CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Seseorang yang terus membayangi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Olivia yang telah mewawancarai Alzam pun berhasil menyelesaikan tugas individinya dengan baik, bahkan tanpa perlu keluar rumah.


Namun setelah itu, Alzam benar-benar mengambil bayarannya, hingga membuat Olivia lemas dan tak bisa bangun di keesokan harinya karena pinggangnya benar-benar sakit.


Alzam menyesal karena sudah sangat buas kepada sang istri, akan tetapi Olivia justru terkekeh dan kembali menggoda Alzam di pagi harinya, membuat pemuda itu menerkam sang istri, hingga mereka sholat subuh di ujung waktu.


Hari ini, Alzam kembali mengantar sang istri ke kampusnya,  dan seperti biasa, dia akan menunggu sampai Leon datang dan menyerahkan keamanan Olivia kepada pemuda tersebut.


Setelah Leon menghampiri keduanya, barulah Alzam pamit dan pergi ke kedai untuk bekerja.


Seperginya Alzam, wajah Olivia mendadak berubah. Dia berjalan ke arah taman kampus bersama Leon dan duduk di salah satu bangku yang ada.


“Hah... Cepet banget perubahan ekspresi wajah lu, Liv. Kek pake topeng aja,” sindir Leon saat baru saja menyandarkan punggungnya di bangku taman.


“Bawel. Buruan kasih tau gue ada info apa?” seru Olivia.


“Menurut yang lu bilang kemarin kalau nyokap lu aneh, gue udah coba selidikin kali aja dia yang nyuruh tuh orang buat mata-matain elu. Gue atur orang buat balik ngawasin nyokap lu, terutama pas dia di luar, dan ternyata nyokap lu aman. Cuma ada satu hal yang buat gue agak aneh sih,” tutur Leon.


“Aneh apaan? Lu kalo ngomong jangan sok kek teka-teki gitu deh,” gerutu Olivia.


“Yaelah ini anak. Biar tegang dikit suasananya gitu lho,” sahut Leon.


“Nggak penting. Buru!” seru Olivia.


“Cck! Dari hasil pantauan gue, nyokap lu sering banget ketemuan sama si Nathan di luar. Udah gitu, dia selalu kasih barang-barang mewah sama nyokap lu dan udah pasti Tante Rosaline seneng banget,” ungkap Leon.


“Gila tuh cowok. Kek udah jadi berondong nyokap gue aja. Bokap tahu kelakuan nyokap kagak ya?” racau Olivia.


“Tapi bukan itu poinnya, Liv. Gue curiga kalau mata-mata itu suruhan Nathan, dan cowok itu kasih tahu ke nyokap lu. Makanya nyokap lu bisa tahu kalau elu pura-pura bahagia sama Alzam, kek yang kemarin kita sandiwara itu,” terka Leon.


“Masuk akal juga sih. Dia nggak bisa deketin gue secara langsung, terus kemarin dia coba deketin suami gue tapi belum tahu motif dia apa. Sekarang, dia deketin nyokap gue karena dia tahu Mamah nggak suka sama Mas Al. Nih cowok udah benar-benar gila. Mau dia apaan coba?” tanya Olivia.


“Ya elu lah. Apa lagi?” sahut Leon.


“Tau, beg*. Maksud gue mau apa lagi dia ngejar gue? Bukannya dia udah dapet cewek yang bisa muasin dia? Cewek yang sesuai selera dia? Ngapain cari gue yang udah jelas-jelas benci banget sama dia?” tanya Olivia.


“Kenapa nggak lu tanya sendiri aja sama Nathan?” ujar Leon.


“Gue? Ketemu dia? Ogah! Yang ada laki gue bisa mikir macem-macem sama gue,” sahut Olivia.


“Nggak masalah selama lu ketemunya bareng laki lu. Lu udah ngomong ke dia soal mantan lu itu kan?” tanya Leon.


Olivia diam. Hal itu membuat Leon menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke lain arah.


“Jangan bilang elu masih belum ngomong sama Bang Alzam?” terka Leon.


Olivia hanya diam, namun itu menunjukkan bahwa dugaan Leon adalah benar. Perempuan itu masih enggan membahas Nathan dengan Mas Al.

__ADS_1


Dia tak mau begitu saja membuka aibnya di depan sang suami, terlebih hubungan mereka baru saja berkembang ke arah yang lebih intim. Dia tak ingin merusak momen romantis mereka yang baru berjalan beberapa hari ini.


Melihat sahabatnya diam, Leon pun akhirnya menyudahi pembahasan tersebut dan mengajak sang sahabat masuk ke dalam kelas.


Setelah melewati rankaian mata kuliah yang melelahkan, keduanya pun kemudian istirahat di sebuah resto yang masih berada di dekat kampus.


Olivia sengaja mengganti tempat tongkrongannya bersama Leon, ke tempat yang jaraknya lebih dekat dengan masjid, agar saat adzan dzuhur berkumandang, dia bisa segera pergi dan menunaikan kewajibannya.


Leon sudah terbiasa dengan hal baru yang menjadi rutinitas Olivia sekarang. Tak jarang, Leon juga ikut menemani sahabatnya ke masjid, meski dia hanya duduk-duduk di serambingnya saja sambil menunggu Olivia selesai sholat.


Meskipun pemuda itu pun masih awam akan urusan agama, akan tetapi dia sedikit demi sedikit mulai paham akan hal-hal kecil seperti mengucap salam, adab minum yang benar, menghentikan aktifitas sejenak saat adzan berkumandang, dan beberapa hal kecil lainnya yang ia dapatkan saat bersama dengan Nurul.


