CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Kesabaran


__ADS_3

Malam hari, seusai makan malam. Alzam seperti biasa menonton acara di televisi untuk mengisi waktu santainya. Dia tak mau masuk ke kamar terlebih dulu, karena tak mau mengganggu belajar sang istri, ditambah jika saja hasratnya naik mengingat Olivia yang masih datang bulan.


Namun, tiba-tiba saja Olivia datang menghampiri sang suami dan membuat Alzma terkejut. Pemuda itu pun kemudian duduk dan bersandar di dinding, begitupun juga Olivia.


Alzam melihat wajah sang istri yang berbeda dari biasanya. Hal itu pun bahkan sudah ia rasakan semenjak mengantarkan Olivia ke kampusnya tadi pagi.


Pemuda tersebut lalu mengulurkan tangannya ke arah telinga Olivia dan menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga, agar Alzam bisa melihat dengan jelas raut wajah sang istri saat ini.


Olivia menoleh dan mengulas senyum tipis, namun sangat jelas terasa begitu dipaksakan.


“Kamu kenapa?” tanya Alzam dengan suara yang begitu lembut.


Olivia tak menjawab dan hanya menurunkan pandangan. Helaan nafas berat terdengar dari mulut gadis itu, dan kemudian dia kembali mengangkat wajahnya, menatap lekat rupa sang suami.


“Mas...,” ucap Olivia tertahan.


Dia ragu harus berkata apa. Dia terus memikirkan perkataan Leon tadi siang. Meski dia ingin menyangkal, namun apa yang Leon katakan memang ada benarnya.


Sejak siang dia terus mencari cara agar bisa menyembunyikan semuanya dari Alzam, akan tetapi selalu saja buntu. Dia bahkan sampai ingin melabrak Nathan dan meminta dia menjauhi suaminya, akan tetapi Olivia tahu jelas jika hal itu hanya akan membuat sang mantan semakin menjadi-jadi.


Alzam yang melihat sang istri seolah sedang mengalami perang batin pun, mencoba sabar menunggu apa yang ingin diungkapkan oleh Olivia. Dia tak ingin mencecar istrinya dan memilih untuk tetap menemani gadis itu, sampai dia mau terbuka tentang masalah apa yang sat ini sedang membuat hatinya galau.


“Kalau mau cerita, cerita aja. Tapi kalau masih ragu, sini! Nyender aja di bahu ku. Siapa tahu bisa ngurangin beban pikiran kamu dikit,” ucap Alzam.


Pemuda itu lalu merangkul pundak sang istri, dan menuntun kepalanya agar bersandar di bahunya. Tangan yang lain meraih jemari Olivia, dan mereka pun saling genggam.


Melihat perhatian Alzam yang begitu sabar menghadapinya, membuat Olivia semakin gundah.


“A... Aku...,” ucap Olivia terbata.


Tiba-tiba, ada sebuah iklan spring bed, dimana modelnya tidur dan bermimpi indah, sangkin nyamannya kasur yang digunakan. Hal itu seolah memberikan ide kepada Olivia untuk memulai pembicaraan dengan sang suami.


“Aku mimpi. Ya, aku semalem mimpi. Mimpinya nggak enak banget sampe aku ketakutan,” ujar Olivia.


Alzam mengernyitkan keningnya mendengar penuturan sang istri. Dia bukan pemuda bod*h yang bisa asal dibohongi dengan kata-kata payah seperti itu.


Dari nada bicara Olivia, sudah jelas bahwa gadis itu sedang galau, bukan hanya sekedar gara-gara mimpi belaka. Dia sedikit tau tentang Olivia.


Gadis itu pasti akan mengoceh dan membeberkan semuanya kepada Alzam, jika hal itu hanya sebatas mimpi biasa saja. Dia yakin bahwa saat ini ada hal serius yang sedang dipikirkan oleh sang istri.

__ADS_1


Namun, pemuda itu berusaha mengikuti alur yang dibuat Olivia, untuk melihat hal apa yang coba disembunyikan gadis itu.


“Kamu mimpi apa, hem? Mimpi kok sampe dibawa serius gitu,” sahut Alzam.


Pemuda itu bahkan membelai surai coklat gelap istrinya, dan berusaha membuat Olivia setenang mungkin.


“Aku... Aku mimpi kamu ninggalin aku. Aku takut banget, Mas,” tutur Olivia.


“Kok gitu? Kenapa emangnya? Masa aku ninggalin istri se cantik dan se nggemesin kamu sih?” sahut Alzam.


Olivia menyikut perut Alzam karena merasa tanggapan sang suami begitu santai.


