
“Mas, aku telepon Leon dulu ya. Mau mastiin kalau entar malem dia ke sini nyamperin kita,” ucap Olivia.
“Oke. Eehh... Emang mau telepon di mana?” tanya Alzam saat menoleh dan melihat sang istri yang hendak berjalan keluar.
“Di luar lah. Kalo di sini, aku takut bikin nggak nyaman pengunjung sama cara bicara kami berdua. Hehehe...,” sahut Olivia.
“Oh... Ya udah. Tapi jangan jauh-jauh ya,” seru Alzam.
“Nggak kok. Cuma di depan aja. Bentar yah,” sahut Olivia.
Alzam hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan urusannya, sementara sang istri keluar dan mulai berbicara dengan sang sahabat.
Saat Olivia baru saja menyapa Leon di seberang, seseorang datang dan masuk begitu saja ke dalam kedai, tanpa menyadari kehadiran Olivia di sana, karena penampilan gadis itu yang jauh berbeda dari biasanya.
“Hai, Bro,” sapanya kepada Alzam yang duduk di pojokan.
Pemuda itu pun menoleh dan melihat orang yang dia kenal baru-baru ini.
“Oh, Hai. Apa kabar? Baru kelihatan lagi kamu?” tanya Alzam ramah.
Dia bahkan sampai menyudahi dulu pekerjaannya, dan menghampiri orang tersebut. Alzam yang selalu bersikap ramah pun menerima kehadiran orang itu tanpa rasa curiga sedikit pun, dan mempersilakannya untuk duduk di salah satu kursi yang kosong.
“Mau minum apa?” tanya Alzam.
“Biasa aja. Espresso,” sahut orang tersebut yang tak lain adalah Nathan.
Alzam pun memanggil Amy yang masih sibuk di balik meja barista, dan memesankan apa yang diminta oleh Nathan.
“Maaf kalau aku jarang ke sini. Aku baru aja pulang dari Jerman. Biasalah. Ada urusan sedikit di sana,” ucap Nathan.
“Bener-bener pengusaha sukses. Aku salut sih sama kamu. Masih muda, tapi udah bisa mimpin perusahaan besar,” puji Alzam.
“Jangan puji aku. Kehidupan pribadiku nggak sebagus karir ku. Buktinya aku masih melajang. Yang ada justru ironi,” jawabnya.
“Apa kamu masih berusaha mendapatkan mantanmu yang sudah bersuami itu?” tanya Alzam.
“Kenapa tidak? Aku tidak akan pernah menyerah. Kalau pun dia tidak mau menerima ku lagi, aku masih punya banyak cara agar dia akhirnya mau kembali padaku,” jawab Nathan.
“Kenapa tak coba buka hati untuk yang lain? Bukan kah itu sangat tidak baik, mengharapkan milik orang lain?” tanya Alzam.
“Oh ayolah. Sebaiknya kita jangan bahas hal ini, karena kamu dan aku tidak sepaham dengan masalah ini. Oh ya, bagaimana kabarmu dengan istri?” tanya Nathan.
__ADS_1
“Kebetulan kamu bertanya. Dia hari ini ikut denganku ke sini,” ucap Alzam.
“Benarkah?” tanya Nathan.
Dia bahkan melihat ke kanan dan kiri, seolah begitu mengenal sosok istri Alzam, padahal pemuda itu sama sekali belum pernah memperkenalkannya, bahkan memperlihatkan foto Olivia pun tidak.
“Dia tak ada di sini sekarang. Tadi dia bilang mau telepon temannya di depan. Tunggulah sebentar lagi,” seru Alzam.
“Ehm, yah. Pasti menyenangkan bisa berkenalan dengan wanita luar biasa yang menjadi istrimu,” ucap Nathan.
Seorang pegawai membawakan pesanan ke meja, di mana Alzam dan Nathan berada. Pria itu mengambil cangkir yang tampak masih mengepul itu dan meniupnya, lalu meminum secara perlahan, sambil menyembunyikan seringai jahatnya di balik bibir cangkir.
