CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Makasih, suamiku


__ADS_3

“Kamu pilih mana yang kamu suka!” seru Alzam.


Olivia pun semakin bingung saat melihat beberapa jenis mukenah yang sudah diambilkan oleh si penjaga toko tadi. Ada yang dari bahan katun Jepang, katun rayon, katun silk, katun paris, spandek hingga parasut.


Olivia benar-benar tak tahu apapun tentang cara memilih mukenah yang baik dan benar, karena dia sama sekali belum pernah memakai benda tersebut.


“Ehm... Mas aja deh yang pilihin. Aku nggak tau,” ucap Olivia.


Alzam nampak mendengus mendengarkan jawaban dari sang istri.


“Tinggal pilih aja yang menurutmu nyaman buat dipakai,” seru Alzam.


Olivia lalu menoleh ke arah penjaga toko. Dia bertanya tentang bahan yang paling laris dan banyak dicari orang-orang.


Penjaga itu pun memberikan rekomendasi kepada Olivia, dan itulah yang menjadi pilihan si gadis awam tersebut.


Setelah memilih, Alzam bertanya harga dari mukenah yang sudah menjadi pilihan sang istri.


“Berapa, Mbak?” tanya Alzam, sambil menyiapkan dompetnya.


“Yang ini harganya tujuh ratus lima puluh ribu, Kak,” ucap si penjaga toko.


Alzam sampai terkejut hingga dia menghentikan gerakannya, dan menoleh kembali ke arah si penjaga toko tersebut.


“Itu beneran harganya segitu? Nggak bisa kurang lagi, Mbak?” tawar Alzam.


“Nggak bisa. Itu udah harga pas, Kak. Ini produk impor. Bahannya juga beda sama yang lain. Ini nyaman banget. Adem pas dipakenya,” jawab si penjaga toko.


Melihat Alzam yang sepertinya keberatan dengan barang pilihannya, Olivia pun mencoba menghentikan sang suami untuk membeli benda tersebut.


“Mas, mending nggak usah beli itu deh. Lagian, aku juga nggak pernah sholat kok,” ucap Olivia lirih.


Alzam melirik kesal ke arah istrinya. Tadinya, dia berniat membawanya ke pasar dan membeli mukenah yang harganya lebih murah dengan kualitas tak kalah bagus.


Namun, si gadis keras kepala itu justru membuatnya pergi ke mall, dan terjebak di toko ini.


“Kalau kamu masih mau jadi istriku, mulai sekar kamu wajib sholat lima waktu,” seru Alzam.


“Tapi, sayang lho uang kamu. Nggak nyesel emang?” tanya Olivia.


Yang bikin nyesel tuh nurutin kamu ke sini, Oliv, gerutu Alzam dalam hati.


Dia lalu mengambil kartu debitnya, dan menyerahkan kepada si penjaga toko. Sudah kepalang tanggung. Mau mundur juga malu sama istri.


“Bisa bayar pake ini?” tanya Alzam.

__ADS_1


“Bisa, Kak. Tunggu sebentar,” seru si penjaga toko.


Alzam lalu menoleh ke arah Olivia. Dia sediri membungkuk karena tinggi mereka yang tidak sama.


“Anggep aja ini investasi akheratku. Siapa tahu, kalau aku sukses buat kamu jadi perempuan yang taat beribadah, Allah akan memberiku jaminan surga,” ucap Alzam tepat di depan wajah Olivia.


Gadis itu membeku. Dia terkesima dengan ucapan Alzam, yang terdengar bersungguh-sungguh ingin merubahnya. Akan tetapi hal yang membuatnya membeku adalah jarak mereka yang sangat tipis. Bahkan Olivia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Alzam menerpa kulit wajahnya.


Olivia sampai merona. Jantungnya pun berdegup sangat cepat.


Dia segera memalingkan wajahnya sambil mendorong Alzam menjauh.


“Iya... Iya... Semoga sukses,” ucap Olivia dengan wajah yang terus berpaling.


Setelah membayarnya, Alzam kembali mengajak Olivia pergi dari tempat tersebut, dan bermaksud kembali ke rumah Bu Aminah.


Dia memang berencana mengambil motornya dari rumah sang bunda, agar dia bisa pulang pergi lebih leluasa dengan kendaraan sendiri.


Akan tetapi sebelum itu, dia pergi mencari mushola dan menunaikan sholat ashar terlebih dulu, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lebih.


Seperti biasa, Olivia selalu beralasan saat diajak sholat oleh sang suami. Jika tadi pagi alasannya tidak ada mukenah, kali ini dia mengatakan sedang datang bulan.


Alzam pun hanya bisa bersabar dan menunaikan sholat seorang diri, sementara Olivia duduk menunggu di luar.


