
Setelah berpamitan, Olivia pun lalu kekuar bersama sang suami, dan berjalan kaki menuju ke jalan raya di depan sana.
Ada sebuah warung tenda yang buka sejak sore hingga malam, yang menjual berbagai makanan dari mulai olahan ayam, seafood hingga nasi goreng.
Olivia baru pertama kali makan di tempat seperti itu. Biasanya, dia selalu datang ke caffe atau resto, setiap kali makan di luar. Ini merupakan pengalaman pertamanya, dan itu pun setelah menikah dengan Alzam, pria biasa dari kalangan orang biasa.
Saat masuk ke sana, fokus Olivia adalah tempat cucian piring yang tergeletak di tanah, dengan kondisi becek di sekitarnya. Gadis itu bergidig dan merasa jijik.
“Mas, kita serius mau makan di sini?” tanya Olivia.
“Kenapa emang?” tanya Alzam balik.
“Kamu nggak lihat tuh, tuh,” tunjuk Olivia ke arah yang dianggapnya sangat kotor.
“Oh itu, justru itu seninya,” ucap Alzam asal.
Dia lalu berdiri dan meraih lengan istrinya. Alzam menuntun Olivia agar duduk membelakangi tempat kotor yang tadi ditunjukkan sang istri.
“Kenapa ganti tempat duduk segala? Emang ngefek?” tanya Olivia bingung.
Alzam lalu duduk tepat di hadapan Olivia, dan menatap wajah gadis itu.
“Kalau kaya gini masih kelihatan jijik nggak?” tanya Alzam.
“Maksudnya?” tanya Olivia balik.
“Kamu hadap sini aja. Makan sambil lihat wajahku. Nggak jijik lagi kan?” tanya Alzam lagi.
Seketika, keduanya pun terkekeh. Untuk pertama kali, mereka berdua bisa bercanda dan tertawa bersama seperti ini. Olivia benar-benar bahagia, karena sedikit demi sedikit Alzam mau membuka hati untuk dirinya.
Olivia yang awalnya protes dengan tempat tersebut pun, kini sangat menikmati makan malam ala kelas bawah, yang menurutnya lebih romantis dari pada di restoran bintang lima manapun.
Cukup dengan memandangi Alzam, semua rasa masakan terasa nikmat di lidahnya. Bibir tak hentinya tersenyum, setiap kali mata mereka beradu. Hingga tak terasa, seporsi nasi gorang ayam telah habis mereka santap.
Si pemilik warung tenda menyodorkan dua bungkus nasi goreng yang sama ke meja Alzam, yang sebelumnya sudah dipesan saat mereka masih makan.
Setelah membayar, keduanya pun pulang berjalan beriringan, di bawah gemerlap bintang-bintang. Langit malam ini begitu cerah, secerah hati Olivia.
Meski angin terasa dingin, dan dia berkali-kali mengusap lengannya karena kedinginan, akan tetapi gadis itu tak peduli dan bahkan ingin berjalan memutar agar semakin lama mereka bisa berdua.
Tiba-tiba, Alzam menyerahkan plastik berisi bungkusan nasi goreng kepada Olivia. Gadis itu bingung dan hanya bisa meraih plastik tersebut.
Ternyata, Alzam hendak melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Olivia. Pemuda itu menyadari bahwa sang istri sedang kedinginan, dan berinisiatif meminjamkan jaketnya untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk malam ini.
__ADS_1
Olivia seketika meleleh dengan perhatian Alzam, yang semaki lama semakin hangat padanya.
“Makasih, Mas Al,” ucap Olivia.
Alzam tak menjawab. Dia justru mewakilinya dengan mengusap puncak rambut Olivia, dan meraih kembali plastik yang tadi ia berikan pada gadis itu.
“Ayo jalan lagi,” ajak Alzam.
Olivia mengangguk. Mereka pun kembali berjalan bersama hingga sampai di rumah Bu Aminah.
Malam semakin larut, setelah meminta ijin pada Papah Abi, Olivia dan Alzam akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah kecil Bu Aminah, dan akan pulang keesokan harinya.
