CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Rentetan pertanyaan


__ADS_3

“Assalamu’alaikum, perkenalkan nama ku Olivia. Aku mau nanya sama Umi tentang kelima hal tadi. Yang pertama soal memilih pasangan hidup. Kita dianjurkan untuk mencari pasangan berdasarkan keimanannnya kan? Tapi gimana kalo udah terlanjur dan memilih suami dari hal good looking?"


“Ke-dua, menurut Umi, jika ada sebuah rahasia kelam di masa lalu dari kita, apa kita juga perlu jujur padanya? Gimana kalau pasangan kita justru jadi benci atau bahkan jijik sama kita?"


“Ke-tiga, apa ada patokan untuk hal-hal yang bisa ditolerir dalam menghadapi sikap atau sifat suami yang muncul setelah terjadinya pernikahan? Apa kita harus tetap terima begitu saja semua keanehan yang ada di diri sang suami dan menyabarinya? Bagaimana kalau ternyata itu hal yang menyimpang dari norma? Bagaimana kalau perilaku itu tidak sesuai syariat agama?"


“Ke-empat, bagaimana jika selama kehidupan berumah tangga, suami tidak pernah meminta berhubungan badan? Apakah dalam hal ini si istri boleh berinisiatif?”


“Yang terakhir, bagaimana kalau seorang istri memiliki posisi lebih tinggi dari sang suami dalam hal pendapatan ekonomi. Meski dia tak berniat sedikitpun merendahkannya, akan tetapi ego seorang laki-laki sangatlah tinggi. Mereka akan merasa direndahkan hanya karena sebuah permintaan tolong yang sederhana. Lalu, bagaimana kita harus menghadapi hal tersebut? Mohon penjelasannya,” tanya Olivia sekaligus.


Semua orang melongo mendengar pertanyaan gadis itu yang seolah menyerang sang ustadzah. Semua pun mulai berbisik-bisik tentang sosok Olivia yang setiap kehadirannya selalu saja bertanya banyak pertanyaan. Mereka bertanya-tanya seawam apa sih gadis itu?


Mengingat dia adalah istri seorang pemuda yang terlihat cukup taat, akan tetapi kenapa justru mendapatkan istri yang bahkan jilbab saja tidak dipakai dengan benar.


Umi Afifah pun sedikit memicingkan mata saat melihat Olivia yang duduk diantara para jamaah. Gadis itu hanya memakai kemeja lengan panjang seperti biasa dan juga celana jeans, serta jilbab segi empat yang hanya disampirkan di kepala, dengan kedua ujung menyilang di pundak.


Sangat kontras dengan jamaah lainnya yang memakai gamis panjang, dengan jilbab besar serta ada juga yang bahkan memakai cadar. Namun, kedua alis yang tadi sempat mengerut, kini perlahan mulai kembali lurus.


Sebuah senyum tipis muncul dengan tatapan lurus ke arah Olivia. Kemudian, sang ulama pun kembali menatap semua hadirin.


“Pertanyaannya cukup banyak yah. Tapi hal ini menunjukkan bahwa saudari kita... Ehm...,” ucap Umi Afiyah terputus.


“Olivia, Umi,” sahut Olivia saat melihat sang ustadzah seperti lupa dengan namanya.


“Ah, terimakasih. Hal ini menunjukkan bahwa Akhwat Olivia ini benar-benar menyimak materi yang telah disampaikan. Tujuan kita mengaji adalah mencari ilmu. Membuat yang belum tahu menjadi tahu, membuat yang samar menjadi jelas. Sehingga, jika memang masih ada keraguan, sebaiknya segera ditanyakan. Baiklah, saya akan coba jawab satu persatu,” ucap Umi Afiyah.


Ulama itu tau bahwa jamaah sedang membicarakan Olivia, sehingga dia mengatakan hal seperti tadi. Dia tak mau orang seperti Olivia, yang sedang berusaha hijrah, menjadi malas untuk kembali mengaji hanya karena gunjingan atau cemoohan dari rekan satu pengajiannya.


Dia justru ingin merangkul orang-orang seperti Olivia, agar mau ikut mengaji dan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya, sehingga hidup mereka pun menjadi terarah.

__ADS_1


Umi Afiyah mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari Olivia, dengan bahasa yang mudah dipahami.


“Pertanyaan pertama, bagaimana kalau sudah terlanjur memilih pasangan dan yang dipilih adalah karena good looking? Benar begitu?” tanya Umi Afiyah memastikan.


“Benar, Umi,” sahut Olivia.


