
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di aula warga kampung tempat tinggal Alzam, tampak semua orang sudah bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga calon mempelai wanita.
Di sana sudah hadir seorang penghulu, yang ditemani seorang petugas kelurahan yang mengurusi urusan pernikahan, dan beberapa kerabat dekat serta tetangga Bu Aminah, yang ikut membantu mempersiapkan jalannya acara tersebut. Tak lupa juga pegawai kedai, yang hari ini khusus diliburkan karena telah diundang ke acara pernikahan bos mereka.
Saat mendapat undangan tersebut, semuanya nampak tak percaya, jika akhirnya gadis yang selalu datang dan berulah di kedai mereka, ternyata berhasil mendapatkan bos mereka.
Alzam terlihat sudah duduk di depan sebuah meja memanjang, telat di seberang penghulu, dengan menggunakan baju yang berwarna senada dengan kebaya yang saat ini sedang dipakai oleh Olivia.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, sedangkan Alzam nampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
Seseorang terlihat mendekat ke arah mempelai pria, dan menepuk pundak Alzam pelan.
“Zam, kamu butuh sesuatu nggak? Minum atau apa gitu? Mukamu kelihatan tegang banget lho. Dari tadi diperhatiin sama ibu,” tawar Nurul, yang juga ikut membantu persiapan acara.
“Nggak usah, Nur. Aku baik-baik aja kok,” sahut Alzam.
“Ya udah. Kalau gitu aku lanjut bantuin yang lain dulu,” ucap Nurul.
Alzam hanya mengangguk.
Tak berselang lama, iring-iringan mobil pengantin telah datang. Semua nampak bersiap di posisi masing-masing untuk menyambut kedatang tamu mereka.
Terlihat satu persatu orang turun dari mobil, dengan penampilan yang jauh lebih berkelas dari yang sedang berkumpul di balai tersebut.
Nampak sekali perbedaan kelas antara keluarga Alzam dan Olivia. Hanya dengan sekali lihat, semua orang tahu sebesar apa jarak yang ada di antara kedua keluarga tersebut.
Perhatian mereka lalu teralihkan dengan kemunculan sang pengantin wanita, yang dengan sedikit kesulitan keluar dari dalam mobil, dibantu oleh sang perias.
Sosok cantik itu membuat semua yang ada di sana terpukau, dan tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok berkebaya panjang tersebut.
Mendengar kegaduhan di luar, Alzam yang sedari tadi duduk diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri pun, terlihat menoleh dan ikut melihat apa yang menjadi pusat perhatian dari semua orang.
Saat menangkap sosok berbalut kebaya putih tulang, dengan siger yang menghiasi kepalanya, Alzam seolah membeku di tempat.
Jantungnya seketika bergemuruh melihat kecantikan sang calon istri, yang hari ini terlihat benar-benar berbeda.
Tatapannya tak bisa lepas dari sosok Olivia, yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya. Meski wajahnya masih terlihat datar, namun jelas terlihat dari sorot matanya yang mengatakan bahwa, dia benar-benar terpesona dengan pengantinnya.
Olivia didududkkan tepat di sebelah Alzam, yang sejak tadi sudah menunggunya bersama pak penghulu. Tuan Abimana yang bertindak sebagai wali pun, sudah duduk di depan kedua pengantin dan petugas KUA di sana.
__ADS_1
Sedangkan Mamah Ros, wanita itu terlihat duduk di kursi yang ada di dekat tempat ijab qobul, bersama dengan kerabatnya sendiri. Dia sama sekali tak mau menyapa besannya yang juga ada di sana.
Bu Aminah tak terlalu peduli dengan sikap Rosaline. Dia mencoba memahami sikap wanita itu, yang masih belum rela melepas anak gadisnya untuk pemuda miskin seperti Alzam.
Dia hanya berharap, semoga suatu saat nanti, Rosaline lambat laun akan bisa menerima putranya dengan baik.
Saat penghulu sedang berbincang dengan Tuan Abimana mengenai proses ijab qobul yang akan segera dilaksanakan, seorang pemuda nampak tengah melihat ke arah seorang gadis berhijab biru, mengenakan gamis berwarna senada yang sedang menata meja prasmanan.
“Assalamu’alaikum. Silakan dicicipi hidangannya,” sapa Nurul, si gadis berhijab.
