
Keesokan harinya, mereka sudah bersiap untuk pergi berkunjung ke rumah keluarga Abimana, setelah sebelumnya Alzam membujuk Olivia agar mengunjungi kedua orang tua perempuan ini.
“Kita ke rumah Ibu aja yah. Aku janji, minggu depan kita ke sana,” rengek Olivia.
“Oliv, kita udah sepakat kan? Apa kamu lupa sama yang aku katakan kemarin, hem?” tanya Alzam.
“Nggak lupa. Cuman...,” sahut Olivia.
“Liv, kalau terus ditunda-tunda, bakalan tambah berat lho. Lebih baik kita mulai hal baik sesegera mungkin,” sela Alzam.
“Iya deh, iya. Aku nurut kamu aja, Mas,” sahut Olivia pasrah.
Alzam dengan lembutnya mengusap puncak kepala sang istri. Dia tahu bahwa Olivia masih belum mau bertemu dengan sang ibu, karena perlakuan Mamah Ros padanya yang tidak bersahabat.
Dia hanya tak ingin sang istri semakin menjauh, dari orang yang telah melahirkan istrinya itu hanya karena dirinya.
Pemuda itu pun memakaikan helm bogonya ke kepala Olivia, dan naik ke atas motor. Dia meminta sang istri untuk segera naik dan keduanya pun melaju menuju ke rumah keluarga Abimana.
Di jalan, dia merasakan sang istri yang terus saja diam. Tak biasanya Olivia seperti ini. Jika hari-hari sebelumnya, saat Alzam mengantarkan sang istri ke kampus, sepanjang jalan Olivia akan terus mengoceh, mengajak Alzam untuk bercakap, membicarakan berbagai hal yang tak penting sekalipun.
Namun saat ini, perempuan itu seolah malas untuk membuka mulutnya. Alzam tahu penyebabnya, dan dia pun berusaha mencairkan suasana.
“Oh iya, gimana kalau kita mampir ke toko buah atau toko kueh buat beli oleh-oleh?” tanya Alzam.
“Kalau mau kasih oleh-oleh ke Mamah bukan pergi ke situ, Mas. Tapi ke butik, ke galeri perhiasan, toko sepatu, parfum, tas, pokonya yang menurut Mamah mewah. Kalo sekedar kue atau bunga, yang ada cuma diterima doang, habis itu dikasih ke pembantu. Di rumah nggak ada yang boleh makan kue, karena menurut Mamah, gula itu nggak baik dikonsumsi berlebih."
“Kadar gula dalam nasi yang dimakan sehari-hari aja udah cukup, jadi nggak usah ditambahin lagi. Gitu kata Mamah. Udah untung kalau dikasih ucapan basa basi terimakasih dari Mamah, apesnya itu kalau malah langsung disindir atau bahkan ditolak,” ucap Olivia panjang lebar.
Hal itu sontak membuat Alzam mengul*m bibir bawahnya, karena seperti dia sudah salah bicara. Suasana hati Olivia benar-benar beku, sebeku kutub utara.
Dari perkataannya saja, sudah terasa begitu dingin hingga membuat Alzam tak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya muncul satu ide yang mungkin bisa mencairkan suasana.
“Ah, gimana kalau sepulang dari rumah Mamah Papah, kita pergi ke supermarket. Kebetulan kan banyak yang udah habis di dapur. Gimana? Atau sekalian kita nonton mungkin?” ajak Alzam.
“Kamu ngajakin aku kencan?” tanya Olivia.
“Kencan?” gumam Alzam.
Dia bahkan tak mengerti maksud dari kata tersebut. Namun, dia sering mendengar pasangan yang datang ke kedainya, mengatakan bahwa mereka sedang berkencan saat itu.
Alzam pun mengasumsikan bahwa kata kencan berarti pergi berdua, menghabiskan waktu di luar berdua, makan di resto atau caffe berdua, nonton film berdua, pokoknya semua dilakukan berdua.
__ADS_1
“Ehm... bisa dibilang gitu sih. Gimana? Mau nggak?” tanya Alzam lagi.
“Mau,” sahut Olivia penuh semangat.
Akhirnya, Alzam berhasil merubah suasana suram di hati sang istri, menjadi kembali ceria dengan ajakan kencannya.
Benar saja, setelah itu, Olivia kembali cerewet dengan membuat daftar kegiatan kencan mereka nanti. Alzam hanya mendengarkan sambil sesekali menyahuti, karena dia pun harus fokus pada jalanan.
Bahkan perjalanan mereka pun tak terasa sudah hampir sampai di kediaman keluarga Abimana, karena mendengar ocehan dari sang istri. Saat memasuki pelataran, Olivia kembali bungkam.
Alzam pun kembali merasakan aura dingin dari arah belakangnya. Dia mematikan mesin motornya, dan meminta sang istri untuk turun terlebih dulu.
Dengan malas, Olivia melepaskan helm dari kepalanya dan menyerahkan kepada sang suami.
Alzam pun sudah melepaskan miliknya, dan berdiri di samping Olivia.
“Ayo masuk,” ajak Alzam.
Dia merangkul pundak sang istri dan menuntunnya melangkah ke arah teras rumah yang begitu besar. Alzam mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucapkan salam, hingga akhirnya pintu terbuka.
