CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Merenung


__ADS_3

“Dari hasil tes, Anda tidak sedang hamil. Hanya saja, kondisi perut Anda yang kurang baik, sehingga menimbulkan gejala mual muntah. Saya sarankan untuk makan makanan yang lembut untuk beberapa hari, dan hindari makanan asam ataupun pedas, karena akan memicu keluarnya asam lambung berlebih. Makan sedikit demi sedikit, jangan langsung banyak, karena akan semakin memicu rasa mualnya,” seru sang dokter.


Olivia dan Alzam pun hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan, dan juga saran dari dokter tersebut.


Setelah selesai dan mendapatkan resep obat, Olivia dan Alzam kembali ke arah lobi di mana Ibu Aminah dan Mamah Ros menunggu.


“Bagaimana, Nak?” tanya Bu Aminah saat melihat kedatangan kedua calon pengantin itu.


“Kamu nggak hamil kan?” tanya Mamah Ros.


“Olivia nggak hamil. Dia cuma kena gangguan pencernaan aja,” sahut Alzam datar


“Benerkan yang Oliv kata. Oliv emang nggak hamil. Jadi, jangan tunda pernikahannya sampe tahun depan ya bu,” pinta Olivia.


Bu Aminah tersenyum dan mengusap surai coklat gelap Olivia.


“Baiklah. Dua minggu lagi kalian jadi menikah,” ucap bu Aminah.


Olivia pun memeluk wanita tua itu, dengan senyum yang begitu lebar dan terlihat bahagia.


Namun, ada suatu hal yang Bu Aminah pikirkan tentang kejadian hari ini. Pandangannya tertuju pada sang putra yang nampak tak acuh.


...☕☕☕☕☕...


Tanpa terasa, hari H tinggal seminggu lagi. Sesuai kesepakatan saat acara lamaran, pernikahan akan berlangsung di aula kampung tempat tinggal Alzam.


Kali ini, Tuan Abimana benar-benar mengikuti alur permainan Olivia. Karena gadis itu sudah memulai terlebih dahulu menjebak Alzam, hingga pemuda tersebut percaya bahwa dia sudah menodai Olivia, maka pengusaha itu pun tak merencanakan pesta pernikahan mewah untuk anaknya, meski dia adalah putri satu-satunya.


Apalagi, Alzam yang nampak menjaga harga dirinya, saat Tuan Abimana berkata akan membantu biaya pernikahannya, akan tetapi langsung ditolak oleh Alzam.


Akhirnya, jadilah kesepakatan bahwa pernikahan ini diserahkan seluruhnya kepada pihak pria, yang merasa sangat bertanggung jawab terhadap diri sang putri.


Saat ini, Alzam tengah duduk di salah satu kursi kayu yang berada di emperan rumahnya. Dia baru saja pulang kerja dan belum masuk rumah sama sekali.


Motornya pun masih ia biarkan terparkir di halaman, dan belum naik ke atas teras. Nampak wajah lelah tergambar jelas di sana. Dia mengangkat kepalanya, menyandarkan tengkuk pada bagian atas kursi.


Dia mendongak melihat hamparan bintang, yang tampak sangat banyak bertaburan di langit malam ini.


Beberapa kali terdengar helaan nafas berat keluar dari mulutnya, seolah tengah ada beban yang saat ini mengganggu pikirannya.


Di dalam rumah, Bu Aminah yang baru saja selesai menyiapkan jualan untuk besok pagi, bermaksud kembali ke kamar dan beristirahat. Akan tetapi, saat dia melihat jam yang menggantung di dinding, rupanya sudah menunjukkan hampir tengah malam. Akan tetapi dia belum melihat motor putranya masuk ke rumah.

__ADS_1


Wanita tua itu pun lalu berjalan keluar, dan saat membuka pintu, dia terkejut dengan sebuah motor matic yang sudah ada di halaman rumahnya.


Dia pun menoleh ke kiri, dan mendapati sang putra yang tengah duduk seorang diri di sana.


“Zam, kok nggak masuk? Pulang dari tadi?” tanya Bu Aminah.


Alzam yang saat itu sedang melamun pun seketika terkejut, dan menoleh ke arah sumber suara.


“Bu? Ibu belum tidur?” tanya Alzam.


“Belum. Alhamdulillah, tadi siang ada orang yang dateng ke kios, katanya mau pesen basreng ibu buat dibawa ke Jawa. Dia pesen lumayan banyak. Jadi ibu tadi sama adek-adekmu bungkusin sampe malem,” jawab Bu Aminah.


Wanita tua itu berjalan mendekat, dan duduk di kursi yang masih kosong, tepat di seberang Alzam yang terpisah oleh meja kayu bulat, yang salah satu kakinya sudah keropos dimakan rayap.