Tak lama kemudian, pintu kedai kembali dibuka dan lonceng pun berbunyi. Alzam spontan menoleh dan melihat sang istri yang telah masuk kembali ke dalam kedai dengan senyum yang mengembang saat melihat ke arah sang suami.
Namun, tiba-tiba perempuan itu berhenti dan mendadak kaku, saat melihat orang yang sedang duduk di depan suaminya.
Meski sudah lama berpisah, namun siluet orang itu begitu lekat tertanam di otak Olivia. Dia sangat mengenali sosok itu meski pria tersebut sedang membelakanginya.
Mampus gue. Ngapain tuh orang ke sini? batin Olivia.
Otaknya berusaha untuk menyuruh tubuhnya segera kabur, namun matanya melihat sang suami yang terus menatap ke arahnya.
Gimana cara kaburnya? Mas Al udah lihat aku masuk, masa tiba-tiba mau balik kanan gitu aja. Dia pasti bakal nanyain nanti, batin Olivia lagi.
Dia melihat sekotak masker gratis yang disediakan oleh kedai, dan kemudian dia memakainya untuk menutupi sebagian wajahnya.
Dia kemudian berjalan dengan mencoba bersikap biasa saja, meski dalam hati dia begitu gemetar, takut bahwa Nathan akan membongkar rahasia masa lalunya di depan Alzam saat itu juga.
“Ini dia istriku,” ucap Alzam.
Sontak, Nathan pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah di mana seorang wanita baru saja muncul.
Pria itu terkejut hingga hampir menyemburkan kopi yang baru saja dimasukkan ke mulut. Nathan melihat seorang perempuan yang memakai gamis lengkap dengan jilbabnya, ditambah sebuah masker yang menutupi wajah.
Meski hanya mata yang terlihat, namun dia sangat mengenal sorot mata tajam dan berani itu.
Meski dalam kondisi takut dan gemetar, Olivia sama sekali tak mau merasa terintimidasi. Dia justru semakin tajam menatap lawannya dengan tatapan berani, agar lawan tak mudah menyerangnya.
Alzam berdiri dan merangkul pundak sang istri dengan mesra.
__ADS_1
“Sayang, ini teman aku yang waktu itu ku ceritain ke kamu,” ucap Alzam.
Nathan pun ikut bangun dan mencoba berjabat tangan dengan Olivia.
“Hai, apa ka... bar...,” sapa Nathan.
Olivia tak meraih uluran tangan Nathan, melainkan menangkup kedua telapak tangan di depan dada.
“Alhamdulillah, baik. Maaf, saya tidak bisa berjabat tangan dengan pria lain selain ayah dan suami saya,” ucap Olivia.
Hal itu sontak membuat pukulan tersendiri untuk Nathan. Jaraknya dengan Olivia seolah semakin jauh, ditambah dengan perubahan yang terjadi pada diri perempuan tersebut.
Si*lan. Dia mulai belajar aturan agamanya, batin Nathan tak senang.
“Mas, aku duduk di meja ku aja yah,” ucap Olivia kepada Alzam.
“Ya udah,” sahut Alzam.
“Permisi,” pamit Olivia.
Perempuan itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah meja yang sebelumnya ia tempati. Hatinya masih tak tenang, takut-takut kalau Nathan tiba-tiba nekad karena penolakan yang kembali diberikan oleh Olivia.
Dia sangat yakin bahwa pria itu tahu siapa istri Alzam sebenarnya. Ditambah keberadaan penguntit yang sampai saat ini masih terus ia biarkan mengikutinya, untuk mengecoh musuh dan membuatnya muncul dengan sendirinya.
Namun, siapa sangka. Setelah mendapat penolakan dari sang mantan, Nathan yang kesal mencoba bersikap setenang mungkin, akan tetapi dia segera pamit pergi dari kedai dengan alasan ada kesibukan lain.
“Silakan mampir lagi lain kali,” ucap Alzam.
Pemuda itu mengantarkan mantan sang istri keluar dari kedai, dengan sikap yang begitu bersahabat.
Olivia begitu merasa bersalah melihat hal itu. Suaminya yang baik itu tak seharusnya menjadi orang b*doh di antara dia dan sang mantan.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
besties, coba mampir ke novel kece temen aku yuk 👇