Sedikit banyak, pengaruh Nurul mulai nampak di diri pemuda tersebut, yang berawal dari misinya mendekati gadis itu demi sahabatnya yang pencemburu.


Suatu hari saat pulang ke rumah orang tuanya, Leon bahkan tak sadar mengucapkan salam saat baru masuk ke dalam rumah mewah keluarga Agung.


Ibunya yang saat itu sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah bersama sang suami yang sibuk dengan macbook-nya, sontak terkejut dan menoleh satu sama lain.


Keduanya bahkan menjawab salam Leon dengan nada mengambang karena sangkin bingungnya dengan sang putra. Namun, keduanya tak menegur, dan membiarkan saja semua itu. Hingga hal tersebut kini menjadi kebiasaan Leon saat pulang.


Mereka senang ada perubahan positif di diri sang putra, meski itu hanya hal kecil yang sederhana. Bahkan saat bertandang ke apartemen Leon, ibunya menemukan tidak ada lagi beer kalengan atau botolan di dalam lemari pendingin. Hanya ada minuman bersoda dan juga jus buah.


Tuan Agung beserta sang istri pun sangat menantikan hal baik apalagi yang akan ditunjukkan oleh putra mereka.


Bahkan, keberadaan Leon di masjid saat ini pun adalah suatu kemajuan besar, meski dia hanya duduk-duduk sambil menunggu sahabatnya selesai sholat, karena sebelumnya pemuda tersebut sama sekali belum pernah mendekat ke tempat ibadah.


Leon bangun dan menggendong kembali tasnya, dan berjalan ke arah sepatu mereka berada. Setelah memakai alas kaki masing-masing, keduanya lalu berjalan menjauh dari tempat suci tersebut.


“Mau langsung cari makan?” tanya Olivia.


“Masih laper lu, Liv? Bukannya tadi udah makan kentang goreng ama jus?” tanya Leon.


“Itu namanya ngemil, beg*. Mana kenyang gue?” sahut Olivia.


Namun, perempuan itu terlihat menguap. Rasa kantuk menyerangnya, ditambah suasana di masjid tadi yang begitu adem dan sejuk. Saat melewati taman, Olivia duduk di bangku yang berada di bawah pohon rindang. Leon pun mengikutinya.


“Ngantuk lu? Habis berapa ronde emangnya semalem?” tanya Leon asal.


“Cuma dua, tapi laki gua buas banget, gila,” jawab Olivia dengan entengnya.


“Kampret lu. Si*lan. Pake dijawab lagi. Dasar pe'a,” keluh Leon.


“Lah kan elu yang nanya duluan. Ngapa lu yang sewot?” sahut Olivia.


“Ya nggak usah dijawab juga kali. Bikin ngiri aja,” keluh Leon.


“Ngiri? Biasanya juga kalo pengin tinggal tunjuk doang. Cewek suka rela naik ke ranjang lu kan,” ujar Olivia.

__ADS_1


“Haaahh... Tau lah. Akhir-akhir ini gue kayak nggak n*fsu buat kek gitu lagi,” jawab Leon.


“Waahhh... Abis lu, Yon. Surem udah masa depan lu,” sahut Olivia.


“Eh, apa maksud anda ya?” tanya Leon kesal.


“Lah tadi lu bilang udah nggak n*fsu kan? Elu sih kebanyakan, jadi imp*ten dini kan lu,” ucap Olivia.


“Eh, anjir lu malah nyumpahin gue,” umpat Leon.


“Siapa yang nyumpahin? Lu sendiri yang ngomong tadi,” ucap Olivia.


“Eh, gue cuma bilang nggak n*fsu, bukan imp*ten. Adek gue masih normal. Masih bisa berdiri juga. Sembarangan lu kalau ngomong,” keluh Leon.


“Ooohhh... gitu dong yang jelas. Kirain temen gue udah nggak normal. Hahaha...,” kelakar Olivia.


“Si*lan lu. Gue cuma lagi nggak n*fsu aja buat bercocok tanam. Jangan tanya kenapa, karena gue juga nggak tahu. Tapi, setiap kali gue mau nyentuh cewek, bayangan seseorang terus aja muncul dan bikin gue ilang mood. Bukan cuma itu. Setiap kali gue bosen dan pergi ke klub, gue selalu balik kanan sebelum minum apapun. Rasanya orang itu terus ngikutin gue dan lihat semua yang gue lakuin,” ungkap Leon.


Wajahnya menunjukan kegalauan akan apa yang dialaminya saat ini. Semua kebiasaan dan gaya hidupnya menjadi berubah, hanya karena satu orang.


“Gue udah bisa tebak siapa orang itu. Nurul kan?” terka Olivia.


Leon diam. Saat ini, sedang ada pergolakan batin di dalam dirinya antara meneruskan yang sudah dimulai, atau menyangkal semua dan kembali ke kebiasaannya yang dulu.


Pemuda itu tak tahu harus bagaimana dan jalan mana yang dia pilih.


Melihat raut wajah sang sahabat, Olivia seolah melihat dirinya sendiri saat diminta Alzam untuk mulai belajar agama. Dia pun kemudian menepuk pundak Leon sekali, dan membuat pemuda tersebut menoleh lemas.


“Paan?” tanya Leon.


“Keknya, sekarang giliran lu deh. Gue ada solusinya buat masalah lu ini. Hihi...,” ucap. Olivia.


Olivia menyeringai, memamerkan deretan gigi putihnya, yang sontak membuat kening Leon berkerut.


Firasat nggak enak nih gue, batin Leon.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


sambil nunggu up next bab, mampir ke novel karya temen aku yuk 👇

__ADS_1



__ADS_2