CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Partner


__ADS_3

"Apa sudah jelas, Akhwat Olivia?” tanya Umi Fifit.


"Cukup jelas. Terimakasih, Umi,” sahut Olivia.


“Alhamdulillah kalau begitu. Apa ada pertanyaan lain?” tanya Umi Fitit pada hadirin yang lain.


Olivia pun diam, karena sudah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang muncul di benaknya, pada pertemuan pertamanya di majlis taklim ini.


Karena tak ada yang bertanya lagi, maka sang ketua majlis taklim pun menutup pengajian hari ini dengan doa bersama, yang diaminkan oleh seluruh anggota.


Setelah selesai, semuanya pun saling berjabat tangan, dan satu persatu meninggalkan tempat.


Olivia terlihat berdiri di depan pagar tempat pengajian itu. Beberapa rekan-rekan barunya terlihat menyapanya sekilas dari atas sepeda motor yang mereka kendari. Olivia pun menyahut seperti biasanya. Dia tak mencoba dekat dan tidak juga berlaku sombong.


Jika ada yang menyapa, maka dia pun akan menyahut. Begitu pun sebaliknya, mengingat dia belum kenal satu persatu satu orang-orang di sana dengan baik.


Dari arah dalam, terdengar sebuah motor yang kembar melaju ke arahnya dan berhenti tepat di depan Olivia. Gadis itu pun memicingkan matanya berusaha melihat wajah di balik kaca helm yang tertutup itu.


“Liv, mau bareng nggak?” tawar orang itu setelah membuka kaca helm nya.


Olivia seketika mencebik saat melihat wajah orang tersebut.


“Cck! Gue udah minta suami gue buat jemput ke sini. Udah lu sonoh cepetan pulang deh. Jangan cari-cari alesan buat ketemuan sama Mas Al ya,” ucap Olivia ketus, pada orang yang tak lain adalah Nurul.


“Beneran nggak mau? Alzam udah bilang mau kesini?” tanya Nurul memastikan.


“Bawel banget sih? Udah! Mas Al udah meluncur ke sini. Pergi, pergi sana. Bikin kesel aja,” usir Olivia.


Nurul hanya bisa menghela nafas sambil mencoba sabar dengan sikap Olivia, yang terus menunjukkan rasa ketidak sukaan kepada dirinya.


“Ya udah, aku pulang duluan. Kamu hati-hati ya,” ucap Nurul.


“Udah sana pergi. Bawel bener dah,” sahut Olivia.


Nurul pun pergi meninggalkan Olivia sendiri.


Tak lama kemudian, Alzam datang dengan mengendarai motor matic-nya. Dia berhenti tepat di depan sang istri yang sedang berdiri di tepi jalan.

__ADS_1


“Assalamualaikum. Lama nggak?” tanya Alzam, sesaat setelah motor berhenti.


Olivia meminta tangan sang suami dan mencium punggung tangan Alzam.


“Waalaikumsalam. Nggak sih. Yuh ah pulang,” sahut Olivia.


Gadis itu pun mengambil helm dari tangan suaminya dan memakainya sendiri. Dia membuka kerudungnya terlebih dulu dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas, sebelum akhirnya naik ke atas motor Alzam.


Mereka lalu pergi dari sana, dan melewati jalan pulang ke rumah baru mereka.


Sesampainya di sana, Alzam menyuruh Olivia untuk mandi terlebih dulu. Namun, baru saja gadis itu ke luar kamar dengan handuk yang tersampir di pundak, dia melihat sang suami sedang memegangi sapu dan juga kemoceng.


Olivia pun menghampiri Alzam dan meraih kemoceng dari tangan sang suami.


“Ngapain kamu ambil kemoceng itu, Liv? Kan aku tadi suruh kamu buat mandi,” ucap Alzam.


“Mas Al kenapa bersih-bersih sendiri sih? Aku nggak mau dibilang bawahan yang nggak baik lho ya,” ucap Olivia.


Alzam mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari sang istri.


“Bawahan? Maksudnya?” tanya Alzam.


“Ppffftt!” Alzam hampir saja kelepasan tertawa, mendengar ucapan dari sang istri yang teramat polos.


