
"Bi, jam berapa balik ke kosan?", tanya Jaka lewat telepon.
Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelah malam dan tidak ada tanda-tanda kepulangan Abimanyu ke kosan. Terakhir mereka bertemu setelah selesai ujian Statistika.
"Bentar lagi, Jak. Nanggung nih masih ngecek laptopnya Anika", jawab Jaka sambil menjepit ponselnya dengan bahu.
"Ck, itu kerjaan kan bisa dilanjut besok, Bi. Kosan sepi nih, anak-anak yang lain juga pada belum balik. Gak tahu tuh pada kemana", keluh Jaka yang memang agak penakut kalau sedang sendirian.
Terdengar Abimanyu tertawa kecil di ujung telepon, "Ah lagu lama, Lo. Tiap kali sendirian di kosan pasti mikirnya horor terus. Kalau Lo takut, sini datang ke bengkel".
"Ogah, gue males akut keluar jam segini. Gue mau tidur aja deh, semoga gak ada dedemit yang gangguin gue", celetuk Jaka.
Lagi, Abimanyu tertawa, "Gue yakin gak ada dedemit yang doyan sama Lo. Udah gih tidur, gue bentar lagi balik".
"Ok, pintu depan gak gue kunci ya. Nanti Lo aja yang kunci, bye".
"Ok".
Perbincangan singkat itu pun berakhir. Abimanyu melirik jam di ponselnya, sudah lewat sepuluh menit dari jam sebelas. Dia berencana kembali ke kosan dua puluh menit lagi.
"Ras, aku lapar nih", Anika menggoyangkan bahu Laras yang tertidur dengan nyenyak.
"Mmm...aku ngantuk, Nik", gumam Laras yang enggan membuka kedua matanya.
"Ck, mana bisa aku tidur kalau kelaparan begini", keluh Anika.
"Ya udah sih tinggal makan aja apa susahnya. Aku ngantuk", Laras memilih menarik selimutnya hingga menenggelamkan setengah kepalanya.
"Haahh...mau makan apa coba? mie habis, nasi habis. Ini sih aku harus keluar", gumam Anika sendiri. Diliriknya jam di dinding kamar, sudah hampir tengah malam.
Tapi rasa lapar yang mendera berhasil memaksa Anika untuk memberanikan diri pergi keluar mencari makanan. Anika mengambil sweater coklat kesayangannya, tak lupa ia kenakan kerudung warna senada dan akhirnya melangkah keluar dari kosan.
"Bismillah...aman ya aku keluar sendirian tengah malam begini", ucap Anika sebelum dia benar-benar keluar dari gerbang utama kosannya.
Suasana sekitar kosan Anika tampak sepi karena sebagian besar orang tentu sudah terlelap ke alam mimpi sedangkan Anika baru memulai gerilyanya mencari makanan. Dia mempercepat langkah kakinya sambil memasang tajam kedua mata dan telinganya, memastikan situasi sekitar aman terkendali.
Anika sudah sampai di jalan utama, dia melihat ke kiri dan ke kanan, memutuskan ke arah mana dia akan mencari makanan.
"Ah, sebaiknya aku ke sana saja", ucap Anika sendiri. Dia memilih ke arah kanan.
Kedua tangan Anika di lipatnya di depan dada untuk mengurangi udara malam yang dingin.
"Wah beruntung, Mas Cahyo masih jualan", bisik hati kecil Anika senang.
__ADS_1
Ya, Mas Cahyo adalah penjual nasi goreng langganan Anika. Nasi goreng Mas Cahyo terkenal enak dan murah di kalangan mahasiswa. Anika segera mempercepat langkahnya sampai sebuah suara menghentikan langkah kaki Anika.
"Anika", seru suara itu.
Anika berhenti dan menengok ke sekitar, dia tidak menemukan siapapun. Anika segera melangkahkan lagi kedua kakinya.
"Hei, Anika", suara itu memanggil lagi namanya dan lagi, Anika berhenti.
"Ih siapa sih orang iseng jam segini panggil-panggil nama aku segala", rutuk Anika yang juga tak melihat sosok yang memanggilnya.
Saat Anika hendak melangkah, tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Ya ampun, kamu", Anika bersuara dengan setengah berteriak karena terkejut.
"Maaf sudah membuatmu terkejut", ujar Abimanyu dengan cengiran khasnya.
"Tak apa".
"Kamu mau kemana malam- malam begini di luar?", tanya Abimanyu yang sudah penasaran sedari tadi.
"Aku lagi cari makan, kelaparan", jawab Anika sambil memegang perutnya yang sudah berdemo sejak tadi.
"Wah kebetulan aku juga lagi cari makan. Kalau kita cari makan bareng, gimana?", tawar Abimanyu.
Anika berpikir sejenak, "Ok, kalau makan ada teman bisa lebih seru", senyumnya mengembang.
