ADS_3

"Assalamu’alaikum, Mah,” sapa Olivia.


“Oliv. Kamu di mana sekarang, Liv?” tanya Mamah Ros cepat.


“Assalamu’alaikum, Mah,” ulang Olivia.


“WA... Wa'a... Waalaikum.... Salam... Iya waalaikumsalam,” jawab Mamah Ros terbata, karena dirinya pun belum pernah mengucap salam dengan benar sejak dulu.


“Kata Leon, Mamah lagi nyariin aku ya? Ada apa sih, Mah? Tumben amat?” tanya Olivia pura-pura tak tahu.


“Iya, Liv. Mamah emang nyariin kamu. Mamah juga udah ke kontrakan kamu. Tapi tetangga kamu bilang, udah beberapa hari ini kamu sama suami kamu itu nggak pulang. Kemana aja sih? Mamah khawatir sama kondisi kamu. Apa lagi...,” ucap Mamah Ros menggantung.


“Mamah paling udah bisa nebak kan? Aku lagi di rumah sakit. Kalau Mamah mau tau kondisi ku, Mamah mending ke sini deh bareng sama Papah. Biar nanti aku ceritain kronologinya kek apa,” jawab Olivia cepat.


“Kenapa kamu di rumah sakit? Kamu nggak papa kan? Mamah khawatir banget sama kamu, Liv,” ucap Mamah Ros.


“Makanya kalo Mamah beneran khawatir sama aku, mamah dateng aja ke sini sama Papah,” ucap Olivia.


“Ya udah. Mamah sekarang ke sana. Tunggu Mamah oke,” sahut Mamah Ros.


Telepon pun kemudian dimatikan. Wanita paruh baya tersebut kembali masuk ke dalam mobilnya dan meminta supir untuk mengantarkan ke rumah sakit yang diberitahukan Olivia lewat pesan chat.


Sementara itu, Papah Abi yang baru saja mendapat kabar bahwa sang putri masuk rumah sakit dari sang menantu, segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi putrinya.


Tak berselang lama, keduanya pun tiba. Mamah Ros tiba terlebih dahulu, dan selang beberapa menit, Papah Abi pun sampai. Hingga terkesan keduanya tiba secara bersamaan.


Mamah Ros langsung menghambur memeluk putrinya, saat melihat Olivia berada di atas ranjang pasien, dengan selang infus yang menancap di tangannya.


Perempuan yang sejak tadi duduk ditemani suaminya dan juga sang sahabat, tampak terkejut mendapat serangan mendadak dari sang bunda.


“Mamah apa-apaan sih? Aku ini lagi jadi pasien, Mah. Sakit tau,” keluh Olivia.


Mamah Ros pun lalu mengurai pelukannya dan malah memukul kecil pundak sang putri, karena kesal dengan sambutan jutek itu.


“Kamu ini. Nggak tau apa kalau orang tua khawatir. Mamah tuh takut kamu kenapa-napa. Sepanjang jalan pikiran Mamah tuh nethink mulu,” gerutu Mamah Ros.


Wanita paruh baya itu lalu meraih pundak Olivia, dan menghadapkannya ke kanan dan kiri, memastikan kondisi putrinya baik-baik saja.


Beberapa hari cukup membuat bekas kekerasan yang dilakukan Nathan sebagian besar hilang, sehingga Mamah Ros tak bisa melihatnya. Namun, lebam di pipi dan juga luka di bibir Olivia masih ada, sehingga hal itu pun menjadi pusat perhatian wanita tersebut.


“Ini... Ini kenapa? Kenapa bisa luka gini bibir kamu? Terus ini... Pipi... Kenapa biru? Suami kamu yang pukul ya?” tuduh Mamah Ros.


“Mamah apaan sih. Dateng-dateng malah langsung nuduh nggak jelas. Mana ada suami ku kasar. Yang ada, dia tuh orang paling lembut sedunia,” cerocos Olivia.


Papah Abi yang juga sudah berada di sana pun ikut melihat luka yang tadi diributkan oleh sang istri


“Sebenarnya kenapa kami, Liv? Kenapa bisa sampe di rumah sakit? Apa ini ada kaitannya sama penyerangan Nathan di kampus kamu?” tanya Papah Abi langsung.

__ADS_1


Olivia tak lekas menjawab. Perempuan itu malah melihat ke arah Alzam dan Leon secara bergantian, seolah meminta pendapat kepada keduanya.


Baik sang suami maupun sahabatnya, keduanya nampak mengangguk pelan, pertanda meminta Olivia untuk mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya.


“Haaah... oke, aku bakal cerita. Tapi Mamah nggak usah rese pake acara nggak percaya segala ya,” seru Olivia.


“Kenapa cuma Mamah yang diawas-awasi sih?” tanya Mamah Ros.


“Ya udah dengerin aja dulu deh,” ucap Olivia.


Perempuan itu didampingi sang suami, akhirnya menceritakan semuanya kepada Papah Abi dan juga Mamah Ros, tentang bagaimana dia bisa tiba-tiba berada di rumah sakit tanpa memberi tahukan kepada siapapun.


Dari mulai kemunculan Nathan yang membuat Olivia muak, kedekatannya dengan sang Mamah, hingga perbuatannya beberapa hari yang lalu, yang benar-benar sudah sangat keterlaluan dan termasuk tindakan kriminal.


Papah Abi terlihat cukup tenang mendengar semua cerita Olivia, namun Mamah Ros, wanita itu terlihat syok, hingga kakinya lemas dan harus dipapah ke sofa untuk duduk.


Dia tak percaya jika pria yang dikiranya lebih baik berkali-kali lipat dari sang menantu, ternyata sebejat itu.