“Manusiawi jika kita melihat paras terlebih dulu saat memilih pasangan, akan tetapi bukankah banyak paras cantik dengan iman yang baik pula. Lalu, bagaimana kalau tidak? Ini mengacu pada poin ketiga, yatitu sabar. Karena bagaimanapun juga, dia sudah menjadi suami kita, maka kita harus menerimanya luar dan dalam."


“Laki-laki memang pemimpin dari perempuan, akan tetapi jika suami kita lebih lemah agamanya dari kita, sudah tugas kita untuk mengajaknya kembali mendekat kepada Allah, tentu dengan cara yang baik, sesuai dengan poin ke lima. Bukankah impian kita masuk syurga bersama-sama."


“Saya tanya dulu, apakah itu sudah bisa menjawab pertanyaan pertama anti, Akhwat Olivia?” tanya Umi Afiyah.


“Masih saya simak, Umi. Karena kelima pertanyaan ini saling berkaitan, jadi kalau semua terjawab, baru saya bisa simpulin,” jawab Olivia.


Gadis itu tak memegangi catatan atau benda apapun yang membantunya mengingat apa yang telah disampaikan pemateri seperti yang dilakukan kebanyakan jamaah, tapi otaknya seolah bisa merekam dengan baik semua yang disampaikan oleh sang ulama.


Mendengar tanggapan dari Olivia, Umi Afiyah pun kembali melanjutkan menjawab.


“Namun, jika kamu khawatir suami mu tahu akan hal itu, lebih baik jujur dari sekarang. Marah serta emosi adalah sifat manusiawi. Bersabarlah dan doakan agar suamimu bisa kembali menerimamu seperti sediakala. Karena bagaimanapun juga, masa lalu adalah bagian dari diri kita yang tercetak di ingatan masyarakat."


“Pertanyaan ke-tiga, seberapa keanehan yang bisa ditolerir atas sikap suami yang tiba-tiba muncul setelah pernikahan. Tadi yang disebut Akhwat Olivia adalah penyimpangan dan tidak sesuai syariat. Maaf, apa penyimpangan yang dimaksud adalah orientasi s*ksual?” tanya Umi Afiyah.


“Ya, semacam itu. Kan ada ya contohnya. Ternyata si suami suka sama sesama jenis tapi dia nikah cuma buat nutupin hal itu. Atau yang suka berfantasi main sama beberapa pasangan, terus si istri dikeroyok sama banyak cowok,” jelas Olivia.


Sontak semua jamaah yang hadir, beristighfar serentak, saat mendengar apa yang disampaikan oleh Olivia.


“Astaghfirullah hal adzim. Jika sudah sampai seperti itu, lebih baik ajak suami ke ulama atau ke dokter jiwa. Itu penyakit, Nak. Apa suamimu seperti itu?” tanya Umi Afiyah.


“Eh.... Nggak kok, Umi. Mas Al orangnya baik banget. Dia juga taat. Malah aku yang diajak Mas Al buat ngaji, cari ilmu biar nggak b*doh lagi. Pertanyaanku cuma berdasarkan fenomena yang ada di masyarakat saat ini aja kok,” sanggah Olivia.

__ADS_1


Di matanya, Alzam adalah sosok suami yang baik, penyabar, taat dan semakin romantis dengannya. Justru semua pertanyaan sebenarnya berdasarkan dari dirinya sendiri.


“Alhamdulillah, kalau seperti itu. Umi kaget tadi dengernya. Saya kita itu suamimu,” sahut Umi Afiyah.


Umi Fifit yang duduk di deretan depan, memberitahukan siapa suami Olivia sebenarnya kepada sang ulama.


“Benarkah? Jadi, Akhwat Olivia ini istrinya Alzam?” tanya Umi Afiyah mengkonfirmasi pada Olivia.


“Benar, Umi,” jawab Olivia santai.


“Pengantin baru juga ya kalau begitu. Baiklah, Umi akan lanjutkan menjawab,” ucap Umi Afiyah.


Sang ulama wanita pun kembali melanjutkan menjawab semua pertanyaan dari olivia, dengan penjelasan yang segamblang mungkin, agar gadis itu mudah menangkap isinya.


Bukan Olivia namanya kalau hanya cukup bertanya sekali. Dia akan bertanya lagi sampai rasa penasarannya hilang.


Pengajian berjalan cukup padat, hingga Umi Afiyah harus menghentikan pertanyaan Olivia yang seolah tak ada habisnya. Mengingat waktu sudah jam lima lebih, pengajian pun berakhir.


Semua jamaah kembali ke rumah masing-masing, begitu pun Olivia yang dijemput Alzam tepat setengah enam petang.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2