Alzam masih belum mau tidur seranjang dengan Olivia, dan memilih menggelar sebuah tikar dan tidur di lantai, sementara Olivia tidur di atas kasur suaminya.
Gadis itu terus memandangi Alzam yang sudah terbaring di tempatnya, dengan kebiasaannya menutup mata dengan sebelah lengan.
Olivia pun tersenyum, mengingat semua kejadian yang ia lewati seharian dengan sang suami. Meski Alzam masih enggan untuk mengakui perasaannya, namun dengan apa yang dilakukan Alzam, cukup menunjukkan bagaimana perasaannya kepada sang istri yang sebenarnya.
...☕☕☕☕☕...
Pagi hari, Olivia seperti biasa enggan untuk bangun pagi apa lagi untuk sholat subuh. Dia lebih memilih terus sembunyi di balik selimutnya, dan meringkuk di atas kasur.
Sedangkan Alzam beserta ibu dan kedua adiknya telah memulai beraktifitas. Seperti biasa, pagi hari selalu menjadi waktu yang padat di dalam rumah tersebut. Zahra dan Kanina harus membantu sang ibu menyiapkan dagangannya, sebelum mereka pergi ke sekolah.
Tepat pukul delapan, Alzam masuk kembali ke kamarnya dan mendapati sang istri masih tertidur dengan lelapnya.
Dia pun kemudian berjalan mendekati gadis itu dan mencoba membangunkannya.
“Liv, Oliv! Bangun! Mau tidur sampe kapan kamu? Udah siang, Liv,” Seru Alzam.
Gadis itu tak bergerak sama sekali, dan masih lelap dalam tidurnya.
“Oliv! Bangun nggak?! Kalau nggak bangun, aku bakal pergi ke kedai sendirian dan ketemu sama Nurul nih,” ancam Alzam.
Seketika, gadis itu segera bangun dan terduduk di atas ranjang. Dia menoleh ke arah sang suami dengan memicingkan matanya.
“Awas aja kalo berani,” sahut Olivia.
“Makanya bangun cepetan!” seru Alzam.
“Iya, iya. Ini aku bangun. Puas!” gerutu Olivia.
Gadis itu pun lalu segera bangun dan menyambar handuk yang ada di gantungan belakang pintu. Dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
__ADS_1
Alzam yang melihat hal itu pun berusaha menahan tawanya, karena gemas dengan sikap gadis tersebut yang benar-benar tidak suka jika dia dekat-dekat dengan Nurul, sahabatnya.
Dia pun kemudian bersiap untuk mengantarkan istrinya pulang, karena hari ini sudah awal minggu, dan Olivia mungkin saja ada jadwal kuliah pagi ini.
Sekitar lima belas menit kemudian, Olivia berteriak dari dalam kamar mandi, meminta tolong kepada Alzam untuk mengambilkan baju gantinya.
“Ngerepotin banget deh,” keluh Alzam.
“Mas, ambilin!” seru Olivia.
“Mana baju gantinya? Pake yang kemarin lagi?” tanya Alzam.
“Yang itu udah kotor. Pinjem sama ibu ada nggak yah?” tanya Olivia.
“Daster mau?” tawar Alzam.
“Nggak ada lagi yang lain emang?” tanya Olivia.
“Ibu mana ada baju model lain. Punya Kanina juga mana muat, apa lagi Zahra,” ucap Alzam.
“Terus gimana dong?” tanya Olivia bingung.
“Pake trening sama kaus aku aja mau nggak? Ntar aku anterin kamu pulang buat ganti baju,” tawar Alzam.
“Ya udah deh, dari pada telanjang,” sahut Olivia lirih.
Alzam pun kemudian mengambilkan salah satu treningnya yang sudah kekecilan, dan sebuah kaus lengan pendek. Dia lalu membawanya ke kamar mandi, dan mengetuk pintu dari luar.
Olivia membuka sedikit pintu tersebut dan mengulurkan tangan tanpa muncul di hadapan sang suami.
Pemuda itu pun menyerahkan baju ganti sementara kepada istrinya, dan seketika diraih oleh Olivia dan membawanya masuk ke dalam.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1