
Gadis itu pun lalu berjalan kembali ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Dia melewati begitu saja Nathan, yang berdiri di dekat pintu belakang, dan segera dihampiri oleh Mamah Ros.
“Ehm, Nathan, kenapa berdiri di sini? Maaf ya, sepertinya Oliv mau pergi keluar. Jadi, dia nggak bisa nemenin kamu. Maaf banget ya, Tante nggak tau,” ucap Mamah Ros.
“Nggak papa kok, Tante. Bisa main ke sini lagi aja udah seneng banget,” sahut Nathan.
Mamah Ros lalu mengajak Nathan untuk kembali duduk di ruang tamu. Pemuda itu merasakan penolakan keras dari Olivia. Dia sadar jika perbuatannya di masa lalu, pasti membuat Olivia membenci dirinya. Akan tetapi, saat mendengar Olivia akan menikah, hatinya merasa tak rela dan membuatnya bergegas pulang.
Namun sayang, dia terlambat karena saat dia sampai di sini, Olivia telah resmi menjadi istri orang. Saat bertemu Mamah Ros dan mendengar bahwa Olivia masih mengingat Nathan, dia seolah mendapatkan angin segar, dan kembali bersemangat untuk mengejar Olivia lagi meskipun dia sudah bersuami.
Beberapa saat kemudian, Olivia kembali turun dengan telah membawa tas dan juga binder map di tangannya.
Dia berjalan ke arah pintu depan, di mana masih ada Nathan dan juga sang bunda di sana.
“Oliv, kamu nggak mau duduk bentar di sini nemenin Nathan?” tanya Mamah Ros lagi.
“Udah Oliv bilang, Oliv masih ada urusan, Mah,” sahut Olivia.
“Biar aku aja yang antar yah,” tawar Nathan.
Olivia menoleh dan memandang tajam ke arah pemuda tersebut. Tepat saat itu, terdengar bunyi ketukan di pintu.
“Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri,” sahut Olivia.
Gadis itu pun lalu kembali berjalan ke arah pintu. Nathan mencoba mengikuti Olivia, dan saat pintu terbuka, nampak Leon telah berdiri di depan pintu.
“Hai... Liv... Elu?” ucap Leon terbata.
Dia terkejut melihat kehadiran Nathan yang berdiri tepat di belakang Olivia.
“Liv, Ngapain cowok itu ada di sini?” tanya Leon.
“Nggak penting! Yuk ah jalan, udah siang,” sahut Olivia.
Gadis itu pun melangkah keluar dan tak menghiraukan Nathan yang terus memanggilnya, dan rasa penasaran Leon melihat mantan pacar sahabatnya itu.
...☕☕☕☕☕...
Di sepanjang perjalanan, Olivia yang menumpang mobil Leon, terus saja diam seribu bahasa. Dia sama sekali tak mengoceh apapun, seperti yang biasa dia lakukan saat bersama sahabatnya itu.
Leon pun merasa, sikap Olivia ini ada kaitannya dengan kemunculan Nathan, yang tiba-tiba ada di rumah Olivia.
“Lu baik-baik aja kan, Liv?” tanya Leon.
__ADS_1
Pemuda tersebut khawatir dengan kondisi kejiwaan Olivia saat ini, mengingat kejadian masa lalu yang melibatkan Nathan, yang sudah pasti kembali berputar di benak Olivia.
“Mana ada gue baik-baik aja habis ketemu sama orang itu,” jawab Olivia datar.
Wajah tanpa ekspresi seperti itu, cukup membuat seorang Leon mengerti, bagaimana perasaan Olivia saat ini. Gadis yang selalu seenaknya dan selalu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba diam dan berwajah muram.
“Mau gue anter ke tempat suami lu aja?” tanya Leon.
“Nggak usah. Gue nggak mau Mas Al tahu masalah ini. Bisa-bisa, dia minta gue buat cerita masa lalu gue,” tolak Olivia.
“Terus, kita mau kemana?” tanya Leon
“Ya ngerjain tugas lapangan lah, beg*. Bukannya kita keluar karena ada tugas lapangan,” sahut Olivia.
