CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Tantangan


__ADS_3

Pertemuan pertama Leon dengan kedua orang tua Nurul, benar-benar sangat menegangkan bagi Leon, seperti layaknya dia sedang menghadapi sebuah ujian.


Ayah Nurul menghendaki melihat sejauh mana bacaan Al-Quran Leon. Meski belum pernah membaca kitab suci tersebut secara langsung, namun dia sudah sampai jilid lima di buku iqro.


Sang ulama membuka sembarang halaman di dalam kitab suci itu, dan menunjuk sebuah ayat yang sangat pendek, hanya setengah baris saja.


Namun karena Leon yang memang belum bisa membaca dengan lancar, meskipun sedikit akan tetapi pemuda tersebut membacanya penuh dengan perjuangan. Jangankan berirama merdu seperti yang biasa dilantunkan Alzam setiap kali mengaji, hanya untuk bisa membacanya dengan tartil saja sudah sangat hebat untuk seorang Leon.


“Sadaqallah hul adzim.” Leon pun mengakhiri bacaannya itu.


Nampak peluh keluar dari pelipisnya, karena merasa begitu gugup dan tegang atas tes yang dilakukan oleh sang calon mertuanya.


“Alhamdulillah. Rupanya sudah lumayan bisa. Sejak kapan mulai belajar ngaji?” tanya Ayah Nurul.


“Baru beberapa minggu. Belum ada sebulan, Pak kyai,” Jawab Leon.


“Kalau adzan bisa nggak?” tanya Ayah Nurul.


“Ehm... Adzan? Adzan yang kalau mau sholat itu?” tanya Leon.


“Iya, Nak Leon. Seorang laki-laki itu kan wajib bisa adzan. Nanti kalau punya anak, kan begitu lahir di adzan sama di-iqomatkan,” sahut Ibunda Nurul.


Leon diam. Dia menunduk dan menjawab bahwa dia belum bisa mengumandangkan adzan.


“Kalau begitu, gimana kalau Nak Leon selain belajar yang lain, juga belajar adzan. Tiga hari lagi ada pengajian rutin mingguan di sini. Biasanya akan selesai setelah sholat dzuhur berjamaah di masjid depan sana. Bapak mau, nanti kamu yang adzan pas sholat dzuhurnya yah,” seru Ayah Nurul.


Leon sontak membola. Dia tak menyangka jika dia akan mendapat tugas lagi dari ayah gadis pujaan hatinya.


“Gimana, Nak Leon. Sanggup tidak?” tanya Ibu Nurul.


“Ehm... In... InsyaAllah bisa, Bu nyai,” sahut Leon.


“Alhamdulillah,” ucap kedua orang tua itu.


Setelahnya, mereka lalu berbincang santai dan lebih banyak menanyakan tentang kuliahnya. Selama perbincangan tersebut, Leon sama sekali tak menyinggung identitasnya yang adalah seorang pewaris Andromeda grup.


Dia tak mau memberikan kesan sombong kepada calon mertuanya itu, dan akan mengungkapkannya di waktu yang tepat.


Setelah ikut sholat ashar berjamaah di masjid dekat rumah tersebut, Leon pun langsung pamit pulang karena sudah sangat sore.


Saat dia baru saja men-starter motornya dan hendak keluar dari pekarangan rumah, dia melihat sebuah motor matic dengan seorang perempuan yang menaikinya.


Leon sangat kenal dengan sosok tersebut, meski wajahnya tertutup helm dan membuat pemuda tersebut kembali mematikan mesin motornya.


Nurul yang baru datang pun berhenti tepat di samping Leon, dan menaikkan kaca helmnya.


“Assalamu’alaikum, Yon,” sapa Nurul.


“Waalaikumsalam. Baru pulang, Nur?” tanya Leon.


“Iya. Biasalah, muridnya libur tapi gurunya tetep berangkat buat piket,” jawab Nurul dengan senyum mengembang.


“Gitu ya? Aku nggak pernah jadi guru jadi nggak tau. Hehehe...,” ucap Leon.

__ADS_1


“Hehehe... Udah lama di sini?” tanya Nurul.


“Lumayan.Aku pulang dulu yah. Udah sore,” ucap Leon.


“Ya udah. Hati-hati yah,” sahut Nurul.


Keduanya pun berpisah di depan rumah gadis tersebut.


Dari dalam rumah, ibu Nurul terlihat mengintip dari balik jendela. Dia memperhatikan sikap putrinya kepada pemuda yang baru saja bertamu ke rumah mereka.


...☕☕☕☕☕...


Tiga hari berlalu, kini tibalah waktu di mana Leon akan memenuhi tugas kedua dari sang kyai. Namun, kali ini dia tak datang sendirian, melainkan bersama Alzam dan juga Olivia, yang meminta ikut menghadiri kajian rutin di rumah Nurul.


Saat ini, Leon terlihat begitu berbeda. Berkat saran Alzam, dia hari ini memakai sebuah baju koko model terbaru yang dipadu dengan sebuah celana jeans, yang biasa ia pakai saat kajian di padepokan pemuda hijrah. Satu-satunya koleksi celana yang tertutup yang dimiliki oleh Leon.



Olivia berkali-kali menahan tawanya saat melihat penampilan baru sang sahabat. Jika bukan karena Alzam, mungkin perempuan itu sudah tertawa terbahak-bahak mengolok-olok sahabatnya itu.


