
Di kedai es krim, Nampak Olivia duduk sambil menopang dagunya. Dia sedang menunggu sang suami yang memesan es krim porsi besar untuk dinikmati bersama.
Hatinya masih sakit jika mengingat kejadian tadi di rumah orang tuanya. Mamahnya seolah tahu apa yang sudah terjadi di rumah kontrakan mereka, sampai dia bisa sadar secepat itu tentang kondisi tangannya.
Olivia semakin tak mau bertemu dengan ibunya, karena hanya akan membuat dia semakin kesal dengan segala ocehan dan hinaan Mamah Ros tentang Alzam.
Bahkan tadi pun, Mamah Ros lagi-lagi menyinggung soal mantan Olivia dan membandingkannya dengan Alzam, hingga Olivia lepas kendali dan membentak wanita yang sudah bertaruh nyawa demi melahirkannya.
Semua berawal saat Mamah Ros tiba-tiba saja menarik tangannya, saat Olivia hendak menyalami wanita itu sebelum pergi. Entah kenapa, Mamah Ros bisa langsung tahu bahwa tangan Olivia sedang mengalami sedikit luka.
“Apa yang udah kamu lakuin sama anak saya?” tanya Mamah Ros dengan tatapan nyalang ke arah Alzam.
“Mamah apaan sih? Aku nggak papa,” sahut Olivia.
Olivia segera meronta dan mencoba lepas dari genggaman sang bunda. Akan tetapi, Mamah Ros kali ini menggunakan kekuatannya untuk menahan putrinya melepaskan diri.
“Diam kamu, Oliv. Kamu mau sampai kapan terus pura-pura nggak terjadi apa-apa hah? Kalau kamu emang nggak bahagia hidup sama dia, tinggal minta cerai aja. Mamah pasti bakal bantu kamu buat pisah sama pemuda kere kayak dia ini,” ucap Mamah Ros.
“Mah!” bentak Olivia.
“Kamu kenapa sih, Mah? Kenapa tiba-tiba kayak gini? Mereka datang ke sini baik-baik mau silaturahmi sama kita, kenapa kamu malah bersikap kek gini? Nggak ngerti Papah,” cecar Papah Abi.
“Nih, Papah lihat sendiri,” seru Mamah Ros.
Wanita itu mengarahkan tangan putrinya ke hadapan sang suami. Papah Abi memicingkan matanya karena belum menemukan permasalahannya di sana.
“Apa kamu nggak lihat? Tangannya merah, kasar, udah gitu lihat! Ini. Ini tuh lecet, Pah. Pasti di kontrakannya, Oliv di suruh kerja ini itu sama suami miskinnya. Mamah nggak terima, Pah. Oliv pokoknya harus pisah dari dia,” ucap Mamah Ros.
Setelah mendengar perkataan istrinya, barulah Papah Abi bisa melihat perbedaan yang ada di diri sang putri meski tidak terlalu jelas. Tapi, saat dia pergi ke rumah anak dan menantunya, keduanya terlihat sangat bahagia.
Olivia memang mulai belajar banyak hal seputar urusan rumah tangga, tapi tak terlihat sedikitpun gurat keterpaksaan di wajahnya.
Mendengar omongan sang bunda semakin menjadi-jadi, Olivia pun dengan sekuat tenaga menghempaskan cengkeraman Mamah Ros hingga ia berhasil lepas.
“Mamah apaan sih? Aku bahagia sama Mas Al, Mah. Aku nggak pura-pura, dan aku nggak akan pernah minta pisah dari Mas Al sampai kapan pun,” ucap Olivia tegas.
“Oliv, mau sampe kapan kamu keras kepala begini. Nurut sama Mamah. Kamu itu wanita berkelas. Derajat kamu di masyarakat itu tinggi. Nggak sepantasnya kamu nikah sama dia. Ini udah salah sejak awal,” sahut Mamah Ros.
__ADS_1
“Apa orang berkelas yang Mamah maksud itu yang hobinya menguntit orang tiap hari? Apa orang berderajat sosial tinggi yang Mamah masud itu, orang yang selalu memata-matai kehidupan orang lain? Apa orang-orang yang Mamah maksud, adalah orang yang nggak tahu perbuatan seperti tadi itu semuanya melanggar hukum? Kalau iya, aku nggak akan pernah mau masuk ke dunia kalian,” sanggah Olivia.
“Apa maksud kamu, Liv? Apa ada yang nguntit kamu?” tanya Papah Abi kaget.