Sementara pemuda itu, nampak mengambil segelas es buah segar yang ada di atas meja, dan meminumnya langsung di tempat, tanpa menjawab salam yang diucapkan oleh Nurul sebelumnya.
Tatapan matanya terus tertuju pada Nurul, dan membuat guru muda itu mengernyitkan keningnya. Dia pun berusaha mengabaikan sosok pemuda yang tak lain adalah Leon, yang sudah terpikat padanya saat pertama kali bertemu di acara lamaran Alzam.
“Kenalin! Nama ku Leon,” ucap Leon.
Dia dengan percaya dirinya mengulurkan tangan ke arah gadis itu. Nurul menoleh dan melihat uluran tangan tersebut.
Nurul tersenyum manis sembari menangkupkan kedua tangannya di bawah dagu, sebagai balasan dari uluran tangan Leon.
“Nurul,” sahut Nurul.
Setelah selesai, dia kembali mengulurkan tangan ke arah nurul.
“Sudah ku lap. Sudah nggak kotor kok,” kata Leon.
Nurul menautkan kedua alisnya saat melihat sikap pemuda di hadapannya.
“Maksud kamu?” tanya Nurul.
“Kamu sudah bisa menjabat tanganku kan?” tanya Leon balik.
Sontak, Nurul pun terkekeh kecil sambil menutupi bibirnya dengan punggung tangan, saat melihat pemuda yang ingin berkenalan dengannya itu.
“Maaf... Ehm... Mas Leon. Kita bukan kan mukhrim. Kita dilarang melakukan kontak fisik. Jadi, saya membalas uluran tangan ehm... Mas Leon tadi dengan cara seperti ini,” jelas Nurul, sambil mengulangi yang tadi dia lakukan.
Mendengar penjelasan dari Nurul, Leon pun seketika menarik kembali tangan dan mengusap samping kepalanya, dengan senyum canggung.
“O... Oke kalau begitu. Jadi, boleh nggak kita...,” ucap Leon.
__ADS_1
Saat kata-katanya belum selesai diucapkan, seseorang memanggil Nurul dan membuat gadis itu pergi meninggalkannya di tempat.
Leon pun mendes*h kesal, karena belum berhasil mendekati target taruhannya dengan Olivia.
Dia tak tahu jika kelakuannya tadi telah diperhatian oleh dua orang dari kejauhan. Keduanya nampak saling pandang, dan tersenyum melihat tingkah Leon dengan Nurul.
Kemudian tiba-tiba, sebuah suara membuyarkan kekesalan Loen. Pasalnya, pak penghulu mulai berbicara, memberikan arahan dan sekelumit kata sambutan kepada para hadirin sebelum prosesi ijab qobul dimulai.
Nampak di sana, Tuan Abimana telah siap untuk menjadi wali, yang akan menikahkan sendiri putrinya, dipandu oleh penghulu yang saat ini sedang memberi arahan kepada kedua calon pengantin.
Olivia dan Alzam pun kini telah dipakaikan sebuah kain berenda putih di atas kepala mereka, pertanda prosesi sakral itu akan segera berlangsung.
Sesekali, guyonan khas acara pernikahan yang menggoda kedua pengantin dan menjadikan keduanya tersipu malu, membuat seisi aula tertawa.
Kini, tibalah Tuan Abimana mengulurkan tangan ke arah Alzam, dan disambut oleh sang calon menantunya.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Ahmad Alzam Amani bin almarhum Muhammad Ilyas, dengan putri kandung saya, Olivia Charlotte Abimana binti Abimana Wijaya, dengan mas kawin emas sepuluh gram dan uang tunai lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai!” ucapan ijab dari Tuan Abimana.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Olivia Charlotte Abimana binti Abimana Wijaya, dengan mas kawin tersebut tunai,” sahut qobul dari Alzam dalam satu tarikan nafas.
“Sah?” tanya penghulu pada kedua saksi dari pihak laki-laki dan juga pihak perempuan.
“Sah!” semuanya sepakat mengatakan sah.
“Alhamdulillah,” ucapan syukur terdengar bersamaan memenuhi seisi aula tersebut.
Lantunan doa yang dipanjatkan oleh penghulu untuk kedua pengantin baru itu pun, diaminkan oleh semua yang ada di sana.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1