Olivia pun mengakui bahwa perbutan ini bukan kali pertama, melainkan pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, yang sempat membuat Olivia depresi dan mengurung diri di kamar.


Baik Mamah Ros dan Papah Abi pun akhirnya ingat bahwa setelah kejadian itu, Olivia tiba-tiba berubah dan menjadi sosok gadis urakan, liar dan senang berfoya-foya. Sangat berbeda dari Olivia yang mereka kenal sebelumnya.


Hingga akhirnya dia bertemu Alzam, dan kembali menjadi sosok perempuan baik-baik yang telah lama hilang.


“Hiks.... Hiks... Ternyata dia sebajingan itu. Tapi kenapa dia manis banget coba sama Mamah. Mau kasih ini itu buat Mamah. Kenapa dia mesti kek gitu ke kamu. Kenapa dia nggak bisa sabar nungguin kamu jadi janda sih,” ucap Mamah Ros.


Suara bernada tinggi itu pun tak hanya mengagetkan Mamah Ros, melainkan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Mamah tuh kenapa sih? Masih aja mikir yang aneh-aneh. Udah jelas kan kalau sejak awal, laki-laki itu emang nggak baik. Mau dulu mau sekarang, dia tetap aja brengs*k. Harusnya kamu bersyukur punya menantu kayak Alzam, yang baik, yang penyayang, udah gitu soleh lagi. Bukannya malah meratapi perbuatan Nathan itu."


"Aneh kamu, Mah. Nggak tau isi otak kamu itu apa. Kalau kamu mau beli ini itu, kan bisa tinggal minta sama aku. Apa pernah aku ngelarang kamu beli-beli barang mewah? Semuanya aku kasih buat kamu."


"Udah deh, jangan cuma karena barang yang harganya bisa dinominalkan, terus kamu gelap mata dan mau gadein kebahagiaan anak kamu sendiri. Kamu lihat, Alzam dan Olivia itu udah bahagia. Harusnya kamu ikut seneng, bukannya malah mau misahin mereka,” ucap Papah Abi memarahi istrinya.


Mamah Ros masih terlihat sesenggukan. Ditambah bentakan dan kemarahan Papah Abi padanya yang tiba-tiba, dan membuatnya semakin sedih.


“Iya, Mamah minta maaf. Mamah salah,” ucap Mamah Ros di sela isaknya.


“Minta maaf ke Mas Al juga dong, Mah. Mamah kan selalu ngehina dia terus. Pedes banget lagi ngomongnya kek cabe setan,” sindir Olivia.


“Sssttt! Nggak boleh ngomong gitu. Aku nggak papa kok,” tegur Alzam.


“Tuh, lihat kan. Dihina terus aja masih sabar gini. Kalo yang lain, haaaahhh... Belum tentu,” sahut Olivia.


“Udah, Tante. Yang udah ya udah. Yang penting sekarang, Nathan udah jadi terdakwa dan kasus ini udah masuk ke persidangan. Semoga aja dia dapet balesan yang setimpal,” ucap Leon menenangkan situasi.


“Apa Yusman yang jadi pengacaranya, Yon?” tanya Papah Abi.

__ADS_1


“Iya, Oom. Oom Yusman yang jadi pengacaranya. Kebetulan pas aku mau minta tolong sama beliau, Papah Mamah lagi bareng Oom Yusman. Jadi, Mamah Papah langsung terjunin beliau buat urus kasus ini,” jawab Leon.


“Syukurlah kalau begitu. Setidaknya, kasus ini ditangani pengacara handal seperti itu, pasti semuanya akan beres,” ucap Papah Abi.


“InsyaAllah, Pah. Nggak boleh ngeduluin ketetapan Allah. Sehebat apapun Oom Yusman, kalau Allah bilang kalah, tetep aja bakal kalah,” seru Olivia.


“Aahh... Iya. InsyaAllah. Papah lupa. Hehehe...,” ralat Papah Abi.


Seketika, wibawa pria itu pun turun karena perkataan sang putri yang secara langsung mengoreksi kata-katanya.


Alzam yang melihat hal itu pun menusuk-nusuk pipi istrinya dengan jari, sambil menegur perempuan itu.


“Ssstt... Nggak boleh gitu,” seru Alzam lirih.


“Kenapa sih? Aku kan cuma ngoreksi doang,” gerutu Olivia.


“Iisssh.... Calon ibu ngga boleh julid,” seru Alzam.


“Hah... Siapa yang mau jadi ibu?” tanya Mamah Ros, yang kebetulan mendengar perkataan Alzam.


Alzam dan Olivia saling pandang. Pemuda itu pun lalu memeluk sang istri dari belakang dan mengusap perut rata Olivia.


“Olivia sekarang lagi hamil, Mah. Masih kecil sih. Baru jalan dua bulan,” ucap Alzam.


Papah Abi yang ada di dekat Olivia pun seketika menghampiri putrinya dan ikut mengelus perut rata perempuan itu.


“Kamu hamil, Nak? Papah bentar lagi mau jadi kakek dong?” tanya Papah Abi.


“Iya lah. Masa jadi buyut,” sahut Olivia.


Lagi-lagi, Alzam menegur sang istri yang bicaranya selalu saja ketus kepada siapapun.


Mamah Ros kembali menangis saat mendengar kabar bahagia itu. Dia lalu berjalan ke arah sang putri dan memeluk erat tubuh yang masih lemah itu.


“Maafin Mamah ya, Liv. Mamah udah gelap mata. Maafin Mamah yah,” ucap Mamah Ros menyesal.


Olivia pun membalas pelukan sang Mamah, sementara Papah Abi dan Alzam menyingkir, memberi ruang untuk kedua perempuan itu saling memaafkan.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2