“Eh, kampr*t! Gue tuh kawatir sama elu. Malah dibilang beg* lagi,” timpal Leon kesal.
“Kawatir sih kawatir. Tapi nggak usah jadi beg* juga dong. Parah lu, Yon,” sahut Olivia.
“Ya habisnya lu diem-diem bae dari tadi. Gue kira lu nggak siap buat ngerjain tugas lapangan sekarang, makanya gue nawarin lu buat kemana dulu biar hati lu tenang,” jelas Leon.
Tepat saat itu, mereka melewati sebuah minimarket, dan Olivia meminta berhenti di sana.
“Makan es krim dulu aja yuk. Kali aja mood gue bisa balik,” punya Olivia.
Keduanya pun menuju ke minimarket tersebut. Olivia dan Leon keluar untuk membeli es krim. Mereka duduk-duduk terlebih dulu di kursi yang ada di emperan minimarket itu, dan menghabiskan eskrim masing-masing, barulah setelah itu keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
...☕☕☕☕☕...
Sore hari, Olivia yang baru saja selesai melakukan tugas lapangan, meminta Leon untuk mengantarkan ke rumah ibu mertuanya.
Dia masih malas untuk pulang ke rumahnya sendiri, dan menghadapi semua omelan Mamah Ros karena sikapnya tadi siang kepada Nathan.
Olivia bahkan sudah meminta ijin kepada Papah Abi, dan berkata kemungkinan malam ini akan menginap di rumah ibu mertuanya.
Alzam yang mendengar kabar dari adiknya bahwa Olivia akan menginap di rumah Bu Aminah, terkejut karena sangat mendadak.
Kenapa tiba-tiba dia mau menginap di rumah ibu? batin Alzam.
Dia pun kemudian menelepon ayah mertuanya, dan mendapatkan informasi bahwa Olivia sudah memberitahukan hal itu pada sang ayah.
Selepas sholat isha, Alzam pamit pada para anak buahnya untuk pulang lebih awal, dan menyerahkan kedai kepada mereka.
Di jalan pulang, Alzam melihat penjual martabak, yang berjualan ditepi jalan raya, dengan mobil pick up yang disulap menjadi gerobaknya.
__ADS_1
Pemuda tersebut pun berhenti dan bermaksud membeli camilan lezat itu. Akan tetapi, dia tak tahu apakah sang istri suka atau tidak. Dia juga tak tahu, mana yang akan Olivia pilih antara martabak manis dan asin.
Akhirnya, dia pun menelepon Olivia yang saat ini berada di rumah ibunya.
“Assalamu’alaikum,” salam Alzam.
“Waalaikumsalam. Kenapa, Mas? Kamu udah pulang belum? Aku lagi di rumah ibu lho ya. Ntar lupa lagi,” sahut Olivia panjang lebar.
“Bawel! Aku udah tau. Kamu suka manis apa asin?” tanya Alzam langsung.
“Aku sukanya kamu,” jawab Olivia terkekeh.
Alzam menepuk keningnya, mendengar jawaban sang istri yang aneh bin ajaib itu.
“Maksudku, kamu suka martabak manis apa asin?” tanya Alzam sekali lagi.
“Nah gitu dong nanyanya. Belum pernah makan martabak tuh. Coba aja bawain dua-duanya, biar aku cobain semua,” sahut Olivia.
“Ya udah. Kamu suka coklat kan? Nggak alergi telor bebek juga kan?” tanya Alzam.
“Nggak, Mas. Aku aman, nggak ada pantangan makan. Kamu tenang aja,” jawab Olivia.
“Ya udah, aku beliin dulu. Assalamu’alaikum,” ucap Alzam.
“Waalaikumsalam,” sahut Olivia.
Panggilan berakhir. Alzam pun memesan dua martabak manis dengan rasa pisang coklat dengan taburan wijen, serta satu martabak asin istimewa dengan empat butir telur.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan pun siap dan Alzam kembali mengendarai motor matic-nya ke rumah sang ibu.
Sesampainya di sana, Alzam yang baru saja memasuki halaman, dan bahkan belum mematikan mesin motornya, sudah disambut terlebih dulu oleh Olivia yang keluar rumah, saat mendengar suara mesin motor suaminya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1