CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Seorang pelanggan kedai


__ADS_3

Keesokan paginya seusai sarapan, Olivia kembali ke kamar untuk bersiap ikut sang suami pergi ke kedai seperti biasanya saat dia tak pergi kuliah.


Namun kali ini, dia begitu lama di dalam kamar dan membuat Alzam beberapa kali menengok ke arah pintu kamarnya.


Hingga akhirnya, pemuda tersebut pun mengetuk papan kayu itu untuk memanggil sang istri agar keluar.


“Liv, sudah belum? Kamu perlu bantuan nggak?” tanya Alzam.


“Nggak kok, Mas. Bentar lagi,” ucap Olivia.


Sementara di dalam sana, nampak perempuan itu telah mengenakan sesuatu yang baru dia beli kemarin sore, yang sengaja tak ia perlihatkan kepada suaminya dan terus disembunyikan di dalam tas punggungnya.


Dia nampak gugup untuk keluar. Berkali-kali dia melihat dirinya di cermin dan berkali-kali pula dia menghela nafas panjang untuk mengurangi gugupnya.


“Bismillah, Liv. Bismillah. Kamu bisa mulai sekarang. Bismillahirrahmanirrahim,” gumamnya pada diri sendiri.


Dia pun kemudian meraih tasnya dan berjalan ke arah pintu. Dengan mantap, dia membuka pintu tersebut dan rupanya sang suami masih berdiri di sana, karena khawatir Olivia yang sudah sangat lama tak kunjung membukakan pintunya.


“Mas, yuk berangkat,” ajak Olivia.


Alzam menolah dan terkejut melihat penampilan Olivia. Dia memperhatikan dari ujung atas hingga bawah, dan kembali lagi ke atas.


“Jelek yah?” tanya Olivia yang kembali lagi tak percaya diri.


Alzam menggeleng. Dia ingat bahwa Olivia sejak pulang dari rumah ibunya hingga semalam terus saja diam. Baru pagi ini perempuan itu kembali bersikap normal dan dia tak mau merusak suasana hati sang istri.


“Istri ku paling cantik kalo pake kerudung. Beneran deh,” puji Alzam.


“Jadi kalo nggak pake kerudung, nggak cantik yah?” tanya Olivia kecewa.


Alzam maju dan menangkup telinga Olivia sambil membetulkan letak jilbab yang terlihat sedikit miring.


“Bukan gitu, Sayang. Kamu itu perempuan paling cantik buat ku setelah Ibu. Tapi kalo pake kerudung, cantiknya nambah berlipat-lipat. Tapi kok keknya aku baru lihat yang ini. Beli kapan?” tanya Alzam.


“Kemarin pas pulang kondangan sama Nurul,” jawab Olivia.


“Oh...,” gumam Alzam.


“Bagus nggak, Mas?” tanya Olivia.


“Bagus. Pas banget buat nyante. Ini beneran mau pake ini ke kedai?” tanya Alzam.


“Iya, emang kenapa?” tanya Olivia.


“Nggak papa. Aku cuma tanya. Yuk berangkat,” ajak Alzam.

__ADS_1


Keduanya pun keluar dari rumah dan berboncengan menuju ke kedai milik Alzam. Sepanjang perjalanan, Olivia terus menghadap ke samping dan membuat pinggangnya sedikit sakit.


Dia belum tahu harus memakai legging agar tak perlu bonceng miring saat memakai gamis. Alzam yang merasa sang istri sedikit tak nyaman karena terus bergerak pun, akhirnya mampir ke sebuah toko pakaian.


“Lho, katanya mau ke kedai. Kok malah ke sini?” tanya Olivia.


“Kita beli sesuatu dulu yuk,” ajak Alzam.


Pemuda itu menggandeng tangan sang istri dan masuk ke dalam toko. Dia langsung menanyakan benda yang dia maksud kepada penjaga toko tersebut.


“Mau ukuran apa, Kak?” tanya penjaga toko tersebut.


“Ukuranmu L apa XL, Liv?” tanya Alzam.


“Aku? XL aja Mas, biar nggak terlalu ketat,” jawab Olivia.


Penjaga toko pun mengambilkan legging dengan ukuran XL berbagai warna dan ada pula yang bercorak.


“Coba kamu pilih yang mana buat dobelan,” seru Alzam.