“Waalaikumsalam, eh... Mas Al, Neng Oliv. Ya ampun, udah lama banget nggak kesini. Ayo masuk, masuk!” seru Bi Ijah, sang ART yang mengagumi sosok Alzam.
Keduanya pun masuk ke dalam. Baru saja sampai di perbatasan ruang tamu dan tengah, mereka dikejutkan dengan suara sinis dari arah tangga.
Olivia mengepalkan tangannya mendengar hinaan yang terlontar dari sang ibu atas diri sang suami.
Namun, Alzam menggenggam tangan Olivia, seolah ingin meredam emosi perempuan itu.
Olivia pun hanya bisa mencoba sabar, meski jelas wajahnya menyiratkan kekesalan yang teramat atas semua ucapan sang bunda. Dia pun menghela nafas berat sebelum membalas perkataan Mamah Ros.
“Kalau Mamah tau diri sedikit, mungkin kita nggak kesulitan cari buah tangan buat Mamah. Kalau pun kita bawa sesuatu, pasti yang ada tetap dihina juga kan? Jadi, buat apa keluar modal kalau ujung-ujungnya tetap dipandang rendah,” jawab Olivia ketus.
“Oliv! Kamu tuh ya. Baru juga pulang ke rumah, udah berani ngelawan Mamah aja. Inget baik-baik. Kalau bukan karena Mamah yang lahirin kamu, kamu nggak bakal ada di dunia ini,” ucap Mamah Ros yang ikut kesal melihat sikap Olivia.
“Oh ya? Kalau gitu, Oliv mau ucapin makasih buat Mamah, karena udah ngelahirin aku tapi nggak bisa ngedidik aku, makasih buat Mamah yang jangankan menimang aku, tapi malah nyerahin aku sama babysitter. Kasih sayang Mamah luar biasa sekali yah,” sindir Olivia.
“Anak ini, makin ku...,” sahut Mamah Ros geram.
“Udah lah, Mah. Anak baru aja dateng malah diajakin berantem. Lagian yang dibilang Oliv emang bener kok," sela Papah Abi.
Pria paruh baya bertubuh tambun itu terlihat baru saja menuruni tangga dan menghampiri sang istri yang nampak kesal, karena lagi-lagi suaminya ikut melawan dirinya.
__ADS_1
"Oliv, Alzam, kalian sebaiknya ke kamar dulu. Kalian pasti capek kan. Istirahat dulu aja,” seru Papah Abi.
“Kita cuma mampir aja kok, Pah. Kita nggak lama. Kebetulan hari ini, Mas Al ngajakin aku buat kencan. Tapi, dia inget kalau udah lama kita nggak dateng kesini, jadi kita mampir buat jenguk Papah sama Mamah dulu,” ucap Olivia.
Alzam pun sampai menoleh mendengar perkataan sang istri, karena rencana awal mereka akan di tempat ini sampai sore. Akan tetapi, sambutan dari Mamah Ros sudah pasti membuat Olivia semakin tak betah berlama-lama tempat tersebut.
Dia pun mendekat ke arah tangga, di mana ayah dan ibunya berada. Meski kesal, namun Olivia tetap menyalami kedua orang tersebut, begitu pun Alzam. Meski perlakuan Mamah Ros selalu buruk padanya, akan tetapi dia berusaha untuk sabar dan bersikap sopan.
Saat Alzam hendak menyalami ibu mertuanya, Mamah Ros cepat-cepat menarik tangannya dari Alzam, dan mengibaskannya. Wanita itu sejak awal memang malas bersinggungan dengan menantu miskinnya tersebut.
Olivia lagi-lagi dibuat kesal oleh tingkah mamahnya, hingga dia yang sudah mendekat ke arah wanita itu setelah menyalami ayahnya, urung untuk menyalami orang yang sudah melahirkannya tersebut. Rasanya, dia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
“Udah kan, Mas? Kita pergi sekarang yuk,” ajak Olivia.
Namun, Mamah Ros yang tidak disalami oleh Olivia, kembali mengatakan sesuatu yang membuat perempuan itu kesal.
“Ini hasil didikan suami hebat kamu? Sama Papah salim, sama Mamah nggak,” ucap Mamah Ros.
Mendengar itu, Olivia kembali semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat karena telinganya terasa panas, terus mendengar hinaan dari mulut ibunya sendiri.
“Liv,” panggil Alzam lirih.
Pemuda itu khawatir Olivia akan meledak lagi dan semakin memperkeruh hubungannya dengan sang mamah.
Olivia menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali menatap ibunya.
“Maaf, Oliv lupa,” ucap Olivia datar.
Dia pun mendekat ke arah sang bunda. Namun, belum juga dia mencium punggung tangan Mamah Ros, wanita itu lebih dulu menarik tangan Olivia dan memperhatikannya dari dekat, seolah tahu apa yang terjadi dengan kedua tangan itu.
Dia pun kemudian beralih menatap tajam ke arah Alzam dengan tatapan nyalang.
“Apa yang udah kamu lakuin sama anak saya?” tanyanya penuh emosi.
.
.
.
.
__ADS_1
Bestie, sambil nunggu up next bab, aku mau ajakin mampir ke novel temen aku nih 😁cek di bawah 👇