“Ssssttt! Nggak boleh julit. Kita harus bersyukur karena Leon mau berubah jadi lebih baik,” ucap Alzam.


“Iya, Mas, iya. Cuma... Hihihihi... Aku nggak bisa nahan ketawa... Hihihi....” Olivia sampai harus membekap mulutnya karena takut kelepasan.


Alzam pun hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang istri. Dia pun memapah ibu hamil itu untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.


Jamaah laki-laki dan perempuan dipisah oleh sekat papan. Sehingga Olivia pun harus duduk terpisah dari sang suami dan bergabung bersama Nurul serta juga ibunya.


Dari pukul delapan pagi hingga menjelang duhur, deretan acara pengajian berlangsung cukup hikmat. Suasana halaman rumah sang ulama yang teduh, membuat jamaah merasa nyaman berlama-lama duduk mendengarkan tausiah.


Setelah selesai berdoa bersama, sang ulama menyerukan para jamaahnya untuk segera berpindah ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur.


Leon tampak gugup, karena sudah saatnya dia tampil di depan semua orang untuk mengumandangkan adzan dzuhur di masjid.


Alzam menepuk pundak sang pemuda untuk memberikan dukungan semangat kepadanya. Olivia pun begitu. Dia mengangkat kedua lengannya dan menekuk ke atas sambil menyerukan kata semangat tanpa bersuara.


“Fighting!?” ucapnya.


Leon pun maju, meski gugup dan gemetar, namun dia harus bisa menghadapi ujiannya kali ini. Dia mulai mengambil tempat di depan microphone dan menempelkan telapak tangan kanan ke telinganya.


Dengan mengucap bismillah dari dalam hati, Leon pun mulai mengumandangkan adzan dengan sangat hati-hati. Dia tak mau melakukan satu kesalahan sekecil apapun di penampilan pertamanya.


Semua orang memang tak mengerti keadaan ini, akan tetapi untuk orang-orang dekat Leon seperti Alzam, Olivia, Nurul dan bahkan Ibunda Nurul pun nampak ikut tegang sambil menyimak lantunan suara adzan yang dikumandangkan oleh pemuda, yang baru saja hijrah itu.


Hingga akhirnya,


Allahu akbar, Allahu akbar, Laailaaha illallah...,


Adzan pun selesai. Leon berhasil mengumandangkan adzan dengan baik tanpa salah sedikitpun, meski nada tak jadi penilaian.


Semuanya nampak menghela nafas lega  seiring dengan doa sesudah adzan yang dibacakan oleh Alzam, yang telah bersiap dengan microphone yang lainnya.


Leon pun turun dari mimbar. Lututnya terasa lemas, namun perasaan di dadanya terasa begitu ringan, setelah berhasil melaksanakan tugasnya. Sisanya, Alzam lah yang mengumandangkan iqamat, dan setelahnya sang kyai maju untuk menjadi imam sholat.

__ADS_1


Setelah semua selesai, orang tua Nurul mengundang Alzam, Olivia dan juga Leon untuk makan siang bersama. Setelah itu, ketiganya pun pamit pulang.


Mereka tak lantas kembali ke rumah, melainkan pergi menuju ke kedai Alzam untuk membicarakan tentang tugas selanjutnya dari sang kyai.


“Hahahahha... Hahaha....” akhirnya tawa Olivia pun pecah setelah mereka tiba di kedai.


Alzam sudah tak bisa menahan istrinya lagi karena sudah sejak pagi perempuan itu berusaha menahan tawanya, demi membangun mental Leon.


“Ketawa aja terus. Rese benget lu,” keluh Leon.


“Hahaha... Lu kemakan omongan lu sendiri, Yon. Lu dulu kan ngeledek gue pas mau ikut pengajian, mau belajar agama dan lain-lain gara-gara Mas Al. Lah sekarang, elu juga kek gitu gara-gara Nurul. Hahahaha... Hahaha...,” sahut Olivia.


“Udah... Udah... Nih minum dulu,” ucap Alzam.


Pemuda tersebut datang setelah memesan minuman kepada Amy yang sedang berjaga di balik meja barista, dan membawanya langsung ke meja mereka.


“Mas, aku mau stroberi smoothies,” ucap Olivia.


“Siap, Ratuku,” sahut Alzam sambil menyuguhkan minuman segar itu kepada sang istri.


“Makasih, Sayang,” timpal Olivia.


Leon sejak tadi terus memperhatikan interaksi antara Alzam dan Olivia, dengan kedua tangan yang menopang dagu.


“Emang kalo orang udah nikah, bisa jadi lebay kek gini yah?” tanyanya.


Olivia dan Alzam pun menoleh ke arah pemuda tersebut.


"Ini tuh bukan lebay, tapi bentuk kasih sayang, beg*," jawab Olivia.


"Sayang, nggak boleh ngomong gitu. nggak baik. calon ibu ngomongnya harus yang baik-baik aja biar anaknya nggak niruin," seru Alzam.


"Habis Leonnya rese," gerutu Olivia.


"Gue cuma nanya aja, Liv. Perasaan dulu Bang Alzam kagak kek gini deh," sanggah Leon.


“Kamu bakal tahu nanti pas udah ngejalaninnya,” jawab Alzam.


“Usaha dulu buat dapetin restu orang tuanya Nurul, baru mikir kek gitu,” timpal Olivia.


Akhirnya, hanya terdengar helaan nafas panjang dari mulut sang pemuda.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2