
“Keluar! Keluar lu, brengs*k! Gue tau lu di dalem sama Oliv. Keluar!” teriak Leon.
Mendengar nama sang istri disebut, Alzam pun kaget dan menoleh ke mobil yang ada di depannya. Dia pun segera ikut menggedor pintu mobil tersebut dengan keras.
Melihat mobil tak kunjung di buka, Leon melihat ke kanan dan kiri, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memaksa Nathan keluar dari mobil.
Karena keributan yang terjadi, orang-orang pun mulai berkerumun dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Leon dan juga Alzam.
Leon berhasil menemukan bongkahan batu hebel yang cukup besar, dan mengambilnya.
“Kalau lu nggak mau keluar baik-baik, gue terpaksa pake cara kasar,” ucap Leon.
Namun, Nathan tetap tak mau keluar. Dia pun langsung memukulkan batu itu keras-keras hingga kaca langsung pecah meski tak begitu saja berlubang.
Dia memukul beberapa kali, hingga pintu terbuka dan Nathan pun keluar.
“Mau apa kalian, hah? Gangguin orang aja,” ucap Nathan.
Leon dan Alzam terkejut melihat Nathan yang begitu berantakan. Kemejanya tak dikancing dengan benar seolah tergesa-gesa melakukannya. Ikat pinggangnya juga tampak sedikit longgar dengan rambut yang acak-acakan, serta berkeringat.
Yang lebih miris, di dalam sana, nampak seorang perempuan yang meringkuk dengan pakaian yang sudah sangat tak layak. Beberapa bagiannya robek dan ada yang bahkan sampai terlepas dari bajunya.
Rambutnya berantakan, dan kerudung pun terlihat tergeletak di lantai mobil. Perempuan itu nampak ketakutan dengan tubuh yang gemetar.
Alzam dan Leon seketika meradang.
“BRENGS*K!” maki Leon.
Seketika, sebuah tinju pun melayang ke arah Nathan. Namun pria itu berhasil menangkapnya dengan senyum mengejek ke arah Leon. Akan tetapi, senyum itu tak bertahan lama karena Alzam pun maju dan melayangkan tinju ke arah wajah pria brengs*k itu
Nathan tersungkur, namun Alzam tetap mengejarnya. Dia memukuli Nathan membabi buta. Semua mahasiswa nampak merekam adegan itu tanpa mau menolong siapapun.
Melihat Alzam mengurus Nathan, Leon pun melepas kemeja luarnya dan masuk ke dalam mobil. Dia mencoba melihat kondisi Olivia yang sangat memprihatinkan itu.
“Liv, lu nggak papa?” tanya Leon pelan.
__ADS_1
Namun, Olivia yang ketakutan terus beringsut menjauh. Melihat kondisi ini, dia kembali teringat akan kejadian beberapa tahun lalu, saat Olivia pun mendapatkan perlakuan tak baik dari Nathan.
Dia pun hanya mampu menutupi tubuh sang sahabat yang terbuka dengan kemejanya. Dia juga mengambil kerudung yang terlepas dan menyampirkannya di kepala Olivia, untuk menutupi kepala perempuan itu.
Dia lalu keluar dan melihat Nathan yang sudah babak belur dihajar habis-habisan oleh Alzam. Pemuda itu begitu mengerikan. Leon tau Alzam pasti marah. Tapi satu kata umpatan pun tak keluar dari mulutnya, dan hanya pukulan bertubi-tubi yang diberikan.
Karena kerumunan itu, petugas keamanan kampus pun akhirnya datang dan melerai perkelahian itu. Semua orang dibubarkan dan Nathan yang telah babak belur dan hampir pingsan di bawa ke klinik kampus untuk diobati.
Tadinya, Alzma tak mau melepaskan Nathan, tapi Leon membujuknya dan akhirnya Alzam pun tak mengejarnya.
“Bang, mending lu lihat kondisi Oliv. Dia pasti ketakutan banget. Biar Nathan gue yang urus,” ucap Leon.
Mendengar nama sang istri, Alzam pun segera berbalik dan masuk ke dalam mobil yang kacanya telah pecah itu.
Dia melihat sang istri masih meringkuk dengan tubuh yang gemetar. Alzam mendekat masuk, namun Olivia kembali meringsut menjauh meski dirinya telah terpojok dan tak bisa menghindar.