“Aku serius,” keluh Olivia.


Alzam hanya terkekeh melihat reaksi kesal istrinya.


“Hehehehe... Nggak usah serius-serius dong. Kan cuma mimpi,” sahut Alzam.


“Tapi gimana kalo beneran?” tanya Olivia.


“Emang masalahnya apa sampe aku ninggalin kamu, hem?” tanya Alzam balik, sambil menoel hidung mancung Olivia, yang sudah menjadi kebiasaan Alzam saat bicara dengan sang istri.


“Karena apa?” tanya Alzam lagi.


“Karena mantanku deketin aku lagi,” jawab Olivia.


Alzam diam sejenak mendengar perkataan sang istri. Kemudian, dia kembali mengusap rambut sang istri dengan begitu lembut.


“Cuma mimpi kan?” tanya Alzam.


Nada bicara Alzam masih sama, akan tetapi ekspresi pemuda tersebut berubah datar. Tak sehangat seperti tadi. Sepertinya dia sedikit emosi dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang istri.


“Kalau beneran gimana?” tanya Olivia lirih.


Alzam menoleh dan melihat wajah sang istri yang tak bisa ia lihat dengan jelas.


“Tergantung kamunya. Kamu mau nggak balikan lagi sama mantan kamu?” tanya Alzam balik.


“Ogah! Nggak mau. Dia itu cowok paling brengs*k yang pernah aku temui. Udah untung aku bisa pisah sama dia. Buat apa cari penyakit lagi dan deket apa tuh cowok toxic?” jawab Olivia dengan lantang dan mantap.

__ADS_1


Gadis itu secara spontan menjawab semua itu, mengingat betapa bencinya dia dengan Nathan. Hal itu sontak menciptakan sebuah lengkungan samar di bibir Alzam, yang kedua sudutnya tertarik ke atas.


Dia mencium puncak kepala Olivia dan menghirup aroma shampo, yang masih tertinggal di sana dalam-dalam.


“Kalau gitu, kamu nggak usah khawatir sama masalah itu. Karena aku akan selalu jadi tameng buat kamu dari gangguan mantanmu yang toxic itu,” ucap Alzam.


Olivia seketika mendongak menatap wajah Alzam yang juga melihat ke arahnya. Mata gadis itu seolah meminta kepastian akan perkataan sang suami yang baru saja diucapkan.


“Nggak perlu khawatir sama sesuatu yang belum terjadi. Kita nikmati aja semua yang ada saat ini. Aku nggak akan pernah coba nyinggung masa lalu kamu, siapa mantan kamu, apa yang pernah kalian lakuin. Aku nggak mau peduliin itu. Cukup kamu pastiin, kalau sekarang cuma ada aku di hati kamu. Itu aja udah cukup buat aku bisa tetap ada di samping kamu, Liv,” pungkas Alzam.


Seketika, lapisan bening memenuhi netra hitam Olivia. Kini Alzam yakin bahwa hal itulah yang sebenarnya terjadi dan membuat istrinya bersikap aneh sejak pagi ini.


Namun, seperti yang Alzam katakan, dia tak akan mempermasalahkan masa lalu Olivia, sekelam apapun itu, karena dia tahu track record dari sang istri sebelum bersama dengannya. Meskipun apa yang dipikirkannya tak semua benar.


Dia hanya ingin gadis itu menjaga hatinya, untuk memastikan bahwa hanya ada Alzam seorang saat ini di dalam sana.


Lelehan bening lolos begitu saja dari sudut mata Olivia. Alzam dengan lembut mengusap jejak lelehan itu dengan ibu jarinya. Dia mengecup kening Olivia, lalu ke kedua matanya, semakin turun ke hidung, dan berakhir dengan pagutan di bibir Olivia.


Keduanya saling berciuman, mencoba meredakan kegundahan dan meredam emosi yang sempat muncul beberapa saat lalu di hati masing-masing.


Olivia menangis di sela pagutannya, dan membuat Alzam menyesap rasa asin yang masuk ke sela bibirnya.


Pemuda itu pun mengakhiri adegan romantis tersebut, sebelum hasr*tnya semakin memuncak karena saat ini sang istri sedang tak bisa disentuh dengan bergair*h.


Usapan lembut di bibir Olivia, membuat gadis itu tersenyum dan memeluk erat pinggang sang suami.


“Makasih, Mas. Aku akan selalu pastiin, kalau hati ini cuma milik kamu seorang,” ucap Olivia lirih.


Alzam tak menjawab dan hanya membalas dengan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2