Olivia pun memilih tiga buah, karena menurut penjaga toko, lima puluh ribu bisa dapet tiga potong. Tapi kalo beli satu, harganya dua puluh ribu.


“Yang ini aja, Mas,” sahut Olivia.


“Kamu pakai satu di dalem gih,” seru Alzam.


“Kok gitu?” tanya Olivia.


“Pake dulu aja. Aku tunggu di sini,” seru Alzam lagi.


Olivia pun menurut dan masuk ke kamar pas. Sementara Alzam tetap di kasir dan membayar belanjaannya.


Setelah selesai, Olivia segera keluar dan Alzam mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.


“Boncengnya kayak biasa aja. Kamu kan udah pake legging,” seru Alzam.


Oh... Jadi kamu beliin aku legging biar boncengnya nggak miring lagi ya? batin Olivia.


Perempuan itu tersenyum tipis melihat sang suami yang begitu perhatian. Bahkan dia tak mengeluh sakit pinggang karena bonceng miring pun, Alzam dengan cepat bertindak dan membelikannya legging agar Olivia bisa naik motor dengan nyaman.


Keduanya pun kembali melanjutkan perjalan hingga tiba di kedai.


Tak berbeda dengan reaksi Kanina, Zahra dan Bu Aminah tempo hari, kali ini semua pegawai kedai Alzam pun dibuat terbengong-bengong melihat perubahan pada diri Olivia.


Bukan karena penampilannya yang lebih tertutup, akan tetapi kecantikan dan keanggunan Olivia yang semakin terpancar setelah merubah cara berpenampilannya.

__ADS_1


“Wah... Hari ini Bu bos cantik banget yah?” bisik salah satu pegawai wanita di kedai Alzam.


“Iya. Semoga dia istiqomah yah. Kan lihatnya adem. Pas banget sama Pak bos yang super alim,” sahut Amy yang juga terpesona melihat penampilan Olivia hari ini.


Seperti biasa, Olivia tak mau ambil pusing dengan semua bisik-bisik dari orang di sekitarnya yang mengomentari dirinya, sehingga dia akan berpura-pura tak mendengar dan cenderung mengabaikan, sekalipun itu sebuah pujian.


Seharian sudah Olivia menemani sang suami di kedai. Meski tak banyak yang biasa ia lakukan, akan tetapi cukup bersama dalam satu tempat bersama sang suami, sudah membuat dia sangat senang.


Saat setelah sholat ashar, Olivia keluar dari kedai untuk menelepon Leon, karena malam ini mereka berencana mengajak pemuda itu untuk ikut kajian di Padepokan Pemuda Hijrah bersama dengan Alzam.


Olivia berjalan keluar dan pergi ke samping kedai yang lebih teduh, dan mulai menghubungi sang sahabat. Dia berdiri sambil membelakangi pintu kedai, karena silau dengan cahaya mentari yang semakin turun di arah barat sana.


“Jangan lupa entar malem ketemu gue sama laki gue di kedai ye. Gue tunggu. Awas kalo nggak dateng,” ancam Olivia.


“Emang mau apa sih? Malem minggu tuh waktunya klubing, dugem, ajeb-ajeb, nyari cewek, bukannya ketemu sama elu,” jawab Leon malas.


“Elu yang bilang sendiri kalo udah nggak n*fsu ama yang begituan kan? Mending nurut deh. Kali aja habis ini, lu bisa dapetin mobil sport gue,” sahut Olivia.


“Maksud lu?” tanya Leon bingung.


“Wah, dah pikun nih anak. Bomat lah. Pokoknya entar malem lu musti dateng. Titik,” seru Olivia.


Dia pun mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


“Lupa tuh orang kalo dia masih punya taruhan sama gue soal si Nurul. Ah udah lah. Bod* amat, yang penting tuh anak bisa insaf,” gumam Olivia.


Perempuan itu pun kemudian kembali masuk ke dalam kedai dan hendak melaporkan kepada sang suami, bahwa dia sudah menghubungi Leon dan memastikan sang sahabat akan datang.


Namun, baru saja satu langkah memasuki kedai, Olivia membeku melihat orang yang saat ini sedang berbicara dengan Alzam.


Mampus gue, batin Olivia.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


Sambil nunggu next bab, mari mampir ke novel kece temanku yuk 👇


__ADS_1


__ADS_2