Setelah selesai sholat, Alzam dan Olivia kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Bu Aminah.


Belum juga masuk ke halte, akan tetapi Olivia sudah lebih dulu berhenti dan menolak untuk melanjutkan ke sana.


“Aku nggak mau naik itu. Lihat tuh! Banyak banget orangnya. Mana bisnya kecil, sempit, pasti panas banget. Ogah! Aku nggak mau naik itu,” ucap Olivia.


“Jangan manja deh. Ayo cepetan, atau aku tinggal!” ancam Alzam.


Olivia nampak tak mau kalah. Setelah tadi dia menang dan berhasil membuat Alzam menuruti perkataannya, gadis itu mengira, kali ini Alzam pun akan kembali menurutinya.


Namun, saat Olivia membuang muka ke lain arah, Alzam yang sama kesalnya dengan sikap Olivia, akhirnya kembali berjalan dan meninggalkan sang istri di sana sendirian.


Dia tak mau berakhir konyol seperti tadi, saat dia mencoba mengerti dan menuruti kemauan Olivia, akan tetapi justru dia harus rugi karena membelikan barang yang bisa dibilang sangat mahal untuk orang sekelasnya.


Kali ini, Alzam benar-benar membiarkan sang istri sendirian di tempat tadi, sambil menunggu apakah gadis itu benar-benar akan terus keras kepala dan tak mau mengikuti suaminya.


Saat Olivia menoleh dan bus sudah akan tiba di halte, dia melihat Alzam yang sudah mengantri di sana.


Dia pun menjejakkan kakinya beberapa kali karena kesal, dan terpaksa berlari dan menyusul Alzam.


Pemuda itu sekilas terlihat tersenyum, namun ia buru-buru menyembunyikannya lagi dibalik wajah datarnya.

__ADS_1


Kali ini, Alzam yang menang, karena Olivia mau ikut dengannya naik bus kota.


Setelah masuk bis, rupanya semua kursi telah penuh. Alzam mencoba mencari satu kursi untuk sang istri, akan tetapi tak menemukannya.


Mereka pun terpaksa berdiri.


“Pegang ini!” seru Alzam.


Dia mengangkat tangan Olivia ke atas dan menuntunnya untuk berpegang pada sesuatu. Sementara Alzam, pemuda itu menghalangi orang lain agar tidak mendesak tubuh sang istri.


Olivia menepi di samping sebuah kursi yang diduduki penumpang lain, dengan satu tangan berpegang ke atas, dan satunya memegangi tasnya.


Sementara Alzam, dia bertindak menjadi tameng hidup, dengan satu tangan berpegang ke atas dan satunya memegangi sandaran kursi yang berada di depan Olivia.


Saat mobil berbelok, semua penumpang yang berdiri pun limbung. Mereka terdorong ke salah satu sisi, dan membuat yang ada di sisi tersebut terdesak.


Alzam sekuat tenaga menahan penumpang lain yang menimpanya, agar tak sampai mendorong sang istri dan menghimpit tubuh kecilnya.


Olivia yang melihat hal itu, merasa sangat senang karena Alzam benar-benar melindunginya dari gangguan sekitar.


Hatinya menghangat karena mendapatkan perhatian kecil lainnya dari sang suami. Dia pun terus mendongak menatap wajah Alzam, yang meringis dengan kening mengerut menahan desakan dari orang di belakangnya.


Senyum mengembang di bibir gadis itu. Dia sudah benar-benar jatuh cinta pada suaminya sendiri.


Bis yang sudah kembali melaju di jalan lurus, membuat kondisi penumpang tidak lagi oleng ke kanan dan kiri untuk sementara waktu, dan hal ini membuat Alzam bisa sedikit bernafas lega.


Saat dia melihat ke bawah, Alzam baru menyadari jika sejak tadi Olivia terus memandang ke arahnya dengan tersenyum.


“Ngapain senyum-senyum? Seneng yah lihat orang kesusahan?” tanya Alzam ketus.


Olivia langsung mengangguk mengiyakan. Hal itu membuat Alzam membola dan tertawa sinis, sambil membuang pandangan ke lain arah.


Saat itulah, Olivia maju dan berjinjit menyejajarkan kepalanya dengan sang suami. Tanpa diduga, gadis itu mencium pipi Alzam di dalam bis yang penuh sesak dengan orang-orang, dan seketika membuat pemuda itu terkejut bukan main, lalu menoleh ke arah sang istri dengan mata yang terbuka lebar.


Namun, Olivia justru semakin merekahkan senyumnya, dan berucap tanpa suara.


“Makasih, suamiku,” ucapnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2