“Sebaiknya Papah tanya aja sama istri Papah ini. Aku yakin, ada sesuatu yang bisa dijelaskan sama Mamah,” sahut Olivia.
Mamah Ros terlihat panik. Dia sadar bahwa tak ada jalan mundur baginya untuk mengelak.
“Mah...,” panggil Papah Abi.
“Mamah nggak memata-matai kamu, Liv. Tapi ada orang yang sampai saat ini masih peduli dan mengharapkan kamu, dan dia pastiin kalau kamu baik-baik aja. Dia itu sayang sama kamu. Dia nggak mau kamu terus-terusan di tipu sama orang ini,” tunjuk Mamah Ros tepat di wajah Alzam.
“Siapa yang Mamah maksud?” tanya Papah Abi.
“Siapa lagi kalau bukan Nat...,” jawab Mamah Ros.
“CUKUP!” pekik Olivia.
Hal itu sontak membuat semua orang diam dan menoleh ke arah perempuan itu. Kali ini, Olivia benar-benar sudah tak bisa tahan lagi. Rasanya dia ingin meledak, namun dia masih memikirkan perasaan sang suami yang sudah pasti tak mau hal itu sampai terjadi.
“Cukup, Mah. Aku tegaskan sekali lagi sama Mamah kalau aku bahagia sama pernikahan ku ini, dan nggak ada niat sedikitpun untuk pisah dari suami aku. Maaf, Pah. Oliv harus pergi sekarang. Kayaknya buat ke depan, Oliv bakal jarang banget dateng ke sini,” ucap Olivia pada kedua orang tuanya.
“Assalamu’alaikum,” salam Olivia.
Perempuan itu menarik pergi tangan suaminya dari ruang tamu rumah keluarga Abimana.
Alzam sejak tadi tak bisa membantu Olivia berkata-kata, karena dia tak mau semakin memperkeruh keadaan.
Dia hanya diam saja pun, semua sudah memanas seperti itu. Apa lagi jika dia ikut bersuara. Tak dipungkiri, hatinya terasa panas. Namun melihat sang istri yang begitu membelanya, menciptakan rasa sejuk yang mempu memadamkan api di dalam dadanya.
Saat sudah sampai di halaman, Olivia diam dan tak langsung mengambil helmnya. Alzam tahu perasaan yang saat ini dirasakan sang istri.
Dengan lembut, pemuda itu mengusap puncak kepala Olivia.
“Istigfar, Liv. Istighfar,” seru Alzam.
Olivia pun seketika menurut dan beristighfar berulang kali, hingga rasa sesak di dadanya terurai dan membuat nafasnya kembali lega.
__ADS_1
Nampak matanya terpejam seolah menahan sesuatu yang ingin keluar dari sana. Melihat hal itu, Alzam pun meraih helm bogo sang istri dan menyodorkan ke arah perempuan tersebut.
“Mau makan es krim nggak?” ajak Alzam.
Olivia menatap mata sang suami. Dia tahu, Alzam pasti marah dengan kata-kata mamahnya. Tapi pemuda itu terus berusaha tersenyum di depan Olivia, seolah menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, agar Olivia tak terus menyalahkan ibunya.
Dia pun mengangguk. Alzam memakaikan helm tersebut ke kepala Olivia, dan naik ke motornya.
“Ayo naik,” seru Alzam.
Oliv pun menurut. Mereka pun kemudian melaju, menuju ke sebuah mall di dekat kawasan tersebut.
Mereka menuju ke gerai es krim di dalam mall yang mereka tuju. Alzam memesan porsi besar untuk mereka berdua, dan meninggalkan Olivia yang duduk di kursi yang sudah mereka pilih.
Cukup lama menunggu hingga akhirnya Alzam kembali.
“Lama ya?” tanya Alzam.
“E'eh. Mana es krimnya?” tanya Olivia.
“Lagi dibikin. Tadi aku bingung milih rasanya. Semuanya enak sih,” ucap Alzam.
Olivia hanya tersenyum. Jelas sekali jika perempuan itu masih memikirkan kejadian tadi. Alzam pun lalu meraih tangan istrinya dan membuat Olivia menatap wajah sang suami.
“Lupain kejadian tadi,oke. Aku nggak mau kamu semakin jauh dari Mamah,” seru Alzam.
“Aku nggak janji, Mas. Tapi aku akan usahain,” sahut Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
mampir juga ke novel keren karya teman aku yuk, cekidot 👇