Terdengar helaan nafas dari arah Bu Aminah, seolah wanita tua itu tengah menghilangkan kepenatan yang seharian ini dilaluinya.


Dia lalu menoleh ke arah sang putra, yang kembali diam tanpa kata.


“Apa kamu lagi mikirin hari pernikahan mu, Zam?” tanya Bu Aminah.


Alzam hanya mengangguk, dengan wajah yang tertunduk. Helaan nafas berat terdengar jelas dari mulut pemuda, yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya itu.


Pemuda itu nampak manggut-manggut, meski wajahnya terlihat begitu masam. Alzam mengusap rambutnya ke belakang, hingga keningnya terbuka lebar.


Dia kembali menyandarkan punggungnya di kursi, dengan kedua tangan yang bertopang di pinggiran kursi tersebut.


“Apa aku bisa jadi imam yang baik untuk istriku nanti, Bu?” tanya Alzam.


“Apa kamu lagi meragukan diri sendiri?” tanya Bu Aminah.


Bukannya menjawab, Alzam kembali menghela nafas yang terasa semakin berat saja. Bu Aminah sampai mengerutkan keningnya sambil menunggu jawaban dari sang putra.


“Alzam cuma merasa, jarak di antara kami sangatlah jauh. Aku seperti apa dan dia seperti apa, Ibu tahu sendiri kan?” ucap Alzam galau.


Bu Aminah mengerti kegundahan yang saat ini sedang melanda hati putranya. Dia pun mengulurkan tangan dan meraih pundak Alzam, lalu menepuknya beberapa kali.


“Allah itu Maha Tahu, lagi Maha Adil. Dia tahu apa yang mampu dan tidak mampu dilakukan oleh masing-masing hamba-Nya. Jika Allah sudah menakdirkan kamu berjodoh dengan Oliv, maka jalanilah dengan yakin. Ingat, Nak. Derajat sosial itu hanya pandangan manusia saja. Tapi di mata Allah, kita semua adalah sama. Yang membedakan hanyalah derajat keimanan kita. Apa kamu paham?” ucap Bu Aminah.


Alzam masih nampak diam dan enggan berkomentar. Bu Aminah tahu jika keyakinan tak bisa se-instan itu bisa ditanamkan di diri manusia.


"Sebenarnya, ada yang ingin ibu tanyakan padamu sejak lama, Nak," ucap Bu Aminah.

__ADS_1


"Apa itu, Bu?" tanya Alzam.


"Kenapa kamu nggak tahu Oliv hamil atau tidak? Bukannya sebelum ke perias pengantin, kalian sudah melakukan pemeriksaan pranikah di puskesmas?" tanya Bu Aminah.


Alzam diam. Dia kembali membuang pandangan ke depan, seolah menghindari pertanyaan tadi.


"Apa kamu pura-pura nggak tahu, supaya bisa menunda pernikahan dengan Oliv?" cecar Bu Aminah.


Alzam masih diam. Sejujurnya, dia tahu jika saat ini ada hukum yang memperbolehkan menikahi gadis yang sudah hamil di luar nikah. Akan tetapi dia masih berpegang pada hukum yang tidak memperbolehkan menikahi wanita hamil, karena dia masih gamang dengan pernikahan ini.


Itulah sebabnya, Alzam mengambil kesempatan tersebut untuk menundanya. Akan tetapi, melihat keinginan Olivia yang sangat kuat, dia seakan tak mau membuatnya kecewa, dan akhirnya mengajaknya melakukan pemeriksaan ulang.


Bu Aminah tampak menghela nafas panjang, melihat sikap sang putra yang dari tadi terus saja diam.


“Sudah larut. Kau bisa masuk angin kalau kelamaan di sini. Nggak lucu kan kalau pengantinnya meriang pas hari H,” seru Bu Aminah.


Alzam pun tersenyum mendengar perkataan sang bunda tadi, meski senyum itu tak bertahan lama.


“Ibu masuk dulu. Kau juga masuklah. Sudah sholat isha?” tanya Bu Aminah.


“Alhamdulillah, sudah, Bu,” sahut Alzam.


“Jangan lupa wudhu sebelum tidur. Ibu masuk dulu ya,” ucap Bu Aminah.


Wanita itu pun bangun dari duduknya dan masuk kembali ke dalam rumah.


Setelah Bu Aminah masuk, Alzam pun bangun dan berjalan ke arah motornya. Dia menaikkan motor tersebut ke atas dan memasukkannya ke dalam rumah.


Meski pikirannya terus saja berputar memikirkan tentang pernikahan terpaksanya dengan Olivia, akan tetapi Alzam berusaha yakin akan apa yang dikatakan oleh sang ibu tadi.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2