"Malam, Mas. Aku mau nasi goreng kek biasa dong", ucap Anika sesaat setelah sampai di tenda Mas Cahyo.
"Sip. Tumben Mbak Anik datang jam segini, bawa pasangan lagi", celetuk Mas Cahyo sambil melirik Abimanyu yang berdiri di samping Anika. Wajah Anika memerah dibuatnya.
"Mas Cahyo apaan sih. Ini teman aku, kebetulan tadi kita ketemu di sana tuh", tunjuk Anika ke arah jalan.
"Ya kalau betulan pasangan juga gak apa-apa, Mbak Anik. Oh ya Mas mau pesan apa?", tanya Mas Cahyo bertanya kepada Abimanyu yang sedari tadi diam mendengar percakapannya dengan Anika.
"Nasi goreng spesial ati ampela, ada gak Mas?", tanya Abimanyu.
"Oh tentu ada dong, Mas. Di sini semua jenis dan toping nasi goreng lengkap. Mas baru pertama datang ke sini ya?", tanya Mas Cahyo lagi sambil memulai aksinya memasak nasi goreng.
"Iya, Mas", jawab Abimanyu pendek.
"Ok kalau gitu saya buatkan nasi goreng lezat biar Mas nanti mampir ke sini lagi", ujar Mas Cahyo ramah.
Abimanyu mengangguk kecil.
__ADS_1
"Abi, sini", teriak Anika yang ternyata sudah duduk manis di sebuah bangku yang ada di pojok tenda. Abimanyu mengangguk cepat.
"Beruntung sekali Mas ini bisa dekat sama Mbak Anika. Susah loh buat dapat hatinya Mbak Anika", seloroh Mas Cahyo saat Abimanyu hendak melangkah ke bangku di mana Anika berada.
Abimanyu tersenyum kikuk. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh Mas, saya belum kenalan nih, nama Mas siapa?", tanya Mas Cahyo.
"Abimanyu, Mas. Saya ke sana dulu ya, Mas", jawab Abimanyu sembari pamit.
"Ok Mas Abi, monggo", jawab Mas Cahyo ramah. Kedua tangannya masih menari dengan lincah di atas wajan yang panas.
"Akrab sekali kamu sama Mas Cahyo", ucap Anika setelah menyeruput teh panas yang baru saja diantarkan pegawai Mas Cahyo.
Abimanyu tersenyum tipis, "Iya, Mas Cahyo asyik juga orangnya. Adaptable banget", jawab Abimanyu yang juga ikut menyeruput teh panas di depannya.
"Iya, Mas Cahyo memang begitu orangnya. Makanya aku betah jajan di sini, selain karena makanannya enak-enak juga yang punya ramah sama pelanggan".
Abimanyu mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti kenapa sambutan Mas Cahyo kepada Anika begitu hangat.
"Oh ya Bi, kamu kenapa keluyuran juga malam-malam? kelaparan jugakah?", tanya Anika.
"Enggak, aku baru selesai dari bengkel dan karena sedari siang belum makan, jadi jajan jam segini", terang Abimanyu.
"Hooo bengkel, ya. Benerin motor?", tanya Anika lagi.
Abimanyu tertawa kecil melihat kepolosan Anika.
"Bengkel gak selalu berkaitan sama kendaraan bermotor, Nik. Aku dari bengkel service alat elektronik. Tadi habis ngecek laptop kamu", terang Abimanyu lagi.
Anika nyengir, "Hooo gitu. Habis selama ini aku hanya tahu ya bengkel itu buat service motor, Bi. Maafin ya kamu jadi lembur buat service laptop aku, padahal aku lagi gak buru-buru kok mau pakai laptop itu", Anika merasa bersalah.
"Santai aja, Nik. Aku udah biasa kok lembur kek gini. Lagi pula itu kan memang kerjaan aku. Alla be fine", respon Abimanyu santai.
"Matur punten nih Mas Abi dan Mbak Anika, ini nasi gorengnya, monggo", Mas Cahyo datang menyajikan dua piring nasi goreng yang nampak mengepul, panas.
"Matur nuwun sanget yooo Mas Cahyo", jawab Anika tersenyum manis.
"Terimakasih, Mas", timpal Abimanyu.
"Iya. Selamat menikmati", kata Mas Cahyo lagi sambil berlalu.
"Coba deh, Bi nasi gorengnya. Dijamin jatuh cinta", ujar Anika yang sudah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
__ADS_1
Abimanyu segera mencoba nasi goreng itu, "Wah benar, Nik. Ini enak banget. Mas Cahyo jago juga ya", puji Abimanyu tulus dengan mahakarya Mas Cahyo itu.
Anika tersenyum mendengar pujian Abimanyu. Mereka berdua menikmati nasi goreng itu sambil bercengkrama dengan akrab. Tak jauh dari mereka, Mas Cahyo dan pegawainya tersenyum menyaksikan kebersamaannya kedua pelanggannya itu.