Melihat hal itu, hati Alzam begitu sakit. Tanpa terasa air mata pun netes. Dia mengusap kepala Olivia, namun perempuan itu menghindar.
“Liv, ini aku, suamimu. Alzam,” ucap Alzam dengan suara lembur.
“Mas... Mas Al...,” panggil Oliv dengan suara bergetar.
Melihat itu, Alzam tak kuasa menahan diri. Dia pun segera meraih tubuh sang istri dan memeluknya dengan erat. Olivia pun tak bisa lagi menahan tangisnya. Dia ketakutan dan mengira tak ada yang akan datang menolongnya.
“Maafin aku udah datang terlambat. Maafin aku yah,” ucap Alzam.
Olivia menggeleng. Saat ini, dia tak bisa bicara apapun. Dia hanya bisa menangis mengingat kejadian buruk yang baru saja ia lewati.
Lama Olivia menangis hingga akhirnya kelelahan dan tertidur di pelukan Alzam. Syoknya membuat perempuan itu mengalami goncangan batin hingga dia lelah secara fisik dan juga mental. Bahkan saat dia dipindahkan ke dalam mobil Leon pun, dia tak terbangun sama sekali. Mirip orang yang sedang pingsan.
Leon meminta seseorang untuk mengawasi Nathan, sementara dirinya mengantarkan Olivia ke rumah sakit, atas permintaan Alzam.
Pemuda itu khawatir dengan kondisi sang istri dan janinnya, mengingat perempuan itu baru saja mengalami tindak kekerasan.
Dengan bantuan Leon, Olivia bisa segera mendapatkan penanganan dan menjaga privasinya. Leon bahkan meminta dokter melakukan visum, untuk memastikan bahwa sahabatnya itu belum sempat diperkosa oleh Nathan.
__ADS_1
Meski awalnya Alzam menolak karena takut dengan kenyataan buruk yang mungkin saja terjadi, namun Leon terus membujuknya agar dia mau menyetujui prosedur tersebut.
“Gue yakin saat ini lu ragu, Bang. Tapi lebih baik lu tahu, dari pada lu milih nggak tau tapi terus menerka-nerka, dan akhirnya lu nggak akan pernah percaya sama istri lu. Lakuin visum itu, dan pastikan Oliv baik-baik aja. Lu bukan orang munafik kan, Bang?” bujuk Leon.
Mendengar argumen pemuda itu, Alzam pun akhirnya mau menandatangani persetujuan prosedur visum tersebut.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan fisik, kondisi janin dan juga visum, Olivia kini dipindahkan ke dalam kamar rawat untuk pemulihan.
Leon pamit karena harus mengurus masalah Nathan, dan menyerahkan Olivia kepada suaminya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk sang sahabat, karena sat ini keberadaan Alzam lebih dibutuhkan oleh perempuan itu.
Dalam kamar rawat tersebut, Alzam selalu duduk di samping Olivia. Tangannya menggenggam tangan pucat yang terpasang selang infus itu dengan erat.
Dia menatap wajah pucat itu dengan tatapan getir. Lebam terlihat jelas di beberapa bagian wajahnya. Bibirnya pun robek akibat gigitan Nathan yang memaksa mencium Olivia. Bahkan pergelangan tangannya pun membiru akibat dicengkeram dengan kuat oleh pria bajingan itu.
Jika mengingat bagaimana ketakutannya Olivia saat itu, rasa bersalah yang teramat seketika muncul di hati Alzam, karena tak bisa melindungi sang istri dengan baik hingga Olivia mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang lain.
Dia tak menyangka jika Nathan akan setega itu berbuat jahat kepada Olivia, hanya untuk mendapatkan perempuan itu kembali.
Tatapan matanya kembali di penuhi dengan amarah, saat mengingat kembali apa yang terjadi pada Olivia. Hingga tanpa ia sadari, genggaman tangannya pada sang istri semakin kuat, dan secara tak langsung menyakiti Olivia.
“Eeeehhhmmmm...,”
Suara erangan lirih keluar dari mulut perempuan yang masih menutup matanya itu. Mendengar suara tersebut, membuat Alzam tersadar bahwa dirinya telah menyakiti tangan sang istri dan mengganggu istirahatnya. Dia pun melihat kondisi Olivia yang nampak akan segera sadar.
“Oliv, sayang. Kamu udah sadar?” tanya Alzam.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