Dia pun mencoba menahan tawanya, agar tak membuat mental sang istri dalam belajar agama menjadi down.


Alzam lalu mengusap lembut surai coklat gelap Olivia, sambil mengulas senyum ke arah sang istri.


“Oliv, kamu itu istri ku, bukan bawahan ku. Rumah tangga itu harus dijalani bersama. Nggak bisa kalau salah satu sok bossy dan yang lain capek sendiri. Begitu pun aku yang nggak mau bebanin kamu sama semua pekerjaan rumah ini,” jelas Alzam.


“Tapi kan kata ustadzah...,” sanggah Olivia.


“Emang bener laki-laki itu pemimpin dari kaum wanita. Tapi seperti yang ku bilang tadi, rumah tangga itu harus dijalani sama-sama. Jadi, nggak papa kalau aku juga ikut beres-beres rumah,” sela Alzam.


“Tetep aja kamu itu pimpinannya. Mana ada pemimpin kerja kasar kek gini?” tepis Olivia.


“Gini aja deh. Gimana kalau jangan pimpinan  sama bawahan, tapi anggep aja kita ini partner. Jadi, kita bisa kerja sama bareng-bareng, dan juga saling bantu satu sama lain,” cetus Alzam.

__ADS_1


“Eehhhmmm...,” Olivia nampak berpikir tentang yang dikatakan oleh sang suami.


“Nanti kita bahas lagi setelah makan malam. Sekarang, kita sama-sama bersihin rumah dulu gimana? Kamu nyapu sekalian ngelap-ngelap, nanti biar aku yang ngepel,” seru Alzam.


Olivia mengangguk cepat setelah mendengar seruan Alzam. Dia terlihat puas dengan keputusan yang diambil sang suami untuk bekerja sama.


Setelah Olivia selesai menyapu, Alzam mulai mengepel dan meminta sang istri untuk membersihkan tubuh lebih dulu.


Kali ini, Olivia pun langsung menurut dan masuk ke dalam kamar mandi.


Seusai mandi, dia melihat bahwa sang suami hampir selesai mengepel sampai dapur. Dia pun kembali berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya untuk menyisir rambut.


Selepas maghrib, Alzam mengaji sebentar di dalam kamar. Olivia terlihat memperhatikan sang suami dari atas tempat tidur.


Lantunan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca Alzam benar-benar membuat perasaan Olivia tenang. Dia betah berlama-lama mendengarkan suara Alzam yang dengan fasih membaca wahyu Allah itu.


Dia pernah sekali memegang dan membukanya. Olivia tau itu tulisan Arab, akan tetapi sama sekali tak bisa membacanya barang sehuruf pun.


Namun, setiap kali mendengar sang suami mengaji, rasanya begitu indah hingga membuat hati tenang. Seperti halnya saat dia mencoba beristighfar ketika menghadapi Mamah Ros yang terus membuatnya kesal. Hatinya pun seketika menjadi tenang, dan emosinya juga mereda.


Dia pun merasa, semenjak dia mulai sholat, tubuhnya terasa lebih bugar, dan pikirannya terasa lebih jernih. Terlebih di pagi hari. Dulu sebelum belajar sholat, Olivia akan merasakan pusing setiap kali bangun tidur. Entah itu sehabis mabuk atau pun tidak, dia akan bangun dengan tubuh yang terasa lelah disertai pusing.


Ah, benar. Alkohol. Benda haram itu pun kini tak lagi menjadi teman curhatnya, karena kebersamaannya dengan Alzam mampu mengalihkan kebiasaan buruknya itu, hingga benar-benar lepas dan tak pernah ia sentuh sama sekali sejak menikah dengan pemuda biasa ini.


Menyadari hidupnya saat ini, seulas senyum tipis muncul di bibir Olivia. Tatapannya begitu teduh memandangi wajah sang suami yang terlihat tenang, sambil terus membaca ayat-ayat suci Al-Quran.


Hei, Allah. Gue emang belum pernah kenal sama Elu. Tapi, thanks karena udah kenalin gue sama Mas Al, batin Olivia.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2